Share

Bab 6

Penulis: TND
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-30 10:48:17

Aku segera menyingkirkan semua barang di kamar kosku, tidak ada lagi latihan yang mengandalkan otot semata. Kali ini, aku akan menggunakan otakku, aku putar ulang video Paman Ayam, menyerap setiap kata yang dia ucapkan dan aku mempelajari titik-titik vital saraf di leher, ulu hati, bagian belakang lutut.

"Kekuatan fisik hanya akan menguras tenagamu," bisikku pada diri sendiri, mengulangi kata-kata Paman Ayam. "Kecerdasan adalah senjatamu."

Aku mempraktikkan setiap gerakan dengan hati-hati dan bukan lagi pukulan membabi buta, melainkan sentuhan yang presisi. Aku membayangkan pukulan ku ke Bima mengarah ke arah ulu hatinya, tendangan kecil yang menyasar lututnya, aku berlatih berjam-jam setiap gerakan diulang sampai terasa alami. Aku tidak hanya melatih tubuhku, tapi juga pikiranku.

Aku mencari karung, lalu mengisinya dengan tumpukan baju bekas dan kertas-kertas koran. Aku tidak peduli dengan penampilannya, aku hanya butuh sesuatu untuk berlatih. Aku membayangkan wajah Bima pada karung itu,lalu aku melatih diri.

Aku tidak lagi menggunakan pukulan yang membabi buta, aku menggunakan strategi aku melatih diriku untuk menyerang titik-titik lemah Bima, leher, perut, dan bagian belakang lutut. Setiap pukulan, setiap tendangan, aku bayangkan bagaimana dia akan jatuh, bagaimana dia akan terkejut.

Aku tahu, ini adalah satu-satunya kesempatanku. Aku tidak bisa mengandalkan kekuatan. Aku harus mengandalkan kecerdasan.

Aku terus berlatih hingga tengah malam. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang dan sulit, tapi aku tidak peduli. Aku hanya punya satu tujuan "Balas Dendam".

Aku akan kembali ke sekolah, dan Bjma akan melihat bahwa aku bukan lagi pecundang.

Dua hari libur terasa seperti kilat, aku tidak tidur nyenyak, tidak beristirahat. Setiap detik kumanfaatkan untuk melatih strategi dari Paman Ayam. Aku menatap boneka karungku yang kini penuh dengan lubang dari pukulan dan tendanganku yang presisi semua baju didalam sana sudah compang-camping.

Hari ini, semuanya akan terbukti.

Aku berjalan ke sekolah, langkahku terasa ringan. Tekadku sudah tidak bisa goyah lagi.

Aku melihat mereka di gerbang. Razik, Ojan, Febri, dan Teddy. Tapi kali ini, mereka tidak sendirian. Bima berdiri di tengah-tengah mereka, wajahnya terlihat penuh dengan arogansi.

"Aku tahu kau datang," katanya, suaranya dalam dan penuh percaya diri. "Kau siap untuk dihajar lagi?"

"Hei Bima, jangan kira hanya karena tubuhmu lebih besar dariku, kau dapat mengalahkan ku. Ucapku dingin sambil tersenyum tipis. "Kebodohanmu ialah karena kau memihak orang yang salah!"

Aku berjalan maju dan mereka siap untuk menghajarku. Tapi kali ini aku akan menggunakan otakku bukan hanya ototku.

Aku tidak membuang waktu, mencoba mengabaikan Razik dan yang lainnya, mataku hanya terfokus pada Bima, dengan langkah yang cepat dan terarah, aku langsung menerjangnya. Bima yang terbiasa dengan pukulan frontal hanya terkejut melihatku bergerak begitu gesit.

Aku tidak melayangkan pukulan ke wajahnya, tepat saat aku berada di dekatnya, aku langsung mengincar titik lemahnya yang telah kupelajari. Tanganku dengan cepat menyentuh urat lehernya, memberikan tekanan yang tepat. Bima terhuyung, matanya terbelalak karena terkejut.

Razik, Ojan, Febri, dan Teddy hanya bisa terdiam. Mereka tidak menyangka bahwa aku akan langsung menyerang Bima. Mereka tidak menyangka bahwa aku akan menggunakan strategi.

Ini adalah satu-satunya kesempatanku, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku tidak akan membiarkan mereka menang, dan aku tidak akan menjadi pecundang lagi.

Seranganku yang pertama menyasar lehernya, hanya permulaan. Begitu Bima terhuyung, aku bergerak cepat menghindari lengannya yang mencoba menangkapku, aku menendang bagian belakang lututnya membuat ia linglung. Saat ia mencoba menyeimbangkan diri, aku mendorongnya dari belakang tepat di area punggung bawah.

Bima terhuyung, lalu tersungkur di tanah dengan suara keras. Razik, Ojan, Febri, dan Teddy hanya bisa menatap terkejut. Mereka melihat sosok Bima yang besar dan perkasa kini tergeletak tak berdaya di hadapanku.

Aku melangkah mendekat, menatapnya dengan pandangan dingin. "Kau pikir kau kuat?" kataku, suaraku rendah dan tajam. "Kekuatanmu itu tidak ada gunanya jika kau tidak tahu cara menggunakannya. Jangan pernah ganggu aku lagi. Kalau tidak..." Aku mencondongkan tubuhku. "Kau akan hancur lebih dari ini."

Bima hanya terdiam, wajahnya pucat pasi. Ia tidak membalas Ia tahu, ia telah kalah.

Aku tidak lagi merasakan kepuasan yang hampa seperti saat mengalahkan Razik. Kali ini, aku merasa tenang akku telah membuktikan diriku dan akku telah membalas semuanya, bukan hanya dengan kekuatan, tapi dengan kecerdasan.

Aku tidak membuang waktu, setelah Bima tersungkur tak berdaya aku mengalihkan pandanganku ke arah Razik dan teman-temannya. Raut wajah mereka menunjukkan campuran antara rasa takut dan kebingungan, mereka melihatku, bukan lagi sebagai anak lemah yang bisa mereka injak-injak, melainkan sebagai sosok yang baru, sosok yang tak bisa mereka prediksi.

Aku berjalan pelan, langkah demi langkah mendekati mereka. Mereka mundur secara otomatis, seolah aku adalah predator dan mereka adalah mangsanya.

"Kau lihat sendiri, kan?" kataku dengan suara dingin, menunjuk ke arah Bima yang masih terbaring di tanah. "Ini bukan tentang kekuatan fisik. Ini tentang otak. Jangan pernah berani ganggu aku lagi. Kalau tidak, giliran kalian."

Mata mereka berempat terbelalak ketakutan Mereka mengangguk cepat, bahkan tanpa suara. Mereka tahu ancamanku kali ini berbeda. Mereka tahu aku serius.

Aku berbalik, dan berjalan masuk ke dalam sekolah. Aku tidak menoleh ke belakang.

Aku merasa tenang. Aku telah membuktikan diriku. Aku telah membalas dendam, bukan dengan kekuatan, tapi dengan kecerdasan. Aku tidak lagi merasa kosong. Aku merasa puas.

Aku tahu, ini bukanlah akhir. Tapi setidaknya, aku bisa berjalan dengan kepala tegak tanpa harus takut lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 20

    Bugh! Brak!Aku jatuh ke lantai. Kepalaku terasa berdenging, tubuhku lemas. Aku mencoba bangkit, tetapi tenagaku terkuras habis. Latihan yang kupelajari tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pelatihan bertahun-tahun yang diterima Nico dari Golden Circle.Aku terkapar, kelelahan. Di sampingku, Rio dan Bagus juga terengah-engah, tidak berdaya. Kami bertiga kini hanya bisa melihat Nico.Nico berdiri di atasku. Dia tidak terlihat lelah sama sekali. Dia merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan karena pukulan kejutan tadi. Itu adalah satu-satunya tanda bahwa aku berhasil memberinya perlawanan."Sudah selesai," kata Nico, suaranya kembali datar dan dominan. "Kalian membuktikan bahwa kalian punya keberanian, tapi bukan kecerdasan bertarung."Dia melirik ke pemantik yang masih ada di tangannya."Kalian membuatku membuang waktu. Sekarang, kalian akan membayar harganya."Tepat ketika Nico berjalan ke arah pintu dan meng

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 19

    Rio, dengan naluri bertarung yang kuat, memahami maksudku. Dia menyeret kursinya dan menggunakan tenaganya untuk menggesekkan tali yang mengikat pergelangan tangannya ke tepi kursi logam Bagus yang tajam. Bagus, dengan kecerdasannya, segera meniru gerakan itu.Aku merasakan tali di pergelangan tanganku mulai melonggar dan menipis. Bau bensin membuat pernapasan terasa berat, menambah tekanan pada upaya melarikan diri ini.Srett!Tali di pergelangan tangan Rio putus lebih dulu."Kita tidak lari keluar!" teriakku, sambil berdiri tegak. "Kita cari Nico! Dia yang tahu di mana kita!"Rio dan Bagus mengangguk. Mereka tahu ancaman di luar sana lebih besar daripada ancaman di ruangan ini. Rio segera mengambil pisau lipatnya dan menghampiri dua penjaga yang mencoba bangkit, Bagus mengambil kesempatan itu dan berlari ke pintu."Ikuti aku!" seru Bagus, yang sudah menganalisis tata letak ruangan itu. "Toilet adalah jebakan! Kita harus naik!"

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 18

    Sekarang, hanya aku yang tersisa. Sosok ketiga bergerak mendekatiku. Aku tahu melawan secara fisik adalah hal yang bodoh. Aku mencoba melarikan diri, tapi koridor itu terasa seperti perangkap. Tangan bersarung tangan meraih lenganku, dan aku merasakan sensasi menusuk yang tajam. Dunia mulai berputar, suara-suara menjadi kabur.Hal terakhir yang kulihat sebelum kegelapan merenggutku adalah wajah dingin salah satu penculik. Mereka membawa kami pergi, satu per satu, tanpa meninggalkan jejak.Aku membuka mata. Kepalaku pusing dan badanku terasa kaku. Cahaya samar dari sebuah lampu tunggal di langit-langit menyambutku. Kami berada di sebuah ruangan beton kosong yang dingin. Rio dan Bagus sudah ada di sana, terikat di kursi logam yang berbeda, tampak sama bingungnya denganku.Tepat di depan kami, duduk dengan tenang di atas meja kayu, adalah Nico. Dia tidak memakai seragam sekolah. Dia mengenakan kemeja gelap yang rapi. Di tangannya, dia memegang selembar kertas

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 17

    "Tepat," balasku, lalu menoleh ke Bagus. "Aku butuh analisismu, Bagus. Kau yang paling ahli dalam strategi. Saat kau lihat Nico menyerang Rio, apa yang kau pelajari?"Bagus mengangguk. "Serangannya cepat, brutal, dan efisien. Tapi ada yang lebih penting: Dia tidak bertarung untuk melukai, dia bertarung untuk membaca. Dia mengukur kekuatan dan kelemahan Rio hanya dengan satu pukulan. Dia tahu di mana kelemahan emosional Rio, dan dia mengeksploitasinya. Dia adalah petarung yang menggunakan otaknya sebagai senjata utamanya.""Maka kita harus menyerang kelemahannya yang sesungguhnya," kataku, memandang mereka berdua. "Bagus, strateginya kuserahkan padamu. Kita tidak bisa menghadapinya sendirian. Kita harus menyerang Golden Circle, orang-orang di balik Nico, dan merusak image sempurna yang dia bangun."Bagus menyipitkan mata. "Serangan pada reputasi? Itu bisa jadi bumerang.""Kita harus ambil risiko," ujarku dingin. "Kita punya Rio sebagai kekuatan fis

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 16

    Aku tahu, aku tidak bisa membiarkan Rio dan Bagus terus beradu ego di depan Nico. Setiap detik kami berdiri di sana, Nico mendapatkan lebih banyak informasi tentang kelemahan kami. Rio sudah terdiam, malu dan marah, setelah dihantam kata-kata Nico. Bagus hanya menatapku, menunggu. Fira, di sampingku, terlihat tegang tapi juga penasaran.Aku melangkah maju, menempatkan diriku di antara Rio dan Nico. Aku menatap Nico, matanya yang dingin dan datar."Kami tidak mau apa-apa," kataku, suaraku diatur agar terdengar tenang, menyembunyikan kekesalan yang mendidih. "Kami hanya lewat. Tapi sekarang, karena kau sudah repot-repot menyambut kami... sebaiknya kami pergi."Nico tidak bereaksi. Dia hanya menatapku.Aku berbalik, Aku bilang pada Rio dan Bagus. "Kita pulang," kataku tegas. "Sekarang."Rio protes pelan, tapi Bagus menatapku sekilas dengan ekspresi yang sulit diartikan—mungkin sedikit rasa hormat karena aku mengambil alih. Kami berempat berj

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 16

    Aku berjalan, tapi pikiranku masih dipenuhi dengan Nico. Dia tidak seperti yang terlihat. Dia adalah seorang manipulator ulung. Dia adalah seorang pejuang yang berbahaya. Dan dia memiliki hubungan dengan organisasi rahasia.Siapa dia? gumamku dalam hati. Apa yang dia sembunyikan?Aku berjalan menuju toilet, pikiranku masih dipenuhi dengan Nico dan misterinya. Aku tahu, ini adalah pertarungan yang sesungguhnya. Aku tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatan. Aku harus mengalahkannya dengan kecerdasan. Aku harus membuat rencana yang jauh lebih matang.Tiba-tiba, pintu toilet terbuka. Nico keluar dari sana. Ia tidak terlihat terkejut atau takut. Ia hanya menatapku, matanya datar, lalu berjalan melewatiku.Aku terdiam, tidak bisa berkata-kata. Pikiranku kacau. Ia tidak melihatku? Ia tidak tahu aku ada di sini? Atau ia hanya berpura-pura tidak melihatku? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu, ia adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih berbahaya.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status