Share

Part 30

last update publish date: 2026-05-06 20:00:58

Di rumahnya, Zelena yang pada awalnya menerima telepon sambil berbaring, kini duduk dan menajamkan telinganya. Jarang-jarang menantunya menelepon di waktu seperti sekarang. Apalagi mengatakan ada yang penting dan mengganjal di hati.

“Ada apa, Ziva? Ada masalah? Kalian nggak lagi bertengkar, kan?” tanyanya dengan perasaan cemas. Selama ini hubungan anak dan menantunya baik-baik saja. Pernikahan mereka sangat harmonis. Keduanya malah terlihat semakin mesra dari hari ke hari.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (10)
goodnovel comment avatar
Suherni 123
jujur aja zi
goodnovel comment avatar
Milena
tuhkan di rampas hapenya sm ari cm gak langsung d matiin ..... wkwkwk
goodnovel comment avatar
sakinah nazar
up lagi thor
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 63

    Malam itu, Kaivan mengantar Zivanya pulang. Ia memastikan Zivanya masuk ke dalam rumah dengan aman, barulah pergi meninggalkannya. Zivanya baru selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan terusan longgar ketika suara bel berbunyi nyaring.​Kerutan halus tercipta di dahinya. Saat Ini sudah jam delapan malam. Tidak mungkin Kaivan kembali lagi. Dengan langkah lambat, ia berjalan ke depan dan membuka pintu.​Jantung Zivanya serasa melompat dari tempatnya ketika mendapati dua sosok yang sangat ia kenal berdiri di sana.​“Mami? Papi?” Zivanya terperanjat.​Seruni berdiri dengan anggun mengenakan tunik rajut, sementara di sebelahnya, Abi tersenyum hangat dengan jaket kasualnya.​“Papi sama Mami sengaja mampir, habis ada acara makan malam sama kolega Papi di dekat sini. Mami kepikiran kamu terus dari siang,” jelas Seruni seraya melangkah masuk setelah Zivanya mencium tangan kedua orang tuanya.​Langkah Seruni langsung terhenti begitu mereka tiba di ruang tengah. Insting seorang

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 62

    Keluar dari rumah sakit, Zivanya langsung naik ke mobil Kaivan. Lelaki itu sesekali melirik Zivanya dari balik kemudi. Meski Zivanya mencoba tersenyum setelah melihat hasil USG tadi, Kaivan bisa merasakan ada mendung tebal yang masih bergelayut di matanya. Kesedihan wanita itu begitu pekat, sampai-sampai Kaivan bisa ikut merasakannya di dada. ​Daripada langsung mengantar Zivanya pulang ke rumahnya yang sepi dan dingin, Kaivan memutar kemudi menuju sebuah pusat perbelanjaan. ​"Kai, kita mau ke mana? Ini bukan jalan ke rumahku," tanya Zivanya heran saat mobil memasuki area parkir mal. ​Kaivan mematikan mesin, lalu menoleh dengan senyum jenaka. "Kita punya misi medis darurat." ​"Misi medis apa?" ​"Mengobati stres," jawab Kaivan ringan sambil melepaskan sabuk pengamannya. "Ada film genre komedi yang review-nya bagus banget. Katanya, kalau nggak ketawa nonton ini, uang tiket diganti. Turun yuk. Kamu butuh asupan hormon endorfin

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 61

    Sebenarnya Zivanya merasa sangat sedih. Walaupun ia bersikap tegar menghadapi sindiran Aira, tapi tetap saja ia tidak bisa membunuh perasaan pilu di hatinya. Karena sejujurnya ia masih sangat mencintai Ariyan. Tidak mudah menghilangkan rasa yang tumbuh sejak remaja. Apalagi mereka telah bersama sedari kecil. Ariyan adalah cinta pertamanya. Lelaki pertama yang menyentuhnya. Lelaki yang membuatnya tergila-gila dan kehilangan logika karena cinta. Suara bel di depan pintu mengeluarkan Zivanya dari lamunannya. Dengan tertatih ia membawa tubuh lemahnya ke depan rumah, mengabaikan denyut di kepalanya yang semakin menjadi-jadi. Beberapa kali ia harus bertumpu di dinding karena tubuhnya terlalu lemah. Kaivan dengan senyum tipisnya kini berdiri di hadapan Zivanya. Pria itu tampak jauh lebih segar dan sehat. Luka lebam di sekitar rahang dan pelipisnya sudah memudar menjadi garis kekuningan, dan ia tidak lagi meringis saat berbicara. Pria itu berdiri tegap, m

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 60

    Zivanya menyeka air matanya dengan cepat, mencoba menata kembali serpihan emosinya sebelum melangkah masuk ke kamar tamu. Ia tidak ingin Kaivan melihat kesedihannya. Ia mendapati Kaivan sedang berusaha mengubah posisinya menjadi setengah bersandar di headboard sambil meringis menahan nyeri. “Kai, tiduran aja dulu,” kata Zivanya sembari mendekat. ​"Maaf, Ziva, aku malah jadi beban dan merusak rumah tanggamu,” suara Kaivan agak kaku karena jahitan di dalam mulutnya. Kaivan tahu di luar tadi Zivanya dan Ariyan pasti bertengkar hebat. ​"Nggak, Kai. Jangan bicara begitu. Ini bukan salahmu. Rumah tanggaku emang sudah rusak sejak awal. Dan itu bukan karena kamu.” ​Kaivan menurunkan kakinya. "Aku udah agak baikan. Pusingnya sudah berkurang, dan kurasa aku sudah bisa pulang ke apartemenku sendiri sekarang." ​"Tapi luka-lukamu–” ​"Aku bisa pesan taksi, dan nanti Adit pasti mau datang ke apartemen buat bantu-bantu," potong Kaivan memutus perkataan Zivanya. Ia menatap perempuan itu dan m

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 59

    “Kamu nggak perlu teriak-teriak! Aku bukan orang tuli!” seru Zivanya membalas hardikan suaminya. Ariyan sontak mengatupkan mulutnya. Hari-hari belakangan Zivanya memang tidak pernah bersikap lembut lagi padanya. Tapi inilah bentakannya yang paling keras. ​"Aku membawanya ke sini murni karena rasa kemanusiaan dan tanggung jawab.” Zivanya melanjutkan perkataannya. "Kalau kamu masih punya sedikit hati nurani, kamu harusnya sadar kalau semua kekacauan ini bermula dari tanganmu sendiri.” ​"Nggak perlu ada hati nurani untuk orang seperti dia. Kamu ingin menghancurkanku lewat jalur hukum tapi dilarang oleh bajingan itu, jadi sekarang kamu memilih cara ini? Menghancurkan harga diriku sebagai suami di rumahku sendiri?" ​"Ini bukan rumahmu!" bantah Zivanya. "Ini tempatku untuk bernafas dari semua kegilaanmu, Ariyan! Tapi kamu bahkan nggak membiarkanku tenang walau cuma sehari. Kamu egois!" ​Zivanya memalingkan wajah lalu menunjuk ke arah koridor menuju kamar tamu. ​"Dia sedang kesakitan di

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 58

    Sulit untuk tidak emosi menyikapi pemandangan yang tersaji di hadapannya. Cukup sudah Zivanya menginjak-injak harga dirinya. Jadi, Ariyan memutuskan untuk menampakkan diri.Ariyan berdeham cukup keras yang membuat keduanya terperanjat.Zivanya hampir menjatuhkan sendok yang sedang dipegangnya. Sementara Kaivan hanya bisa tersentak kaku di atas bantalnya. Ia mencoba menoleh ke sumber suara, namun gerakan mendadaknya menarik jahitan di pipinya. Ia mengerang tertahan dan mencengkeram pinggiran sprei saat rasa pening dan nyeri hebat kembali menghantam kepalanya akibat kehadiran Ariyan yang tiba-tiba.​Ariyan berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terbenam di saku celana. Posturnya tegak, angkuh, dan penuh dominasi.​“Enak buburnya, Kai?” tanya Ariyan dengan suara yang terdengar sangat tenang untuk ukuran seseorang yang baru saja menyaksikan istrinya memberikan perhatian luar biasa pada pria lain. ​Ariyan melangkah masuk lebih dalam. Ia melihat mangkuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status