LOGIN"Papa! Lihat ayunan pedangku sudah lebih makin cepat dari kemarin!" seru Arthur bersemangat.Waktu bergulir dengan cepat menembus hitungan tahun, membawa perubahan yang amat indah di seluruh penjuru kastil.Benteng tua yang dulunya dikenal dingin kini telah menjelma menjadi sebuah istana hangat bergemuruh tawa.Di pelataran dalam kastil yang disinari matahari pagi, Arthur tumbuh menjadi bocah tegap berambut gelap.Arthur sibuk mengayunkan pedang kayunya bersama Alistair yang membimbing tiap gerakan putranya dengan bangga."Kembangkan dadamu dan fokuskan tatapan matamu pada sasaran, Arthur!" pangkas Alistair memberi instruksi tegas.Tak jauh dari pelataran latihan, Elena kecil yang cantik berlari-lari kecil melintasi hamparan rumput hijau.Dengan gaun merah muda yang mengembang indah, bocah perempuan itu tertawa lepas di bawah pendar mentari.Elena memegang seikat bunga liar yang dikumpulkannya untuk diserahkan ke pangkuan Liora yang duduk anggun."Mama! Lihat bunga cantik ini Elena pe
"My Lord Duke, ada surat resmi berstempel khusus yang baru saja tiba dari perbatasan jauh," panggil pengawal.Perjalanan panjang dan liku-liku konflik masa lalu akhirnya benar-benar mencapai titik penutupan yang sempurna.Pada suatu sore yang tenang di ruang kerja utama Kastil Blackwood, seorang utusan khusus tiba membawa kabar.Utusan tersebut menyerahkan sebuah surat berstempel lilin dari pos penjagaan perbatasan paling jauh di wilayah Selatan.Surat penting itu dikirimkan langsung oleh Jenderal Maxime melalui kurir berkuda tercepat yang mereka miliki.Alistair menerima amplop tersebut, membukanya dengan gerakan tenang lalu membacanya bersama Liora di samping meja."Apakah itu surat dari Jenderal Maxime, Alistair?" tanya Liora penasaran seraya mendekatkan dirinya ke arah suami.Surat tersebut berisi ucapan selamat yang teramat tulus dari Maxime atas kelahiran putri kedua mereka, Elena.Selain ucapan selamat, lembaran kain wol halus itu juga membawa laporan krusial yang sangat melega
"Alistair, dengarkan riuh suara rakyat di luar aula utama itu," bisik Liora sambil merapikan gaun beludrunya.Suasana dingin Kastil Blackwood seketika luluh oleh kehangatan Pesta Perayaan Musim Dingin yang digelar megah.Pesta ini diadakan khusus untuk menyambut kelahiran sang putri tercinta, Elena von Drachen.Seluruh tetua klan senior, para jenderal perang, hingga perwakilan rakyat berkumpul di aula utama dengan suka cita.Cahaya ribuan lilin dan kehangatan perapian raksasa memantulkan kemewahan dekorasi kain beludru yang terpasang indah.Karangan bunga segar musim dingin menghiasi sepanjang dinding batu, menebarkan aroma harum yang sangat menenangkan."Rakyat sangat antusias menyambut kehadiran putri kita, Liora," sahut Alistair dengan senyum bangga yang merekah."Aku ingin seluruh wilayah Utara tahu bahwa klan Drachen kini memiliki cahaya baru yang sangat indah," tambahnya.Alistair merapikan jubah hitamnya, menatap Liora yang tampak begitu anggun dan memesona di sampingnya.Punca
"My Lady, My Lord... selamat atas kelahiran Lady Elena!" ucap Emma seraya melangkah masuk.Beberapa saat setelah momen keluarga yang hangat tersebut, Emma masuk ke kamar untuk memberikan ucapan selamat.Air mata kebahagiaan menetes di pipi Emma saat ia melihat bayi Elena yang terlelap di atas ranjang."Kemarilah, Emma, lihatlah putri kecil kami ini," panggil Liora tersenyum manis dari atas peraduan.Elena tampak begitu menggemaskan dalam balutan gaun tidur berwarna merah muda yang dilapisi kain wol.Gaun anggun tersebut dikerjakan dan dipasang kanopinya sendiri secara teliti oleh tangan Alistair."Lady Elena sangat cantik, My Lady, mirip sekali dengan Lord Duke," bisik Emma mengusap air matanya."Tentu saja, dia adalah putri kandungku yang diwarisi darah klan Drachen," pangkas Alistair menyahut bangga.Namun, suasana bahagia pasca-persalinan itu mendadak diwarnai oleh kejutan manis yang tak terduga.Louis yang berdiri kaku di samping Emma mendadak memberanikan diri mengulurkan tangan
"Ruangan sudah bersih dan rapi, My Lord Duke, kami permisi mundur ke luar," pamit kepala bidan.Setelah tim medis selesai merapikan kamar dan menyelimuti Liora, keheningan syahdu kembali melingkupi menara barat.Alistair mengangguk pelan, membiarkan para bidan dan tabib melangkah keluar meninggalkan mereka bertiga.Alistair melangkah mendekat, lalu berlutut di samping ranjang kayu tempat Liora dan bayi mungil mereka berada.Dengan gerakan yang teramat lembut, Alistair mengecup jemari tangan Liora satu per satu penuh penghormatan."Terima kasih untuk segalanya, Istriku... kau telah berjuang luar biasa malam ini," bisik Alistair amat halus.Liora mengusap pipi kaku Alistair dengan sisa tenaganya, menyunggingkan senyum hangat yang teramat cantik."Aku membawakan putri cantik yang sangat kau idam-idamkan sejak awal, Alistair," balas Liora berbisik.Alistair tersenyum tipis, memalingkan wajahnya menatap mahluk mungil yang terlelap di dalam dekapan Liora.Sang Duke mendekatkan wajahnya, men
"Alistair... air ketubanku pecah, saatnya telah benar-benar tiba," berbisik pelan Liora di samping meja rias.Hari yang dinanti-nantikan seluruh penghuni Kastil Blackwood akhirnya tiba di penghujung bulan kesembilan.Suasana malam itu sejatinya berlangsung teramat tenang dan hening, tanpa ada badai es mengamuk di luar.Liora yang sedang bersiap tidur mendadak menghentikan langkahnya seraya memegang erat tepi meja kayu.Rasa mulas yang teramat dalam dan intens menghantam perut bagian bawahnya, membasahi gaun tidurnya.Liora menatap Alistair dengan wajah memucat, menahan gelombang kontraksi asli yang mulai datang beruntun."Tenanglah, Istriku, aku ada di sini bersamamu," pangkas Alistair dengan intonasi bariton yang amat tenang.Berbeda drastis dari kepanikan liar pada kehamilan pertama atau saat kontraksi palsu beberapa waktu lalu.Alistair kali ini merespons situasi dengan ketenangan dan ketegasan luar biasa seorang penguasa sejati.Mengesampingkan seluruh rasa takutnya, kontrol diri
Emma tersedak ludahnya sendiri. Ia buru-buru membekap mulutnya, melirik ngeri ke arah Alistair yang berdiri memunggungi mereka di dekat jendela. Untungnya, kepulan asap cerutu dan deru kereta kuda di luar pasar mengaburkan bisikan histerisnya.“Kau kehilangan akal, Liora?!” desis Emma, matanya melo
Lonceng kecil di atas pintu toko buku berdenting nyaring saat Liora melangkah masuk, diikuti oleh bayangan tinggi Alistair yang seolah menelan cahaya di ruangan itu.Emma, yang sedang merapikan beberapa jilid buku di rak depan, seketika membeku. Matanya membelalak lebar, menatap tak percaya pada so
Di pagi harinya. Dengan langkah ringan dan napas tertahan, ia menghentikan langkahnya tepat di balik tembok kokoh yang membatasi ruang makan utama.Suara denting perak yang beradu dengan porselen terdengar, diikuti oleh nada bicara yang berat dan penuh tekanan.“Berhenti mencampuri urusan ranjangku
Pintu kamar utama Kastil itu dibanting hingga engselnya mengerang. Belum sempat Liora menyeimbangkan diri, Alistair telah mencengkeram bahunya dan menghempaskan tubuh wanita itu ke atas ranjang dengan kasar. Kasur bulu angsa yang empuk itu terasa seperti batu bagi harga diri Liora yang kian remuk.







