登入Aruna pulang dari shift malam ,begitu membuka pintu kamar, tubuhnya langsung terasa ingin roboh ia bahkan tidak sempat mengganti pakaian tasnya diletakkan begitu saja di lantai ia hanya duduk di tepi tempat tidur sambil menunduk ,kepalanya penuh ,hari itu ibunya tidak datang dan tidak ada keributan seharusnya ia merasa lega namun justru itulah yang membuatnya semakin gelisah.Keheningan sering kali lebih menakutkan daripada pertengkaran karena ia tidak tahu apa yang sedang menunggunya. Aruna memejamkan mata baru beberapa detik menikmati sunyi terdengar ketukan pelan di pintu. Tok. Tok. Tok. Aruna membuka mata. "Masuk." Pintu terbuka perlahan Oxavio masuk tanpa tergesa sudah mengenakan pakaian kerja ,tatapannya langsung menemukan Aruna yang duduk diam di tepi ranjang ,ia tidak berkata apa-apa hanya berdiri beberapa langkah dari pintu seolah sedang menikmati pemandangan di depannya. "Capek?" Aruna mengangguk kecil. "Iya." Oxav
Satu minggu berlalu ,Oxavio menatap layar ponselnya setelah menerima laporan bahwa Saraswati sudah menerima uang tersebut ,kemudian ia meletakkan ponselnya, ia tidak melakukan itu untuk menyelamatkan Aruna ,jika ia ingin menyelamatkan Aruna, ia bisa saja memberikan tiga puluh juta itu sejak awal namun ia tidak ingin Aruna bebas dari tekanan ,ia hanya ingin mengubah sumber tekanan itu ,ia ingin Aruna berhenti memikirkan ibunya ,berhenti memikirkan uang. Oxavio ingin Aruna memikirkan dirinya , memikirkan apa yang akan terjadi jika ia terus menolak. Namun sebelum sepenuhnya fokus pada Aruna, ada urusan bisnis yang harus ia selesaikan malam ini juga ,urusan yang selama berminggu-minggu menggerogoti fondasi perusahaan warisan kakek-neneknya. Oxavio berdiri ,di sana dokumen audit final sudah tersusun rapi ,hasil penyelidikan tim eksternal yang independen telah rampung ,sudah diverifikasi tanpa celah ,Oxavio duduk di kursi menatap berkas tebal itu, ia teringat wajah pamannya yang puc
Namun .. Aruna tidak pernah memohon ,dan justru itulah yang membuat Oxavio semakin ingin menekanya ,selama ini Aruna selalu menemukan cara setiap kali Oxavio memberinya tekanan, ketika ia ingin Aruna bergantung kepadanya, Aruna memilih bertahan sendiri ,ketika ia membuka satu-satunya jalan keluar, Aruna justru memilih menjual sesuatu yang masih menjadi miliknya ,bahkan yang harus dikorbankan adalah mas kawinnya sendiri. Oxavio menatap tangga yang baru saja dinaiki Aruna, rahangnya mengeras ,ia bisa saja memaksa ,bisa saja menggunakan kekuasaannya untuk menutup semua celah, membuat Aruna benar-benar tidak memiliki pilihan ,namun apa gunanya? Oxavio tidak ingin Aruna datang kepadanya karena dipaksa sampai ke titik itu , ia tidak ingin kemenangan yang terasa seperti perampasan ,ia ingin Aruna menundukkan kepalanya karena akhirnya menyadari bahwa tidak ada lagi tempat lain untuk dituju ,ia ingin perempuan itu menyerahkan dirinya dengan kemauannya sendiri ,itulah satu-satunya kemen
Sebelum berangkat bekerja, Aruna masih duduk dalam diam di kamarnya ,ia bersandar pada sisi tempat tidur, punggungnya menempel pada kasur yang dingin ,lampu hanya menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding ,ponselnya tergeletak di samping dengan layar mati sejak lama, seolah menolak dunia luar masuk ke dalam kesunyiannya ,jam dinding berdetak pelan ,setiap detiknya terasa menekan dada ,menghimpit napas "sembilan puluh juta " Angka itu terus berputar di dalam kepalanya seperti pita rusak yang macet , Aruna sudah menghitung semua kemungkinan ,tabungan? Habis ,rekening? Kosong ,uang pinjaman? Tidak akan ada yang memberinya sebanyak itu dalam waktu semalam ,Bank pun butuh proses yang tidak mungkin selesai dalam semalam. Aruna menutup wajahnya dengan kedua tangan ,air mata jatuh perlahan, membasahi telapak tangannya yang dingin karena kenyataan pahit bahwa hidupnya tidak pernah benar-benar lepas dari masa lalu ,setiap kali ia merasa bisa bernapas, masa lalu selalu d
Aruna keluar dari rumah makan itu dengan langkah yang terasa tidak nyata, karena Aruna tahu betul ibunya tidak pernah mengancam tanpa benar-benar melakukannya ,jika Saraswati mengatakan akan datang dan membuat keributan di tempat kerja Aruna, maka kemungkinan besar ia benar-benar akan melakukannya "Sembilan puluh juta " angka itu terasa seperti sesuatu yang tidak mungkin ia dapatkan dalam waktu semalam ,gajinya cukup untuk hidup ,cukup untuk membantu kebutuhan sehari-hari ,cukup untuk memberikan sebagian kepada ibunya namun tidak pernah cukup untuk menyelesaikan masalah sebesar ini ,tangannya sedikit gemetar ketika ia membuka aplikasi perbankan di ponselnya ,ia memeriksa rekeningnya satu per satu ,menghitung tabungan ,menghitung uang yang bisa ia gunakan ,menghitung segala kemungkinan namun hasilnya tetap sama jumlahnya bahkan tidak sampai sepersepuluh dari yang diminta Saraswati ,Aruna menutup layar ponselnya ia berdiri cukup lama di depan rumah makan itu ,orang-orang berlalu-lalan
Aruna pulang ketika matahari mulai naik ,rumah masih cukup tenang begitu memasuki kamar, ia langsung meletakkan tas dimeja ,ia bahkan tidak langsung mengganti pakaian hanya duduk sebentar di tepi tempat tidur kemudian mandi ,setelah itu ia memeriksa Helena yang masih tidur ,wanita itu belum bangun dan Aruna tidak membangunkannya hanya memastikan obat dan air minum sudah tersedia di dekat tempat tidur setelah semuanya selesai, barulah Aruna kembali ke kamarnya ,ia mengisi daya ponselnya yang hampir habis kemudian berbaring dan akhirnya ia tertidur. -- Pagi berlalu dengan tenang, Aruna baru terbangun beberapa jam kemudian ia menghabiskan waktu dengan rutinitas biasa merapikan tempat tidur ,membantu menyiapkan makanan ,memeriksa kondisi Helena kemudian duduk sebentar sambil menikmati sarapan dan mungkin justru karena itulah pagi itu terasa menyenangkan Aruna bahkan sempat berbicara dengan Ibu mertuanya meskipun tetap tidak terlalu ramah ,Helena masih memasang wajah
Malam di penginapan kecil itu berakhir dengan tawa yang masih tersisa di udara ,api unggun perlahan mengecil, para tamu satu per satu kembali ke kamar masing-masing, dan pegunungan kembali tenggelam dalam kesunyian yang damai.Aruna tidur nyenyak malam itu mungkin karena sebagian beban yang
Pintu kamar tertutup perlahan di belakang Aruna ,tawa kecil para tamu masih sesekali naik sampai ke lantai atas seperti gema yang terus menghantam kepalanya yang sedang berdenyut ,begitu berada sendirian tubuh Aruna seperti kehilangan seluruh tenaga yang tadi ia paksa untuk bertahan. Aruna bersan
Sekolah seharusnya menjadi tempat yang tenang.Tempat di mana aku bisa melupakan rumah kecil yang selalu penuh dengan orang asing.Tapi kenyataannya… tidak pernah benar-benar seperti itu ,Aku berjalan melewati gerbang sekolah dengan langkah cepat ,Matahari pagi masih hangat, dan halaman s
Malam di rumah itu tidak pernah benar-benar sunyi ,Selalu ada suara. Kadang suara tawa laki-laki yang berat dan kasar ,Kadang suara gelas yang beradu di meja kayu tua ,Kadang juga suara pintu kamar ibuku yang tertutup keras diikuti suara yang membuatku menutup telinga dengan kedua tangan. Aku sud







