Beranda / Romansa / Aku ,Target balas dendam CEO / Demam yang Disembunyikan

Share

Demam yang Disembunyikan

Penulis: Amelia afsheen
last update Tanggal publikasi: 2026-05-03 09:01:30

Setelah pulang dari rumah sakit, Aruna tidak mengatakan apa pun ,tidak ada sapaan, ia hanya melangkah masuk melewati ruang tengah tanpa menoleh, lalu menaiki tangga dengan langkah yang berat, sendal rumah yang dikenakannya berderap pelan di lantai marmer, suaranya terdengar kosong seperti tidak memiliki tujuan selain sekadar bergerak ,sesampainya di depan kamar, Aruna membuka pintu dengan pelan lalu segera menutupnya kembali begitu daun pintu tertutup rapat, tubuhnya seolah kehilangan seluru

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Manusia dari Masa Lalu

    Malam itu, setelah insiden panggilan mendadak di area lounge yang di mana Oxavio hanya meminta Aruna datang tanpa alasan jelas, membiarkannya menunggu selama dua puluh menit, lalu sekadar menanyakan konfirmasi data sepele sebelum mengusirnya kembali membuat suasana hati Aruna hancur berantakan ,rasa kesal bercampur malu karena dilihat oleh rekan-rekan lain yang mengira itu adalah momen romantis, membuat dada Aruna sesak , dan ia tidak bisa kembali ke kamar dengan perasaan seperti itu ,dinding kamar hotel yang sunyi justru akan membuatnya semakin memikirkan betapa terkendalinya hidupnya oleh pria itu ,jadi ketika jadwal pelatihan akhirnya benar-benar selesai tepat waktu pukul sembilan malam, membuat suasana para peserta lebih santai ,Aruna memilih untuk tidak langsung naik ke kamarnya .Beberapa orang memilih kembali ke kamar hotel untuk beristirahat, memanjakan diri dengan kasur empuk dan air panas ,sebagian lagi memanfaatkan waktu luang untuk berjalan-jalan di area hotel yang c

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Lagi- lagi

    Hari keenam pelatihan berlangsung cukup lancar ,setidaknya sampai pukul lima sore ,materi hari itu berakhir lebih cepat dari jadwal ,moderator mengumumkan istirahat ,memberikan ruang bagi peserta untuk bersantai sebelum sesi malam yang opsional ,Aruna merasa bisa bernapas lega ,otot-otot bahunya yang tegang mulai melonggar ,ia bahkan sudah merencanakan makan malam tepat waktu hanya itu ,tidak ada ambisi untuk menjadi peserta terbaik demi pujian semu ,tidak ada tugas tambahan yang disembunyikan di balik amplop putih ,ia hanya ingin makan sebelum perutnya kembali protes, menikmati hangatnya sup krim jagung atau steak sederhana tanpa rasa was-was bahwa ponselnya akan berdering memanggilnya kembali ke "penjara" pribadi. "Mbak Aruna!" Sintya muncul sambil membawa tas selempangnya, wajahnya cerah penuh harap. "Mau ikut makan?" Aruna menoleh, melihat senyum tulus rekan barunya itu ,ia tersenyum kecil "Boleh." "Serius?" Sintya tampak tidak percaya, matanya memb

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Pelatihan

    Hari pertama pelatihan dimulai ,lokasi pelatihan tahun ini dipilih di sebuah hotel bintang lima di pusat kota, jauh dari hiruk-pikuk koridor rumah sakit tempat Aruna bekerja sehari-hari ,gedung yang megah dengan arsitektur kaca modern itu berdiri kokoh, memancarkan aura eksklusivitas yang jarang dirasakan oleh tenaga kesehatan lini depan ,peserta yang lolos seleksi berasal dari berbagai unit dan bahkan berbagai rumah sakit dalam satu grup kesehatan besar ,ada perawat dari IGD rumah sakit swasta ternama, bidan senior dari puskesmas daerah, hingga tenaga kesehatan dari cabang-cabang lain di kota tetangga. Suasana aula utama cukup ramai, dipenuhi dengung obrolan profesional dan pertukaran kartu nama ,sementara Aruna memilih duduk di barisan tengah, posisi strategis yang tidak terlalu mencolok namun juga tidak tersembunyi ,ia membuka modul pelatihan yang dicetak di atas kertas tebal berlogo emas ,matanya menelusuri kata-kata di atas kertas tanpa benar-benar membacanya ,ia tidak ter

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Dalam Jangkauan

    Sejak kejadian dipanggil ke lantai atas beberapa hari lalu, anak-anak praktik seperti menemukan bahan candaan baru yang tak pernah habis ,gosip tentang "panggilan romantis" dari CEO menjadi bumbu harian di ruang VK, mengubah setiap interaksi kecil menjadi peluang untuk menggoda Aruna. "Mbak Aruna." Panggilan itu datang dengan nada bernyanyi, khas Rani yang sedang iseng. "Hm?" Aruna bahkan tidak perlu mengangkat kepala dari laporan kebidanan yang sedang dikerjakannya ,jemarinya terus menari di atas keyboard, fokus pada data pasien. "Cie." Aruna menghela napas pendek, mencoba mengabaikannya. "Cie apa sih?" tanyanya datar, meski sudut bibirnya berkedut sedikit menahan geli. "Cie dipanggil." "Itu kerjaan." Jawab Aruna singkat, matanya tetap tertuju pada layar monitor. "Cie." Rani tidak menyerah ,ia menarik kursi dan duduk bersila di samping meja Aruna, dagunya ditopang tangan, menatap wajah bi

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Yang Terlihat dan Yang Sebenarnya (2)

    Aruna sedang memeriksa berkas pasien, matanya menelusuri grafik dengan fokus penuh, ketika seorang staf administrasi menghampiri mejanya ,wajah wanita itu datar, khas pembawa pesan yang tidak ingin terlibat emosi. "Bidan Aruna." Aruna mendongak, pulpen di tangannya berhenti bergerak. "Iya?" "Diminta ke lantai atas " Jantung Aruna langsung mencelos ,sensasi dingin menjalar dari ulu hatinya hingga ke ujung jari-jarinya ,ia bahkan tidak perlu bertanya lantai atas yang mana karena hanya ada satu tempat yang langsung terlintas di pikirannya, sebuah tempat yang selalu diasosiasikannya dengan ketegangan dan kontrol. "Oh, iya." Jawabannya singkat hampir tanpa suara ,Nina yang kebetulan mendengar percakapan itu dari meja sebelahnya langsung mengangkat kepala ,tatapan mereka bertemu ,ada bahasa tubuh yang tersirat di sana seperti sebuah peringatan diam-diam ,Nina mengenal ekspresi itu ,ekspresi yang sudah bisa menebak bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi ,bahu Aruna s

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Yang Terlihat dan Yang Sebenarnya

    Kegaduhan di ruang VK akhirnya mereda seiring berjalannya waktu, namun gema pertanyaan Rani tentang kebahagiaan seolah masih menggantung tipis di udara, meski tak seorang pun berani mengungkitnya lagi. Aruna memilih untuk membenamkan diri dalam tumpukan berkas, menjadikan kesibukan sebagai tameng terbaik dari rasa hampa yang mulai merayap kembali.Hari-hari pun berlalu seperti biasa ,pergantian shif, suara langkah petugas medis , serta tangisan bayi yang datang silih berganti kembali memenuhi ruang VK ,dan hari ini sejak pagi, ruang VK tidak benar-benar sepi ,udara di ruangan itu bergetar oleh aktivitas . "Mbak Aruna." Panggilan itu datang dari sisi meja, memecah konsentrasi Aruna sesaat. "Hm?" Aruna tidak langsung menoleh ,jemarinya masih menari di atas keyboard, menyelesaikan kalimat terakhir dalam laporan sebelum ia mengalihkan perhatian sepenuhnya. "Kalau saya jadi Mbak, saya kayaknya nggak kuat deh." Aruna yang sedang menulis laporan akhi

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Kendali Gelap

    Hari hari berlalu ,Aruna tetap bekerja seolah tidak terjadi apa-apa jam di dinding menunjukkan hampir tengah malam ,suasana rumah sakit malam itu relatif sepi hanya ada suara langkah perawat yang sesekali terdengar di koridor panjang dan bunyi monitor pasien dari beberapa ruangan yang terdengar s

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Tidur yang terjaga

    Ruang jaga malam itu relatif tenang tidak seperti malam-malam lain ,malam ini terasa lebih santai lampu putih di langit-langit ruang jaga menyala redup ,suara pendingin ruangan terdengar pelan bercampur bunyi tetesan infus yang turun perlahan melalui selang bening di tangan Aruna ,Nina duduk

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Ruang sunyi

    Pintu kamar tertutup perlahan di belakang Aruna ,tawa kecil para tamu masih sesekali naik sampai ke lantai atas seperti gema yang terus menghantam kepalanya yang sedang berdenyut ,begitu berada sendirian tubuh Aruna seperti kehilangan seluruh tenaga yang tadi ia paksa untuk bertahan. Aruna bersan

  • Aku ,Target balas dendam CEO   luka sunyi

    Suara tawa dari lantai bawah masih terdengar samar bahkan ketika sore perlahan menggantikan siang ,rumah besar itu tetap hidup dengan percakapan dan jamuan panjang yang seolah tidak ada habisnya sementara di lantai atas Aruna tertidur ,demam yang sejak siang tadi muncul perlahan kini terasa semak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status