LOGINZivanya terduduk lemas di kursi tunggu rumah sakit bersama Seruni dan Syabila. Ketiganya tampak sangat khawatir. Syabila yang langsung meluncur ke rumah sakit setelah menerima kabar darurat dari Seruni, tidak ada hentinya menangis. "Ini semua gara-gara si bajingan itu!” kecam Seruni yang masih dikuasai emosi. "Kalau sampai terjadi apa-apa sama Papi kalian, Mami nggak akan pernah maafin Kaivan! Nggak akan pernah!" Zivanya menggeleng pelan, air matanya kembali menetes. "Nggak, Mi. Ini salah aku. Aku yang jahat. Aku yang bikin Papi sampai kayak gini.” "Bukan salah kamu, Ziva!" bantah Seruni tegas. "Kamu itu korban. Kamu nggak usah melindungi laki-laki kurang ajar itu.” Belum sempat Zivanya membalas, pintu ruangan terbuka. Seorang dokter melangkah keluar. Ia melepas maskernya. "Keluarga Pak Abi?" Ketiganya seketika melonjak berdiri. "Saya istrinya, Dok! Bagaimana keadaan suami saya?!" balas Seruni cepat.
Mobil Zivanya akhirnya memasuki pekarangan rumah. Belum lagi mesin mati sepenuhnya, pintu terbuka lebar. Seruni berlari tanpa memedulikan sandal rumahnya yang terlepas sebelah, disusul oleh Abi yang bergegas di belakangnya. "Ziva!” Seruni langsung merengkuh putrinya setelah Zivanya keluar dari mobil dengan tubuh seolah tidak bertulang. Zivanya membalas pelukan Seruni dengan lesu. “Tuh, kan! Mami bilang juga apa?" Seruni langsung mencerocos tanpa jeda. "Dari awal Mami tuh udah feeling nggak enak sama si Kaivan itu! Mami dari awal nggak pernah sreg! Sikap dia itu cuma pencitraan. Padahal aslinya muka dua!" omel Seruni berapi-api, napasnya memburu saat ia menuntun langkah Zivanya yang terhuyung untuk berjalan masuk ke dalam rumah. "Tapi kamu? Kamu keras kepalanya minta ampun! Dibilangin sama orang tua nggak pernah mau dengar! Selalu aja belain dia, merasa Kaivan itu pria paling idaman sedunia, paling mengerti sama kamu. Sekarang lihat, kan, hasilnya?! Kurang ajar banget itu anak! Tig
Kaivan mengambil ponsel di saku celananya. Ia mencari kontak wedding organizer yang bertanggung jawab atas pernikahan mereka. Panggilan tersambung dengan cepat. "Halo, Mas Kaivan. Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" suara ramah wedding planner menyapa dari ujung telepon. “Malam, Mbak. Tolong hentikan seluruh persiapan dekorasi dan segala macamnya. Pernikahan saya dan Zivanya resmi dibatalkan." Wedding planner terdiam beberapa detik. Ia sangat syok mendengarnya. "P-Pak Kaivan? Maaf, bercanda, kan, Pak? Ini tinggal tiga hari lagi, seluruh pembayaran gedung dan vendor sudah—" "Saya serius," potong Kaivan tegas. "Batalkan semuanya. Untuk seluruh denda pembatalan dan kerugian pihak vendor, kirimkan tagihannya langsung ke rekening pribadi saya. Saya yang akan menanggung seratus persen. Jangan hubungi Zivanya atau keluarganya." Tanpa menunggu balasan dari pihak WO yang masih shock, Kaivan memutus sambungan telepon. Ia mengambil napas dalam-dalam, mengisi rongga paru-parunya
Zivanya membatu bagai patung. Ia masih belum bisa memercayai apa yang terjadi. Ia tidak mengerti. Ia tidak paham. "Kai...?" Suara Zivanya akhirnya keluar dengan begitu lirih, hampir tidak terdengar. Kaivan membalas panggilan Zivanya dengan tatapan tenang. Lelaki itu tidak terlihat panik atau merasa bersalah. Ia juga tidak tampak gugup karena tertangkap basah. Amanda turun dari pangkuan Kaivan dengan begitu lambat, tanpa terburu-buru—seperti seharusnya. Wanita itu menyibak rambutnya ke belakang, menyandarkan sebelah tangannya di bahu Kaivan seraya melemparkan tatapan sinis pada Zivanya. "Kamu bilang kamu sakit, Kai," ujar Zivanya sambil menahan diri agar tidak meneteskan air mata satu titik pun. "Jadi ini sakit yang kamu maksud?” Zivanya melangkah mundur. Seluruh sendi tubuhnya terasa lemas. Semua perhatiannya, kekhawatirannya, hingga rasa bersalahnya pada Kaivan selama beberapa hari terakhir terasa tidak ada gunanya. Pria green flag yang selalu bersikap sempurna, dewasa, dan pe
Hari pernikahan Zivanya dan Kaivan yang akan digelar di salah satu ballroom gedung megah tinggal tiga hari lagi.Atmosfer persiapan tingkat akhir kian memuncak. Lalu lintas komunikasi dengan pihak Wedding Organizer berlangsung amat padat. Dimulai dari konfirmasi tata panggung, skema lighting, alur masuk tamu, hingga jadwal loading dekorasi di gedung. Sementara di kamar Zivanya, gaun pengantin putih yang sudah final fitting tergantung anggun dalam kain pelindung khusus, siap diangkut ke dressing room gedung di hari pelaksanaan.Semua orang bersuka cita. Keluarga sibuk memastikan daftar tamu, grup percakapan panitia penuh dengan pembaruan technical meeting, dan ucapan selamat dari para kerabat tak henti-hentinya memadati ponsel Zivanya.Zivanya sedang rebahan di tempat tidur ketika Seruni datang.“Ziva, ini baju Tante Andara ketinggalan di sini,” kata Seruni sambil menunjukkan baju seragam keluarga yang akan dikenakan di hari pernikahan nanti.“Astaga, Mi, kok bisa?”“Mami juga nggak ta
Aroma lavender dan kayu cendana yang menenangkan menyeruak di dalam ruangan beraksen kayu hangat itu. Diiringi gemericik air dan alunan musik instrumental bernuansa tenang, sebuah couple’s spa suite di pusat perawatan kecantikan ternama disulap khusus untuk menyambut pasangan calon pengantin tersebut. H-5 menjelang pernikahan, paket perawatan pra nikah yang telah dijadwalkan jauh-jauh hari akhirnya mereka jalani bersama.Zivanya dan Kaivan duduk bersisian di atas kursi reclining berbalut jubah mandi berwarna putih. Dua orang terapis profesional bergerak sigap namun lembut, memulai rangkaian perawatan dari pijat relaksasi kaki hingga pembersihan wajah ringan."Tekanan pijatannya sudah pas, Mbak Ziva, Mas Kaivan?" tanya salah satu terapis dengan suara rendah yang sopan."Sudah, pas kok. Terima kasih.” Zivanya yang menjawab.Zivanya melirik pada Kaivan yang berada di sebelahnya. Pria itu memejamkan mata dengan raut wajah yang teramat rileks. Air mukanya tampak tenang, seolah tidak ada be
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan







