Se connecterPernikahan selalu terdengar indah di mulut para bangsawan.
Padahal bagi Seraphine de Nocteviel, itu hanyalah bentuk lain dari perjanjian—dibungkus sutra, disegel doa, lalu dipamerkan sebagai kebahagiaan. Dua minggu setelah kepulangan pasukan dari utara, Raja Théobald akhirnya menetapkan tanggal pernikahan mereka.
Pengumuman dilakukan di aula kecil istana, hanya dihadiri keluarga Nocteviel, keluarga Montclair, dan beberapa pejabat kerajaan.
“Pernikahan akan dilangsungkan dalam enam minggu,” ujar Raja tenang. “Kerajaan membutuhkan simbol stabilitas setelah perang.”
Simbol.
Seraphine menahan senyum tipisnya.
Luc berdiri di sampingnya dengan seragam formal hitam. Bahu kirinya masih menyisakan bekas cedera, namun pria itu tetap terlihat terlalu tegak untuk disebut terluka.
“Duke Henri,” lanjut Raja, “Anda menyiapkan prosesi sesuai tradisi Nocteviel.”
Ayah Seraphine membungkuk singkat. “Tentu, Yang Mulia.”
“Marquis Étienne de Montclair, Anda mengurus pengawalan dan keamanan.”
Ayah Luc melangkah maju sedikit.
Marquis Étienne memiliki tatapan dingin yang mirip dengan putranya—tajam dan sulit ditebak.
“Dengan senang hati, Yang Mulia.”
Segel kerajaan ditutup.
Keputusan selesai.
Dan sekali lagi, hidup Seraphine diputuskan tanpa pernah benar-benar diminta pendapatnya.
Sejak hari itu, Ravenshade berubah kacau.
Para penjahit datang hampir setiap pagi. Lady bangsawan sibuk memberi “saran” tentang gaun, bunga, hingga bagaimana Seraphine seharusnya tersenyum saat berjalan menuju altar.
Seraphine duduk di ruang tamu dengan ekspresi datar sementara Mira berdiri di sampingnya membawa daftar panjang.
“Nona, mereka ingin memastikan warna bunga utama untuk aula pernikahan.”
“Yang tidak terlalu mencolok.”
“Dan untuk veil?”
“Yang sederhana.”
Mira menghela napas kecil.
“Nona… ini pernikahan Anda.”
“Itulah sebabnya aku ingin semuanya cepat selesai.”
Mira langsung terdiam.
Sementara para pelayan lain saling bertukar pandang gugup.
Seraphine tahu mereka menganggapnya terlalu dingin.
Namun ia tidak peduli.
Di Montreval, perempuan bangsawan dibesarkan untuk terlihat sempurna bahkan saat hidupnya sedang dipindahkan dari satu keluarga ke keluarga lain.
Dan Seraphine menolak memberi siapa pun kepuasan melihatnya terlihat rapuh.
Malamnya, setelah semua orang pergi, Mira akhirnya bertanya pelan,
“Nona… apa Anda benar-benar tidak bahagia?”
Seraphine yang sedang melepas anting peraknya berhenti sesaat.
“Bahagia bukan kewajiban.”
“Tapi Lord Luc terlihat cukup memperhatikan Anda.”
Seraphine tertawa kecil.
“Memperhatikan bukan berarti mencintai.”
Hening sesaat memenuhi kamar.
Kemudian Seraphine menatap pantulannya di cermin.
“Luc Bastien adalah pria yang hidup untuk perang dan kerajaan. Aku tidak cukup naif untuk mengira pernikahan ini akan mengubahnya.”
Keesokan harinya, Seraphine dipanggil ke istana oleh Ratu Isabeau.
Taman kerajaan dipenuhi bunga musim gugur saat Seraphine tiba. Sang Ratu duduk anggun di dekat meja teh marmer putih.
“Lady Seraphine,” sapa beliau lembut. “Aku mendengar persiapan pernikahan berjalan lancar.”
“Selama semua orang selain saya terlihat bahagia, saya rasa semuanya memang berjalan lancar.”
Ratu tertawa kecil mendengar jawaban itu.
“Kau sangat berbeda dari kebanyakan wanita bangsawan.”
“Saya tidak yakin itu pujian.”
“Itu pujian.”
Ratu menyeruput tehnya perlahan sebelum kembali berkata,
“Luc bukan pria yang mudah dipahami.”
“Saya juga tidak tertarik memahami semua orang.”
Jawaban itu membuat mata Ratu terlihat amused.
“Menarik,” gumam beliau. “Biasanya wanita justru sibuk mencari cara agar dicintai.”
Seraphine tersenyum tipis.
“Kalau seseorang harus mengubah dirinya hanya untuk dicintai, berarti cinta itu tidak terlalu berharga.”
Hening kecil jatuh di antara mereka.
Lalu Ratu tersenyum samar.
“Mungkin itu sebabnya Luc mulai memperhatikanmu.”
Tatapan Seraphine berubah sedikit.
Namun hanya sedikit.
Malam harinya, sebuah kereta hitam berhenti di depan Ravenshade.
Lambang keluarga Montclair terukir jelas di pintunya.
Luc turun dengan mantel hitam panjang, membuat para pelayan langsung menunduk hormat.
Seraphine yang baru memasuki aula depan berhenti saat melihatnya.
“Lieutenant General.”
Luc mengembuskan napas kecil.
“Kau masih memanggilku seformal itu.”
“Apakah saya harus memanggil Anda ‘calon suami’ sekarang?”
Tatapan Luc berubah samar.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibirnya bergerak tipis.
“Kau memang sulit.”
Seraphine tersenyum kecil.
“Dan Anda baru menyadarinya sekarang?”
Luc melangkah mendekat sedikit.
“Aku datang karena Raja meminta kita menghadiri doa kemenangan bersama minggu depan.”
“Saya akan datang.”
Hening singkat muncul di antara mereka.
Lalu Luc berkata lebih pelan,
“Dan aku ingin memastikan kau tidak membenci semua ini.”
Tatapan Seraphine bertemu langsung dengannya.
''Aku tidak membenci pernikahan ini, Luc.”
Ini pertama kalinya ia memanggil nama pria itu tanpa gelar.
Dan Luc langsung menyadarinya.
“Aku hanya membenci kenyataan bahwa semua orang mengira aku harus terlihat bahagia karena dipilihkan.”
Hening.
Luc menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berkata,
“Kalau begitu kita sama.”
Seraphine mengangkat alis tipis.
“Aku prajurit,” lanjut Luc tenang. “Aku juga selalu dipilihkan.”
Untuk perang.
Untuk kemenangan. Dan sekarang… untuk dirinya.Seraphine tidak menjawab.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa Luc mungkin lebih mengerti dirinya dibanding orang lain di istana.
Dan itu—
sedikit berbahaya.
(POV Luc)Tiga bulan di medan perang mengajarkanku satu hal.Manusia bisa terbiasa pada hampir semua hal.Lumpur yang tidak pernah kering.Hujan yang turun berhari-hari.Makanan yang rasanya sama setiap malam.Bahkan suara pertempuran yang datang dan pergi seperti ombak.Namun ada satu hal yang tidak pernah benar-benar bisa kubiasakan.Menunggu surat dari Seraphine.Pagi itu, aku baru saja menyelesaikan rapat dengan para perwira ketika seorang kurir memasuki tenda komando."Surat dari Kastil Montclair, Jenderal."Entah kenapa, lelah yang menumpuk sejak pagi terasa sedikit berkurang.Aku menerima amplop itu dan langsung mengenali tulisan tangannya.Rapi.Tegas.Dan sangat Seraphine.Hugo yang masih berada di dalam tenda mengangkat alis."Surat lagi?"Aku memberinya tatapan datar.Ia justru tersenyum."Saya tidak mengatakan apa-apa.""Bagus.""Itu hanya surat keenam bulan ini.""Hugo.""Baik, saya pergi."Ia keluar sebelum aku benar-benar mengusirnya.Begitu tenda kembali sepi, aku memb
(POV Luc)Medan perang tidak pernah benar-benar sunyi.Bahkan ketika pertempuran berhenti dan malam turun menyelimuti perkemahan, suara-suara itu tetap ada. Derak api unggun. Langkah penjaga yang berpatroli. Erangan pelan para prajurit yang terluka. Dan angin yang membawa bau tanah basah bercampur besi.Sudah hampir tiga bulan sejak aku meninggalkan Kastil Montclair.Tiga bulan sejak keberangkatanku dari gerbang kastil.Tiga bulan sejak aku meninggalkan seseorang yang menungguku pulang.Pagi itu, kabut menggantung rendah di atas lembah timur. Dari tanah tinggi tempatku berdiri, aku bisa melihat sisa-sisa pertempuran semalam. Bekas roda meriam membelah lumpur, sementara beberapa prajurit masih bekerja memperbaiki barikade yang rusak."Jenderal."Aku menoleh saat mendengar suara yang familiar.Commander Hugo de Ferrand berjalan mendekat sambil membawa beberapa laporan."Kondisi pasukan?" tanyaku."Masih stabil."Ia menyerahkan dokumen itu."Namun suplai mulai menjadi masalah. Hujan membu
Tabib istana datang saat langit hampir gelap.Mira membukakan pintu dengan wajah tegang, sementara Seraphine berdiri di dekat jendela, tangannya terlipat rapi di depan tubuh seolah ia sedang menunggu laporan keuangan, bukan kabar yang mampu mengubah seluruh hidupnya.Tabib itu seorang pria tua dengan jubah abu-abu dan mata tajam yang tak mudah dibohongi.Ia memeriksa Seraphine dalam diam.Terlalu lama.Terlalu tenang.Dan justru karena itulah, detik-detik yang berjalan terasa lebih berat dari biasanya.Akhirnya, tabib meletakkan alatnya perlahan dan menatap Seraphine dengan ekspresi yang sulit dibaca."Yang Mulia..." ucapnya hati-hati.Seraphine sudah tahu sebelum kalimat itu selesai.Namun ia tetap menunggu."Ada kemungkinan besar Anda sedang mengandung."Ruangan menjadi sangat sunyi.Mira menutup mulutnya dengan kedua tangan.Seraphine tidak bergerak.Tidak ada wajah terkejut, tidak ada seruan panik, tidak ada air mata. Hanya tatapan abu-abu yang tetap tenang, nyaris terlalu tenang,
Awalnya, Seraphine mengira ia hanya kelelahan.Beberapa minggu terakhir berjalan lebih sibuk dari biasanya. Selain mengurus seluruh administrasi Kastil Montclair, ia juga harus memastikan berbagai perubahan yang telah direncanakannya berjalan dengan baik.Maka ketika tubuhnya terasa lebih berat saat bangun pagi, ia tidak terlalu memikirkannya.Ia hanya melanjutkan hari seperti biasa.Namun ternyata rasa lelah itu tidak menghilang.Bahkan setelah tidur cukup.Bahkan setelah mengurangi beberapa pekerjaan.Dan itu mulai mengganggunya.Pagi itu, Seraphine duduk di ruang administrasi bersama Mira ketika secangkir teh hangat diletakkan di hadapannya.Teh melati.Minuman yang hampir selalu menemaninya bekerja.Namun baru satu hirupan aroma masuk ke hidungnya, Seraphine langsung mengernyit."Apa ada yang salah, Nona?" tanya Mira.Seraphine mendorong cangkir itu sedikit menjauh."Aromanya terlalu kuat."Mira berkedip."Ini teh yang sama seperti biasanya.""Aku tahu.""Itu campuran favorit Anda.
Kepergian Luc Bastien de Montclair meninggalkan sesuatu yang berbeda di Kastil Montclair.Bukan kesedihan.Bukan pula kekosongan.Melainkan keheningan yang terasa asing.Hari-hari tetap berjalan seperti biasa.Seraphine bangun sebelum matahari terbit, memeriksa laporan keuangan, mengawasi pengelolaan gudang, dan memastikan seluruh kastil berjalan sebagaimana mestinya.Sebagai Marchioness Montclair, ia tidak memiliki kemewahan untuk larut dalam perasaan.Dan sebagai istri seorang jenderal, ia sudah memahami bahwa perang akan selalu menjadi bagian dari hidup mereka."Ada laporan baru dari gudang timur," lapor Mira suatu pagi.Seraphine menerima dokumen itu."Dan?""Pengeluaran turun dua belas persen sejak sistem baru diterapkan."Seraphine mengangguk kecil."Bagus.""Tidak ada komentar lain?""Haruskah aku menangis bahagia?"Mira menghela napas."Terkadang saya lupa Anda tidak pernah merayakan kemenangan kecil.""Aku merayakannya.""Bagaimana?""Dengan mencari masalah berikutnya."Mira
Sore itu, halaman utama Kastil Montclair dipenuhi derap kaki kuda dan suara logam yang saling beradu.Panji hitam-perak keluarga Montclair berkibar di bawah langit musim gugur. Para prajurit memeriksa perlengkapan mereka untuk terakhir kali, sementara para perwira memastikan barisan telah siap berangkat.Perang tidak pernah menunggu.Dari balkon lantai dua, Seraphine mengamati semuanya dengan tenang.Di sampingnya, Mira berdiri sambil membawa mantel bulu."Nona," panggilnya hati-hati. "Anda baik-baik saja?"Seraphine tidak segera menjawab.Tatapannya tetap tertuju pada halaman di bawah."Aku baik-baik saja."Mira menahan senyum kecil.Setelah sekian lama melayani Seraphine, ia tahu kapan majikannya berkata jujur dan kapan tidak.Namun kali ini, ia memilih diam.Karena beberapa hal perlu dipahami sendiri.Ketika Seraphine turun ke halaman, Luc sudah menunggu di dekat kudanya.Dengan zirah perang dan mantel hitamnya, ia kembali terlihat seperti sosok yang dikenal seluruh Montreval—Jende
BAB 5 — Kepulangan Sang JenderalKepulangan Luc Bastien de Montclair diumumkan tiga hari sebelum pasukannya tiba di ibu kota.Dan seperti biasa, Istana Montreval berubah menjadi panggung besar penuh kemeriahan.Bendera kerajaan dipasang di sepanjang jalan utama. Para bangsawan sibuk mempersiapkan ja
Tiga minggu setelah keberangkatan pasukan, kehidupan di Istana Montreval kembali berjalan seperti biasa.Pesta tetap berlangsung. Musik tetap dimainkan. Para bangsawan tetap sibuk berpura-pura peduli pada kerajaan sambil menusuk satu sama lain lewat senyum sopan.Seolah perang hanyalah cerita jauh
Istana Montreval kembali dipenuhi cahaya. Namun kali ini bukan untuk pesta pertunangan. Melainkan perpisahan. Barisan ksatria dan prajurit memenuhi halaman utama kerajaan dengan zirah perak yang berkilau di bawah matahari pagi. Bendera Montreval berkibar tertiup angin musim gugur, sementara suara
Luc Bastien de Montclair tidak menyukai pesta istana.Terlalu banyak senyum palsu. Terlalu banyak tatapan penuh kepentingan.Karena itu, setelah Seraphine pergi meninggalkan balkon, Luc tetap berdiri diam cukup lama di sana, membiarkan dingin malam meredakan sesuatu yang sejak tadi terasa aneh di d







