LOGINLangkah kaki Amanda yang menjauh perlahan menghilang di antara lalu lalang wisatawan dan derit kereta funicular yang melintas. Namun, gema setiap kata yang diucapkannya seolah tertinggal, berputar-putar tanpa henti di kepala Zivanya.Dunia di sekitarnya mendadak sunyi. Gemerincing bel trem, embusan angin malam Lisbon, hingga riuh tawa wisatawan yang menikmati waktu di Rua da Bica tidak lagi sanggup menembus kesadarannya.Tangis Zivanya pecah, begitu memilukan. Bahunya berguncang hebat di dalam rangkulan Ariyan."Ari…," suara Zivanya tercekat, tertelan oleh tangisnya. "Kita jahat banget. Aku jahat banget...""Ziva, tenang, Sayang." Ariyan berusaha memeluk istrinya lebih erat, merapatkan tubuh Zivanya ke dadanya seraya menjaga Ariella agar tidak terbangun dalam gendongannya. Namun sebenarnya Ariyan sendiri tidak bisa tenang. Dada Ariyan bergemuruh hebat. Ia merasa sangat bersalah serta kagum pada laki-laki bernama Kaivan."Aku pernah benci sama dia. Mami, Syabila, kami semua mengutuk di
Dua tahun setelahnya. Pesisir Comporta, Portugal, menawarkan keindahan yang berbeda dari belahan dunia mana pun. Sore itu, langit di atas Samudra Atlantik berganti warna menjadi jingga keemasan yang hangat. Di atas hamparan pasir putih yang luas dan sepi, Ariyan dan Zivanya menikmati momen berkuda bersama keluarga kecil mereka. Mereka berada di sini untuk berlibur sekaligus merayakan ulang tahun keduanya yang ke-35. Zivanya tampak begitu anggun menunggangi kuda Lusitano putih yang tenang. Penampilannya kini semakin matang di usia 35 tahun, dengan rambut yang kini dicat berwarna burgundy. Warna merah anggur gelap itu berkilau indah setiap kali diterpa cahaya matahari sore. Begitu kontras dengan gaun pantai berwarna putih yang dikenakannya. Di sampingnya, Ariyan berkuda dengan gagah. "Selamat ulang tahun yang ke-35, istriku, belahan jiwaku," ujar Ariyan sambil menyejajarkan posisi kudanya dengan kuda Zivanya. "Hari ini giliran matahari Portugal yang menjadi saksi, bahwa cintaku di
“Paaa, handphone kamu bunyi nih,” beritahu Zivanya dari depan meja rias. Ia sedang mengaplikasikan skincare ke wajahnya, sedangkan Ariyan memandikan anak mereka. “Siapa yang nelepon?” sahut Ariyan dari kamar mandi yang terbuka. “Lawyer kamu.” “Kok tiba-tiba?” “Ya mana aku tahu.” “Coba deh kamu jawab dulu.” Zivanya pun menjawab panggilan tersebut. Ia juga menyalakan loudspeaker. “Halo, selamat sore, Pak.” “Selamat sore, Ibu Ziva ya?” “Iya, Pak, Ariyan lagi mandiin anak kami. Ada apa ya, Pak?” “Wah, Pak Ariyan memang suami idaman ya, Bu,” puji sang pengacara diiringi tawa. Zivanya ikut tertawa kecil. Bersamaan dengan itu Ariyan yang sudah selesai memandikan Ariella muncul dan meletakkan anak tersebut di tempat tidur. Ia lalu memakaikan pakaian Ariella yang sebelum mandi tadi sudah disiapkan. “Begini, Bu, saya ingin menyampaikan berita mengenai Bu Aira.” Jantung Zivanya sontak bertalu-talu. Sementara Ariyan tidak terpengaruh. Ia tetap fokus memakaikan baju pada
Dokter sudah mengonfirmasi kesembuhan Ariyan. Dan itu membuat bahagia semua orang.“Secara klinis saya bisa mengatakan dengan yakin, fungsi memori Anda sudah kembali bekerja dengan normal. Semua tes yang kita jalani menunjukkan hasil yang konsisten.”Ariyan menggenggam tangan Zivanya erat, tak berani sepenuhnya percaya pada apa yang baru saja ia dengar.“Jadi saya sudah sembuh, Doc?” “Anda sudah sembuh.” Dr. Brenner tersenyum lebar. “Saya sudah bertahun-tahun menangani pasien dengan kondisi serupa, dan saya jarang melihat pemulihan secepat dan sebaik ini. Saya tidak akan menyebutnya keajaiban dalam istilah medis, tapi saya pribadi percaya, ada sesuatu yang jauh lebih kuat dari sekadar terapi yang bekerja di kasus Anda.”“Ariella. Putri saya. Dia lahir dengan membawa banyak anugerah dan keajaiban. Salah satunya kesembuhan saya.”Dr. Brenner mengangkat bahu, senyumnya masih terkembang. “Secara ilmiah, mungkin karena lonjakan emosional luar biasa saat kelahiran memicu jalur saraf yang s
Jarum jam menunjukkan hampir pukul empat pagi. Seruni dan yang lain kembali ke apartemen, membawa serta Kaisar yang tertidur pulas setelah malam paling berkesan dalam hidupnya.Yang tersisa di kamar hanya Ariyan, Zivanya, dan Ariella.Ariyan duduk di kursi samping tempat tidur. Ia mengamati setiap gerakan Zivanya yang sedang menyusui Ariella untuk kesekian kalinya."Gimana, masih ada, kan, airnya?" tanyanya meski bertanya hal yang sama berkali-kali dalam satu jam terakhir."Ada Papaaa. Kamu udah nanya ini berkali-kali sejak tadi,” jawab Zivanya sambil tersenyum gemas.Ariyan nyengir kecil. "Aku cuma mau mastiin stoknya banyak. Abisnya dia nggak berhenti nyusu dari tadi.” Dipandanginya putri mungilnya yang menyusu dengan rakus.Begitu Ariella selesai menyusu, Ariyan segera mengulurkan tangan. "Sini, biar aku gendong, kamu istirahat dulu."Zivanya menyerahkan bayinya kemudian merebahkan badan.Ariyan menggendong Ariella sambil bersenandung kecil. Zivanya yang melihat hanya bisa tersenyu
Setelah mengetahui adiknya lahir, Kaisar tidak sabar ingin bertemu dengannya dan merengek-rengek agar segera dibawa, Kehadiran Ariella yang baru saja menyapa dunia mendatangkan gelombang antusiasme luar biasa bagi sang kakak. Di ruang tunggu luar area persalinan, suasana yang tadinya tenang mendadak riuh oleh tingkah Kaisar yang sudah tidak tahan ingin menemui adiknya. Anak laki-laki berusia delapan tahun itu terus-terusan menarik-narik ujung baju kakek neneknya. Kakinya melompat-lompat kecil, matanya mencari-cari dengan perasaan tidak sabar. "Omi! Bawa Kai masuk. Kai mau lihat Adek sekarang!" rengek Kaisar hampir menangis karena keinginannya tidak kunjung dituruti. "Sabar sebentar, Sayang. Adek lagi dibersihin. Sebentar lagi pasti dipanggil,” bujuk Seruni sambil mengusap kepala cucunya. "Nggak mau nanti, Omi. Mau sekaraaang,” rengeknya lagi semakin menjadi-jadi. Kaisar menggoyangkan badannya ke kiri dan ke kanan, enggan dipegang. Kehebohan kecilnya membuat seluruh keluarga di ru
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang







