LOGINAruna masih berbaring di sisi tempat tidur ,lampu kamar sudah dimatikan hanya cahaya kecil dari lampu jalan di luar yang masuk melalui celah tirai ,ia tidak tidur matanya terbuka menatap langit-langit yang gelap ,tubuhnya masih terasa lelah namun yang lebih berat adalah pikirannya ,dua hari yang lalu ia tertawa ,tertawa dengan bebas di bawah langit pegunungan ,udara dingin menusuk pipinya, sementara Nina terus berbicara tanpa henti sambil mengeluh soal kaki pegal karena terlalu banyak berjala
Malam semakin larut ,setelah memastikan cairan infus Aruna mengalir dengan baik dan suhu tubuhnya mulai sedikit turun, Nina akhirnya keluar dari kamar dengan langkah pelan, sebelum pergi ia sempat menarik selimut Aruna hingga menutupi bahunya ,Nina memandang sahabatnya ada rasa sesak yang sulit dijelaskan ,ia melihat Aruna benar-benar kehabisan tenaga bukan hanya tubuhnya tetapi juga hatinya, ia keluar pintu kamar tertutup perlahan ,rumah itu kembali sunyi ,Nina menuruni tangga menuju lantai bawah namun sesampainya di dekat pintu depan, langkahnya justru berhenti entah kenapa ia belum ingin pulang ,perasaannya masih tidak tenang ,ia akhirnya berdiri di teras rumah sambil memeluk tas di dadanya . Udara malam terasa cukup dingin jarum jam terus bergerak ,lima menit ,sepuluh menit hingga akhirnya pintu rumah kembali terbuka ,Nina menoleh Oxavio keluar seorang diri langkahnya terlihat tenang namun ada sesuatu pada wajahnya yang membuat Nina yakin pria itu juga belum benar-bena
Cairan infus menetes perlahan ,Aruna terbaring di atas tempat tidur dengan mata terpejam ,tubuhnya masih terasa berat, namun menggigil yang sejak siang tadi menyiksanya perlahan mulai berkurang ,Nina masih duduk di kursi di samping tempat tidur ,tangannya sesekali menyentuh dahi Aruna yang masih panas tetapi setidaknya tidak sepanas beberapa jam yang lalu"Untung turun sedikit," gumam Nina pelan.Aruna membuka matanya perlahan ,kelopak matanya terasa berat."Hm.""Hm apanya?" Nina mendengus pelan. "Kalau aku nggak datang, kamu mau gimana?"Aruna tersenyum tipis ,senyum kecil yang tampak lelah."Minum obat."Nina langsung memutar matanya."Terus pingsan sendirian di kamar?"Aruna terkekeh pelan namun tawa kecil itu berubah menjadi batuk ringan, Nina langsung menyodorkan air digelas"Nah kan."Aruna menerima gelas itu dengan tangan yang masih lemas."Makasih.""Makasih lagi."Nina menggeleng pelan pandangan matanya beralih p
Sore perlahan bergeser menjadi malam ,cahaya yang sejak tadi masuk mulai memudar, meninggalkan kamar Aruna dalam remang yang tenang ,namun tidak dengan tubuhnya demamnya tidak turun justru semakin terasa membakar ,Aruna terbaring miring di atas tempat tidur dengan selimut yang ditarik hingga ke dada ,keringat dingin membasahi pelipis dan tengkuknya, sementara tubuhnya menggigil tanpa bisa ia kendalikan ,sesekali giginya beradu pelan ,tangannya mencengkeram ujung selimut ,kepalanya semakin berat seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam ,Aruna membuka mata perlahan pandangannya sedikit buram ,langit-langit kamar terlihat bergoyang sebentar sebelum akhirnya kembali fokus ,ia mengembuskan napas pelan ,tenggorokannya kering ,tubuhnya terasa nyeri sampai ke tulang-tulang ,dengan susah payah ia berusaha bangun ,tangannya mencoba menekan kasur ,otot-otot lengannya menegang , baru setengah duduk pandangan di depannya langsung menghitam ,kepalanya berputar ,perutnya terasa mual ,refleks ia
Pagi datang terlalu cepat ,cahaya matahari sudah menyelinap masuk melalui celah tirai ,Aruna perlahan membuka matanya ,ada sesuatu yang terasa berbeda tubuhnya terasa sangat berat seolah ada yang meletakkan beban besar di atas dadanya sepanjang malam ,Aruna mengerjapkan mata beberapa kali ,kepalanya berdenyut ,bukan pusing biasa melainkan nyeri tumpul yang terasa menekan dari belakang mata hingga tengkuknya ,ia mencoba bangun ,satu tangan bertumpu pada kasur ,baru saja tubuhnya terangkat sedikit, pandangan di depannya langsung berputar ,Aruna kembali terduduk napasnya tertahan sesaat ,ia memejamkan mata sambil menunggu rasa pusing itu mereda ,tangannya perlahan terangkat menyentuh dahi ,kulitnya terasa panas bahkan di bawah sentuhannya sendiri ,Aruna mengerutkan kening " lagi lagi demam " tubuhnya menggigil meskipun udara pagi tidak terlalu dingin ,selimut yang menutupi tubuhnya hangat, tetapi tetap tidak mampu menghilangkan rasa dingin yang merayap dari dalam tulang ,semalam ia ham
Setelah kalimat terakhir Oxavio menggantung di udara .. "...aku bisa mendorongnya sampai hancur." Aruna tidak langsung bergerak ia hanya berdiri di ruang keluarga dengan tubuh yang terasa semakin ringan dan berat pada waktu yang sama ,jari-jarinya tanpa sadar menggenggam tali tas yang masih tersampir di bahunya ,buku-buku jarinya memutih karena tekanan yang ia berikan sendiri ,Oxavio menatapnya tatapan itu sulit ditebak lalu tanpa mengatakan apa pun lagi, ia berbalik dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya ,langkahnya terdengar teratur seolah percakapan barusan hanyalah sesuatu yang biasa, Aruna tetap diam hingga suara pintu kamar Oxavio tertutup pelan dan setelah itu rumah kembali tenggelam dalam keheningan ,keheningan yang terasa besar ,Aruna menelan ludah namun tenggorokannya terasa kering kata-kata Oxavio terus berputar di dalam kepalanya. "Tempat itu tidak berada di luar jangkauanku." Rumah sakit ,tempat ia bekerja ,tempat
Hari-hari Aruna semakin terasa seperti lingkaran yang tidak pernah selesai ,bangun ,bekerja dan pulang ,tidur beberapa jam lalu kembali bekerja. Hari demi hari berlalu dengan ritme yang sama hingga kadang Aruna sendiri tidak lagi tahu hari apa yang sedang ia jalani ,tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang tidak bisa lagi disembunyikan ,lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas ,pipinya sedikit tirus dibanding beberapa bulan lalu bahkan seragam kerjanya terasa lebih longgar ketika dikenakan namun satu yang tidak pernah berubah , Aruna tetap datang bekerja ,tetap mendampingi ibu yang akan melahirkan ,tetap menggenggam tangan pasien yang ketakutan ,tetap tersenyum ketika mendengar tangisan bayi pertama yang memenuhi ruang bersalin ,seolah rumah sakit itu adalah satu-satunya tempat di mana ia masih bisa menjadi dirinya sendiri dan Oxavio mulai menyadarinya. Setelah berminggu-minggu menjalani jadwal yang padat, Aruna mendapatkan dua hari libur ,tidak ada jadw







