Share

Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat
Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat
Author: Wowo

Bab 1

Author: Wowo
Aku berdiri begitu saja di tengah hujan dan menatap tunanganku, Orlando Leonard, tanpa suara.

Melihatnya memasangkan sendiri cincin kawin di jari Clarissa.

Clarissa mengenakan gaun pengantin yang dirancang khusus. Dia tersenyum begitu anggun dan memesona.

Begitu cincin itu terpasang, Orlando tidak sabar untuk menarik Clarissa ke dalam pelukannya.

Di sekeliling kami, para anggota keluarga serta orang-orang yang selama ini kukenal sebagai teman, semuanya bersorak-sorai.

Mereka berciuman selama hampir sepuluh menit. Setelah Clarissa hampir tidak bisa berdiri karena kakinya lemas, barulah Orlando melepaskannya dengan napas terengah-engah.

Air hujan menetes dari ujung rambutku dan mengaburkan pandanganku.

Akan tetapi, aku masih bisa melihat dengan jelas bahwa pria itu, pria yang sudah kucintai selama 12 tahun penuh, sedang mencium wanita yang pernah merundungku.

Kenangan itu membanjiri pikiranku seperti gelombang pasang.

Aku pertama kali bertemu Orlando, ketika aku berusia 16 tahun.

Orlando adalah putra rekan bisnis ayahku. Meski baru berusia 18 tahun, Orlando sudah memancarkan aura sebagai pewaris mafia.

Hari itu, ketika Ayah hendak kembali memukulku, Orlando menghalangi di depanku, sehingga lengannya terluka oleh pecahan botol anggur dan meninggalkan luka yang panjang.

Darah mengalir menuruni lengannya, tetapi Orlando hanya menoleh ke arahku dan berkata, "Jangan takut."

Tidak seorang pun yang ingat hari ulang tahunku yang ke-18.

Hanya Orlando yang tanpa suara, tetap menemaniku sepanjang malam.

Dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya memakaikan jasnya di bahuku.

Saat fajar menyingsing, Orlando berkata, "Elena, mulai sekarang, aku yang akan melindungimu."

Aku lulus kuliah di usia 22 tahun.

Orlando muncul di barisan paling belakang auditorium, sambil memegang seikat mawar putih di tangannya.

Dia lalu berkata, "Aku menyukaimu, jadilah pacarku. Mulai sekarang, aku akan melindungimu."

Awalnya, aku mengira dia mencintaiku.

Tapi ternyata, semua itu hanya angan-anganku belaka.

Clarissa melemparkan buket bunganya.

Semua orang maju, ingin menangkap buket bunga tersebut.

Baru pada saat itulah aku menyadari bahwa ternyata anggota keluargaku juga ada di sana.

Sementara itu, adik kandungku, Michael, yang dahulu pernah kulindungi dengan nyawaku sendiri, saat ini tengah berdiri di samping sambil tersenyum. Mata dan hatinya tertuju sepenuhnya pada Clarissa yang dahulu pernah menganiaya dirinya.

Michael sudah lupa bahwa bertahun-tahun yang lalu, kami berdua, hampir disiksa sampai mati oleh Clarissa dan ibunya.

Aku masih ingat, saat Clarissa dan ibunya pertama kali datang ke rumah kami, usiaku saat itu baru sepuluh tahun.

Di depan Ayah, mereka bersikap lembut dan penuh perhatian kepada kami. Namun, begitu Ayah pergi, mereka mengurung kami di ruang bawah tanah. Saat Michael demam, aku memohon agar mereka memberikan obat, tetapi ibu Clarissa menendang dadaku dengan keras. "Ibu kalian sudah mati, kenapa kalian nggak ikut mati saja?"

Clarissa berdiri di samping dan tersenyum manis. "Kakak, jangan salahkan ibuku. Kamu sendiri yang nggak patuh."

Kemudian, Michael terjatuh dalam sebuah pertengkaran dan mengalami cedera kepala, sehingga menyebabkan dirinya hilang ingatan.

Padahal, jelas-jelas Clarissa yang mendorongnya. Namun, wanita itu malah menangis dan mengatakan bahwa aku yang tidak sengaja melakukannya.

Setelah Michael sadar, dia hanya mengingat masa sebulan saat Clarissa merawatnya dan sejak saat itu, Michael sangat setia kepada wanita itu.

Semua itu sudah pernah kuceritakan kepada Orlando.

Akan tetapi, Orlando malah menganggap aku berbohong.

"Selamat menempuh hidup baru untuk kedua mempelai!"

Michael dan yang lainnya berteriak secara serempak.

Begitu dia selesai berbicara, seseorang menyalakan kembang api di luar gereja.

Di tengah kembang api yang memenuhi langit, Orlando langsung mengangkat tubuh Clarissa ke dalam gendongannya.

Sorak sorai pun bergema, memekakkan telinga.

Aku berdiri di tengah hujan gerimis, merasa begitu putus asa hingga sesak napas.

Aku mengangkat tangan dan menelepon Michael.

Adik kandung yang dahulu pernah bersumpah akan selalu menemaniku itu, begitu melihat layar ponselnya, langsung menutup telepon begitu saja.

Aku tidak berhenti dan terus menghubungi Orlando.

Begitu melihat itu adalah telepon dariku, raut wajah Orlando langsung menjadi dingin.

Awalnya, Orlando hendak menutup teleponku. Namun, setelah Clarissa membisikkan sesuatu di telinganya, barulah Orlando menjawab teleponku dengan rasa tidak sabar.

Aku bertanya dengan suara pelan, “Kamu di mana?”

Orlando mencemooh di depan semua orang.

“Mau mengecek keberadaanku lagi? Sedang hamil pun kamu masih nggak bisa diam? Elena, apa kamu segitu butuhnya sama laki-laki?”

“Apa kamu memang nggak bisa hidup tanpa laki-laki?”

“Sudah kubilang sejak awal, aku bersama Clarissa karena ada urusan bisnis klan yang harus dibicarakan! Cuma wanita berpikiran kotor sepertimu yang selalu mengaitkan pekerjaan dengan hubungan asmara!”

Kata-kata yang kasar itu langsung menusuk seperti pisau.

Akan tetapi, sedikit harapan terakhir di hatiku membuatku tetap berbicara dengan suara terisak, “Tapi Orlando, hari ini, hari ulang tahunku ….”

Orlando pernah berjanji kepadaku, apa pun yang terjadi, dia akan menemaniku merayakan ulang tahunku.

Itulah sebabnya, meskipun sekarang dia berada 100 kilometer dariku, aku tetap berganti-ganti kendaraan beberapa kali, lalu berjalan kaki sejauh dua kilometer di bawah guyuran hujan, demi bisa menemuinya.

Orlando seperti baru mengingat hal itu.

Suasana di ujung telepon menjadi hening selama beberapa saat.

Sebelum Orlando bisa angkat bicara, ponselnya langsung dirampas begitu saja oleh Michael.

“Elena, bisa nggak sih kamu berhenti merendahkan dirimu sendiri?”

“Kamu pikir, semua orang hobi bikin drama kayak kamu?”

“Aku sarankan, berhentilah bikin ulah! Kalau urusan penting kami sampai kacau, apa kamu sanggup menanggung akibatnya?”

“Lagian, bisa nggak sih jangan terus-terusan berbuat bodoh dan nyusahin orang lain buat membereskan kekacauan yang udah kamu bikin?”

Setelah berkata seperti itu, Michael langsung menutup teleponnya.

Clarissa bersandar di pelukan Orlando dan tersenyum lembut.

Wanita itu mengulurkan tangannya dan membelai kepala Michael.

“Sudahlah, kalian kan tahu sendiri orang seperti apa Elena itu.”

“Hari ini, hari terpenting dalam hidupku. Anak baik, bersenang-senanglah.”

Hanya dengan kalimat itu, Michael langsung terdiam.

Orang-orang itu lalu berjalan menuju kediaman dengan gembira.

Setelah keramaian itu mereda, di tengah kegelapan malam yang sunyi, hanya tersisa aku seorang diri.

Aku bagaikan sampah yang tidak diinginkan oleh siapa pun. Aku menyeka air mata terakhirku. Lalu, aku berbalik dan melangkah pergi.

Hati yang tidak bisa kululuhkan meski sudah kujaga dengan kesabaran dan ketulusan selama 12 tahun ….

Aku sudah tidak lagi menginginkannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat   Bab 10

    EpilogSurat Terakhir Orlando.Surat itu disembunyikan Orlando di dalam map dokumen yang dia serahkan kepada pengacaranya, dengan instruksi agar surat itu baru diberikan kepadaku setelah dia dikremasi.Sesuai permintaannya tersebut, seminggu setelah pemakaman Orlando, pengacara itu mengantarkan surat yang tidak beramplop dan hanya diikat dengan pita hitam itu kepadaku.Saat aku membuka surat itu, hujan gerimis turun di luar jendela, persis seperti malam bertahun-tahun lalu, ketika ibuku menghilang.Aku membaca surat itu kata demi kata. Jariku dengan lembut menyentuh tanda tangan di ujung lembaran surat itu. Tanda tangan yang dahulu pernah membuat hatiku berdebar, tetapi kemudian menghancurkan hatiku.[Elena.][Kalau kamu membaca surat ini, itu artinya aku sudah nggak ada.][Aku nggak minta pengampunanmu.][Aku cuma ingin memberitahumu beberapa hal.][Pertama, aku sudah pergi menjenguk bayi kita. Lahan pemakaman itu dulunya atas namaku, tapi sekarang aku sudah memindahkannya atas namamu

  • Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat   Bab 9

    Tiga tahun kemudian.Sebagai seorang pemenang penghargaan, aku menghadiri Festival Film Dokumenter Dunia.Film dokumenter yang kubuat menceritakan kisah para perempuan yang terlupakan di berbagai belahan dunia.Mulai dari para janda di Pulau Tiora hingga para pengungsi di luar negeri, dari para istri korban kekerasan dalam rumah tangga, hingga gadis-gadis yang menjadi korban perdagangan manusia.Dalam pidato pemberian penghargaan itu, dikatakan, “Dia menggunakan lensa kameranya untuk memperjuangkan aspirasi mereka yang tertindas dan nggak berdaya.”Aku berdiri di atas panggung dan berkata, “Dulu aku juga orang yang tertindas dan nggak berdaya. Tapi, sekarang, aku nggak lagi seperti itu. Aku berharap ke depannya bisa terus memperjuangkan aspirasi lebih banyak perempuan.”Setelah upacara pemberian penghargaan selesai ….Aku kembali melayani para penggemar yang datang memberikan ucapan selamat dengan memberikan tanda tangan satu persatu kepada mereka.Selama tiga tahun ini, aku terus mend

  • Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat   Bab 8

    Keesokan harinya, aku pergi menghadiri pernikahan sahabatku.Sahabatku itu adalah teman baikku sejak SMA.Dahulu, ketika seisi kelas dihasut oleh Clarissa untuk merundungku dan mengucilkan diriku, hanya dia satu-satunya orang yang mau berteman denganku.Selama dua hari sejak pulang ke negara ini, aku juga mendengar dari berbagai pihak mengenai nasib Clarissa beserta ibu dan ayahnya.Sahabatku itu menceritakannya kepadaku.Enam bulan lalu, aku menghilang di hari pernikahan.Setelah Orlando mengetahui yang sebenarnya, dia merusak wajah Clarissa.Sementara, ibu dan ayah Clarissa masih sempat berusaha membuat keributan.Akan tetapi, Orlando sama sekali tidak memberi mereka kesempatan. Dia langsung membuat mereka menghilang dari kota ini.Setelah menceritakan semua itu, sahabatku menghela napas, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, “Makanya, orang nggak boleh berbuat jahat. Lihat kan, sudah pada kena karmanya.”Aku tersenyum, mencicipi kue mousse dan menyetujui kata-katanya.“Itu benar.”Me

  • Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat   Bab 7

    Enam bulan kemudian.Aku duduk di kediaman Klan Brighton di Pulau Tiora dan memandangi laut antarbenua yang berwarna biru.Selama setengah tahun ini, Tuan Ronan memperlakukanku seperti anak kandungnya sendiri.Semua orang di klan memanggilku “Nona”.Di sini, aku sudah mempelajari aturan dan cara bertindak orang Pulau Tiora, juga belajar bagaimana cara melindungi diri sendiri di dunia ini.Yang lebih penting lagi, aku sudah belajar untuk melepaskan.Aku mulai membuat film dokumenter.Karya pertamaku menceritakan tentang seorang wanita di Pulau Tiora, yang sudah bertahun-tahun mengalami kekerasan dalam rumah tangga.Akhirnya, dia membunuh suaminya dan mendekam di penjara selama sepuluh tahun.Pada hari dia dibebaskan, dia berkata, “Akhirnya aku bebas.”Aku menangis di balik lensa kamera.Itu karena aku tahu, bahwa akhirnya aku juga bebas.Menjelang senja, aku kembali ke kamarku dan menerima telepon dari Tuan Ronan.“Elena, hari peringatan kematian ibumu sudah dekat. Kamu harus pulang unt

  • Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat   Bab 6

    Ibu Clarissa yang berada di samping langsung marah besar dan berteriak histeris, “Hentikan! Lepaskan anakku, dasar kalian para pembunuh! Clarissa sama sekali nggak salah! Yang mencelakai Elena itu jelas-jelas kalian berdua! Apa hubungannya dengan kami?”Mendengar itu, Orlando menggigil, lalu mengangguk sambil tersenyum getir.“Benar. Yang selama ini menindas Elena memang kami berdua, para bajingan ini!”Orlando teringat hari itu di kediaman, saat dia mendorong Elena hingga jatuh tersungkur ke tanah.Sebuah peluru menembus perut Elena.Saat Elena terjatuh, pandangan mata Elena masih menatap ke arahnya.Namun, dia bahkan tidak menoleh sedikit pun.Kilatan kekejaman yang begitu menakutkan tiba-tiba melintas di mata Orlando.Dia menghubungi dewan klan melalui saluran telepon yang terenkripsi.Tiga hari kemudian, dewan klan mengadakan rapat tertutup.Orlando menyerahkan seluruh bukti yang ada di dalam flashdisk.Catatan di sekolah gereja, dokumen pembukuan palsu, hingga rekaman percakapan k

  • Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat   Bab 5

    Terutama ibu Clarissa, yang sedang mencemooh dengan nada sinis itu, “Clarissa kesayangan kita ini memang pintar. Pura-pura sakit dan mempermainkan si bodoh Orlando itu habis-habisan.”“Hahaha, dia itu bos mafia, tapi nggak bisa bedakan mana surat keterangan medis yang asli dan mana yang palsu.”Ibu Clarissa berbicara dengan nada suara yang begitu ketus dan tajam.Sambil berkata seperti itu, ibu Clarissa saling bertukar pandang dengan suaminya, lalu mencibir meremehkan.“Orlando sendiri juga pria rendahan. Dia menyia-nyiakan Elena yang sudah menyukainya selama 12 tahun dan malah nggak bisa lepas dari putriku.”“Ck ck, memang anakku yang paling memikat.”Ayah Clarissa pun menyesap anggur merahnya, lalu berkomentar dengan nada sombong, “Gadis bernama Elena itu nasibnya sial, sama seperti ibunya. Orang rendahan yang nggak ditakdirkan untuk menikmati hidup mewah.”“Dulu, kalau ibunya patuh dan menyerahkan uang itu, dia nggak akan sampai disiksa hingga melompat dari gedung. Kita juga nggak p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status