Share

Part 119

Penulis: Zizara Geoveldy
last update Tanggal publikasi: 2026-06-04 19:06:30

Dengan kepala yang terasa pusing, Zivanya bangkit dari berbaring. Masih sepagi ini tapi ia harus menghadapi keributan di rumahnya. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah suaminya sendiri.

Melirik ke sebelah, Zivanya mendapati putranya masih tidur. Zivanya mengecup kening Kaisar sebelum turun dari tempat tidur.

“Bu Ziva, ini anak siapa nangis-nangis?” panik Bi Jumi sambil menunjuk Arabella yang guling-guling di lantai.

“Iya, Bu. Saya nggak tahu dia siapa. Tahu-tahu ada di kamar tamu terus nan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (6)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
si Ariyan sumbu pendek...
goodnovel comment avatar
Adfazha
Ari tuh otaknya buntu biasa piktor mky gk percaya klo Kaisar anak kandungnya mskipun tes DNA jg dikira rekayasa udh kelamaan gauli Aira mky otak e beku tiada guna hm Ziva jd pawang Bella jgn smpe mlh nyaman sm Ziva & gk mw psh kshn Kaisar tkt ibunya diambil jg sm Bella stlh papanya direbut dy
goodnovel comment avatar
Persada Mulia
semua pd egois baik ariyan dan zivanya menutupi kebohongan demi kebohongan sm orgtua mrk dan ariyan kalau kaisar adl anaknya ariyan, kshn akhirnya kaisar yg jadi korban juga arabella anak yg tak berdosa ikut jd korban jg
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 178

    Deru mesin mobil yang halus menjadi satu-satunya suara saat Zivanya mengemudi. Kaisar yang berada di sebelahnya duduk dengan tenang sambil sesekali memainkan balon lumba-lumba biru pemberian si badut beruang tadi dengan wajah yang masih tampak berseri-seri. ​Zivanya sesekali melirik putra kecilnya dari balik kemudi. Perbincangannya dengan Ariyan di kamar pria itu beberapa hari lalu terus membayangi pikirannya. Janji yang terlanjur ia ucapkan untuk membantu memberikan pengertian pada Kaisar kini menuntut untuk dicoba, meskipun ia tahu ini tidak akan mudah. ​"Kai senang ya dapat balon biru itu?" tanya Zivanya membuka percakapan. ​"Senang sekali, Ibu!" seru Kaisar riang, matanya berbinar menatap balonnya. "Badut beluangnya baik. Dia tahu Kai suka warna bilu." ​Zivanya tersenyum tipis, matanya tetap fokus pada jalanan di depan. "Iya, badutnya baik banget. Dia sengaja datang ke sekolah buat bikin Kai sama teman-teman senang." ​Zivanya terdiam sejenak, menata kalimat di kepalanya sebe

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 177

    Matahari siang itu bersinar terik di atas kompleks playgroup tempat Kaisar bersekolah. Bel pulang sekolah baru saja berdentang nyaring, memicu keriuhan dari puluhan anak kecil yang berlarian keluar kelas dengan tas ransel berkarakter kartun di punggung mereka. ​Di antara kerumunan itu, Kaisar berjalan bersama dua teman sekelasnya, Kevin dan Dafa. Karena orang tua Kevin dan Dafa belum datang menjemput, mereka bertiga memutuskan untuk menunggu di dekat gerbang sambil mengobrol seru tentang tugas mewarnai tadi. Pandangan mereka tiba-tiba tertuju pada sesosok makhluk bertubuh besar dan tambun yang sedang berdiri di bawah bayangan pohon mangga, tepat di luar pagar sekolah. ​Itu adalah badut beruang berwarna coklat. Kepalanya yang besar berbulu halus menggeleng-geleng lucu, dan tangannya yang terbungkus sarung tangan tebal melambai-lambai ke arah anak-anak yang lewat. Di tangan kirinya, badut itu memegang seikat besar balon warna-warni berbentuk hewan. ​"Eh, badut beluang! Kita ke san

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 176

    Zivanya tertegun. Genggaman tangan Ariyan yang dingin di pergelangan tangannya membuat darahnya sedikit berdesir. Ia menatap wajah mantan suaminya, lalu matanya bergeser pada map di tangan kirinya. Batinnya bergejolak hebat. Apakah ia harus pergi sekarang atau tetap tinggal seperti permintaan Ariyan? Melihat Ariyan yang begitu lemah dan muka memelasnya, Zivanya mengurungkan niat untuk pergi. Ia kembali mendudukkan diri di tepi tempat tidur, meletakkan map di atas pangkuannya, lalu perlahan melepaskan cengkeraman tangan Ariyan dengan lembut. ​"Aku di sini. Tidurlah.” ​Ariyan tidak serta-merta memejamkan mata. Ia menatap Zivanya dengan sorot mata yang mendadak berkaca-kaca, memancarkan luka batin yang selama ini ia pendam sendiri dalam kesunyian. Efek obat yang baru diminumnya perlahan mulai bekerja membuat matanya kian berat, namun ada satu hal yang mengganjal di hatinya yang harus ia tanyakan "Aku harus melakukan apa lagi, Ziva?" ​Zivanya mengernyitkan keningnya, tidak me

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 175

    Zivanya menyendokkan suapan kedua. Ariyan terlihat mencoba keras memaksakan diri untuk menelannya. ​"Pelan-pelan," ujar Zivanya saat melihat Ariyan sedikit mengernyit saat menelan kuah sup. "Masih pahit banget ya mulutnya?" ​Ariyan mengangguk pelan, menyandarkan tengkuknya lebih dalam ke bantal. "Sedikit. Tapi jauh lebih mendingan dari tadi." Tatapan mata pria itu tidak lepas dari wajah Zivanya, merekam setiap detail ekspresi mantan istrinya dengan rasa rindu yang membuncah. "Makasih. Kamu mau repot-repot begini." ​Zivanya tidak menjawab. Ia sengaja mengalihkan pandangannya pada mangkuk di tangannya, menyendokkan potongan wortel kecil dan kuah hangat untuk suapan berikutnya. Perasaan sesak memenuhi dadanya. Kenapa harus sekarang interaksi ini terjadi? Kenapa bukan dulu saat mereka masih bersama? Andai Aira tidak menghilang, apa Ariyan masih bersikap sebaik ini? ​"Harusnya kamu bilang ke Rike kalau nggak sehat," ujar Zivanya mengalihkan topik. "Dia panik banget di kantor tad

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 174

    Zivanya berdiri mematung di depan pintu kamar Ariyan selama hitungan detik. Jantungnya bertalu hebat, berkejaran dengan rasa bersalah akibat mencecar Ariyan di sekolah. Bahkan tadi di mobil, ia sempat merutuki lelaki itu, berpikir bahwa Ariyan terlambat bangun dan bermalas-malasan sehingga tidak ke kantor.​Akhirnya Zivanya memberanikan diri mengetuk pintu kamar sebanyak tiga kali. Tidak ada sahutan dari dalam. Pelan-pelan, ia memutar kenop pintu yang ternyata tidak dikunci, lalu mendorongnya.​Suasana kamar tampak temaram. Gordenl ditutup rapat, hanya menyisakan sedikit celah cahaya matahari siang yang menembus masuk. Di atas tempat tidur berukuran king size, Ariyan terbaring diam di balik selimut tebal. Pria itu memakai kaus oblong putih polos, wajahnya menghadap ke langit-langit dengan mata terpejam.​Zivanya melangkah mendekat dengan sangat pelan, seolah takut langkah kakinya akan memecah kesunyian. Begitu jarak mereka terkikis, Zivanya menahan napas. Wajah Ariyan benar-benar puca

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 173

    ‘Apa aku terlalu kasar menyebut Arabella penyakitan? Apa aku harus minta maaf pada Ariyan?’ Pikiran demi pikiran di kepalanya membuat Zivanya susah tidur malam itu. Ia sama sekali tidak bermaksud menghina Arabella karena ia juga punya anak kecil. Seemosinya Zivanya, baru kali ini kelepasan bicara. Ariyanlah yang memicunya untuk berkata kasar. Zivanya benar-benar takut Kaisar melihat Ariyan. Bagi Zivanya, kebahagiaan anaknya adalah hal yang sangat ia jaga. Sampai di kantor pagi ini Zivanya masih sedikit kepikiran. Ia masih menimbang-nimbang untuk meminta maaf pada Ariyan soal Arabella. Saat mencoba fokus membalas email, pintu ruang kerjanya diketuk dengan tergesa-gesa. Belum sempat ia menyahut, pintu sudah dibuka dari luar. Rike melangkah masuk membawa map tebal. ​"Ibu Ziva! Duh, syukurlah Ibu ada di ruangan," sapa Rike sembari melangkah cepat mendekati meja kerja Zivanya. ​Zivanya menghentikan ketikannya, lalu bertanya, "Ada apa, Ke?” ​"Bu, Bapak mana ya? Ibu tahu Pak Ariyan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status