Teilen

Demam yang Disembunyikan

last update Veröffentlichungsdatum: 03.05.2026 09:01:30

Setelah pulang dari rumah sakit, Aruna tidak mengatakan apa pun ,tidak ada sapaan, ia hanya melangkah masuk melewati ruang tengah tanpa menoleh, lalu menaiki tangga dengan langkah yang berat, sendal rumah yang dikenakannya berderap pelan di lantai marmer, suaranya terdengar kosong seperti tidak memiliki tujuan selain sekadar bergerak ,sesampainya di depan kamar, Aruna membuka pintu dengan pelan lalu segera menutupnya kembali begitu daun pintu tertutup rapat, tubuhnya seolah kehilangan seluru

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Sindiran yang tak berhenti

    Tubuh Aruna sempat kehilangan keseimbangan ,dunia di sekitarnya berputar dalam satu kedipan yang terlalu cepat untuk ia pahami namun tepat sebelum tubuhnya benar-benar jatuh ,Aruna menegakkan dirinya tangannya refleks mencengkeram sandaran kursi di dekatnya ,jemarinya memutih karena menahan beban ,napasnya sempat terhenti lalu ia tarik perlahan memaksa tubuhnya untuk kembali patuh ,ia tidak boleh jatuh apalagi di depan mereka.Beberapa detik terasa seperti pertarungan diam yang tidak terlihat oleh siapa pun ,wajahnya tetap tenang meskipun kepalanya masih berdenyut dan pandangannya belum sepenuhnya stabil ,Oxavio yang sempat melangkah setengah langkah ke arahnya,menatap aruna tajam ,ada sesuatu yang ia lihat namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun Aruna sudah lebih dulu berdiri tegak sepenuhnya.“Aku tidak apa-apa,” ucapnya pelan, bahkan sebelum ada yang bertanya nada suaranya stabil seolah ia baru saja berdiri biasa, bukan hampir kehilangan kesadaran ,ibu mertuanya hanya

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Rumah yang tidak Pernah menerima

    Pagi datang tanpa benar-benar membawa kelegaan ketika alarm ponsel berbunyi, Aruna tidak langsung bergerak matanya terbuka perlahan ,tubuhnya terasa seperti bukan miliknya sendiri ,pusing ,lemas dan masih menyisakan sisa panas yang belum sepenuhnya pergi.Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar ,ia terdiam namun di balik diam itu tubuhnya sedang berjuang menyeimbangkan diri ,demamnya memang sedikit mereda setelah obat yang ia minum semalam, tetapi kepalanya masih terasa berdenyut pelan seolah ada sesuatu yang terus mengetuk dari dalam ,Aruna akhirnya menarik napas panjang, lalu memaksakan diri untuk duduk ,gerakannya lambat seolah setiap perubahan posisi bisa membuat tubuhnya kehilangan kendali ,ia memijat pelipisnya dengan ujung jari, mencoba meredakan pusing yang masih menggantung ,sebagai tenaga medis, ia tahu dengan jelas kalo tubuhnya belum siap untuk beraktivitas ,ia butuh waktu untuk istirahat ,butuh ruang untuk pulih dan untuk sesaat aruna berpikir ,bag

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Demam yang Disembunyikan

    Setelah pulang dari rumah sakit, Aruna tidak mengatakan apa pun ,tidak ada sapaan, ia hanya melangkah masuk melewati ruang tengah tanpa menoleh, lalu menaiki tangga dengan langkah yang berat, sendal rumah yang dikenakannya berderap pelan di lantai marmer, suaranya terdengar kosong seperti tidak memiliki tujuan selain sekadar bergerak ,sesampainya di depan kamar, Aruna membuka pintu dengan pelan lalu segera menutupnya kembali begitu daun pintu tertutup rapat, tubuhnya seolah kehilangan seluruh kekuatan ,ia bersandar di balik pintu matanya terpejam ,napasnya tertahan sejenak ,baru saat itu ia benar-benar menyadari ada sesuatu yang tidak beres ,tubuhnya terasa panas ,Aruna membuka matanya perlahan ,ia mendorong tubuhnya menjauh dari pintu, lalu berjalan tertatih menuju tempat tidur ,setiap langkah terasa berat, seolah ada beban tak kasat mata yang menariknya ke bawah ,ia duduk di tepi ranjang kemudian mengangkat tangan untuk menyentuh dahinya sendiri , terasa hangat ,panas yang meramb

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Perempuan yang Tetap Berdiri

    Aruna berjalan langkahnya tenang seolah ia tidak membawa apa pun di dalam dirinya seragam putihnya terlihat rapi tanpa satu pun lipatan yang salah dan masker menutupi sebagian wajahnya menyembunyikan ekspresi yang tidak ingin ia tunjukkan pada siapa pun namun matanya tetap fokus seperti biasa seolah tidak ada yang berubah ,seolah semalam bukan malam yang menghancurkan sesuatu di dalam dirinya ,ia masuk ke ruang jaga, Nina sudah berdiri di sana sambil memegang beberapa berkas dengan wajah yang terlihat sedikit kewalahan.“Akhirnya pengantin datang juga,” kata Nina sambil menghela napas.Aruna meletakkan tasnya dengan pelan.“Ada pasien?”Nina mengangguk cepat." Ada lah Aruna ,tadi malam yang masuk 3 dan tadi sudah antre, tapi…” Nina berhenti sebentar lalu menatap Aruna serius.“Kamu yakin mau langsung kerja?”Aruna sedikit mengernyit.“Maksud kamu?”Nina mendekat sedikit suaranya menurun.“Kamu baru menikah kemarin biasanya orang-orang itu a

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Rahasia yang tak sengaja terdengar

    Pagi datang terlalu cepat ,cahaya matahari perlahan masuk melalui celah tirai kamar dan menyentuh dinding dengan lembut namun bagi Aruna pagi itu terasa berat seolah waktu tidak memberi ruang baginya untuk benar-benar beristirahat ,ia membuka matanya perlahan kemudian menatap langit-langit tanpa bergerak dan beberapa detik kemudian ingatan tentang malam sebelumnya kembali tanpa permisi ,dadanya terasa sesak ia kembali memejamkan mata sejenak sambil menarik napas panjang mencoba menenangkan dirinya sendiri meskipun ia tahu perasaan itu tidak akan benar-benar hilang ,tidak ada air mata yang jatuh, bukan ia tidak ingin menangis tetapi karena tubuhnya sudah terlalu lelah untuk mengeluarkan apa pun ,Aruna bangun dan berjalan menuju kamar mandi dengan langkah pelan lalu berdiri di depan cermin dan menatap dirinya sendiri ,wajahnya pucat dan matanya sembab lalu tangannya perlahan menyentuh cincin di jarinya, cincin yang seharusnya membawa kebahagiaan justru terasa asing dan tanpa bisa dic

  • Aku ,Target balas dendam CEO   ketika kendali itu hilang

    Malam sudah lewat tengah malam rumah besar itu tenggelam dalam keheningan lampu-lampu di lorong sudah diredupkan oleh para pelayan yang sejak tadi memilih menjauh dari lantai atas ,memberi ruang bagi pasangan pengantin baru yang seharusnya menikmati malam pertama mereka namun malam itu tidak terasa seperti malam pertama ,tidak ada tawa tidak ada percakapan hangat hanya keheningan yang terasa .Di kamarnya, Aruna duduk di tepi tempat tidur masih mengenakan piyama panjang yang sederhana ,kerudungnya sudah dilepas rambut panjangnya jatuh di bahu tangannya memegang buku kecil yang tadi ia coba baca untuk menenangkan pikirannya, sejak tadi matanya hanya menatap halaman yang sama ,ia tidak benar-benar membaca pikirannya terus kembali pada hari yang baru saja ia lewati,Tatapan orang-orang ,tatapan ibunya dan wajah Oxavio yang terasa begitu jauh ,Aruna menghela napas panjang ia menutup buku itu dan meletakkannya di meja samping tempat tidur ,jam di dinding menunjukkan hampir pukul

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status