Se connecterHari-hari berlalu dengan ritme yang terasa semakin melelahkan bagi Aruna. namun hanya Aruna yang tahu bahwa kelelahan itu perlahan mulai menggerogoti tubuhnya ,siang hari yang seharusnya menjadi waktu beristirahat hampir tidak pernah benar-benar menjadi miliknya ,akibatnya setiap malam ia berangkat bekerja dengan tubuh yang belum sepenuhnya pulih apalagi selama beberapa minggu terakhir, Aruna hampir tidak pernah lagi berbincang lama dengan Rani dan teman-teman praktik lainnya ,paling hanya sesekali berpapasan saat Aruna hendak pulang di pagi hari ,ruang VK terasa sunyi tanpa suara-suara riuh yang biasanya dipenuhi pertanyaan demi pertanyaan ,keheningan itu membuat hari-harinya terasa semakin tidak berwarna.~Ia baru saja meletakkan tas di dalam loker ketika suara yang sudah lama tidak didengarnya menyapa dari belakang."Run."Aruna menoleh ,senyumnya langsung mengembang."Ah, Nina."Nina berjalan menghampiri sambil membawa map pasien."Akhirnya.""Ak
Meski kasus yang sempat mengguncang rumah sakit perlahan mulai mereda dan pemberitaan media tidak lagi seramai beberapa hari sebelumnya, bukan berarti semuanya benar-benar selesai ,justru setelah sorotan publik meredup, pekerjaan yang jauh berat dimulai di balik pintu tertutup. Audit internal berjalan tanpa henti ,satu demi satu dokumen lama kembali dibuka, dibedah, dan dicocokkan dengan bukti fisik ,rapat berlangsung hampir setiap hari, nama-nama yang selama bertahun-tahun dipercaya mulai diperiksa kembali dan di antara semuanya nama Bima tetap menjadi perhatian utama ,belum ada keputusan final yang dijatuhkan ,justru penantian itulah yang membuat suasana keluarga semakin mencekam ,ketidakpastian adalah siksaan yang paling menyakitkan bagi Helena. Oxavio hampir tidak pernah berada di rumah ,pagi buta ia sudah berangkat, sering kali Aruna hanya sempat melihat meja makan yang masih dipenuhi cangkir kopi dingin dan berkas-berkas yang belum sempat dibereskan ,malam hari pun tak jauh b
Dua hari setelah konferensi pers, suasana perlahan mulai kembali tenang. Pihak rumah sakit merilis kronologi lengkap penanganan pasien beserta hasil evaluasi medis yang telah diverifikasi oleh tim independen ,rekaman CCTV pada beberapa titik kunci juga ditunjukkan secara tertutup kepada pihak keluarga korban untuk transparansi ,tidak seluruhnya dipublikasikan ke publik demi privasi medis, namun cukup untuk memperlihatkan bahwa tenaga kesehatan memang telah bekerja sesuai prosedur prioritas kegawatdaruratan, tidak ada penelantaran ,tidak ada birokrasi yang menghambat nyawa.Keluarga pasien akhirnya memberikan pernyataan kepada media melalui pengacara mereka ,dengan wajah lelah namun lebih tenang, mereka mengaku emosi sesaat dan terpancing suasana duka saat kehilangan anggota keluarga ,mereka juga menyampaikan bahwa persoalan tersebut telah diselesaikan secara baik-baik bersama pihak rumah sakit melalui jalur mediasi, termasuk kompensasi ,perlahan nada pemberitaan mulai berub
Halaman depan Rumah Sakit masih dipenuhi kendaraan media , menghalangi sebagian akses jalan ,beberapa wartawan telah datang sejak sebelum pukul delapan, menyeruput kopi sambil mengecek baterai kamera ,lensa-lensa panjang mengarah ke pintu utama seperti moncong senjata yang siap menembak ,mikrofon dengan berbagai logo stasiun televisi berjajar di atas meja kecil yang disiapkan pihak rumah sakit ,semua menunggu penjelasan resmi ,jawaban atas tuduhan "pembunuhan terselubung" yang sedang viral. Di ruang rapat Humas dipenuhi wajah-wajah tegang "Media sudah lengkap bu ,hampir semua stasiun nasional ada." lapor seorang staf muda "Kita mulai lima menit lagi." jawab Kepala Humas, wanita paruh baya bernama Ibu Ratna "Kepolisian juga sudah mengirim perwakilan untuk memantau," tambah staf lain. Ibu Ratna menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang kencang. "Baik." Ia menatap timnya satu per satu. "Laporan medis sudah diverifikasi oleh Komite Medik?" "Sudah bu ,semua
Audit dimulai keesokan paginya dengan ketegasan yang mengejutkan seluruh staf ,semua kepala unit diminta menyerahkan laporan pelayanan, jadwal dinas, hingga dokumentasi operasional beberapa bulan terakhir ,tidak ada pengecualian ,tidak ada toleransi untuk keterlambatan. Bagian IGD menjadi fokus utama penyelidikan awal, mengingat kasus viral tersebut bermula dari sana ,namun Oxavio bukan tipe pemimpin yang hanya melihat satu sisi masalah ,baginya sebuah masalah besar hampir tidak pernah berdiri sendirian ,jika ada satu celah dalam prosedur ,berarti ada kemungkinan celah lain yang lebih besar dan lebih berbahaya, yang selama ini luput dari perhatian karena tertutup oleh rasa percaya buta. Sejak pagi, lantai administrasi berubah seperti sarang lebah yang diserang ,suasana tegang mencekam ,staf keuangan keluar masuk membawa map-map tebal dengan wajah pucat ,tim audit internal, yang didatangkan khusus dari konsultan eksternal agar independen, memeriksa dokumen satu pe
Pukul tiga sore ,sinar matahari kemerahan menerobos sela-sela gorden kamar yang tidak tertutup rapat, debu-debu halus menari dalam cahaya itu ,Aruna tidak bergerak ,ia masih terlelap dalam tidur yang berat, seolah tubuhnya ditindih oleh beban kelelahan ,perlahan dengan usaha keras, ia membuka mata ,matanya perih lengket karena sisa-sisa kantuk yang enggan pergi ,rasa lemas menjalar dari pinggang hingga ke paha ,perutnya terasa kram ringan, tanda bahwa siklus bulanan yang biasanya datang tepat waktu, kali ini datang bersamaan dengan puncak kelelahannya."huft .." gumamnya dalam hati, menyadari kenapa tidurnya begitu dalam dan sulit dibangunkan bahkan oleh suara bising sekalipun ,rasa nyeri haid yang dipadukan dengan shift malam membuatnya benar-benar "mati suri" selama berjam-jam ,tubuhnya memaksa istirahat total, mengabaikan dunia luar demi pemulihan energi.Ia menggapai ponsel yang tergeletak di atas nakas ,layar menyala dan seketika jantungnya melonjak kaget ,notifikasi bu
Pagi datang tanpa benar-benar memberi jeda setelah malam yang panjang dan melelahkan itu, Aruna tidak benar-benar merasakan tidur ,tubuhnya memang sempat terbaring di atas kasur namun pikirannya terus terjaga, seolah tidak diberi kesempatan untuk beristirahat ,bayangan percakapan dengan ibunya m
Setelah pulang dari rumah sakit, Aruna tidak mengatakan apa pun ,tidak ada sapaan, ia hanya melangkah masuk melewati ruang tengah tanpa menoleh, lalu menaiki tangga dengan langkah yang berat, sendal rumah yang dikenakannya berderap pelan di lantai marmer, suaranya terdengar kosong seperti tidak
Malam sudah sangat larut ketika Aruna akhirnya keluar dari ruang bersalin ,langkahnya terasa sedikit berat ,persalinan panjang tadi benar-benar menguras tenaga lorong rumah sakit sudah jauh lebih sepi dibandingkan beberapa jam lalu lampu putih yang terang membuat suasana terasa sunyi ,Aruna melep
Di ruang bersalin Aruna Larasati berdiri di dekat meja peralatan dengan gerakan yang terukur dan hati-hati ,tangannya yang ramping bergerak cekatan, menyusun satu per satu alat pemeriksaan dengan ketelitian yang nyaris tanpa cela seolah setiap benda memiliki tempatnya sendiri yang tidak boleh digese







