LOGINKepulangan Luc Bastien de Montclair diumumkan tiga hari sebelum pasukannya tiba di ibu kota.
Dan seperti biasa, Istana Montreval berubah menjadi panggung besar penuh kemeriahan.
Bendera kerajaan dipasang di sepanjang jalan utama. Para bangsawan sibuk mempersiapkan jamuan penyambutan, sementara rakyat memenuhi jalanan hanya untuk melihat sekilas pria yang dijuluki Pedang Utara Montreval itu kembali hidup-hidup dari medan perang.
“Kerajaan memperlakukannya seperti pahlawan legenda,” gumam Seraphine sambil menutup buku di tangannya.
Mira tersenyum kecil. “Karena memang begitu, Nona.”
Seraphine tidak menjawab.
Pagi itu ia berdiri di balkon kediaman Nocteviel dengan gaun abu-abu gelap sederhana namun elegan. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai sebagian, tertiup angin musim gugur yang mulai terasa lebih dingin.
Sudah hampir dua bulan sejak Luc pergi.
Dan anehnya—
istana terasa sedikit lebih tenang tanpa pria itu.
“Nona sebenarnya senang beliau kembali, bukan?” tanya Mira hati-hati.
Tatapan Seraphine tetap lurus ke halaman depan kastel.
“Aku senang kerajaan tidak perlu mencari jenderal baru.”
Mira menahan senyum.
Jawaban itu sangat khas Seraphine.
Tidak pernah benar-benar jujur.
Menjelang sore, seluruh keluarga bangsawan berkumpul di halaman utama kerajaan untuk menyambut pasukan yang kembali.
Suasana jauh lebih ramai dibanding hari keberangkatan mereka dulu.
Karena semua orang lebih menyukai kepulangan daripada perpisahan.
Suara sorak rakyat terdengar memenuhi udara saat barisan kuda mulai memasuki gerbang ibu kota.
Para prajurit berjalan dengan zirah penuh debu perang; beberapa membawa luka yang masih dibalut kain putih. Namun wajah mereka tetap dipenuhi kebanggaan.
Dan di barisan paling depan—
Luc Bastien de Montclair muncul dengan mantel hitam militernya.
Sorak sorai langsung membesar.
“Jenderal Montclair!”
“Hidup Montreval!”
“Pahlawan perang kita kembali!”
Luc tetap terlihat sama seperti terakhir kali Seraphine melihatnya.
Tinggi. Tegap. Dingin.
Namun kali ini ada luka tipis memanjang di dekat pelipisnya, membuat wajahnya justru terlihat lebih tajam dari sebelumnya.
Tatapan birunya bergerak perlahan melewati kerumunan bangsawan.
Lalu berhenti.
Tepat pada Seraphine.
Hening kecil terasa di dada Luc.
Wanita itu berdiri anggun di antara para bangsawan lain dengan gaun biru gelap keluarga Nocteviel. Wajahnya tetap tenang, sulit dibaca seperti biasa.
Namun entah kenapa—
Luc langsung merasa lelah perjalanan panjangnya sedikit berkurang hanya karena melihatnya berdiri di sana.
Menyebalkan.
Cedric yang berkuda di sampingnya langsung menyeringai kecil.
“Oh, jadi sekarang kau bahkan tidak mencoba menyembunyikannya.”
Luc mengernyit tipis. “Diam.”
“Kau menatap Lady Seraphine seperti pria yang baru pulang dari perang dan menemukan alasan untuk tetap hidup.”
Tatapan Luc langsung berubah dingin.
Namun Cedric justru tertawa kecil.
Kereta kerajaan berhenti tepat di depan tangga utama istana.
Luc turun lebih dulu sebelum memberi hormat singkat pada Raja Théobald.
“Kau kembali dengan kemenangan sekali lagi, Luc,” ujar Raja puas.
“Itu kewajibanku sebagai prajurit Montreval.”
Jawaban Luc tetap formal.
Seluruh aula penyambutan dipenuhi pujian dan ucapan selamat. Para bangsawan mencoba mendekatinya satu per satu, berharap mendapat perhatian sang jenderal.
Luc membenci bagian ini.
Dan tanpa sadar, pandangannya kembali mencari Seraphine.
Wanita itu ternyata sudah berdiri tidak jauh darinya sekarang.
Tenang seperti biasa.
“Lady Seraphine,” sapa Luc akhirnya.
Seraphine membungkuk anggun.
“Lieutenant General.”
Luc mengernyit samar.
“Kita bertunangan. Kau masih memanggilku seformal itu?”
Tatapan abu-abu Seraphine terangkat pelan.
“Apakah perang mengubah etika Anda, Jenderal?”
Cedric yang berdiri tidak jauh langsung menahan tawa.
Sementara Luc hanya menatap Seraphine beberapa detik lebih lama.
Wanita ini benar-benar tidak pernah membuat segalanya mudah.
“Aku mendengar lukamu cukup serius,” kata Seraphine akhirnya.
“Rumor istana selalu berlebihan.”
“Syukurlah.”
Nada suaranya tetap tenang.
“Kerajaan terlihat terlalu panik hanya karena satu jenderal terluka.”
Luc hampir tersenyum.
Hampir.
“Kau terdengar kecewa aku kembali hidup-hidup.”
“Tidak.”
Seraphine menatapnya lurus.
“Aku hanya tidak suka perubahan jadwal politik mendadak.”
Luc menahan napas kecil.
Jawaban itu dingin.
Namun entah kenapa, ia mulai memahami bahwa itu adalah cara Seraphine menjaga jarak.
Dan anehnya—
Luc justru semakin tertarik karenanya.
Hening singkat jatuh di antara mereka sebelum Luc berbicara lagi.
“Aku menerima surat balasanmu.”
Mata Seraphine bergerak samar.
“Kau menyebut balasan itu surat?”
Luc hampir tertawa mengingat isi surat Seraphine yang hanya terdiri dari dua kalimat formal:
Jangan mati sebelum pernikahan kita berlangsung. Itu akan merepotkan kerajaan.
Dingin sekali.
Sangat Seraphine.
“Setidaknya kau membalas,” gumam Luc pelan.
Tatapan mereka bertemu beberapa detik.
Dan untuk pertama kalinya sejak Luc kembali—
Seraphine menyadari sesuatu yang sedikit mengganggu.
Pria itu berubah.
Bukan pada wajah atau sikapnya.
Melainkan cara Luc memandangnya sekarang terasa berbeda dibanding malam pertunangan mereka dulu.
Lebih tenang.
Lebih dalam.
Seolah tanpa sadar—
Luc Bastien de Montclair mulai benar-benar memperhatikannya.
(POV Luc)Tiga bulan di medan perang mengajarkanku satu hal.Manusia bisa terbiasa pada hampir semua hal.Lumpur yang tidak pernah kering.Hujan yang turun berhari-hari.Makanan yang rasanya sama setiap malam.Bahkan suara pertempuran yang datang dan pergi seperti ombak.Namun ada satu hal yang tidak pernah benar-benar bisa kubiasakan.Menunggu surat dari Seraphine.Pagi itu, aku baru saja menyelesaikan rapat dengan para perwira ketika seorang kurir memasuki tenda komando."Surat dari Kastil Montclair, Jenderal."Entah kenapa, lelah yang menumpuk sejak pagi terasa sedikit berkurang.Aku menerima amplop itu dan langsung mengenali tulisan tangannya.Rapi.Tegas.Dan sangat Seraphine.Hugo yang masih berada di dalam tenda mengangkat alis."Surat lagi?"Aku memberinya tatapan datar.Ia justru tersenyum."Saya tidak mengatakan apa-apa.""Bagus.""Itu hanya surat keenam bulan ini.""Hugo.""Baik, saya pergi."Ia keluar sebelum aku benar-benar mengusirnya.Begitu tenda kembali sepi, aku memb
(POV Luc)Medan perang tidak pernah benar-benar sunyi.Bahkan ketika pertempuran berhenti dan malam turun menyelimuti perkemahan, suara-suara itu tetap ada. Derak api unggun. Langkah penjaga yang berpatroli. Erangan pelan para prajurit yang terluka. Dan angin yang membawa bau tanah basah bercampur besi.Sudah hampir tiga bulan sejak aku meninggalkan Kastil Montclair.Tiga bulan sejak keberangkatanku dari gerbang kastil.Tiga bulan sejak aku meninggalkan seseorang yang menungguku pulang.Pagi itu, kabut menggantung rendah di atas lembah timur. Dari tanah tinggi tempatku berdiri, aku bisa melihat sisa-sisa pertempuran semalam. Bekas roda meriam membelah lumpur, sementara beberapa prajurit masih bekerja memperbaiki barikade yang rusak."Jenderal."Aku menoleh saat mendengar suara yang familiar.Commander Hugo de Ferrand berjalan mendekat sambil membawa beberapa laporan."Kondisi pasukan?" tanyaku."Masih stabil."Ia menyerahkan dokumen itu."Namun suplai mulai menjadi masalah. Hujan membu
Tabib istana datang saat langit hampir gelap.Mira membukakan pintu dengan wajah tegang, sementara Seraphine berdiri di dekat jendela, tangannya terlipat rapi di depan tubuh seolah ia sedang menunggu laporan keuangan, bukan kabar yang mampu mengubah seluruh hidupnya.Tabib itu seorang pria tua dengan jubah abu-abu dan mata tajam yang tak mudah dibohongi.Ia memeriksa Seraphine dalam diam.Terlalu lama.Terlalu tenang.Dan justru karena itulah, detik-detik yang berjalan terasa lebih berat dari biasanya.Akhirnya, tabib meletakkan alatnya perlahan dan menatap Seraphine dengan ekspresi yang sulit dibaca."Yang Mulia..." ucapnya hati-hati.Seraphine sudah tahu sebelum kalimat itu selesai.Namun ia tetap menunggu."Ada kemungkinan besar Anda sedang mengandung."Ruangan menjadi sangat sunyi.Mira menutup mulutnya dengan kedua tangan.Seraphine tidak bergerak.Tidak ada wajah terkejut, tidak ada seruan panik, tidak ada air mata. Hanya tatapan abu-abu yang tetap tenang, nyaris terlalu tenang,
Awalnya, Seraphine mengira ia hanya kelelahan.Beberapa minggu terakhir berjalan lebih sibuk dari biasanya. Selain mengurus seluruh administrasi Kastil Montclair, ia juga harus memastikan berbagai perubahan yang telah direncanakannya berjalan dengan baik.Maka ketika tubuhnya terasa lebih berat saat bangun pagi, ia tidak terlalu memikirkannya.Ia hanya melanjutkan hari seperti biasa.Namun ternyata rasa lelah itu tidak menghilang.Bahkan setelah tidur cukup.Bahkan setelah mengurangi beberapa pekerjaan.Dan itu mulai mengganggunya.Pagi itu, Seraphine duduk di ruang administrasi bersama Mira ketika secangkir teh hangat diletakkan di hadapannya.Teh melati.Minuman yang hampir selalu menemaninya bekerja.Namun baru satu hirupan aroma masuk ke hidungnya, Seraphine langsung mengernyit."Apa ada yang salah, Nona?" tanya Mira.Seraphine mendorong cangkir itu sedikit menjauh."Aromanya terlalu kuat."Mira berkedip."Ini teh yang sama seperti biasanya.""Aku tahu.""Itu campuran favorit Anda.
Kepergian Luc Bastien de Montclair meninggalkan sesuatu yang berbeda di Kastil Montclair.Bukan kesedihan.Bukan pula kekosongan.Melainkan keheningan yang terasa asing.Hari-hari tetap berjalan seperti biasa.Seraphine bangun sebelum matahari terbit, memeriksa laporan keuangan, mengawasi pengelolaan gudang, dan memastikan seluruh kastil berjalan sebagaimana mestinya.Sebagai Marchioness Montclair, ia tidak memiliki kemewahan untuk larut dalam perasaan.Dan sebagai istri seorang jenderal, ia sudah memahami bahwa perang akan selalu menjadi bagian dari hidup mereka."Ada laporan baru dari gudang timur," lapor Mira suatu pagi.Seraphine menerima dokumen itu."Dan?""Pengeluaran turun dua belas persen sejak sistem baru diterapkan."Seraphine mengangguk kecil."Bagus.""Tidak ada komentar lain?""Haruskah aku menangis bahagia?"Mira menghela napas."Terkadang saya lupa Anda tidak pernah merayakan kemenangan kecil.""Aku merayakannya.""Bagaimana?""Dengan mencari masalah berikutnya."Mira
Sore itu, halaman utama Kastil Montclair dipenuhi derap kaki kuda dan suara logam yang saling beradu.Panji hitam-perak keluarga Montclair berkibar di bawah langit musim gugur. Para prajurit memeriksa perlengkapan mereka untuk terakhir kali, sementara para perwira memastikan barisan telah siap berangkat.Perang tidak pernah menunggu.Dari balkon lantai dua, Seraphine mengamati semuanya dengan tenang.Di sampingnya, Mira berdiri sambil membawa mantel bulu."Nona," panggilnya hati-hati. "Anda baik-baik saja?"Seraphine tidak segera menjawab.Tatapannya tetap tertuju pada halaman di bawah."Aku baik-baik saja."Mira menahan senyum kecil.Setelah sekian lama melayani Seraphine, ia tahu kapan majikannya berkata jujur dan kapan tidak.Namun kali ini, ia memilih diam.Karena beberapa hal perlu dipahami sendiri.Ketika Seraphine turun ke halaman, Luc sudah menunggu di dekat kudanya.Dengan zirah perang dan mantel hitamnya, ia kembali terlihat seperti sosok yang dikenal seluruh Montreval—Jende
Istana Montreval kembali dipenuhi cahaya. Namun kali ini bukan untuk pesta pertunangan. Melainkan perpisahan. Barisan ksatria dan prajurit memenuhi halaman utama kerajaan dengan zirah perak yang berkilau di bawah matahari pagi. Bendera Montreval berkibar tertiup angin musim gugur, sementara suara
Luc Bastien de Montclair tidak menyukai pesta istana.Terlalu banyak senyum palsu. Terlalu banyak tatapan penuh kepentingan.Karena itu, setelah Seraphine pergi meninggalkan balkon, Luc tetap berdiri diam cukup lama di sana, membiarkan dingin malam meredakan sesuatu yang sejak tadi terasa aneh di d
Di Kerajaan Montreval, perempuan bangsawan tidak diberi kebebasan untuk memilih. Mereka hanya diajarkan cara tersenyum saat hidupnya diputuskan orang lain. “Yang Mulia Duke memanggil Anda ke ruang kerja.” Seraphine de Nocteviel menatap pantulannya di cermin sesaat sebelum berbalik. Gaun beludru
Tiga minggu setelah keberangkatan pasukan, kehidupan di Istana Montreval kembali berjalan seperti biasa.Pesta tetap berlangsung. Musik tetap dimainkan. Para bangsawan tetap sibuk berpura-pura peduli pada kerajaan sambil menusuk satu sama lain lewat senyum sopan.Seolah perang hanyalah cerita jauh







