로그인Ken menjentikkan jarinya ke arah pembawa acara. Dengan langkah santai, ia mengambil mikrofon dari tangan sang MC yang langsung menundukkan kepala hormat.Sorot lampu taman yang hangat menyorot wajah tegas Ken malam itu. Jas hitam yang melekat di tubuhnya membuat auranya semakin berbeda. Bukan lagi sekretaris dingin yang selalu terlihat serius, melainkan seorang pria yang baru saja resmi menjadi suami dari perempuan yang dicintainya.Ken menoleh ke arah Arsya dan Amira yang berdiri di barisan depan. Keduanya sedang tersenyum ke arahnya.Dengan hormat, Ken menganggukkan kepala kepada Tuan dan Nona mudanya. Namun, di luar dugaan, Arsya dan Amira membalas anggukan itu.Mata Ken langsung membulat kecil. "Tuan menganggukkan kepala ke saya?" batin Ken terkejut. "Kalau Nona muda yang melakukannya sih masih wajar. Tapi sekarang Tuan juga? Ini pertama kalinya beliau ngelakuin itu."Ken sampai menelan ludahnya sendiri. "Apakah dunia akan kiamat? Tapi untungnya saya udah menikah duluan."Ucapan a
Mobil milik Arsya beserta iring-iringan kendaraan keluarga besarnya perlahan memasuki kawasan taman tempat acara pernikahan Ken digelar. Dari jarak beberapa ratus meter saja, penjagaan ketat sudah terlihat begitu jelas. Ratusan pengawal berdiri tegap dan berjajar rapi di sepanjang jalan menuju taman. Beberapa lainnya berjaga di setiap sudut area, memastikan tidak ada satu pun orang asing yang bisa masuk sembarangan.Ken memang sengaja membuat acara pernikahannya tertutup. Ia hanya mengundang keluarga inti dan orang-orang yang benar-benar dianggap penting dalam hidupnya. Tidak ada awak media, tidak ada sorotan kamera berlebihan, apalagi siaran langsung seperti pesta para konglomerat lainnya. Meskipun konsep pernikahannya menggunakan tema outdoor wedding yang mewah dan megah, Ken tetap ingin menjaga kesakralan momen itu agar terasa lebih hangat dan pribadi.Saat mobil Arsya berhenti tepat di depan pintu masuk taman, suasana yang semula ramai perlahan berubah hening.Para tamu undangan m
“Ya Tuhan … dia cantik sekali.”Arsya menahan napasnya sendiri saat netranya bertabrakan dengan wajah Amira yang masih terlihat terkejut. Perempuan itu berdiri membeku di depan cermin ruang ganti, sementara pipinya perlahan berubah merah karena tatapan suaminya yang terlalu intens.Gaun yang dikenakan Amira jatuh sempurna membalut tubuhnya. Rambutnya yang ditata sederhana justru membuat kecantikannya semakin menonjol. Dan yang paling berbahaya bagi Arsya adalah ekspresi gugup istrinya saat ini.“Apa kamu meragukan aku?” tanya Arsya pelan sembari menatap lekat kedua mata Amira.Amira menelan ludahnya gugup. “Kamu juga meragukan aku?” balasnya cepat, mencoba mengalihkan suasana yang semakin membuat jantungnya berdebar tidak karuan.Arsya tersenyum tipis. “Nggak,” jawabnya santai. “Kalau kamu yang meragukan aku, buat tanda di tubuhku sekarang juga.”Tatapan Arsya turun ke dada bidangnya yang masih terbuka karena kancing kemejanya belum sempat ia kaitkan sejak tadi.Amira langsung salah t
Di sebuah taman terbuka yang luas dan megah, berdiri sebuah tempat penuh kenangan yang kini telah berubah seratus delapan puluh derajat. Taman itu dulunya hanyalah ruang hijau biasa, tetapi kini telah disulap menjadi tempat paling indah yang pernah dimiliki Ken. Bukan tanpa alasan, sebab taman itu sudah dibeli secara pribadi olehnya untuk hadiah pernikahannya dengan Sisil.Tempat itu juga menjadi saksi bisu saat Ken pertama kali mengutarakan perasaannya kepada perempuan yang hari ini resmi akan menjadi istrinya.Dekorasi bernuansa putih memenuhi setiap sudut taman. Rangkaian bunga mawar putih menjuntai indah di sepanjang lorong utama. Kain-kain tipis yang tertiup angin menambah kesan elegan dan romantis. Di tengah taman berdiri altar megah dengan sentuhan lampu kristal yang berkilauan terkena cahaya matahari pagi.Pernikahan bertema outdoor itu terlihat begitu mewah, hangat, dan sempurna.Hari ini adalah hari yang sudah lama dinantikan. Hari di mana Ken akhirnya akan menikahi Sisil.*
Sore hari mulai merambat turun, meninggalkan semburat jingga yang memantul di dinding kaca rumah mewah milik Arsya. Angin berembus pelan di area teras yang luas itu, membuat dedaunan tanaman hias bergoyang lembut.Namun, suasana tenang itu sama sekali tidak memengaruhi Sean.Laki-laki itu berdiri mematung seorang diri di teras rumah sambil sesekali melirik jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Wajah tampannya sudah ditekuk kesal sejak beberapa menit terakhir.“Lama sekali sekretaris itu!” pekiknya geram.Kakinya menghentak lantai beberapa kali, seolah sedang melampiaskan emosi yang terus menumpuk di kepalanya.Di tengah kekesalannya, suara gerbang otomatis akhirnya terdengar terbuka.Sean langsung menoleh cepat.Dari kejauhan, mobil hitam milik Ken melaju masuk dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya berhenti tepat di halaman depan rumah.“Akhirnya datang juga badebah satu itu,” dengus Sean pelan dengan wajah masam.Kini suasana rumah Arsya sudah jauh lebih lengang diband
“Apa yang meluber?” tanya Ken polos.“Aaa! Udah diam! Kenapa malah diperpanjang sih?” Sisil menahan malu yang rasanya sudah sampai ke ubun-ubun.Pipinya memerah sempurna. Ia bahkan tidak berani menatap wajah Ken terlalu lama. Rasanya ingin menghilang saja dari mall itu.Tanpa banyak bicara, Ken langsung melepaskan jas mahal yang melekat di tubuhnya. Dengan gerakan santai, ia melingkarkan jas itu ke pinggang Sisil untuk menutupi bagian belakang rok gadis itu.“Jangan! Nanti jas kamu kena darah juga,” protes Sisil cepat sambil berusaha melepas jas tersebut.Namun, dengan sigap Ken menahan kedua tangan gadis itu. “Itu cuma darah, kan?” tanyanya sambil menatap lekat mata Sisil.Dag!Jantung Sisil langsung berdebar keras.Tatapan Ken terlalu dekat. Terlalu intens. Terlalu membuat napasnya berantakan. Padahal ini bukan pertama kalinya mereka saling bertatapan sedekat ini, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda. Sangat berbeda.“I-iya … cuma darahku, tapi—”“Tapi apa?” sela Ken pelan deng
“Jangan sentuh istriku!”Suara Arsya menggema di dalam kamar. Nadanya tajam, penuh tekanan, membuat suasana yang sejak tadi tegang semakin memanas.Dokter Virgo sontak menoleh ke arah Ken. Dua laki-laki itu saling pandang selama beberapa detik, seolah ada percakapan tak kasatmata yang berlangsung d
Masih di malam yang sama.Sisil duduk di sofa seorang diri, sementara Ken sudah keluar dari apartemen begitu saja setelah mengatakan hal yang masih membuatnya bingung.“Entah apa maksudnya memberikanku apartemen ini. Dia bilang mau menikah? Lalu kemarin dia bilang aku pemenangnya? Maksudnya apa! Ke
Sore hari …Setelah mengantarkan Arsya ke kediamannya, Ken tidak langsung pergi. Ia berdiri sejenak di balik kemudi, memastikan dari kejauhan bahwa Tuan mudanya benar-benar menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar. Hingga beberapa menit berlalu dan tak ada tanda-tanda Arsya turun kembali, barulah Ke
Pagi tiba. Tidak biasanya Arsya bangun lebih pagi dari rutinitasnya. Sementara itu, Amira masih terlelap di bawah selimut. Setelah puas memandangi wajah istrinya yang tertidur pulas, Arsya beranjak dan melangkah masuk ke kamar mandi.Pagi ini ia mandi di bawah guyuran air shower, bukan berendam di







