/ Rumah Tangga / Aku Milikmu, Tuan Arsya! / Pergi ke Kota Veloria

공유

Aku Milikmu, Tuan Arsya!
Aku Milikmu, Tuan Arsya!
작가: Mediasari012

Pergi ke Kota Veloria

작가: Mediasari012
last update 최신 업데이트: 2025-12-03 17:46:59

“Mana Amira?!” suaranya menggelegar, membuat Damini tergetar.

Belum sempat sang ibu menjawab, Amira muncul dari dalam rumah. “Pak, saya mohon ... beri saya waktu dua minggu lagi. Adik saya sedang sakit, saya masih butuh biaya untuk pengobatannya ke rumah sakit.”

Pak Herman menyeringai sinis. “Alasan! Kau boleh saja tidak membayar tapi ...."

Tangan Pak Herman tanpa permisi mencolek pipi mulus Amira dengan mata berbinar, "nurut sama Mas ya? Hahaha bagaimana?"

"Saya minta waktu, maaf pak Herman, jangan coba kurang ajar."

"Sok jual mahal! Awas aja kalau dua minggu lagi kamu belum bisa bayar, jangan salahkan aku kalau kamu bakal resmi jadi istri ketigaku.”

Deg!

Menikah dengan lelaki itu demi melunasi utang?

Secara resmi istrinya dua, faktanya rentenir itu selalu bergonti-ganti wanita-wanita seenaknya dan menambah koleksi wanita setiap saat. 

“Nak, Ibu berat melepasmu hidup sendirian di kota besar. Kamu anak gadis, Ibu takut terjadi apa-apa padamu.” Damini mengelus pipi putrinya dengan mata berkaca-kaca.

“Bu, utang itu sangat banyak. Kalau hanya bertahan di desa, aku tidak yakin bisa melunasinya,” jawab Amira pelan.

Tiga ratus lima puluh juta rupiah, angka itu bergema di kepalanya, membuat dadanya sesak. Ia hanya bekerja serabutan, tak mungkin bisa melunasi dalam waktu dekat. Dengan bermodalkan tabungan lima juta rupiah dan ijazah S1, Amira berniat mengadu nasib.

Keesokan harinya, ia berangkat dengan doa dan pelukan erat ibunya. Adik-adiknya menangis dalam diam dari balik tirai kamar. Amira memeluk satu persatu kedua adiknya dan mengecup si bungsu agar kuat bertahan.

Sampai di kota, Amira masuk ke ruang ATM dengan langkah ragu. Di dompetnya hanya tersisa seratus ribu. Ia menarik satu juta rupiah untuk mencari kos-kosan, lalu menekan tombol sekali lagi. Mesin berdengung, uang muncul dan masih ada di genggamannya.

Braaak! 

Pintu kaca terbuka keras. Terlalu cepat, tangan berotot itu menarik apa yang di genggam Amira. Amira terbelalak menyadari. Pria itu tiba-tiba merampas uang Amira dan kabur. Amira panik, berteriak sambil mengejar.

"Toloooong! Uang saya dijambret!"

Beberapa orang ikut mengejar, tapi pria itu terlalu cepat dan menghilang di keramaian. Amira hanya bisa terkulai lemas di trotoar, wajahnya pucat. 

Pria-pria yang tadi membantunya mengejar penjambret, hanya menatap iba dan bubar tanpa bicara. 

“Uangku tinggal dua juta. Apa cukup buat bertahan hidup di kota sebesar ini? Aku harus segera cari pekerjaan.”

Byuurrr!

Sebuah mobil hitam melaju kencang, menyibak genangan air jalanan yang langsung menyembur ke tubuhnya. Amira terkejut, kakinya terpeleset dan tubuhnya terpental ke belakang, kepalanya terbentur trotoar, pandangannya buram seketika.

Brugh! 

"Gadis itu pingsan pak." Sopir berteriak panik, menghentikan mobil.

Dari dalam, seorang pria bersetelan rapi, Arsya turun dengan wajah tegang. Mata orang sekitarnya menunjuk dan memotret, dia tahu sosoknya pasti menarik perhatian media. “Sial, Ken pasti mencariku. Tolong bilang padanya, kalau hari ini, aku sedikit terlambat!”

***

“Eh, aku ada di mana?” suaranya serak.

“Rumah sakit, Nona.” Perawat tersenyum tipis. “Anda pingsan di jalan, dibawa oleh Tuan Arsya.”

Nama itu membuat Amira refleks menegakkan tubuhnya.

Sekelebat ingatannya langsung berkelebat, di ruang ATM, uangnya di rebut penjambret lalu mengejar dengan tas bututnya yang berat lalu gagal mengejar membuat Amira lemas dan mobil itu … Mata Amira berkedip cepat. 

“Mobil itu membuat aku terpeleset. Dia yang bikin aku pingsan!” serunya parau, masih memegangi kepalanya yang berat. 

Pintu kamar terbuka. Lelaki bersetelan hitam masuk dengan wajah tenang namun dengan tatapan tajam.

Pria itu adalah Arsya.

“Kamu sudah sadar,” ucapnya datar, menatap seolah Amira adalah pengganggu.

Bagaimana tidak mengganggu, harusnya ia sudah ada di kantor. Namun karena tuntutan semua orang di jalan, Arsya harus bertanggung jawab pada gadis ini, dan membawanya ke rumah sakit. 

Amira menatap galak dari ranjang. “Kamu! Kamu yang membuat aku pingsan! Tanggung jawab! Ibuku bisa marah kalo aku terluka, tahu nggak?!” ketus Amira, tapi sebenarnya ia masih sangat lemah.

Arsya menahan tawa, ia menutup mulutnya. "Kamu bilang pingsan karena aku? Kamu yakin bukan karena keletihan?”

“Jelas karena mobilmu nyipratin lumpur! Aku terpeleset!” suaranya masih pelan dan wajah gadis itu pucat. 

Arsya malah kasihan. Arsya menyilangkan tangan, lalu meletakkan selembar kertas hasil pemeriksaan di meja. “Ini, hasil pemeriksaan dokter.”

Amira membaca lembaran yang diberikan ke tangannya.

“Kamu pingsan karena lambung kosong, dehidrasi, dan shock. Tidak ada luka benturan serius, hanya kelelahan berat.”

Amira melongo, lidahnya kelu. “Jadi aku pingsan karena … eh, tapi tadi aku kaget sama mobilmu yang nyipratin lumpur jalan. Tuh lihat baju aku kotor begini. Pasti aku pingsan karena terkejut lalu-.”

“Mobilku hanya kebetulan lewat. Kamu dehidrasi, letih, lalu pingsan saat lumpur mengenai bajumu?" Arsya menatap dengan menahan senyum saat mendengar bunyi perut Amira. 

Arsya mengambil sekotak makan dari meja dan menaruhnya di pangkuan gadis itu. “Makanlah, Dokter bilang kamu belum makan, ya? Ini aku order dari restoran terdekat.”

Amira masih diam, malu, bingung tapi terlalu gengsi untuk mengambil kotak makan itu. Padahal bau harum aroma makanan itu membuat Amira menelan salivanya.

“Atau aku harus menyuruh suster menyuapi kamu?” kini tatap dingin lagi membuat Amira tak berkutik. 

“Tidak perlu.” Amira berusaha bangkit perlahan lalu mengambil kotak makanan tersebut.

Arsya berbalik hendak pergi, tapi sempat menaruh amplop di meja samping. “Gunakan untuk mengganti pakaianmu yang kotor karena lumpur mobilku, yang katanya membuatmu pingsan.” 

Pintu tertutup.

Amira menatap amplop itu dengan penasaran. Tangannya gemetar saat membukanya. Segepok uang rapi di dalamnya.

“Dua juta untuk ganti baju?” bisiknya terkejut.

Satu malam di rumah sakit, Amira kini dengan tas kopernya keluar dari rumah sakit dengan bingung. Menatap jalan raya dan lalu lalang orang di depan sebuah cafe. 

“Amira?” Sebuah tangan menepuk pundaknya, menyapa dengan nada ceria dari belakang membuatnya menoleh.

“Sisil?” keduanya berjingkrak saling memeluk. 

Mereka saling tersenyum, berpelukan singkat. Menuntaskan rindu lama sambil terus berceloteh. 

"Astaga, kamu sekarang cantik sekali, Sil? aku pangling." 

“Aku kerja di stasiun TV, liputan terus di lapangan harus selalu on untuk menghadap kamera. Kamu sendiri, kok disini? Sejak kapan ada dikota ini?” tanya Sisil cepat.

“Baru datang. Mau cari kerja dan tempat tinggal. Nahasnya aku kecopetan kemarin. Untung masih ada uang walau tidak banyak.” sekelebat wajah Tuan ganteng tapi dingin itu terlintas. 

Sisil menatap koper di samping Amira lalu menghela napas. “Kebetulan banget, aku tahu kok kamar kosong harga miring yang lumayan layak dekat tempatku. Yuk, aku antar.”

Beberapa menit kemudian, Amira sudah memiliki kamar sederhana yang hangat. Setelah membereskan barang, Sisil pamit untuk kembali bekerja.

“Terima kasih, Sil,” ucap Amira pelan. memeluk sahabatnya yang lama terpisah itu. 

Di warung bakso depan jalan, Amira menatap gedung tinggi menjulang bertuliskan ARKANA GROUP. Sisil baru saja menelponnya memberi tahu, besok pagi ada penerimaan karyawan di gedung itu. Atas saran Sisil ia siap mengajukan lamaran besok disana.

Dua hari pasca kejadian itu, Arsya menatap layar televisi 85 inchi yang biasa ia gunakan untuk conference, yang menampilkan berita terkini model cantik, Cassandra tersenyum di depan kamera, mengenakan gaun tipis dan perhiasan berkilau.

“Ken,” suaranya tajam. “Kamu dengar obrolan Mama soal Cassandra?”

“Ya, Tuan.”

“Aku mau kita batalkan rencana perjodohan Mama. Aku tidak akan menikah dengan wanita itu.”

“Baik, Tuan.”

Arsya kemudian menarik nafas berat. “Carikan aku wanita yang berbeda. Bukan yang suka kehidupan malam, bukan yang berpakaian untuk memancing sorak penonton. Aku tidak menyukai Cassandra meskipun aku dijodohkan.”

“Sepertinya, wanita yang kemaren Anda tabrak, sangat cocok dengan Anda.”

"Amira Anastasya?" Arsya tersenyum, melihat foto di map yang ia pegang.

Ken melihat nama calon karyawan itu, kemudian menanggapi. "Ini rencana saya, Tuan. Perjodohan aku dan Cassandra selesai karena aku memilih si 'wanita dehidrasi ini' lalu Cassandra marah dan Mama tak bisa berbuat apapun karena tuntutan dia hanya menikah. Aku menikah selama enam bulan lalu bercerai?"

“Dan bagaimana ketika aku benar-benar mencintainya?” Arsya menghela nafas, lalu menyunggingkan senyum sebelum pergi meninggalkan Ken.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Hampir Ketahuan

    Tring!Suara ponsel Sisil kembali berdering, ponsel yang tadi dilemparkan oleh Ken kini sudah teronggok di atas tempat tidur."Ah, pasti si Arsya sialan itu lagi!" guammnya malas.Gadis itu merebahkan tubuhnya disamping Ken,membiarkan ponsel itu terus berdering dan mati dengan sendirinya.Dan, lagi-lagi ponsel itu kembali berdering yang membuat kesabaran Sisil berada di puncaknya, ia sangat kesal sekali."Aaa! Siapa sih!" dengusnya sembari meraih ponselnya.Raut wajah kekesalannya berubah menjadi tegang saat ini begitu ia tahu siapa yang meneleponnya saat ini."Mira?" ucapnya pelan.Mendengan nama Nona mudanya disebutkan, Ken seketika duduk dari tidurnya."Halo, Mira. Ada apa?" tanya Sisil yang sudah menjawab panggilan itu."Kenapa lama sekali menjawabnya?" tanya Amira kesal."I-iya maaf, tadi aku ada di kamar mandi," kilah Amira beralasan."Buka pintunya! Aku udah ada di depan kamar kamu," ucap Amira."Apa!" pekik Sisil tidak sadar."Cepat, buka!"Tok ... tok ... tokAmira mengetuk

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Hampir Hilang Kendali

    "Asal kamu tahu, aku tidak pernah bergurau tentang masalah hati,” lanjut Ken dengan suara rendah dan serius.Deru napasnya terasa hangat di wajah Sisil. Jarak mereka begitu dekat hingga Sisil bisa melihat pantulan dirinya di mata laki-laki itu. Ia terpaku. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak satu kata pun keluar. Hanya degup jantungnya yang terdengar semakin keras di telinganya sendiri.“Apa kamu sanggup menutup mata dan telingamu dari laki-laki lain?” tanya Ken pelan, namun tegas. “Lakukan semua itu hanya untukku. Bukan karena kamu takut aku pergi, tapi karena kamu tulus menjaga perasaanku.”Glek.Sisil menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa pahit. Tangannya yang semula menggantung di udara perlahan mencengkeram ujung kemeja Ken, seolah mencari pegangan.Selama ini, ia memang terobsesi pada ketampanan Ken. Ia sudah lama memendam rasa, bahkan sebelum laki-laki itu benar-benar mengenalnya. Namun di balik itu semua, Sisil masih membawa kebiasaannya—bergaul bebas dengan banyak teman la

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Ken Cemburu

    “Arya?” Ken membaca nama di layar ponsel itu dengan suara rendah. Tatapannya yang semula tenang perlahan berubah dingin. Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya tampak menegang. “Siapa dia?”Tanpa menunggu jawaban, Ken menyentuh tombol hijau dan mengaktifkan pengeras suara. Nada sambung itu terdengar menggema di kamar yang hening.“Sisil, susah banget sih dihubungi?” Suara laki-laki dari seberang terdengar santai, seolah tidak tahu sedang berada di ujung tanduk. “Sisil, apa kamu lupa kalau nanti malam aku udah ngajak kamu makan malam?”Ken tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. Sorotnya menatap Sisil lekat-lekat, seakan menunggu satu kesalahan kecil saja untuk meledak.Glek.Tenggorokan Sisil terasa kering. “Sialan kau, Arsya! Bisa-bisanya meneleponku dalam situasi seperti ini,” batinnya kesal.“Sisil?” Suara di telepon itu terdengar lagi, kali ini dengan nada curiga karena tak mendapat jawaban.“Ya?” jawab Ken datar.Sisil refleks hendak merampas ponselnya, t

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kegugupan Sisil

    “Sekretaris Ken!” Amira beralih mengajak Ken berbicara, suaranya terdengar ringan, tetapi jelas berniat menggoda.“Ya, Nona?” jawab Ken sopan dari kursi kemudi. Tatapannya tetap lurus ke depan, fokus pada jalan.“Kenapa dari dulu Anda tidak korupsi saja? Pasti saat ini Anda sudah sangat kaya,” ucap Amira tergelak, bahunya sampai bergetar menahan tawa.Ken hanya tersenyum tipis. “Tanpa korupsi pun saya sudah kaya, Nona.”“Iya deh, iya. Laki-laki suci tak berdebu,” balas Amira kesal, memutar bola matanya dengan dramatis.Sisil yang duduk di samping Ken hanya bisa menahan napas. Bibirnya sudah berkedut ingin tertawa, tetapi ia mati-matian menahannya. Ia tahu, jika ia sampai membuka suara, yang keluar pasti bukan kata-kata, melainkan ledakan tawa yang tak bisa dihentikan.Keheningan di dalam mobil itu mendadak pecah ketika suara alarm dari ponsel Arsya berbunyi nyaring.Tin! Tin! Tin!“Ken, hentikan mobil,” perintah Arsya tenang sembari mematikan alarm tersebut.“Baik, Tuan,” jawab Ken pa

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Rasanya Seperti Telur

    Setelah puas berburu jajanan, mereka semua segera keluar dari area bazar yang masih ramai oleh pengunjung. Lampu-lampu gantung berwarna kuning temaram mulai menyala seiring senja turun perlahan. Aroma minyak goreng, gula karamel, dan bumbu bakar masih melekat di udara.Amira memeluk dua kantong plastik besar berisi jajanan, wajahnya berseri-seri seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah ulang tahun. Sisil berjalan di sampingnya sambil sesekali mengintip isi kantong itu dengan mata berbinar. Sementara Arsya melangkah sedikit di depan, raut wajahnya terlihat waspada seolah jajanan itu adalah benda asing yang mencurigakan.Ken berjalan paling belakang, memastikan tak ada yang tertinggal.Begitu sampai di area parkir, mereka segera memasuki mobil. Ken duduk di kursi kemudi, Sisil di sampingnya, sementara Arsya dan Amira di kursi belakang.“Sayang, bisa tukar tempat duduk nggak sama Sisil?” tanya Amira lembut. Ia sudah tak sabar ingin membongkar jajanan dan berbagi cerita seru dengan sa

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Bazar

    “Kamu juga terbagi, kita terbagi,” balas Amira pelan.“Aku nggak mau terbagi. Seratus persen hanya boleh jadi milikku,” ucap Arsya, nadanya terdengar posesif tapi matanya memancarkan kekanak-kanakan yang menggemaskan.Amira terkekeh. “Wah, sepertinya bentar lagi aku bakal punya dua bayi. Bayi kecil di perutku, dan bayi besar yang lagi meluk aku sekarang.”Arsya mendengus pelan, tapi pelukannya justru makin erat. Seolah-olah ia benar-benar takut kehilangan satu persen pun dari istrinya.“Kalau kamu berani bagi perhatianmu, aku bakal saingi dia,” gumamnya di telinga Amira.“Saingi janinmu sendiri? Dasar nggak tahu malu,” balas Amira sembari menepuk dada bidang suaminya.Dengan sedikit paksaan dan banyak bujuk rayu, akhirnya Amira berhasil melepaskan diri dari dekapan itu. Ia mendorong tubuh Arsya ke arah kamar mandi.“Cepat mandi! Jangan manja terus.”Arsya berjalan sambil menggerutu pelan, tapi tetap menuruti perintah istrinya. Pintu kamar mandi tertutup, dan Amira hanya bisa menggelen

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status