Share

Bab 5

Penulis: TND
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-30 10:46:39

"Kau pikir kau bisa melakukan apa saja padaku?" kataku, suaraku rendah dan dingin. "Kau pikir aku akan lari lagi?, sekarang siapa rajanya disini?!"

Wajahnya memucat ia mencoba melarikan diri, dengan cepat aku mendorongnya ke dinding, lalu melayangkan tinjuku. Satu pukulan, dua pukulan, tiga pukulan. Setiap pukulan aku merasakan kepuasan yang aneh Aau tidak lagi peduli dengan rasa sakit "Aku hanya ingin membalas dendam".

"Jangan pernah sentuh aku lagi," ancamku. "Atau akan kuhabisi kau dan teman-temanmu!"

Aku melepaskannya, ia jatuh terhuyung lalu lari tanpa menoleh ke belakang. Ia tidak akan kembali.

Aku berdiri di sana napasku memburu, aku telah menang. Aku telah mengalahkan mereka, namun tidak ada rasa puas. Hanya ada rasa hampa aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang, Aku tidak lagi punya tujuan.

Bel masuk berbunyi nyaring, memecah keheningan yang singkat. Aku kembali ke kelas, udara di dalam ruangan terasa berbeda. Aku tidak lagi merasakan ketakutan.

Aku melihat mereka, Razik, Ojan, Febri, dan Teddy. Wajah mereka penuh lebam dan luka. Mereka menatapku dan mata mereka memancarkan kemarahan dan kebencian.

"Sialan!, lihat saja kau nanti," bisik Razik.

Aku tidak peduli aku hanya duduk di bangku, menunggu pelajaran dimulai. Sepertinya ini bukanlah akhir. Ini hanyalah permulaan dan karena kemenangan ku, mereka tak akan melepaskan ku.

Bel istirahat berbunyi dan seperti yang kuduga, mereka tidak menyerah. Mereka berdiri, memanggil seorang siswa yang jauh lebih besar dan lebih berotot dari mereka berempat. Aku tahu dia namanya Bima, dan dia terkenal karena kekuatan dan temperamennya yang buruk.

Razik menunjuk ke arahku, berbisik-bisik lalu tersenyum licik. Bima berjalan ke arahku, langkahnya berat matanya menatapku dengan tatapan kosong.

"Kau yang mengganggu teman-temanku?" tanyanya, suaranya dalam dan mengintimidasi.

Aku tidak menjawab aku hanya menatapnya, dan untuk pertama kalinya, aku merasakan ketakutan. Bima jauh lebih kuat dari mereka semua. Aku tahu jika aku melawannya, aku akan kalah.

Aku mengepalkan tanganku, lalu melayangkan pukulan sekuat tenaga ke arah Bima. Aku berharap dia akan jatuh, atau setidaknya terhuyung. Tapi tidak ada yang terjadi.

Pukulanku mendarat di wajahnya tapi dia tidak bergeming. Dia menatapku dan matanya kosong, seolah tidak ada apa-apa.

"Apa yang kau lakukan?" katanya, suaranya tenang, tapi dipenuhi nada mengejek. "Kau pikir pukulanmu akan menyakitiku?"

Aku mundur, wajahku pucat aku merasa kesal meski aku sudah mencoba, tapi tidak ada yang terjadi. Dia jauh lebih kuat dari Razik dan teman-temannya, untuk saat ini aku pasti tidak bisa mengalahkannya.

"Kau bocah pertama yang berani memukul wajahku," katanya, lalu tersenyum sinis. "Kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku."

Aku hanya bisa berdiri di sana, menahan rasa malu dan takut aku tahu, dia benar. Aku tidak bisa mengalahkannya.

Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Pukulanku tidak mempan dan aku hanya bisa pasrah. Bima segera menghajarku tanpa ampun setiap pukulan terasa seperti palu yang menghantam tubuhku, setiap tendangan membuatku terhuyung dan jatuh, hingga aku tidak bisa melawan.

Aku terbaring di tanah, pandanganku kabur dan tubuhku terasa sakit di mana-mana. Bima menatapku lalu meludah ke arahku. "Dasar lemah," katanya. Lalu ia pergi, meninggalkan aku tergeletak di tanah.

Aku mencoba bangkit, tapi tubuhku terlalu lelah. Namun kali ini aku dapat belajar bahwa untuk menjadi kuat harus melawan rasa takut pada diri sendiri.

Aku berjalan keluar dari gerbang sekolah setiap langkah terasa berat. Sekolah sudah kosong tidak ada lagi tawa atau canda. Yang ada hanya aku sendirian dengan luka-luka di tubuhku. Aku menahan rasa sakit, mencoba untuk tetap berjalan.

Aku berjalan, membiarkan jalanan yang lengang membantuku melupakan rasa sakit dan malu. Aku hanya ingin pulang, aku hanya ingin tidur, Aku tidak ingin memikirkan apa pun lagi.

Aku membuka pintu kos, aku ingin segera tidur namun aku terus menerus mengingat kekalahan tadi. Aku pun segera menyalakan laptopku, Aku tidak peduli dengan rasa sakit di tubuhku. Aku hanya ingin menjadi lebih kuat. Aku membuka kanal "Paman Ayam" lagi, dan sebuah notifikasi baru muncul di layar.

"Cara Mengalahkan Lawan Berbadan Besar."

Aku terkejut seolah-olah Paman Ayam tahu apa yang baru saja kualami. Aku segera membuka video itu dan aku tahu ini adalah jawabanku. Video itu menjelaskan tentang cara menggunakan kecepatan, kelincahan, dan titik lemah lawan untuk mengalahkannya.

Untung saja besok adalah hari libur sekolah karena tanggal merah.

Aku tidak bisa membuang-buang waktu. Aku tidak bisa menyerah. Dua hari libur ini adalah kesempatanku untuk berlatih dan aku akan kembali, mereka akan melihat betapa bodohnya Bima meremehkan ku.

Aku membuka video "Cara Mengalahkan Lawan Berbadan Besar" dan mulai menonton. Awalnya, Paman Ayam terlihat bersemangat, menjelaskan strategi dan teknik yang harus kupelajari. Namun, di tengah video, dia tiba-tiba terdiam, menatap layar dengan ekspresi serius.

"Sebenarnya," katanya, suaranya terdengar berat. "Aku tidak bisa mengalahkan orang yang lebih besar dariku."

Aku membeku di tempatku, rasanya seperti ada petir yang menyambarku. Semua harapanku, semua tekadku, hancur dalam sekejap.

Aku menatap layar tak percaya. Aku merasa dibohongi, aku merasa bodoh, aku telah membuang-buang waktu, membuang-buang tenaga, untuk sesuatu yang tidak ada gunanya.

Aku ingin mematikan laptopku, merasa putus asa. Namun, sebelum aku sempat mematikannya, Paman Ayam kembali bersuara.

"Tapi," katanya, suaranya kembali dipenuhi semangat. "Bukan berarti kau tidak bisa mengalahkannya. Kau harus mencari titik lemahnya."

Aku kembali duduk hatiku yang tadinya hancur, kini kembali dipenuhi harapan. Paman Ayam menjelaskan tentang titik-titik lemah di tubuh manusia, tentang bagaimana cara memanfaatkan kelemahan itu untuk mengalahkan lawan yang lebih besar.

"Dia mungkin lebih kuat, tapi dia tidak lebih cerdas," kata Paman Ayam. "Kau harus menggunakan otakmu, bukan hanya ototmu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 20

    Bugh! Brak!Aku jatuh ke lantai. Kepalaku terasa berdenging, tubuhku lemas. Aku mencoba bangkit, tetapi tenagaku terkuras habis. Latihan yang kupelajari tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pelatihan bertahun-tahun yang diterima Nico dari Golden Circle.Aku terkapar, kelelahan. Di sampingku, Rio dan Bagus juga terengah-engah, tidak berdaya. Kami bertiga kini hanya bisa melihat Nico.Nico berdiri di atasku. Dia tidak terlihat lelah sama sekali. Dia merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan karena pukulan kejutan tadi. Itu adalah satu-satunya tanda bahwa aku berhasil memberinya perlawanan."Sudah selesai," kata Nico, suaranya kembali datar dan dominan. "Kalian membuktikan bahwa kalian punya keberanian, tapi bukan kecerdasan bertarung."Dia melirik ke pemantik yang masih ada di tangannya."Kalian membuatku membuang waktu. Sekarang, kalian akan membayar harganya."Tepat ketika Nico berjalan ke arah pintu dan meng

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 19

    Rio, dengan naluri bertarung yang kuat, memahami maksudku. Dia menyeret kursinya dan menggunakan tenaganya untuk menggesekkan tali yang mengikat pergelangan tangannya ke tepi kursi logam Bagus yang tajam. Bagus, dengan kecerdasannya, segera meniru gerakan itu.Aku merasakan tali di pergelangan tanganku mulai melonggar dan menipis. Bau bensin membuat pernapasan terasa berat, menambah tekanan pada upaya melarikan diri ini.Srett!Tali di pergelangan tangan Rio putus lebih dulu."Kita tidak lari keluar!" teriakku, sambil berdiri tegak. "Kita cari Nico! Dia yang tahu di mana kita!"Rio dan Bagus mengangguk. Mereka tahu ancaman di luar sana lebih besar daripada ancaman di ruangan ini. Rio segera mengambil pisau lipatnya dan menghampiri dua penjaga yang mencoba bangkit, Bagus mengambil kesempatan itu dan berlari ke pintu."Ikuti aku!" seru Bagus, yang sudah menganalisis tata letak ruangan itu. "Toilet adalah jebakan! Kita harus naik!"

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 18

    Sekarang, hanya aku yang tersisa. Sosok ketiga bergerak mendekatiku. Aku tahu melawan secara fisik adalah hal yang bodoh. Aku mencoba melarikan diri, tapi koridor itu terasa seperti perangkap. Tangan bersarung tangan meraih lenganku, dan aku merasakan sensasi menusuk yang tajam. Dunia mulai berputar, suara-suara menjadi kabur.Hal terakhir yang kulihat sebelum kegelapan merenggutku adalah wajah dingin salah satu penculik. Mereka membawa kami pergi, satu per satu, tanpa meninggalkan jejak.Aku membuka mata. Kepalaku pusing dan badanku terasa kaku. Cahaya samar dari sebuah lampu tunggal di langit-langit menyambutku. Kami berada di sebuah ruangan beton kosong yang dingin. Rio dan Bagus sudah ada di sana, terikat di kursi logam yang berbeda, tampak sama bingungnya denganku.Tepat di depan kami, duduk dengan tenang di atas meja kayu, adalah Nico. Dia tidak memakai seragam sekolah. Dia mengenakan kemeja gelap yang rapi. Di tangannya, dia memegang selembar kertas

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 17

    "Tepat," balasku, lalu menoleh ke Bagus. "Aku butuh analisismu, Bagus. Kau yang paling ahli dalam strategi. Saat kau lihat Nico menyerang Rio, apa yang kau pelajari?"Bagus mengangguk. "Serangannya cepat, brutal, dan efisien. Tapi ada yang lebih penting: Dia tidak bertarung untuk melukai, dia bertarung untuk membaca. Dia mengukur kekuatan dan kelemahan Rio hanya dengan satu pukulan. Dia tahu di mana kelemahan emosional Rio, dan dia mengeksploitasinya. Dia adalah petarung yang menggunakan otaknya sebagai senjata utamanya.""Maka kita harus menyerang kelemahannya yang sesungguhnya," kataku, memandang mereka berdua. "Bagus, strateginya kuserahkan padamu. Kita tidak bisa menghadapinya sendirian. Kita harus menyerang Golden Circle, orang-orang di balik Nico, dan merusak image sempurna yang dia bangun."Bagus menyipitkan mata. "Serangan pada reputasi? Itu bisa jadi bumerang.""Kita harus ambil risiko," ujarku dingin. "Kita punya Rio sebagai kekuatan fis

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 16

    Aku tahu, aku tidak bisa membiarkan Rio dan Bagus terus beradu ego di depan Nico. Setiap detik kami berdiri di sana, Nico mendapatkan lebih banyak informasi tentang kelemahan kami. Rio sudah terdiam, malu dan marah, setelah dihantam kata-kata Nico. Bagus hanya menatapku, menunggu. Fira, di sampingku, terlihat tegang tapi juga penasaran.Aku melangkah maju, menempatkan diriku di antara Rio dan Nico. Aku menatap Nico, matanya yang dingin dan datar."Kami tidak mau apa-apa," kataku, suaraku diatur agar terdengar tenang, menyembunyikan kekesalan yang mendidih. "Kami hanya lewat. Tapi sekarang, karena kau sudah repot-repot menyambut kami... sebaiknya kami pergi."Nico tidak bereaksi. Dia hanya menatapku.Aku berbalik, Aku bilang pada Rio dan Bagus. "Kita pulang," kataku tegas. "Sekarang."Rio protes pelan, tapi Bagus menatapku sekilas dengan ekspresi yang sulit diartikan—mungkin sedikit rasa hormat karena aku mengambil alih. Kami berempat berj

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 16

    Aku berjalan, tapi pikiranku masih dipenuhi dengan Nico. Dia tidak seperti yang terlihat. Dia adalah seorang manipulator ulung. Dia adalah seorang pejuang yang berbahaya. Dan dia memiliki hubungan dengan organisasi rahasia.Siapa dia? gumamku dalam hati. Apa yang dia sembunyikan?Aku berjalan menuju toilet, pikiranku masih dipenuhi dengan Nico dan misterinya. Aku tahu, ini adalah pertarungan yang sesungguhnya. Aku tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatan. Aku harus mengalahkannya dengan kecerdasan. Aku harus membuat rencana yang jauh lebih matang.Tiba-tiba, pintu toilet terbuka. Nico keluar dari sana. Ia tidak terlihat terkejut atau takut. Ia hanya menatapku, matanya datar, lalu berjalan melewatiku.Aku terdiam, tidak bisa berkata-kata. Pikiranku kacau. Ia tidak melihatku? Ia tidak tahu aku ada di sini? Atau ia hanya berpura-pura tidak melihatku? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu, ia adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih berbahaya.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status