Share

Bab 3

Penulis: TND
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-30 10:40:45

Aku berlari lebih cepat, aku tidak peduli dengan rasa sakit ini dan aku tidak peduli dengan rasa lelah, Aku hanya ingin menjadi lebih kuat.

Aku menyelesaikan 10 kilometer. Tubuhku terasa sangat lelah tapi aku merasa bangga. Aku telah melampaui batas diriku dan aku telah mengambil langkah lain menuju balas dendam.

Aku tahu ini akan menjadi perjalanan yang panjang dan sulit, tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan terus berlatih dan suatu hari nanti, aku akan kembali dan membuat perjalanan baru.

Dengan kaki yang terasa seperti jelly, aku berjalan pulang. Setiap langkah terasa berat tapi hatiku dipenuhi perasaan bangga yang aneh. Aku baru saja menyelesaikan lari 10 kilometer, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Jalanan yang mulai gelap terasa sunyi napasku masih memburu dan keringat membasahi bajuku, tapi aku tidak peduli. Pikiranku terfokus pada satu hal "balas dendam".

Aku tahu ini hanyalah langkah pertama dari sebuah perjalanan yang panjang. Aku tahu, Razik dan teman-temannya tidak akan mudah dikalahkan. Tapi aku tidak takut ,aku punya tujuan dan aku tidak akan menyerah.

Setibanya di kos aku segera menyalakan laptopku. Tanpa membuang waktu, aku membuka kanal Paman Ayam lagi. Kali ini ada video baru yang muncul, berjudul "Membangun Kekuatan Punggung dan Lengan Push Up dengan Beban."

Aku mencari karung lalu mengisinya dengan beberapa buku dan baju kotor, aku meletakkan karung itu di pundakku, lalu mengambil posisi push up. Aku tidak tahu seberapa berat karung itu, tapi aku tahu ini adalah tantangan yang harus kutaklukkan.

"Satu," gumamku.

Aku mulai melatih diriku sendiri, dengan harapan aku akan menjadi lebih kuat. Namun setiap gerakan terasa berat, aku harus melakukannya aku harus kuat!!!

Aku terus melakukan push up, satu per satu sampai tanganku gemetar dan pundakku terasa sakit. Tapi aku tidak menyerah, aku tidak akan membiarkan mereka menang. Aku akan membalas dendam.

Ini hanya awal dari sebuah perjalanan yang panjang. Aku akan terus berlatih, dan suatu hari nanti, tak ada yang bisa meremehkan ku.

Aku terbangun di pagi hari dengan tubuh yang terasa sakit di setiap sudutnya. Setiap otot berteriak protes akibat latihan semalaman. Namun ada sesuatu yang berbeda, aku tidak lagi merasakan ketakutan, yang ada hanyalah tekad yang membara.

Aku menatap cermin di mataku, aku tidak lagi melihat anak laki-laki lemah yang selalu ketakutan. Aku melihat seorang pejuang yang siap menghadapi apa pun.

Aku mengambil tas sekolahku, lalu berjalan keluar aku tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini, tapi aku tahu satu hal "aku tidak akan lari lagi". Aku akan kembali dan aku akan menghadapi mereka.

Aku sampai di gerbang sekolah jantungku berdebar kencang tapi bukan karena takut, melainkan karena antisipasi. Aku tahu, Razik dan teman-temannya sedang menungguku.

Aku berjalan dengan kepala tegak, mereka akan mengejekku, mereka akan mencoba menghajarku. Tapi aku tidak peduli, aku sudah siap.

Aku berjalan melewati gerbang sekolahdan seperti yang kuduga, mereka sudah menungguku. Razik, Ojan, Febri, dan Teddy. Senyum sinis terukir di wajah mereka, mereka tidak langsung menghajarku mereka hanya mengejek, melontarkan kata-kata kotor dan menepuk-nepuk pundakku.

"Wah, anak manja sudah datang," kata Razik, suaranya dipenuhi nada mengejek. "Sudah siap untuk dihajar?"

Aku tidak menjawab, aku hanya menatap mereka satu per satu. Di mataku aku tidak lagi melihat monster. Aku hanya melihat empat orang yang bodoh dan lemah.

Aku tahu mereka mengira aku takut. Mereka mengira aku akan lari, tapi mereka salah.

Aku mengambil napas dalam-dalam. "Aku tidak akan lari lagi," kataku, suaraku serak tapi penuh tekad. "Aku tidak akan takut lagi."

Mereka terkejut, mereka tidak menyangka aku akan berani melawan. Wajah Razik berubah menjadi marah ia melangkah maju, siap untuk melayangkan pukulan.

Aku melihat tinju Razik melayang ke arahku. Tidak seperti sebelumnya, aku tidak membeku aku menggunakan semua yang kupelajari dari kanal Paman Ayam. Aku mencondongkan tubuh, menghindari pukulan itu lalu membalasnya dengan tinju yang langsung mengarah ke perutnya.

Razik terhuyung, wajahnya terkejut namun pukulanku tidak memiliki kekuatan yang cukup. Tubuhku masih lemah, dan aku bisa merasakan sisa-sisa kelelahan dari latihan semalam.

"Sial!" gumamku, kesal. "Tidak sekuat yang kubayangkan!"

Melihat kelemahanku, Razik tersenyum sinis. Ia tahu aku tidak sekuat yang ia kira. "Itu saja yang kau punya?" katanya, mengejek. "Kau masih anak kemarin sore."

Aku tahu, ia benar tapi aku tidak peduli. Aku sudah mengambil langkah pertama, Aku sudah melawan dan aku tidak akan menyerah.

Aku melayangkan tinjuku sekali lagi, namun Razik lebih cepat. Ia menghindari pukulanku dengan mudah lalu membalas dengan pukulan yang tepat mengenai wajahku.

Aku terhuyung pandanganku kabur, aku mencoba berdiri tegak tapi tubuhku terasa sangat lelah. Razik tersenyum, lalu melayangkan pukulan lagi pukulannya mendarat di perutku, membuatku tak bisa bernapas. Aku terjatuh terbatuk-batuk.

Aku kalah, aku terlalu lemah, semua latihan yang kulakukan tidak ada gunanya.

Razik menatapku lalu menginjak dadaku. "Kau pikir kau bisa mengalahkan kami?" katanya, suaranya dipenuhi nada mengejek. "Kau hanya anak kemarin sore, pulang dan mainlah dengan boneka-mu."

Aku terbaring di tanah, menggertakkan gigiku karena melihat lemahnya diriku dan ejekan itu.

Tiba-tiba, bel sekolah berbunyi nyaring memecah kekacauan. Aku mendengar Razik mendengus kesal sambil menyingkirkan kakinya dari dadaku.

"Kau beruntung kali ini," katanya, suaranya dipenuhi amarah. "Lain kali, kau tidak akan seberuntung ini."

Aku hanya bisa terbaring di tanah, menyaksikan mereka pergi. Pandanganku kabur dan tubuhku terasa sakit di mana-mana. Aku tahu, bel itu telah menyelamatkanku.

Aku merasa hancur semua usahaku sia-sia. Latihan yang kulakukan tidak ada gunanya, aku masih terlalu lemah, aku tidak bisa mengalahkan mereka bahkan aku tidak bisa melindungi diriku sendiri.

Aku mencoba bangkit, tapi tubuhku terasa terlalu berat. Jika aku tidak melakukan sesuatu, ini tidak akan berakhir. Aku harus menjadi lebih kuat, tapi bagaimana?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 20

    Bugh! Brak!Aku jatuh ke lantai. Kepalaku terasa berdenging, tubuhku lemas. Aku mencoba bangkit, tetapi tenagaku terkuras habis. Latihan yang kupelajari tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pelatihan bertahun-tahun yang diterima Nico dari Golden Circle.Aku terkapar, kelelahan. Di sampingku, Rio dan Bagus juga terengah-engah, tidak berdaya. Kami bertiga kini hanya bisa melihat Nico.Nico berdiri di atasku. Dia tidak terlihat lelah sama sekali. Dia merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan karena pukulan kejutan tadi. Itu adalah satu-satunya tanda bahwa aku berhasil memberinya perlawanan."Sudah selesai," kata Nico, suaranya kembali datar dan dominan. "Kalian membuktikan bahwa kalian punya keberanian, tapi bukan kecerdasan bertarung."Dia melirik ke pemantik yang masih ada di tangannya."Kalian membuatku membuang waktu. Sekarang, kalian akan membayar harganya."Tepat ketika Nico berjalan ke arah pintu dan meng

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 19

    Rio, dengan naluri bertarung yang kuat, memahami maksudku. Dia menyeret kursinya dan menggunakan tenaganya untuk menggesekkan tali yang mengikat pergelangan tangannya ke tepi kursi logam Bagus yang tajam. Bagus, dengan kecerdasannya, segera meniru gerakan itu.Aku merasakan tali di pergelangan tanganku mulai melonggar dan menipis. Bau bensin membuat pernapasan terasa berat, menambah tekanan pada upaya melarikan diri ini.Srett!Tali di pergelangan tangan Rio putus lebih dulu."Kita tidak lari keluar!" teriakku, sambil berdiri tegak. "Kita cari Nico! Dia yang tahu di mana kita!"Rio dan Bagus mengangguk. Mereka tahu ancaman di luar sana lebih besar daripada ancaman di ruangan ini. Rio segera mengambil pisau lipatnya dan menghampiri dua penjaga yang mencoba bangkit, Bagus mengambil kesempatan itu dan berlari ke pintu."Ikuti aku!" seru Bagus, yang sudah menganalisis tata letak ruangan itu. "Toilet adalah jebakan! Kita harus naik!"

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 18

    Sekarang, hanya aku yang tersisa. Sosok ketiga bergerak mendekatiku. Aku tahu melawan secara fisik adalah hal yang bodoh. Aku mencoba melarikan diri, tapi koridor itu terasa seperti perangkap. Tangan bersarung tangan meraih lenganku, dan aku merasakan sensasi menusuk yang tajam. Dunia mulai berputar, suara-suara menjadi kabur.Hal terakhir yang kulihat sebelum kegelapan merenggutku adalah wajah dingin salah satu penculik. Mereka membawa kami pergi, satu per satu, tanpa meninggalkan jejak.Aku membuka mata. Kepalaku pusing dan badanku terasa kaku. Cahaya samar dari sebuah lampu tunggal di langit-langit menyambutku. Kami berada di sebuah ruangan beton kosong yang dingin. Rio dan Bagus sudah ada di sana, terikat di kursi logam yang berbeda, tampak sama bingungnya denganku.Tepat di depan kami, duduk dengan tenang di atas meja kayu, adalah Nico. Dia tidak memakai seragam sekolah. Dia mengenakan kemeja gelap yang rapi. Di tangannya, dia memegang selembar kertas

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 17

    "Tepat," balasku, lalu menoleh ke Bagus. "Aku butuh analisismu, Bagus. Kau yang paling ahli dalam strategi. Saat kau lihat Nico menyerang Rio, apa yang kau pelajari?"Bagus mengangguk. "Serangannya cepat, brutal, dan efisien. Tapi ada yang lebih penting: Dia tidak bertarung untuk melukai, dia bertarung untuk membaca. Dia mengukur kekuatan dan kelemahan Rio hanya dengan satu pukulan. Dia tahu di mana kelemahan emosional Rio, dan dia mengeksploitasinya. Dia adalah petarung yang menggunakan otaknya sebagai senjata utamanya.""Maka kita harus menyerang kelemahannya yang sesungguhnya," kataku, memandang mereka berdua. "Bagus, strateginya kuserahkan padamu. Kita tidak bisa menghadapinya sendirian. Kita harus menyerang Golden Circle, orang-orang di balik Nico, dan merusak image sempurna yang dia bangun."Bagus menyipitkan mata. "Serangan pada reputasi? Itu bisa jadi bumerang.""Kita harus ambil risiko," ujarku dingin. "Kita punya Rio sebagai kekuatan fis

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 16

    Aku tahu, aku tidak bisa membiarkan Rio dan Bagus terus beradu ego di depan Nico. Setiap detik kami berdiri di sana, Nico mendapatkan lebih banyak informasi tentang kelemahan kami. Rio sudah terdiam, malu dan marah, setelah dihantam kata-kata Nico. Bagus hanya menatapku, menunggu. Fira, di sampingku, terlihat tegang tapi juga penasaran.Aku melangkah maju, menempatkan diriku di antara Rio dan Nico. Aku menatap Nico, matanya yang dingin dan datar."Kami tidak mau apa-apa," kataku, suaraku diatur agar terdengar tenang, menyembunyikan kekesalan yang mendidih. "Kami hanya lewat. Tapi sekarang, karena kau sudah repot-repot menyambut kami... sebaiknya kami pergi."Nico tidak bereaksi. Dia hanya menatapku.Aku berbalik, Aku bilang pada Rio dan Bagus. "Kita pulang," kataku tegas. "Sekarang."Rio protes pelan, tapi Bagus menatapku sekilas dengan ekspresi yang sulit diartikan—mungkin sedikit rasa hormat karena aku mengambil alih. Kami berempat berj

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 16

    Aku berjalan, tapi pikiranku masih dipenuhi dengan Nico. Dia tidak seperti yang terlihat. Dia adalah seorang manipulator ulung. Dia adalah seorang pejuang yang berbahaya. Dan dia memiliki hubungan dengan organisasi rahasia.Siapa dia? gumamku dalam hati. Apa yang dia sembunyikan?Aku berjalan menuju toilet, pikiranku masih dipenuhi dengan Nico dan misterinya. Aku tahu, ini adalah pertarungan yang sesungguhnya. Aku tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatan. Aku harus mengalahkannya dengan kecerdasan. Aku harus membuat rencana yang jauh lebih matang.Tiba-tiba, pintu toilet terbuka. Nico keluar dari sana. Ia tidak terlihat terkejut atau takut. Ia hanya menatapku, matanya datar, lalu berjalan melewatiku.Aku terdiam, tidak bisa berkata-kata. Pikiranku kacau. Ia tidak melihatku? Ia tidak tahu aku ada di sini? Atau ia hanya berpura-pura tidak melihatku? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu, ia adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih berbahaya.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status