LOGINMobil Dimas akhirnya memasuki halaman kediaman Arsya yang sore itu tampak jauh lebih ramai dari biasanya. Deretan mobil mewah terparkir rapi di sepanjang halaman luas rumah tersebut, sementara lampu-lampu taman yang menyala temaram membuat suasana terasa hangat sekaligus elegan.Di dalam mobil, Sinta menarik napas pelan sebelum membuka pintu. Sejak keluar dari rumah tadi, ia memang sengaja memesan taksi online dan meninggalkan mobil pribadinya di garasi. Entah kenapa, ia merasa tidak sanggup menyetir sendiri sore ini.Sementara itu, Dimas turun lebih dulu lalu menoleh ke arah gadis itu. Ia menganggukkan kepala pelan, seolah mencoba memberi kekuatan tanpa perlu banyak bicara.Sinta membalas anggukan kecil itu.Mereka berjalan memasuki rumah dengan jarak yang cukup berjauhan. Tidak ada percakapan di antara keduanya. Hanya langkah kaki yang saling bersahutan di atas lantai marmer.Acara malam itu memang diadakan di aula keluarga yang berada di dalam rumah utama. Arsya sengaja membuat aca
RAWWRRR!Dari dalam kandang besar itu, seekor singa putih betina melompat keluar dengan langkah anggun namun mengintimidasi. Tubuhnya kini jauh lebih besar dibanding terakhir kali Arsya melihatnya. Surai putih di lehernya tampak berkilau terkena cahaya matahari sore.Arsya refleks berjongkok saat Bella berlari cepat menghampirinya.“Bella, akhirnya kita bertemu lagi,” ucap Arsya sambil mengelus lembut bulu putih singa itu.Bella menggesekkan kepalanya manja ke bahu Arsya, bahkan sesekali mengeluarkan suara dengusan kecil seperti kucing raksasa yang sedang dimanja majikannya.Sementara itu, Sean sudah berdiri kaku beberapa langkah di belakang mereka. Matanya membulat sempurna, rahangnya bahkan nyaris jatuh ke tanah.“S-sekretaris Ken, yang benar aja! Dia Bella yang kamu maksud?!” pekik Sean dengan wajah penuh keterkejutan sekaligus pengkhianatan.Ken yang berdiri santai malah tersenyum tipis sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Iya,” jawabnya santai. “Cantik, kan?”Dengus
Cahaya kamar masih temaram. Embusan udara dingin dari pendingin ruangan membuat Amira tanpa sadar semakin merapatkan selimut ke tubuhnya. Namun, ada sesuatu yang terasa berat di pinggangnya.Perlahan ia membuka mata.Deg!Amira mendapati Arsya sedang memeluknya erat dari belakang dengan wajah yang masih terlihat lelap. Napas laki-laki itu terdengar teratur, sementara lengannya melingkar kuat di tubuh Amira seolah takut sang istri menghilang."Kapan dia pindah?" gumam Amira pelan sambil menahan senyum.Matanya lalu bergeser ke arah ranjang bayi di samping tempat tidur. Seketika sudut bibirnya terangkat semakin lebar saat melihat beberapa bantal tersusun rapi di sisi tempat tidur Ryu."Ya ampun ... dia sampai bikin benteng bantal segala."Amira menggeleng pelan. Ia tahu pasti itu ulah Arsya semalam. Suaminya memang terlihat tenang dan dingin di luar, tetapi sejak Ryu lahir, laki-laki itu berubah menjadi sangat protektif."Ternyata udah jam lima pagi," lirih Amira saat melirik jam dindin
“Ryu, kamu pup ya?” tanya Arsya pelan saat hidungnya mulai menangkap aroma tidak sedap dari arah bayi kecil di sampingnya.Dengan gerakan hati-hati, ia menurunkan selimut tipis yang menutupi tubuh Ryu. Dahinya langsung berkerut. Perlahan Arsya membuka kancing romper anaknya satu per satu. Seketika, bau menyengat langsung menyeruak memenuhi kamar. “Ya ampun ...” gumamnya tertahan.Arsya mematung beberapa detik sebelum menoleh ke arah Amira yang masih tertidur pulas di sisi ranjang. Napas istrinya terdengar teratur, wajahnya tampak lelah setelah seharian mengurus Ryu.Pria itu menggigit bibir bawahnya ragu.Ia benar-benar ingin membangunkan Amira sekarang juga. Namun, melihat wajah istrinya yang kelelahan membuat niat itu menghilang perlahan.“Aaa ... Ryu, kenapa malah pup tengah malam begini?” bisik Arsya panik sambil mengacak rambutnya sendiri.Ryu justru menggeliat kecil sambil menatap ayahnya polos.“Papa nggak akan bersihin pup kamu. Kita tunggu Mama bangun aja, ya?” ujar Arsya se
“Apa jangan-jangan perempuan yang akan dinikahi sekretaris Ken itu Kak Sisil?” ucapnya lirih.Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Sinta, bahkan sebelum ia sempat mencerna rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.Tatapannya masih terpaku ke arah mobil hitam milik Ken yang perlahan menjauh dari pelataran kafe. Di balik kaca mobil itu, bayangan Sisil masih terlihat samar dengan senyum yang tadi begitu cerah.Entah kenapa, pemandangan sederhana itu terasa seperti pisau yang menusuk tepat ke dalam hatinya.“Apa mereka benar-benar punya hubungan spesial?” gumamnya pelan. “Atau aku aja yang terlalu mikir jauh?”Sinta melangkah cepat menuju parkiran, seolah ingin memastikan semuanya sendiri. Namun, baru beberapa langkah, mobil itu sudah melaju keluar gerbang dan menghilang di tikungan jalan.Deg!Dadanya mendadak terasa nyeri.Sinta menghentikan langkahnya. Napasnya terasa berat, sementara tenggorokannya seperti tercekat oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.“Ya Tuhan ... kenapa
“Bu, tadi aku besuk ayah di penjara,” ucap Sisil hati-hati.Deg!Sendok yang sedari tadi diputar pelan di dalam cangkir teh, seketika berhenti. Wanita paruh baya itu mengangkat wajahnya perlahan, lalu menatap putrinya lekat-lekat. Tatapannya menyimpan banyak hal—sedih, kecewa, sekaligus khawatir.“Aku minta restu padanya,” lanjut Sisil lirih.“Lalu ... gimana?” tanya ibunya pelan.Sisil tersenyum hambar. Ia menundukkan pandangannya sejenak sebelum kembali berbicara.“Sebenarnya ibu udah tau gimana jawabannya.” Ia menarik napas panjang. “Saat ini cuma ibu yang benar-benar aku minta restu buat hubungan aku. Rasanya, aku kayak anak yang udah nggak punya ayah.”Kalimat itu membuat dada wanita paruh baya tersebut terasa sesak. Ia mengusap lengan Sisil beberapa kali, mencoba menenangkan anak gadisnya yang selama ini terlalu sering memendam luka sendirian.“Ibu ngerti perasaan kamu, Nak,” ucapnya lirih.Suasana dapur kecil itu mendadak terasa hening. Hanya suara kipas angin yang berputar pel
Setelah keberangkatan Arsya, Amira segera memasuki rumah dan menaiki tangga dengan langkah tergesa. Ia meraih tasnya, lalu memasukkan beberapa hadiah ke dalam tote bag besar yang sudah ia siapkan sejak pagi buta.“Sudah jam tujuh lewat,” gumam Amira sambil melirik jam tangan di pergelangan tanganny
Pagi tiba …Arsya menghadang Amira tepat di ambang pintu, lalu menjentikkan jarinya."Kenapa lagi sih dia? Tantrum lagi?" batin Amira kesal.“Mulai hari ini, aku akan memberimu ciuman selamat pagi.” Tanpa memberi kesempatan, Arsya mencengkeram dagu Amira dan melumat habis bibirnya.Amira terkejut h
Aktivitas dua sejoli itu baru saja berakhir. Arsya terkapar di samping Amira sambil memeluk erat tubuh istrinya. Hati dan pikirannya seolah sedang dihujani ribuan bunga yang bermekaran.Sementara itu, Amira justru memutar otak, merangkai kalimat seindah mungkin agar Arsya mengizinkannya pulang ke k
"Jangan bilang kamu lupa membelikan aku hadiah?" tanya Arsya.Wajah Amira kini sudah pucat pasi. Ia terdiam seribu bahasa sambil terus berpikir."Bertanggung jawablah atas kesalahan fatal mu ini!" ucap Arsya pura-pura kesal, padahal hatinya sangat senang karena ia bisa modus berkedok hukuman.Arsya







