LOGINXander pun langsung sigap duduk di samping Jenny dengan wajah cemas. “Aku minta maaf, aku sudah salah kali ini…”Jenny hanya merespon dengan lirikan mata yang begitu tajam.“Aku salah tidak berdiskusi sama kamu, tapi aku benaran enggak bisa diam saja melihat kamu terus disakiti Sandra, sayang.” Xander masih tetap berusaha mempertahankan argumennya. “Oke gini aja, sekarang kamu maunya aku bagaimana?”Jenny menggigit bibir bawahnya. Dia masih tetap mempertahankan emosinya, menolak untuk luluh begitu saja dengan alasan suaminya.Lalu, wanita itu manrik nafas dalam. “Kamu boleh memecat dia, tapi jangan menutup semua aksesnya di dunia hiburan. Biarkan kontrak yang masih berjalan tetap diselesaikan, dan biarkan dia bernaung di bawah agensi lain.”Sebelah alis Xander langsung terangkat, saat mendengar permintaan istrinya. Entah apa yang ada di otak istrinya saat itu, mengapa masih berbaik hati kepada orang yang jelas-jelas selalu menyakitinya.“Kenapa diam saja? Setuju kan sama permintaanku?
Xander menatap lekat ekspresi istrinya. Sudut bibirnya terangkat sinis, tanpa ada rasa takut ataupun rasa bersalah sediktipun. “Aku tidak perlu izin dari siapapun untuk memecat dia.”Jenny langsung melempar tatapan sengit pada pria yang wajahnya tanpa dosa itu. “Kamu enggak anggap aku sebagai istrimu?! Keputusan sebesar ini kamu lakukan tanpa sepengetahuanku.”Xander bergerak pelan, duduk di tepi brankar di samping istrinya. Dia memang sadar kali ini dia ada salahnya, tapi tidak serratus persen. “Aku tahu karaktermu, Jen. Kalau aku bicara sama kamu terlebih dulu, pasti kamu akan menentang pemecatan Sandra.”Jenny menahan napasnya sebentar sambil mengatupkan mata. Tangannya mengepal menahan kesal. Dia sadar bahwa pernyataan suaminya memang benar, dia pasti akan menentang keputusan itu. Hanya saja, keputusan Xander kali ini membuatnya sangat marah.“Kamu tahu kan Sandra itu siapa?!” suara Jenny tiba-tiba meninggi, hinga membuat Xander sedikit tersentak. “Dia sahabatku! Seseorang yang be
“Akkhh!”Jenny memejamkan matanya. Tangannya seketika memegang perutnya dengan panik. Namun sebelum tubuhnya menghantam anak tangga, tubuhnya justru tertahan oleh sepasang tangan.Beberapa detik itu terasa begitu mencekam. Jenny perlahan membuka matanya. Wajah yang berada tepat di hadapannya langsung membuat napasnya tercekat. “Leo,” gumamnya lirih.Tapi belum sempat Jenny mencerna kejadian yang barusan menimpanya, matanya berasa berkunang-kunang. Jenny kehilangan seluruh kekuatannya.“Jenny!” Leo berusaha menepuk pelan wajah Jenny, demi mengembalikan kesadarannya. Namun justru wajah Jenny semakin terlihat pucat. Dahinya mulai di penuhi keringat dingin.Meta dan Vero yang baru saja tiba langsung terkejut. “Ke rumah sakit!” teriak Meta. Sang manager langsung berlari menghampiri.Tanpa pikir panjang Leo langung mengangkat tubuh Jenny dan berlari menuju mobil pribadi Jenny. Meta langsung masuk dan menopang tubuh Jenny. sedangkan Vero duduk di kursi penumpang bagian depan, dan langsung me
Sandra berdiri di depan ruangan tim legal. Ia menatap pintu ruangan itu dengan dahi mengernyit. Sepanjang karir nya sebagai model, dia tidak pernah diminta langsung bertemu dengan bagian legal perusahaan.Tok. Tok. TokPintu ruangan terbuka. Kepala tim legal dan HRD agensi sudah menantinya.“Pagi,” sapa Sandra tepat ketika pintu terbuka. Ia melangkah masuk, dan duduk dengan gerakan tenang dan anggun. “Saya mendapat pesan panggilan pertemuan dengan tim legal. Ada urusan apa, ya?”Sang HRD menggangguk membenarkan pesan pertemuan pagi itu. Ia menyodorkan sebuah map ke meja Sandra. “Ada beberapa hal yang harus kami selesaikan dengan Mbak Sandra, silahkan dibaca lebih dahulu.”Sandra tidak langsung membuka map itu. Ia hanya menyentuh permukaa map, lalu kembali menatap HRD selama beberapa detik. Perasaannya mulai tidak karuan, menyadari ada sesuatu yang salah.“Silahkan dibaca terlebih dahulu, Mbak,” tegur HRD sekali lagi.Tanpa pikir lama, Sandra langsung membuka map itu. “Hah?!” matanya t
Menjelang malam akhirnya mereka telah kembali ke Indonesia. Jenny turun dari pesawat dengan wajahnya yang masih mengantuk berat, padahal sepanjang perjalanan dia sudah tidur sangat nyenyak. Berbeda dengan Xander yang tetap terlihat kesal dan dingin.Meta dan Vero sudah menunggunya di bandara. Begitu melihat sosok Jenny, Meta langsung melangkah maju dengan wajah serius. “Jen, setelah sampai di rumah kita perlu bicara.”Jenny mengerutkan dahinya. “Ada apa, Kak?” tanyanya santai, dan langsung masuk ke dalam kabin mobil.Meta menyamai langkah Jenny, dan berdiri di samping pintu mobil. “Produser reality show-mu menghubungiku.”“Soal?”Meta menghela napas pendek. “Mereka mulai mempertanyakan status pernikahanmu. Sekarang pulang dulu, kita lanjut di rumahmu.” Meta langsung menutup pintu mobil Jenny, dan beralih ke mobil perusahaan.Sepanjang perjalanan pulang, Jenny beberapa kali menguap, lalu sibuk memakan camilan ringan yang khusus disiapkan Vero untuknya. Sementara Xander mulai sibuk meme
Setelah seluruh pekerjaan Xander selesai, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Pagi menjelang siang Jenny, Xander dan Ryan sudah berada di dalam private jet William Group.Pesawat sudah lepas landas. Xander dan Ryan kembali bekerja di dalam pesawat, memeriksa beberapa berkas dan membahas hasil kontrak dengan investor.Sementara Jenny menatap kedua pria itu dengan tatapan sinis. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, dan mengerucutkan bibirnya. “Kalian enggak bosan bekerja terus? Aku di sini berasa cuma jadi pajangan.” Tangan Jenny seketika menutup laptop milik Xander.“Lah aku kan memang kesini buat bekerja, bukan buat santai-santai, Sayang,” balas Xander, tangannya kembali membuka layar laptopnya tanpa memperhatikan wajah Jenny.“Xander!” Jenny langsung menarik laptop dari meja Xander, memindahkannya ke meja Ryan. “Emang enggak kerja beberapa jam saja bisa bikin kamu bangkrut kah?! Aku jauh-jauh nyusulin kamu, cuma dianggurin, disuruh lihat kamu kerja terus.”Xan







