LOGINSatu hari berlalu, di sekolah tidak ada bayangan Razik dan teman-temannya. Aku mendengar dari teman sekelas bahwa mereka sedang mengikuti lomba olahraga antarsekolah. Aku merasakan kelegaan yang aneh, tapi juga ada rasa kosong. Aku tidak dihajar hari ini, aku aman, tapi aku tahu ini hanya sementara.
Aku berjalan pulang pikiran terfokus pada satu hal Kanal Paman Ayam. Dia pasti punya latihan lain untukku. Aku tidak bisa membuang-buang waktu, bari ini aku tidak dihajar. Tapi esok? Siapa yang tahu? Aku tahu, aku harus memanfaatkan waktu ini. Aku harus menjadi lebih kuat, jauh lebih kuat dari sebelumnya. Aku membuka emailku mataku melotot tak percaya. Subjeknya adalah, "Pemberitahuan Libur Sekolah." Aku membaca isinya dengan saksama. Sekolah akan direnovasi selama dua minggu, dan semua siswa diliburkan. Aku tidak tahu harus merasa apa. Ini adalah liburan yang tak terduga. Di satu sisi, aku merasa lega karena tidak harus menghadapi mereka. Di sisi lain, aku merasa kosong. Aku tidak akan bisa membalas dendam dalam waktu dekat. Namun kemudian sebuah ide muncul di benakku. "Dua minggu" Ini adalah waktu yang sempurna untuk berlatih aku tidak harus takut jika mereka akan menghajarku setelah sekolah. Aku tidak harus khawatir jika aku akan terlihat lelah di sekolah, ini adalah kesempatanku untuk menjadi lebih kuat. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dua minggu itu terasa seperti dua tahun. Setiap hari dari pagi hingga malam aku berlatih. Aku berlari maraton, melakukan push-up dengan beban berat, dan mempraktikkan setiap teknik bela diri dari kanal Paman Ayam. Tubuhku terasa sakit, tapi aku tidak peduli. Aku mengabaikan rasa lelah, rasa lapar, dan rasa sakit. Fokusku hanya satu "menjadi kuat". Dua minggu pun berlalu, aku menatap diriku di cermin. Aku tidak lagi melihat anak laki-laki yang lemah dan ketakutan aku melihat seorang pejuang dengan otot-otot yang terbentuk, bekas luka baru, dan tatapan mata yang penuh keyakinan "Aku telah berubah". Aku tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini, tapi aku tahu satu hal aku tidak akan lari lagi. Aku akan kembali ke sekolah, dan mereka akan melihat betapa bodohnya mereka telah meremehkan ku. Aku menatap diriku di cermin, otot-otot baru terlihat jelas, bekas luka lama samar-samar. Tapi aku tidak puas. Ada sesuatu yang kurang. Aku teringat kembali pada hari aku dikeroyok ku berpikir bahwa pukulanku tidak cukup kuat, tapi sekarang aku menyadari bukan itu masalahnya. Bukan otot yang kurang, tapi tekad. Aku masih ragu, aku masih takut. Aku tidak berjuang dengan sepenuh hati. "Bukan pukulanku yang lemah," gumamku, suaraku dipenuhi kekesalan. "Tapi tekadku!" Aku melayangkan tinjuku ke cermin. Bayangan diriku di cermin hancur namun tidak ada yang terjadi. Aku tahu, aku tidak bisa menghancurkan Razik dan teman-temannya dengan tinju, tapi aku bisa menghancurkan mereka dengan tekad. Keesokan harinya, aku kembali ke sekolah. Hari ini tas di punggungku terasa lebih ringan, dan langkahku terasa lebih pasti. Aku tidak lagi merasakan ketakutan, yang ada hanyalah tekad yang membara. Aku melihat mereka di gerbang sekolah. Razik, Ojan, Febri, dan Teddy. Senyum mengejek terukir di wajah mereka, mereka datang menghampiriku. "Wah, si jagoan sudah kembali," kata Razik, suaranya dipenuhi nada mengejek. "Sudah siap untuk dihajar lagi?" Aku tidak menjawab, aku hanya menatap mereka satu per satu. Aku tidak lagi melihat mereka sebagai monster, aku melihat mereka sebagai orang-orang yang lemah dan pengecut. "Aku tidak akan lari lagi," kataku, suaraku serak tapi penuh tekad. Razik dan teman-temannya tertawa. "Bagus, simpan kata kata itu jika kau berhasil mengalahkan ku," katanya. "Kalau begitu, mari kita mulai." Mereka tidak menyadari apa yang akan terjadi, mereka tidak tahu betapa kuatnya diriku saat ini. "Kuharap kau tak menyesali kata katamu bajingan", kataku dingin. Razik menyerang lebih dulu, melayangkan tinjunya ke arah kepalaku namun, kali ini aku tidak ragu. Dengan tekad yang membara aku menunduk, menghindari pukulannya Ojan mencoba menendangku dari samping, tapi aku dengan cepat melompat mundur. Febri dan Teddy mencoba menyerangku bersamaan, tapi aku menghindari serangan mereka dengan gerakan-gerakan yang kupelajari dari kanal "Paman Ayam". Mereka terkejut mereka tidak menyangka aku akan bisa menghindari serangan mereka. Aku tidak hanya berlatih otot, tapi juga kecepatan dan kelincahan. "Bagaimana bisa?" teriak Razik. "Kau hanya anak lemah!" Aku tidak menjawab aku hanya tersenyum. Sekarang mereka tahu bahwa aku bukan anak lemah yang mereka kira. "Simpan kata-kata itu untuk dirimu sendiri bajingan!!", teriakku. Aku melihat celah saat Febri mencoba menendangku. Dia terlalu lambat, dengan cepat aku menangkis kakinya dan mendorongnya hingga ia terjatuh. Dia tidak sempat bangkit karena aku sudah menendang kakinya yang lain. "Bagaimana bisa?!" teriak Ojan, terkejut. "Kau hanya anak bodoh tak akan bisa mengalahkan kami berempat". Aku tidak menjawab, aku langsung berlari menghindari pukulan Ojan, lalu menjatuhkannya. Ia terjatuh di atas Febri dan aku tersenyum. "Sialan!" teriak Razik, wajahnya penuh amarah. "Ayo, hajar dia bersama-sama!" Mereka bertiga mencoba mengeroyokku tapi aku terlalu cepat, aku menghindari setiap pukulan dan tendangan mereka, dan setiap kali ada kesempatan, aku membalas mereka dengan serangan yang cepat dan akurat. Aku menjatuhkan Teddy. Kini hanya tinggal Razik, ia menatapku dengan wajah yang penuh amarah dan kekalahan, ia tidak menyangka aku bisa mengalahkan mereka semua. "Kau curang!" teriaknya. "Kau tidak mungkin sekuat ini!" Aku hanya tersenyum aku tahu, ia tidak mengerti. Aku tidak menggunakan kekuatan fisik, tapi tekad. Aku menatap Razik yang kini hanya berdiri sendiri, menatapku dengan mata penuh keterkejutan dan ketakutan. Aku maju langkahku tenang, namun setiap langkah terasa penuh dengan beban rasa sakit yang telah kualami.Bugh! Brak!Aku jatuh ke lantai. Kepalaku terasa berdenging, tubuhku lemas. Aku mencoba bangkit, tetapi tenagaku terkuras habis. Latihan yang kupelajari tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pelatihan bertahun-tahun yang diterima Nico dari Golden Circle.Aku terkapar, kelelahan. Di sampingku, Rio dan Bagus juga terengah-engah, tidak berdaya. Kami bertiga kini hanya bisa melihat Nico.Nico berdiri di atasku. Dia tidak terlihat lelah sama sekali. Dia merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan karena pukulan kejutan tadi. Itu adalah satu-satunya tanda bahwa aku berhasil memberinya perlawanan."Sudah selesai," kata Nico, suaranya kembali datar dan dominan. "Kalian membuktikan bahwa kalian punya keberanian, tapi bukan kecerdasan bertarung."Dia melirik ke pemantik yang masih ada di tangannya."Kalian membuatku membuang waktu. Sekarang, kalian akan membayar harganya."Tepat ketika Nico berjalan ke arah pintu dan meng
Rio, dengan naluri bertarung yang kuat, memahami maksudku. Dia menyeret kursinya dan menggunakan tenaganya untuk menggesekkan tali yang mengikat pergelangan tangannya ke tepi kursi logam Bagus yang tajam. Bagus, dengan kecerdasannya, segera meniru gerakan itu.Aku merasakan tali di pergelangan tanganku mulai melonggar dan menipis. Bau bensin membuat pernapasan terasa berat, menambah tekanan pada upaya melarikan diri ini.Srett!Tali di pergelangan tangan Rio putus lebih dulu."Kita tidak lari keluar!" teriakku, sambil berdiri tegak. "Kita cari Nico! Dia yang tahu di mana kita!"Rio dan Bagus mengangguk. Mereka tahu ancaman di luar sana lebih besar daripada ancaman di ruangan ini. Rio segera mengambil pisau lipatnya dan menghampiri dua penjaga yang mencoba bangkit, Bagus mengambil kesempatan itu dan berlari ke pintu."Ikuti aku!" seru Bagus, yang sudah menganalisis tata letak ruangan itu. "Toilet adalah jebakan! Kita harus naik!"
Sekarang, hanya aku yang tersisa. Sosok ketiga bergerak mendekatiku. Aku tahu melawan secara fisik adalah hal yang bodoh. Aku mencoba melarikan diri, tapi koridor itu terasa seperti perangkap. Tangan bersarung tangan meraih lenganku, dan aku merasakan sensasi menusuk yang tajam. Dunia mulai berputar, suara-suara menjadi kabur.Hal terakhir yang kulihat sebelum kegelapan merenggutku adalah wajah dingin salah satu penculik. Mereka membawa kami pergi, satu per satu, tanpa meninggalkan jejak.Aku membuka mata. Kepalaku pusing dan badanku terasa kaku. Cahaya samar dari sebuah lampu tunggal di langit-langit menyambutku. Kami berada di sebuah ruangan beton kosong yang dingin. Rio dan Bagus sudah ada di sana, terikat di kursi logam yang berbeda, tampak sama bingungnya denganku.Tepat di depan kami, duduk dengan tenang di atas meja kayu, adalah Nico. Dia tidak memakai seragam sekolah. Dia mengenakan kemeja gelap yang rapi. Di tangannya, dia memegang selembar kertas
"Tepat," balasku, lalu menoleh ke Bagus. "Aku butuh analisismu, Bagus. Kau yang paling ahli dalam strategi. Saat kau lihat Nico menyerang Rio, apa yang kau pelajari?"Bagus mengangguk. "Serangannya cepat, brutal, dan efisien. Tapi ada yang lebih penting: Dia tidak bertarung untuk melukai, dia bertarung untuk membaca. Dia mengukur kekuatan dan kelemahan Rio hanya dengan satu pukulan. Dia tahu di mana kelemahan emosional Rio, dan dia mengeksploitasinya. Dia adalah petarung yang menggunakan otaknya sebagai senjata utamanya.""Maka kita harus menyerang kelemahannya yang sesungguhnya," kataku, memandang mereka berdua. "Bagus, strateginya kuserahkan padamu. Kita tidak bisa menghadapinya sendirian. Kita harus menyerang Golden Circle, orang-orang di balik Nico, dan merusak image sempurna yang dia bangun."Bagus menyipitkan mata. "Serangan pada reputasi? Itu bisa jadi bumerang.""Kita harus ambil risiko," ujarku dingin. "Kita punya Rio sebagai kekuatan fis
Aku tahu, aku tidak bisa membiarkan Rio dan Bagus terus beradu ego di depan Nico. Setiap detik kami berdiri di sana, Nico mendapatkan lebih banyak informasi tentang kelemahan kami. Rio sudah terdiam, malu dan marah, setelah dihantam kata-kata Nico. Bagus hanya menatapku, menunggu. Fira, di sampingku, terlihat tegang tapi juga penasaran.Aku melangkah maju, menempatkan diriku di antara Rio dan Nico. Aku menatap Nico, matanya yang dingin dan datar."Kami tidak mau apa-apa," kataku, suaraku diatur agar terdengar tenang, menyembunyikan kekesalan yang mendidih. "Kami hanya lewat. Tapi sekarang, karena kau sudah repot-repot menyambut kami... sebaiknya kami pergi."Nico tidak bereaksi. Dia hanya menatapku.Aku berbalik, Aku bilang pada Rio dan Bagus. "Kita pulang," kataku tegas. "Sekarang."Rio protes pelan, tapi Bagus menatapku sekilas dengan ekspresi yang sulit diartikan—mungkin sedikit rasa hormat karena aku mengambil alih. Kami berempat berj
Aku berjalan, tapi pikiranku masih dipenuhi dengan Nico. Dia tidak seperti yang terlihat. Dia adalah seorang manipulator ulung. Dia adalah seorang pejuang yang berbahaya. Dan dia memiliki hubungan dengan organisasi rahasia.Siapa dia? gumamku dalam hati. Apa yang dia sembunyikan?Aku berjalan menuju toilet, pikiranku masih dipenuhi dengan Nico dan misterinya. Aku tahu, ini adalah pertarungan yang sesungguhnya. Aku tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatan. Aku harus mengalahkannya dengan kecerdasan. Aku harus membuat rencana yang jauh lebih matang.Tiba-tiba, pintu toilet terbuka. Nico keluar dari sana. Ia tidak terlihat terkejut atau takut. Ia hanya menatapku, matanya datar, lalu berjalan melewatiku.Aku terdiam, tidak bisa berkata-kata. Pikiranku kacau. Ia tidak melihatku? Ia tidak tahu aku ada di sini? Atau ia hanya berpura-pura tidak melihatku? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu, ia adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih berbahaya.