Share

Part 119

Penulis: Zizara Geoveldy
last update Tanggal publikasi: 2026-06-04 19:06:30

Dengan kepala yang terasa pusing, Zivanya bangkit dari berbaring. Masih sepagi ini tapi ia harus menghadapi keributan di rumahnya. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah suaminya sendiri.

Melirik ke sebelah, Zivanya mendapati putranya masih tidur. Zivanya mengecup kening Kaisar sebelum turun dari tempat tidur.

“Bu Ziva, ini anak siapa nangis-nangis?” panik Bi Jumi sambil menunjuk Arabella yang guling-guling di lantai.

“Iya, Bu. Saya nggak tahu dia siapa. Tahu-tahu ada di kamar tamu terus nan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (6)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
si Ariyan sumbu pendek...
goodnovel comment avatar
Adfazha
Ari tuh otaknya buntu biasa piktor mky gk percaya klo Kaisar anak kandungnya mskipun tes DNA jg dikira rekayasa udh kelamaan gauli Aira mky otak e beku tiada guna hm Ziva jd pawang Bella jgn smpe mlh nyaman sm Ziva & gk mw psh kshn Kaisar tkt ibunya diambil jg sm Bella stlh papanya direbut dy
goodnovel comment avatar
Persada Mulia
semua pd egois baik ariyan dan zivanya menutupi kebohongan demi kebohongan sm orgtua mrk dan ariyan kalau kaisar adl anaknya ariyan, kshn akhirnya kaisar yg jadi korban juga arabella anak yg tak berdosa ikut jd korban jg
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 349

    Langkah tegap Ariyan terus membawa mereka melintasi jalanan Vienna yang kian sepi, hingga tidak lama kemudian hotel mereka mulai terlihat.Menyadari mereka sudah semakin dekat dengan area hotel, Zivanya mendadak panik. Ia menepuk-nepuk pelan bahu Ariyan. "Ari, udah mau nyampe hotel. Turunin aku."Ariyan sama sekali tidak memperlambat langkahnya. "Tadi siapa yang mencibir waktu aku bilang nggak bakal capek?""Ariyan! Turunin, ih! Malu dilihat orang hotel!" Zivanya menegang, menyadari langkah Ariyan sudah menyeberangi pelataran hotel.Alih-alih menurut, Ariyan malah sedikit menyentak paha Zivanya ke atas agar posisinya semakin kokoh. Zivanya yang kaget refleks memekik kecil. Ia mempererat pelukannya di leher Ariyan sembari menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik kerah mantel pria itu.Pintu kaca otomatis hotel terbuka, menyambut mereka dengan kehangatan lobi ultra mewah. Seorang petugas concierge dan resepsionis berseragam rapi membungkuk hormat. Mata mereka sempat membelalak kage

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 348

    Zivanya sedang mengikuti latihan untuk acara besok. Sesi latihan ini sebenarnya steril dan tertutup ketat untuk umum, namun Ariyan bisa duduk tenang di deretan kursi penonton yang temaram berkat companion pass khusus peserta yang tergantung rapi di dadanya.Zivanya duduk di depan piano. Bersama puluhan musisi orkestra pendamping dan aba-aba tegas dari konduktor, dentingan jemari Zivanya menyatu sempurna membawakan babak konserto Beethoven. Setiap ketukan nada yang meluncur dari jemarinya terdengar teratur, kuat, dan mengalun indah.Dari tempat duduknya, tatapan Ariyan tertuju sepenuhnya pada Zivanya. Ia bangga melihat mantan istrinya itu. Tetapi ia tidak memungkiri bahwa saat ini ia juga sedang gelisah. Sesekali matanya mengedar ke sudut-sudut gedung, memastikan tidak ada sosok asing yang berani menyusup dan mengusik ketenangan mantan istrinya. Ariyan tidak ingin terjadi kekacauan di hari besar Zivanya nanti.Setelah sesi latihan bersama dan briefing teknis berakhir, Zivanya melangkah

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 347

    Pagi-pagi sekali Zivanya sudah bangun dan stand by di depan piano. Lalu sore nanti ia ia sudah dijadwalkan menghadiri latihan akustik sekaligus sesi briefing latihan bersama orkestra di gedung Wiener Musikverein.Tidak jauh dari sana, Ariyan duduk di sofa. Tidak sedetik pun Ariyan melepaskan tatapannya dari Zivanya, seolah jika ia berkedip sedikit saja maka ia akan rugi karena melewatkan pemandangan indah di hadapannya.Di tengah permainan Zivanya, keasyikan Ariyan terganggu karena bunyi ketukan di pintu.Ariyan berdiri mendahului, tidak ingin fokus latihan Zivanya terganggu. Ia membuka pintu dan mendapati seorang petugas concierge berseragam rapi berdiri membungkuk hormat, menyodorkan sebuah buket bunga mawar merah berukuran besar."Good morning, Herr von Westergaard. A special delivery for you, Sir," ujar petugas hotel dengan sopan sembari menyodorkan buket tersebut.“For me? Who sent this? I didn't order any flowers,” heran Ariyan yang merasa tidak memesan bunga."The sender reques

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 346

    Tubuh terbalut selimut itu menggeliat. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa berat, berusaha mengumpulkan kesadaran yang sempat terurai oleh lelapnya tidur. Cahaya remang menyelimuti ruangan, hanya dibantu oleh bias pendar lampu-lampu kota Vienna yang menerobos masuk dari balik jendela kaca raksasa suite yang belum tertutup tirai sepenuhnya.Mengulurkan tangan, Zivanya menjangkau ponsel di atas nakas. Setelah layarnya menyala, deretan angka di sana sukses membuat matanya melebar seketika.19.30.Setengah delapan malam?Zivanya mendudukkan dirinya dengan cepat, membuat rambutnya yang terurai jatuh berantakan. Ia termenung beberapa detik. Sudah berapa jam dirinya tertidur? Dan seingatnya, tadi ia cuma rebahan sebentar di sofa, tapi kenapa sekarang berada di kasur?Satu-satunya penjelasan yang masuk akal hanya mengarah pada satu nama. Ariyan.Pria itu telah membopong tubuhnya dari sofa dan mendaratkannya di ranjang ini tanpa membuat Zivanya terbangun sedikit pun. Bayangan bagaimana

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 345

    Rasanya Zivanya ingin mengguncang bahu tegap itu keras-keras dan mengusir Ariyan pindah ke kamar sebelah. Pria itu yang memindahkan hotel mereka dan menyewa suite dua kamar ini, lalu kenapa tempat tidur Zivanya yang dijajah seenaknya?Zivanya baru saja hendak menarik napas untuk menyuarakan kekesalannya ketika matanya menangkap detail di kaki Ariyan. Sepasang sepatu di sana masih melekat dengan sempurna. Ariyan tampaknya langsung tertidur begitu menyentuh kasur karena terlalu lelah hingga tidak sempat melepas alas kakinya.Bayangan saat Ariyan berkali-kali menguap dengan mata merah serta ketulusannya yang menolak tidur demi menjaganya sepanjang penerbangan belasan jam, berputar jelas di depan mata Zivanya. Pria ini memang arogan dan terbiasa berbuat semaunya, tetapi rasa lelah yang meremukkan tubuhnya saat ini murni karena ia memilih pasang badan untuk Zivanya.Dengan dengkusan napas pasrah, Zivanya membuka sepatu Ariyan satu per satu dengan sangat hati-hati agar Ariyan tidak terbangu

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 344

    Roda pesawat akhirnya menyentuh landasan pacu Vienna International Airport. Di luar sana, kota Vienna terlihat diselimuti kabut tipis musim gugur.Zivanya terbangun dengan tubuh yang jauh lebih segar. Di sebelahnya, Ariyan sedang mematikan flight mode di ponselnya. Pria itu mengusap wajah, lalu menguap pelan sembari menutup mulut dengan telapak tangan. Saat Ariyan mengambilkan tas Zivanya dari kompartemen atas, Zivanya baru menyadari sesuatu, mata mantan suaminya itu tampak agak merah."Kamu nggak tidur sama sekali?” tanya Zivanya melihat Ariyan yang ngantuk berat saat mereka sedang menunggu koper.Ariyan menjawab dengan gelengan kepala.“Kenapa?”“Biar bisa jagain kamu.”“Lebay.”Ariyan hanya tersenyum. Zivanya tidak perlu tahu apa alasan terbesarnya.Setelah koper-koper besar milik Zivanya muncul di conveyor belt, Ariyan dengan sigap mengambilnya. Tanpa membiarkan Zivanya menyentuh satu koper pun, pria itu mengangkat semuanya ke atas troli, lalu mendorongnya melintasi area imigrasi.

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 2

    Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. ​Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 1

    Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 6

    Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 5

    Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status