แชร์

Sinta

ผู้เขียน: Mediasari012
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-10 13:53:25

Gadis itu memeluk Arsya dengan sangat erat, seolah takut pria itu menghilang jika dilepaskan. Tangannya melingkar di pinggang Arsya tanpa ragu, sementara wajahnya tersenyum puas.

Di sisi lain, Amira justru tersenyum lembut ke arah suaminya. Senyum yang terlalu tenang untuk ukuran situasi seperti ini.

"Kenapa dia bisa tersenyum begitu? Padahal dia belum tahu kan Sinta itu siapa? Kenapa dia nggak cemburu?" batin Arsya kesal, dadanya terasa panas tanpa alasan yang jelas.

Sementara itu, di balik se
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Di Mall

    “Apa yang meluber?” tanya Ken polos.“Aaa! Udah diam! Kenapa malah diperpanjang sih?” Sisil menahan malu yang rasanya sudah sampai ke ubun-ubun.Pipinya memerah sempurna. Ia bahkan tidak berani menatap wajah Ken terlalu lama. Rasanya ingin menghilang saja dari mall itu.Tanpa banyak bicara, Ken langsung melepaskan jas mahal yang melekat di tubuhnya. Dengan gerakan santai, ia melingkarkan jas itu ke pinggang Sisil untuk menutupi bagian belakang rok gadis itu.“Jangan! Nanti jas kamu kena darah juga,” protes Sisil cepat sambil berusaha melepas jas tersebut.Namun, dengan sigap Ken menahan kedua tangan gadis itu. “Itu cuma darah, kan?” tanyanya sambil menatap lekat mata Sisil.Dag!Jantung Sisil langsung berdebar keras.Tatapan Ken terlalu dekat. Terlalu intens. Terlalu membuat napasnya berantakan. Padahal ini bukan pertama kalinya mereka saling bertatapan sedekat ini, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda. Sangat berbeda.“I-iya … cuma darahku, tapi—”“Tapi apa?” sela Ken pelan deng

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Datang Bulan

    Tanpa menunggu lama, Ken melangkah keluar dari butik, lalu berjalan beriringan dengan Sisil menuju area parkir. Sementara itu, Angkasa membuntuti langkah keduanya dari belakang. Laki-laki itu tampaknya memang berniat mengantar mereka sampai ke teras butik.Begitu Ken membuka pintu mobil untuk Sisil, Angkasa tersenyum tipis. “Hati-hati di jalan, Tuan Ken.”Ken hanya menganggukkan kepalanya singkat sebelum masuk ke kursi kemudi. Mesin mobil segera menyala halus, lalu kendaraan mewah itu perlahan meninggalkan area butik.Saat mobil bergerak keluar, Ken sempat menekan klakson pelan sebagai tanda berpamitan. Angkasa yang masih berdiri di teras butik membalas dengan lambaian tangan hormat.Sisil melirik ke arah belakang melalui kaca spion samping.“Oh, ternyata dia masih punya hati,” gumamnya pelan.“Apa?” tanya Ken sekilas.“Bukan apa-apa.”Ken tidak menanggapi lagi. Kedua tangannya fokus menggenggam setir sambil menatap lurus ke jalanan kota yang mulai ramai menjelang sore.Beberapa menit

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Ukuran Baju yang Pas

    “Ini tempat apa?” tanya Sisil sambil menatap bangunan megah di hadapannya.Mobil hitam yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan sebuah butik dengan dinding kaca tinggi dan lampu kristal yang berkilauan dari dalam. Bahkan dari luar saja, tempat itu sudah terlihat sangat mahal.“Kita mau fitting baju hari ini,” jawab Ken singkat.“Fi-fitting baju?” Sisil menoleh cepat dengan mata membulat tidak percaya.Ken hanya menganggukkan kepala pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.“Kenapa secepat ini?” lanjut Sisil heran.“Secepat ini?” Ken akhirnya menoleh. Tatapannya lurus menembus mata Sisil. “Lalu maumu berapa lama?”Glek.Sisil langsung menelan salivanya gugup. Ia sadar, salah bicara sedikit saja bisa membuat laki-laki itu kesal. Dan ia jelas tidak ingin calon suaminya berubah pikiran.“Emangnya kapan?” tanyanya lebih pelan.“Satu minggu lagi.”Duarr!Jawaban itu terasa seperti bom atom yang meledak berkali-kali di dalam kepalanya.“Satu minggu?!” pekik Sisil refleks. “Kenapa

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Fitting Baju?

    Mobil Dimas akhirnya memasuki halaman kediaman Arsya yang sore itu tampak jauh lebih ramai dari biasanya. Deretan mobil mewah terparkir rapi di sepanjang halaman luas rumah tersebut, sementara lampu-lampu taman yang menyala temaram membuat suasana terasa hangat sekaligus elegan.Di dalam mobil, Sinta menarik napas pelan sebelum membuka pintu. Sejak keluar dari rumah tadi, ia memang sengaja memesan taksi online dan meninggalkan mobil pribadinya di garasi. Entah kenapa, ia merasa tidak sanggup menyetir sendiri sore ini.Sementara itu, Dimas turun lebih dulu lalu menoleh ke arah gadis itu. Ia menganggukkan kepala pelan, seolah mencoba memberi kekuatan tanpa perlu banyak bicara.Sinta membalas anggukan kecil itu.Mereka berjalan memasuki rumah dengan jarak yang cukup berjauhan. Tidak ada percakapan di antara keduanya. Hanya langkah kaki yang saling bersahutan di atas lantai marmer.Acara malam itu memang diadakan di aula keluarga yang berada di dalam rumah utama. Arsya sengaja membuat aca

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Luka yang Sama

    RAWWRRR!Dari dalam kandang besar itu, seekor singa putih betina melompat keluar dengan langkah anggun namun mengintimidasi. Tubuhnya kini jauh lebih besar dibanding terakhir kali Arsya melihatnya. Surai putih di lehernya tampak berkilau terkena cahaya matahari sore.Arsya refleks berjongkok saat Bella berlari cepat menghampirinya.“Bella, akhirnya kita bertemu lagi,” ucap Arsya sambil mengelus lembut bulu putih singa itu.Bella menggesekkan kepalanya manja ke bahu Arsya, bahkan sesekali mengeluarkan suara dengusan kecil seperti kucing raksasa yang sedang dimanja majikannya.Sementara itu, Sean sudah berdiri kaku beberapa langkah di belakang mereka. Matanya membulat sempurna, rahangnya bahkan nyaris jatuh ke tanah.“S-sekretaris Ken, yang benar aja! Dia Bella yang kamu maksud?!” pekik Sean dengan wajah penuh keterkejutan sekaligus pengkhianatan.Ken yang berdiri santai malah tersenyum tipis sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Iya,” jawabnya santai. “Cantik, kan?”Dengus

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Bella Ternyata Bukan Wanita

    Cahaya kamar masih temaram. Embusan udara dingin dari pendingin ruangan membuat Amira tanpa sadar semakin merapatkan selimut ke tubuhnya. Namun, ada sesuatu yang terasa berat di pinggangnya.Perlahan ia membuka mata.Deg!Amira mendapati Arsya sedang memeluknya erat dari belakang dengan wajah yang masih terlihat lelap. Napas laki-laki itu terdengar teratur, sementara lengannya melingkar kuat di tubuh Amira seolah takut sang istri menghilang."Kapan dia pindah?" gumam Amira pelan sambil menahan senyum.Matanya lalu bergeser ke arah ranjang bayi di samping tempat tidur. Seketika sudut bibirnya terangkat semakin lebar saat melihat beberapa bantal tersusun rapi di sisi tempat tidur Ryu."Ya ampun ... dia sampai bikin benteng bantal segala."Amira menggeleng pelan. Ia tahu pasti itu ulah Arsya semalam. Suaminya memang terlihat tenang dan dingin di luar, tetapi sejak Ryu lahir, laki-laki itu berubah menjadi sangat protektif."Ternyata udah jam lima pagi," lirih Amira saat melirik jam dindin

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Di Kamar Mandi

    "Bajuku tadi mana?" Sisil mencari ke meja dekat bathtub, tapi ia tidak menemukan pakaiannya disana.Gadis itu perlahan mengintip dari balik tirai, matanya membulat saat mendapati pakaiannya ternyata masih teronggok rapi di atas meja samping wastafel. Pakaian dalamnya yang berwarna senada itu juga t

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Hampir Ketahuan

    Tring!Suara ponsel Sisil kembali berdering, ponsel yang tadi dilemparkan oleh Ken kini sudah teronggok di atas tempat tidur."Ah, pasti si Arsya sialan itu lagi!" guammnya malas.Gadis itu merebahkan tubuhnya disamping Ken,membiarkan ponsel itu terus berdering dan mati dengan sendirinya.Dan, lag

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Hampir Hilang Kendali

    "Asal kamu tahu, aku tidak pernah bergurau tentang masalah hati,” lanjut Ken dengan suara rendah dan serius.Deru napasnya terasa hangat di wajah Sisil. Jarak mereka begitu dekat hingga Sisil bisa melihat pantulan dirinya di mata laki-laki itu. Ia terpaku. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak satu

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kegugupan Sisil

    “Sekretaris Ken!” Amira beralih mengajak Ken berbicara, suaranya terdengar ringan, tetapi jelas berniat menggoda.“Ya, Nona?” jawab Ken sopan dari kursi kemudi. Tatapannya tetap lurus ke depan, fokus pada jalan.“Kenapa dari dulu Anda tidak korupsi saja? Pasti saat ini Anda sudah sangat kaya,” ucap

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status