Share

Part 176

Penulis: Zizara Geoveldy
last update Tanggal publikasi: 2026-06-20 18:02:22

Zivanya tertegun. Genggaman tangan Ariyan yang dingin di pergelangan tangannya membuat darahnya sedikit berdesir. Ia menatap wajah mantan suaminya, lalu matanya bergeser pada map di tangan kirinya. Batinnya bergejolak hebat.

Apakah ia harus pergi sekarang atau tetap tinggal seperti permintaan Ariyan?

Melihat Ariyan yang begitu lemah dan muka memelasnya, Zivanya mengurungkan niat untuk pergi. Ia kembali mendudukkan diri di tepi tempat tidur, meletakkan map di atas pangkuannya, lalu perlah
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (8)
goodnovel comment avatar
Adfazha
Smua slah kna ego yg tinggi akhirnya anak yg tersakiti, Ziva yg kecewa smpe blg Kaisar anak Kaivan smpe Ari jd benci sm anak sendiri & tolak Kai berkali2 hm Ariyan kepalanya kena kanker apa pembekuan darah/tumor hm moga bs sembuh yaa biar Kaisar bs rasakan ksh syg papanya
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
gak papa baikan apalagi ada anak yang harus mereka besarkan,tp jangan sampai mereka rujuk ya Thor, gak rela aku
goodnovel comment avatar
NeaNeo
terserah km ajaalah kak mo dbawa kemana mereka..balikan atau gmn jg monggo..yg ptg semua nt bahagia
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 431

    Malam semakin menua. Suara-suara tidak lagi terdengar. Seluruh penghuni apartemen sudah lelap dalam tidurnya. Hanya Zivanya satu-satunya makhluk bernyawa di tempat itu yang masih betah membuka mata. Bukan betah, tapi lebih tepatnya tidak bisa. Sedangkan di sebelahnya Ariyan sudah lelap sejak tadi. Ariyan terlalu lelah karena sejak kemarin hampir tidak beristirahat. Zivanya memiringkan badannya ke kiri. Mengacu pada saran dokter ia dianjurkan untuk lebih sering berbaring miring ke kiri. Maka Zivanya pun melakukannya. Zivanya mencoba untuk tidur dengan mengatupkan mata. Malam ini terasa berbeda dengan malam-malam lainnya. Perutnya begitu nyeri. Rasa pegal menggerayangi pinggang dan punggungnya. Baru beberapa detik matanya kembali terbuka saat merasakan sesuatu mengalir di area genitalnya. Zivanya mengabaikannya. Berusaha untuk melanjutkan niat untuk tidur, Zivanya memejamkan mata. Dahinya berkerut dalam saat merasakan aliran di bagian kewanitaannya tidak berhenti mengalir. Ini adal

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 430

    Hari-hari menjelang persalinan menjadi masa-masa yang sangat berat bagi Zivanya. Tubuhnya serasa digempur rasa sakit dari berbagai sisi. Tidak ada lagi posisi yang benar-benar nyaman. Duduk salah, berbaring serba serba tidak pas, bahkan sekadar menggeser posisi tidur saja membutuhkan perjuangan besar. Pagi itu di kamar apartemen, Zivanya meringis saat mencoba mengubah posisi miring ke kanan. Kepala bayinya yang sudah turun semakin dalam ke rongga panggul menekan saraf-saraf di area bawahnya secara konstan. Nyeri menusuk di area tulang panggul dan lipatan pahanya terasa seolah-olah sendi-sendinya hendak lepas. “Ari…,” panggil Zivanya lirih dengan mata terpejam rapat, menahan ngilu yang melilit pinggang bawahnya. Ariyan yang membawakan makanan untuk Zivanya langsung mendekat. "Kenapa, Ziva? Yang mana yang sakit?" tanya Ariyan sigap. "Punggung aku, pinggang juga rasanya mau patah," adu Zivanya dengan napas satu-satu. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Beban perutnya yang buncit

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 429

    Suasana terasa sangat sepi. Jarum jam dinding baru menunjukkan pukul empat, tapi langit di luar jendela mulai meredup dipayungi awan mendung tipis. Zivanya duduk sendirian di tepi tempat tidur. Ia bergerak gelisah memegang ponsel. Sejak pagi tadi, hatinya tidak tenang. Pikirannya terus tertambat pada Kaisar. Zivanya membuka kembali aplikasi pesan dan menatap layarnya yang bisu. [Bila, Kai gimana? Masih sedih dan nggak mau makan?] Pesan singkat itu ia kirimkan ke Syabila sejak jam sembilan pagi, tapi sampai sekarang jangankan dibalas, dihitung read pun tidak. Begitu pula saat ia mencoba mengirim pesan pada Seruni. Tidak ada balasan sama sekali. Zivanya menghela napas panjang. Diletakkannya handphone. Rasa cemas bercampur rindu membuat dadanya semakin sesak. Usia kehamilannya yang semakin tua membuat emosinya jauh lebih sensitif. Kakinya terasa pegal, dan perutnya yang membuncit maksimal sesekali tegang karena kontraksi palsu. Sebuah tendangan pelan dari dalam rahim membuatn

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 428

    Zivanya hampir tidak tidur semalaman karena memikirkan Kaisar dan perasaan rindunya pada anak itu. Sekarang bukan hanya kakinya yang bengkak, matanya juga sembap. Rasa rindu yang membuncah pada putra sulungnya itu berkelindan menjadi beban emosional yang menguras tenaganya. Sepanjang malam, bayangan wajah Kaisar yang menangis di layar ponsel terus membayang, membuat Zivanya tak henti-hentinya berganti posisi tidur dengan cemas di atas ranjang. Pagi itu, saat Ariyan membimbing Zivanya berjalan perlahan di lorong apartemen usai memandikannya dengan air hangat, raut wajah Zivanya tampak begitu lesu. Wajahnya agak pucat, langkah kakinya amat berat karena pembengkakan yang semakin parah, dan kelopak matanya yang sembap menceritakan dengan jelas betapa melelahkannya malam yang baru saja ia lalui. “Masih kepikiran Kai?” tanya Ariyan pada Zivanya yang termenung saat mereka sarapan. Zivanya menjawab dengan anggukan, tidak ingin berbohong. “Aku nggak pernah pisah selama ini sama Kai. Apa

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 427

    Kehamilan sembilan bulan ternyata jauh lebih berat daripada yang pernah Zivanya bayangkan, bahkan jika dibandingkan dengan saat mengandung Kaisar dulu.Pagi itu ia terbangun dengan tubuh yang terasa seperti dilindas truk. Kedua pergelangan kakinya bengkak, punggungnya pegal, pinggangnya seakan mau patah. Belum lagi hidungnya yang tersumbat akibat flu ringan yang sudah tiga hari tidak kunjung pergi. Setiap kali ia menarik napas dalam-dalam, anak di dalam perutnya yang sudah turun rendah menekannya hingga ia meringis."Pelan-pelan ya." Ariyan sudah berada di sisinya bahkan sebelum Zivanya sempat mengeluh. Kedua tangannya yang besar menyangga punggung Zivanya, membantunya bangun dari tempat tidur sedikit demi sedikit. "Kita duduk dulu. Tarik nafas. Jangan langsung berdiri.""Aku kayak paus terdampar," ujar Zivanya dengan suara serak sengau."Paus paling cantik yang pernah aku lihat," balas Ariyan tanpa berpikir, membuat Zivanya tertawa lemah di antara batuknya.Tiga bulan terapi di Munch

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 426

    Hari-hari di Munchen berlalu dengan cepat tanpa terasa. Musim berganti, cuaca pun berubah. Salju tipis mulai turun melapisi pepohonan dan atap-atap bangunan bergaya Bavaria di sepanjang jalan Klinikum der Universitat Munchen.Di usia kehamilannya yang kini berada di bulan kedelapan, perubahan fisik Zivanya semakin nyata. Perutnya kini membuncit anggun. Bergerak sedikit saja menuntut energi ekstra. Pinggangnya kerap kali pegal luar biasa, kram di betis sering menyerang di tengah malam, dan kapasitas paru-parunya terasa menyempit membuat napasnya sering kali pendek-pendek. Namun, seluruh keletihan fisik itu menguap setiap kali ia duduk di sofa ruang tengah apartemen mereka, menyaksikan Ariyan yang sedang melatih memorinya. Pada awalnya mereka memang stay di hotel. Tetapi karena Zivanya ingin suasana yang lebih privat, mereka memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen selama berada di sana.Malam itu, Ariyan duduk menghadap meja dengan puluhan kartu bergambar dan deret angka kompleks yang

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 4

    Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 3

    Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.​Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 2

    Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. ​Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 1

    Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status