Compartir

Aku Menolak Nama Moretti
Aku Menolak Nama Moretti
Autor: Katerina

Bab 1

Autor: Katerina
Hening merambat menyusuri kedua sisi meja panjang itu.

Para paman yang tadinya mengangkat gelas kristal memalingkan wajah. Begitu pula para pengacara keluarga dan para lelaki yang mengurus bisnis di dermaga Keluarga Halim. Di kediaman Osintrik, setiap penentuan tempat duduk ada alasan yang jelas. Setiap orang di ruangan itu pun tahu alasan setiap penempatan tersebut.

Sofia mencengkeram kartu yang disembunyikannya di bawah gelas anggurnya sambil memaksakan tawa. "Elena, aku cuma pengin suasananya tetap santai."

"Bagian mana yang santai? Mengambil kartuku atau menyembunyikannya?"

"Aku nggak berniat mencuri apa-apa."

"Bagus. Kalau begitu, serahkan kursinya."

Matanya seketika berkaca-kaca. Leo, kakak pertama dari ketiga kakakku, bangkit dari kursi di sisi kanan ayah kami sambil menurunkan suaranya. "Ada tamu di sini. Jangan buat makan malam jadi seperti pertunjukan gini."

Pandanganku menyapu ke sekeliling meja. "Mereka semua melihat Sofia memindahkan kartu itu. Kenapa justru aku yang dianggap membuat keributan?"

Rahangnya mengeras, tapi dia tak memberi jawaban.

Ibuku, Catherine, akhirnya menyentuh tangan Sofia. "Sayang, duduklah di sisi lainku malam ini. Elena masih sedang beradaptasi dengan keluarga kita."

"Aku sudah tinggal di kediaman ini selama tiga tahun," kataku. "Tapi kalian baru terpikir untuk memperkenalkanku malam ini."

Kehangatan lenyap dari wajah ibuku selama setengah detik.

Sofia berdiri, tapi dia tidak bergerak menuju kursi kosong yang tersedia. Dia menempelkan telapak tangannya ke dada, sementara napasnya berubah dangkal dan buru-buru. "Maafkan aku. Aku nggak seharusnya datang. Kehadiranku malam ini memang tak diharapkan.”

Dia merogoh tas kecilnya untuk mencari inhaler penyelamat. Jemarinya gemetar begitu hebat sampai dia nyaris tak sanggup memutar tutupnya.

Mervin, kakak keduaku sekaligus dokter kesayangan keluarga, sudah berada di sisinya sebelum inhaler itu menyentuh bibirnya. Ibu sontak berdiri. Leo memberi isyarat pada sopir yang menunggu di luar. Sementara Nico, si bungsu, berdiri tegak menghadang di antara aku dan Sofia.

Suaranya sedingin hujan yang menghantam kaca pintu teras. "Apa kamu baru akan senang setelah dia berhenti bernapas?"

"Mervin itu dokter. Sofia nggak butuh satu armada mobil."

"Dia butuh keluarganya pada saat dia ketakutan."

Ibu, Leo, dan Nico bergegas mengikuti Mervin yang memapah Sofia keluar. Aku tidak mencoba menghentikan mereka. Tak ada gunanya menyeret kembali orang-orang yang sudah memilih untuk pergi.

Ayahku, Lorenzo Halim, tetap duduk di ujung kepala meja. Dia tidak perlu menghantamkan tinjunya untuk menundukkan sebuah ruangan. Dia hanya meletakkan gelasnya. Bunyi letakannya yang lembut langsung membuat belasan orang menahan napas.

"Usiamu sudah 28 tahun, Elena," katanya. "Kamu sudah tinggal bersama kami selama tiga tahun, tapi kamu masih begitu keras kepala, nggak tahu kapan harus berkompromi."

Aku melihat keempat kursi kosong itu. Dingin seolah merembes langsung menembus rusukku.

Aku sempat mencoba tiga gaun untuk malam ini dan menghapal nama-nama sepupu yang tak pernah sekalipun meneleponku. Hal yang paling menyakitkan adalah aku memercayai janji ibuku. "Kali ini, semua orang akan melihat bahwa kamu sudah pulang."

Selama tiga tahun, setiap pengakuan dan perkenalan di depan umum selalu ditunda sampai waktunya pas. Aku terus berkata pada diriku sendiri bahwa malam ini berarti masa penantian sudah berakhir. Ketika toko bunga mengantarkan mawar putih, ibu mengatakan bunga itu sama persis dengan buket pada hari kelahiranku. Aku menyimpan satu tangkai di kamarku sebelum makan malam, terlampau senang oleh tanda sekecil itu bahwa dia masih mengingatku. Sungguh memalukan.

Mereka memang telah melihatku, tapi juga melihat dengan sempurna siapa yang mampu membuat keluarga ini bangkit dari kursi dan pergi.

Aku menyelipkan kartu tempat dudukku ke dalam tas. "Aku justru belajar sesuatu. Di rumah ini, anak yang nggak menangis harus mencari kursinya sendiri."

Ayah memanggil namaku, tapi aku sudah pergi sebelum dia sempat menasihatiku tentang kesabaran lagi.

Aku paham betul maksud tersirat di balik semua itu. Aku menolak mengubah manipulasi sebagai kebaikan. Keluarga Halim mulai menyadari bahwa aku tidak akan terus menelan versi kejadian mereka demi menjaga suasana makan malam tetap nyaman.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Aku Menolak Nama Moretti   Bab 10

    Enam bulan kemudian, aku membeli apartemen dua kamar tidur di Breklin.Hanya nama Elena Harta yang tercantum di akta. Aku memilih sendiri pelat nama kuningan itu. Tak ada satu pun lambang Halim yang menempel di atasnya.Para kolega membantu merakit rak-rak buku pada hari kepindahan. Vivian membawa sampanye, sementara Maya memberi kotak kunci untuk kunci cadangan. Tak ada yang memilihkan gorden untukku dan tak ada yang mencoba mengisi kamar-kamar kosong dengan hadiah-hadiah yang cocok untuk orang lain.Aku memilih sofa hijau tua, peralatan makan putih polos, dan gorden cukup tebal untuk menyekat matahari pagi. Tak satu pun keputusan itu berarti bagi siapa pun selain diriku. Justru karena itulah, aku menikmatinya. Kebebasan tidak selalu dramatis. Kadang itu berupa satu nota yang hanya memuat satu tanda tangan, alias milikmu sendiri.Seminggu sebelum ulang tahunku, ibu mengirim pesan.[Kami ingin mengajakmu makan malam, kalau kamu bersedia. Kamu yang pilih waktu dan tempatnya.]Aku balas,

  • Aku Menolak Nama Moretti   Bab 9

    Pukul 16.47 sore berikutnya, Yayasan Aurora memulihkan seluruh 5,1 miliar rupiah itu.Sofia mengundurkan diri sebagai direktur eksekutif. Label perhiasannya dipisahkan dari yayasan. Pengacara eksternal mengamankan pesan-pesan itu dan mengirimkan pemberitahuan perbaikan kepada penjamin emisi. Keluarga Halim tidak menutupi masalahnya. Untuk pertama kalinya, ayah tidak memintaku menukar kenyataan dengan kata yang lebih lembut.Ketika kontrak kerjanya selesai, keluargaku mengirimiku pesan.[Maukah kamu menemui kami? 20 menit saja, di lantai bawah kantormu.]Aku balas, [Oke, 20 menit. Lantai bawah.]Ibu membawa gelang safir itu. Dia mengulurkan kotaknya dengan kedua tangan. "Sejak awal, namamu terukir di dalamnya. Memberikannya kepada orang lain memang kesalahanku. Berpura-pura setelahnya bahwa hal itu tak mungkin menyakitimu juga salah. Keduanya sama-sama salah."Aku terima kotak itu. "Aku terima kata-katamu."Leo mengeluarkan sebuah kartu kunci dari kopernya. "Studio Sofia sudah dipindahk

  • Aku Menolak Nama Moretti   Bab 8

    Sore harinya, Sofia datang sendirian ke kantor Alden.Resepsionis memberitahuku bahwa dia sudah menunggu di lantai bawah hampir dua jam. Ketika aku selesai bekerja, dia duduk di lobi hotel sebelah dengan sebotol soda yang tak tersentuh.Begitu melihatku, dia langsung berdiri. "Beri aku sepuluh menit.""Kalau ini soal yayasan, telepon pengacaramu.""Ini soal pengadilan."Aku melihat jam tanganku, lalu menggeser diri ke bilik di dekat jendela.Sofia meletakkan gelang safir itu di atas meja. "Aku ingin mengembalikan ini lebih dulu. Namamu terukir di dalamnya. Aku nggak seharusnya terus memakainya.""Gelang itu nggak bisa mengubah apa pun dalam audit ini.""Aku tahu." Dia menyilangkan jemarinya. "Aku sedang berusaha mengaku bahwa aku punya pilihan."Aku hanya diam, membiarkannya mengisi keheningan itu.Dia menatap gelembung-gelembung yang naik di sisi gelasnya. "Saat di pengadilan, penyakitku tidak kambuh. Ketika aku melihat studio sedang dikosongkan, aku tahu cukup dengan bilang aku tak b

  • Aku Menolak Nama Moretti   Bab 7

    Asma Sofia tidak kambuh.Dia mempelajari kontrak itu lama sekali sebelum mengaku bahwa salinan SIM itu pernah melewati tangannya. "Asuransi membutuhkan dokumen semua orang. Aku mengembalikannya padamu begitu selesai aku pakai."Leo berpaling ke direktur keuangan. "Siapa yang menyewa Konsultan Kreswal?""Grace, asisten eksekutif Nona Sofia."Tiga puluh menit kemudian, Grace dibawa masuk ke ruang rapat. Satu pandangan pada tanda tangan itu langsung membuat wajahnya pucat."Aku yang membuat dokumen itu," katanya.Sofia melonjak dari kursinya. "Kenapa kamu memakai nama Elena?"Suara Grace bergetar, tapi dia terus berbicara, "Kamu bilang perusahaan perhiasanmu nggak boleh muncul di mana pun dalam rantai pembayaran yayasan. Kamu menyuruhku mencari seseorang yang tampak independen. Nona Elena bekerja di bidang risiko dan dia terhubung dengan Halim, jadi aku kira dia akan lolos tinjauan."Leo memerintahkan pesan-pesan itu diproyeksikan ke layar. Satu pesan dari Sofia berbunyi: [Namaku nggak bo

  • Aku Menolak Nama Moretti   Bab 6

    Tiga hari kemudian, aku melangkah ke ruang rapat direksi Properti Halim di Jalan Wolmin.Ayah duduk di kepala meja, Leo menjalankan operasi grup, Nico mengawasi keamanan hotel, dan ibu menjabat sebagai ketua kehormatan Yayasan Aurora. Mervin dan Sofia menjadi anggota dewan yayasan itu. Untuk kali ini, seluruh keluarga hadir. Tak satu pun dari mereka menyebut bahwa aku sudah pindah.Nico bersandar santai di kursinya. "Tampaknya hanya uang yang bisa membawamu pulang nih."Aku membuka laptopku. "Jam penagihan Alden mulai berjalan pukul sembilan. Kalimat itu akan masuk ke dalam faktur." Senyumnya lenyap.Aku memproyeksikan ringkasan tinjauan. "Tahun lalu Aurora menghimpun dana sebesar 12,9 miliar rupiah. 6,15 miliar mengalir ke program bantuan. 1,65 miliar adalah biaya operasional yang sah. Sisa 5,1 miliar butuh penjelasan."Sofia mengangkat dagunya. "Yayasan diaudit setiap tahun.""Audit bisa memastikan sebuah faktur memang ada, tapi nggak bisa membuktikan pengeluarannya pantas atau nggak

  • Aku Menolak Nama Moretti   Bab 5

    Maya menjemputku di apartemen kantor di Libra.Ukurannya tidak besar dan perabotnya hasil jadi dari katalog korporat, tapi lemari pakaiannya kosong dan seprainya baru. Sebuah label sementara di pintu tertulis ELENA HARTA dengan huruf kapital."Aku nggak mau kamu tersasar ke unit yang salah." Maya menyerahkan dua kunci. "Biaya sewa dipotong dari gaji. Kalau ada yang rusak, kamu harus membuat tiket pemeliharaan. Nggak ada utang budi."Aku berdiri beberapa saat di depan label kertas itu. Sebuah tempat tidak menjadi milikmu karena memiliki kamar lebih banyak atau pengawal bersenjata di luar pintunya. Kadang cukup dengan lemari kosong dan namamu yang dieja dengan benar.Maya membuka kulkas dan menemukannya kosong, akhirnya memesan makanan Thai tanpa bertanya kenapa semua barangku muat hanya dalam satu koper. Dia hanya berkata, "Malam pertama di tempat baru nggak seharusnya dihabiskan dengan makan kerupuk di atas wastafel." Itu kebaikan paling nyata yang aku terima sepanjang minggu itu dan d

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status