MasukDeru mesin mobil yang halus menjadi satu-satunya suara saat Zivanya mengemudi. Kaisar yang berada di sebelahnya duduk dengan tenang sambil sesekali memainkan balon lumba-lumba biru pemberian si badut beruang tadi dengan wajah yang masih tampak berseri-seri. Zivanya sesekali melirik putra kecilnya dari balik kemudi. Perbincangannya dengan Ariyan di kamar pria itu beberapa hari lalu terus membayangi pikirannya. Janji yang terlanjur ia ucapkan untuk membantu memberikan pengertian pada Kaisar kini menuntut untuk dicoba, meskipun ia tahu ini tidak akan mudah. "Kai senang ya dapat balon biru itu?" tanya Zivanya membuka percakapan. "Senang sekali, Ibu!" seru Kaisar riang, matanya berbinar menatap balonnya. "Badut beluangnya baik. Dia tahu Kai suka warna bilu." Zivanya tersenyum tipis, matanya tetap fokus pada jalanan di depan. "Iya, badutnya baik banget. Dia sengaja datang ke sekolah buat bikin Kai sama teman-teman senang." Zivanya terdiam sejenak, menata kalimat di kepalanya sebe
Matahari siang itu bersinar terik di atas kompleks playgroup tempat Kaisar bersekolah. Bel pulang sekolah baru saja berdentang nyaring, memicu keriuhan dari puluhan anak kecil yang berlarian keluar kelas dengan tas ransel berkarakter kartun di punggung mereka. Di antara kerumunan itu, Kaisar berjalan bersama dua teman sekelasnya, Kevin dan Dafa. Karena orang tua Kevin dan Dafa belum datang menjemput, mereka bertiga memutuskan untuk menunggu di dekat gerbang sambil mengobrol seru tentang tugas mewarnai tadi. Pandangan mereka tiba-tiba tertuju pada sesosok makhluk bertubuh besar dan tambun yang sedang berdiri di bawah bayangan pohon mangga, tepat di luar pagar sekolah. Itu adalah badut beruang berwarna coklat. Kepalanya yang besar berbulu halus menggeleng-geleng lucu, dan tangannya yang terbungkus sarung tangan tebal melambai-lambai ke arah anak-anak yang lewat. Di tangan kirinya, badut itu memegang seikat besar balon warna-warni berbentuk hewan. "Eh, badut beluang! Kita ke san
Zivanya tertegun. Genggaman tangan Ariyan yang dingin di pergelangan tangannya membuat darahnya sedikit berdesir. Ia menatap wajah mantan suaminya, lalu matanya bergeser pada map di tangan kirinya. Batinnya bergejolak hebat. Apakah ia harus pergi sekarang atau tetap tinggal seperti permintaan Ariyan? Melihat Ariyan yang begitu lemah dan muka memelasnya, Zivanya mengurungkan niat untuk pergi. Ia kembali mendudukkan diri di tepi tempat tidur, meletakkan map di atas pangkuannya, lalu perlahan melepaskan cengkeraman tangan Ariyan dengan lembut. "Aku di sini. Tidurlah.” Ariyan tidak serta-merta memejamkan mata. Ia menatap Zivanya dengan sorot mata yang mendadak berkaca-kaca, memancarkan luka batin yang selama ini ia pendam sendiri dalam kesunyian. Efek obat yang baru diminumnya perlahan mulai bekerja membuat matanya kian berat, namun ada satu hal yang mengganjal di hatinya yang harus ia tanyakan "Aku harus melakukan apa lagi, Ziva?" Zivanya mengernyitkan keningnya, tidak me
Zivanya menyendokkan suapan kedua. Ariyan terlihat mencoba keras memaksakan diri untuk menelannya. "Pelan-pelan," ujar Zivanya saat melihat Ariyan sedikit mengernyit saat menelan kuah sup. "Masih pahit banget ya mulutnya?" Ariyan mengangguk pelan, menyandarkan tengkuknya lebih dalam ke bantal. "Sedikit. Tapi jauh lebih mendingan dari tadi." Tatapan mata pria itu tidak lepas dari wajah Zivanya, merekam setiap detail ekspresi mantan istrinya dengan rasa rindu yang membuncah. "Makasih. Kamu mau repot-repot begini." Zivanya tidak menjawab. Ia sengaja mengalihkan pandangannya pada mangkuk di tangannya, menyendokkan potongan wortel kecil dan kuah hangat untuk suapan berikutnya. Perasaan sesak memenuhi dadanya. Kenapa harus sekarang interaksi ini terjadi? Kenapa bukan dulu saat mereka masih bersama? Andai Aira tidak menghilang, apa Ariyan masih bersikap sebaik ini? "Harusnya kamu bilang ke Rike kalau nggak sehat," ujar Zivanya mengalihkan topik. "Dia panik banget di kantor tad
Zivanya berdiri mematung di depan pintu kamar Ariyan selama hitungan detik. Jantungnya bertalu hebat, berkejaran dengan rasa bersalah akibat mencecar Ariyan di sekolah. Bahkan tadi di mobil, ia sempat merutuki lelaki itu, berpikir bahwa Ariyan terlambat bangun dan bermalas-malasan sehingga tidak ke kantor.Akhirnya Zivanya memberanikan diri mengetuk pintu kamar sebanyak tiga kali. Tidak ada sahutan dari dalam. Pelan-pelan, ia memutar kenop pintu yang ternyata tidak dikunci, lalu mendorongnya.Suasana kamar tampak temaram. Gordenl ditutup rapat, hanya menyisakan sedikit celah cahaya matahari siang yang menembus masuk. Di atas tempat tidur berukuran king size, Ariyan terbaring diam di balik selimut tebal. Pria itu memakai kaus oblong putih polos, wajahnya menghadap ke langit-langit dengan mata terpejam.Zivanya melangkah mendekat dengan sangat pelan, seolah takut langkah kakinya akan memecah kesunyian. Begitu jarak mereka terkikis, Zivanya menahan napas. Wajah Ariyan benar-benar puca
‘Apa aku terlalu kasar menyebut Arabella penyakitan? Apa aku harus minta maaf pada Ariyan?’ Pikiran demi pikiran di kepalanya membuat Zivanya susah tidur malam itu. Ia sama sekali tidak bermaksud menghina Arabella karena ia juga punya anak kecil. Seemosinya Zivanya, baru kali ini kelepasan bicara. Ariyanlah yang memicunya untuk berkata kasar. Zivanya benar-benar takut Kaisar melihat Ariyan. Bagi Zivanya, kebahagiaan anaknya adalah hal yang sangat ia jaga. Sampai di kantor pagi ini Zivanya masih sedikit kepikiran. Ia masih menimbang-nimbang untuk meminta maaf pada Ariyan soal Arabella. Saat mencoba fokus membalas email, pintu ruang kerjanya diketuk dengan tergesa-gesa. Belum sempat ia menyahut, pintu sudah dibuka dari luar. Rike melangkah masuk membawa map tebal. "Ibu Ziva! Duh, syukurlah Ibu ada di ruangan," sapa Rike sembari melangkah cepat mendekati meja kerja Zivanya. Zivanya menghentikan ketikannya, lalu bertanya, "Ada apa, Ke?” "Bu, Bapak mana ya? Ibu tahu Pak Ariyan







