LOGINDetik itu juga tawa Kaisar terhenti tiba-tiba. Kalimat yang terlontar dari bibir Seruni bagaikan rem darurat yang menghentikan kayuhan pedal sepeda kecil itu secara paksa.Senyum lebar di wajah Kaisar langsung luruh tanpa sisa. Ekspresi takjubnya menguap. Kini tubuhnya terduduk dengan kaku di atas sepeda."Nggak mau,” tolaknya lugas saat pandangannya bertemu dengan Ariyan. Ia baru menyadari kehadiran lelaki itu yang saat ini berdiri di sudut ruangan. Tadi saat Kaisar tiba-tiba muncul dengan mendadak, dengan cepat Ariyan bersembunyi. Siapa sangka anak itu berhasil menemukannya dengan tidak sengaja.Kaisar cepat-cepat turun dari sepeda kemudian terburu-buru memeluk kaki Zivanya.“Ibuu, Kai takut ada olang jahat,” adunya sambil menenggelamkan wajah ke paha Zivanya.Zivanya mengatupkan bibirnya rapat-rapat, merasakan cengkeraman tangan kecil Kaisar yang bergetar hebat di celananya. Hatinya seperti diiris-iris sembilan puluh sembilan saat mendengar kata orang jahat keluar dari mulut pol
Terpaku memandangi layar handphonenya adalah hal yang Zivanya lakukan saat ini.Ia menarik langkah mendekati jendela kamarnya di lantai dua, menyibak tirai, dan melempar mata ke seberang jalan. Benar saja, tampak di sana sebuah Rubicon merah sedang parkir dengan gagah. Zivanya juga dapat melihat sepeda anak-anak di bak belakang mobil.Di samping pintu kemudi, siluet tubuh tinggi Ariyan berdiri bergeming di bawah pendar temaram lampu jalan. Pria itu tampak merapatkan jaketnya, menunduk menatap aspal seolah sedang mengumpulkan sisa-sisa harapan yang runtuh.Mengingat kondisi fisik Ariyan yang beberapa hari lalu sempat drop parah dengan tensi mencapai sembilan puluh, Zivanya tahu pria itu sedang melakukan kegilaan. Berdiri di luar rumah dengan angin malam yang menusuk tulang jelas bukan ide bagus untuk orang sakit. Zivanya mengutuk hatinya yang mendadak melunak, namun ego wanitanya kali ini kalah oleh rasa kemanusiaan.Zivanya menyambar cardigannya, lalu melangkah turun ke lantai satu
Deru mesin mobil yang halus menjadi satu-satunya suara saat Zivanya mengemudi. Kaisar yang berada di sebelahnya duduk dengan tenang sambil sesekali memainkan balon lumba-lumba biru pemberian si badut beruang tadi dengan wajah yang masih tampak berseri-seri. Zivanya sesekali melirik putra kecilnya dari balik kemudi. Perbincangannya dengan Ariyan di kamar pria itu beberapa hari lalu terus membayangi pikirannya. Janji yang terlanjur ia ucapkan untuk membantu memberikan pengertian pada Kaisar kini menuntut untuk dicoba, meskipun ia tahu ini tidak akan mudah. "Kai senang ya dapat balon biru itu?" tanya Zivanya membuka percakapan. "Senang sekali, Ibu!" seru Kaisar riang, matanya berbinar menatap balonnya. "Badut beluangnya baik. Dia tahu Kai suka warna bilu." Zivanya tersenyum tipis, matanya tetap fokus pada jalanan di depan. "Iya, badutnya baik banget. Dia sengaja datang ke sekolah buat bikin Kai sama teman-teman senang." Zivanya terdiam sejenak, menata kalimat di kepalanya sebe
Matahari siang itu bersinar terik di atas kompleks playgroup tempat Kaisar bersekolah. Bel pulang sekolah baru saja berdentang nyaring, memicu keriuhan dari puluhan anak kecil yang berlarian keluar kelas dengan tas ransel berkarakter kartun di punggung mereka. Di antara kerumunan itu, Kaisar berjalan bersama dua teman sekelasnya, Kevin dan Dafa. Karena orang tua Kevin dan Dafa belum datang menjemput, mereka bertiga memutuskan untuk menunggu di dekat gerbang sambil mengobrol seru tentang tugas mewarnai tadi. Pandangan mereka tiba-tiba tertuju pada sesosok makhluk bertubuh besar dan tambun yang sedang berdiri di bawah bayangan pohon mangga, tepat di luar pagar sekolah. Itu adalah badut beruang berwarna coklat. Kepalanya yang besar berbulu halus menggeleng-geleng lucu, dan tangannya yang terbungkus sarung tangan tebal melambai-lambai ke arah anak-anak yang lewat. Di tangan kirinya, badut itu memegang seikat besar balon warna-warni berbentuk hewan. "Eh, badut beluang! Kita ke san
Zivanya tertegun. Genggaman tangan Ariyan yang dingin di pergelangan tangannya membuat darahnya sedikit berdesir. Ia menatap wajah mantan suaminya, lalu matanya bergeser pada map di tangan kirinya. Batinnya bergejolak hebat. Apakah ia harus pergi sekarang atau tetap tinggal seperti permintaan Ariyan? Melihat Ariyan yang begitu lemah dan muka memelasnya, Zivanya mengurungkan niat untuk pergi. Ia kembali mendudukkan diri di tepi tempat tidur, meletakkan map di atas pangkuannya, lalu perlahan melepaskan cengkeraman tangan Ariyan dengan lembut. "Aku di sini. Tidurlah.” Ariyan tidak serta-merta memejamkan mata. Ia menatap Zivanya dengan sorot mata yang mendadak berkaca-kaca, memancarkan luka batin yang selama ini ia pendam sendiri dalam kesunyian. Efek obat yang baru diminumnya perlahan mulai bekerja membuat matanya kian berat, namun ada satu hal yang mengganjal di hatinya yang harus ia tanyakan "Aku harus melakukan apa lagi, Ziva?" Zivanya mengernyitkan keningnya, tidak me
Zivanya menyendokkan suapan kedua. Ariyan terlihat mencoba keras memaksakan diri untuk menelannya. "Pelan-pelan," ujar Zivanya saat melihat Ariyan sedikit mengernyit saat menelan kuah sup. "Masih pahit banget ya mulutnya?" Ariyan mengangguk pelan, menyandarkan tengkuknya lebih dalam ke bantal. "Sedikit. Tapi jauh lebih mendingan dari tadi." Tatapan mata pria itu tidak lepas dari wajah Zivanya, merekam setiap detail ekspresi mantan istrinya dengan rasa rindu yang membuncah. "Makasih. Kamu mau repot-repot begini." Zivanya tidak menjawab. Ia sengaja mengalihkan pandangannya pada mangkuk di tangannya, menyendokkan potongan wortel kecil dan kuah hangat untuk suapan berikutnya. Perasaan sesak memenuhi dadanya. Kenapa harus sekarang interaksi ini terjadi? Kenapa bukan dulu saat mereka masih bersama? Andai Aira tidak menghilang, apa Ariyan masih bersikap sebaik ini? "Harusnya kamu bilang ke Rike kalau nggak sehat," ujar Zivanya mengalihkan topik. "Dia panik banget di kantor tad







