LOGINPenerbangan dari Santorini menuju Munchen memakan waktu lebih lama dari yang mereka bayangkan, dengan transit singkat di Athena sebelum akhirnya mendarat di Bandara Munchen beberapa jam kemudian. Sepanjang perjalanan, Zivanya memperhatikan Ariyan yang tampak agak gelisah. Matanya sesekali menerawang keluar "Dari tadi aku lihat kamu nggak tenang. Kamu nggak apa-apa?" tanya Zivanya, menggenggam tangan Ariyan. Ariyan menoleh dan memberi senyum tipis. “Harusnya aku yang tanya gitu. Kamu nggak apa-apa? Capek nggak? Mau aku pijitin punggung atau pinggangnya?” “Boleh deh.” Zivanya mengatur posisi agar Ariyan bisa memijitnya. Lelaki itu melakukannya dengan telaten seolah-seolah sudah sangat berpengalaman. Setelah lima jam penerbangan, pendarat yang mereka naiki akhirnya mendarat dengan selamat. Setelah beristirahat di hotel keduanya langsung ke rumah sakit karena sudah membuat janji temu sebelumnya, "Kamu lahir di rumah sakit ini?” tanya Zivanya yang teringat cerita Ariyan s
Angin malam berembus lembut. Sinar bulan terpantul di atas permukaan air laut yang tenang, membiaskan cahaya yang menimpa dinding-dinding bangunan putih khas Yunani. Di tepi balkon, Ariyan berdiri membisu. Ia menyandarkan kedua tangannya di pagar pembatas, menatap lurus ke hamparan samudera yang gelap. Ariyan melamun sangat dalam. Pikiran dan jiwanya seolah terlempar jauh dari keindahan Santorini yang ada di depannya.Zivanya muncul dari dalam. Sejak tadi ia perhatikan Ariyan terus melamun. Ia menatap punggung suaminya dengan perasaan bersalah yang teramat sangat. Hatinya berdenyut nyeri setiap kali melihat heningnya Ariyan. Ia tahu persis apa yang sedang mengganggu pikiran pria itu. Ucapan yang tidak sengaja tadi pasti membuat Ariyan sedih dan insecure. Padahal Ariyan selalu berusaha menjadi suami dan ayah terbaik dengan segala keterbatasannya.Zivanya menelan ludah, mengatur napasnya yang agak berat karena beban perutnya yang membuncit. Dengan langkah perlahan, ia berjalan mendekat
Zivanya terbangun ketika merasakan usapan di perutnya yang kini sudah membola di usia kehamilan enam bulan lebih. Bentuk tubuhnya telah berubah, lekuk keibuannya kian nyata, dan sensitivitas kulitnya meningkat drastis.Ariyan tidur miring sambil memeluknya dari belakang. Dadanya yang bidang menempel ketat di punggung mulus Zivanya, sementara satu tangannya yang besar melingkar posesif, jemarinya terus membelai lembut permukaan perut Zivanya tanpa henti.“Morning, ibunya Kai,” sapa Ariyan dengan suara khas bangun tidur, tepat di tengkuk Zivanya. Ia mendaratkan ciuman-ciuman kecil nan hangat di sepanjang garis leher dan bahu istrinya yang terbuka.Sensasi bibir hangat Ariyan yang menyapu kulit sensitifnya membuat Zivanya meremang. Ia memejamkan mata, memiringkan kepalanya sedikit untuk memberikan akses lebih luas bagi suaminya. “Kamu udah lihat hp? Udah ingat kita di mana?” tanya Zivanya deg-degan. Kondisi memori Ariyan selalu membuatnya khawatir setiap pagi.“Udah,” jawab Ariyan sedik
"Ziva, quickie yuk!" celetuk Ariyan tiba-tiba mengagetkan Zivanya. Ada senyum terkulum di bibirnya bersamaan dengan tatapannya yang seduktif. "Quickie di mana, Ari?" Zivanya sih oke-oke saja. Jangan katakan kalau Ariyan mengajak melakukannya di mobil. Saat itu mereka dalam perjalanan pulang ke rumah usai belanja di mall. "Kita check in di hotel, gimana? Mumpung masih sore." "Astaga, kan bisa di rumah. Kenapa harus di hotel?" Zivanya tertawa merespon ajakan suaminya. "Sensasinya beda, Yang.” “Yang?” Mata Zivanya sontak melebar. “Ayang maksudnya bukan sayang.” Ariyan cepat-cepat meralat sebelum istri cantiknya meledak. “Sama aja sih nggak ada bedanya.” Zivanya menyedapkan tangan di dada dengan ekspresi cemberut. Ariyan tertawa lepas, suara tawanya memenuh kabin mobil yang melaju tenang di jalanan sore. Pria itu sekilas menoleh, memandangi Zivanya. Eksoresi cemberutnya di mata Ariyan terlihat seribu kali lipat lebih menggemaskan. Dengan tangan kirinya yang bebas dari kemudi, A
Minggu-minggu memasuki trimester kedua ternyata tidak semudah yang dibayangkan Zivanya. Jika di bulan-bulan awal ia sempat merasa baik-baik saja, walau ada sedikit mual, kini rasa mual datang lebih sering, terutama di pagi hari, membuat nafsu makannya menurun drastis.Pagi itu Zivanya terbangun dengan perut yang terasa diaduk-aduk. Ia buru-buru berlari kecil ke kamar mandi begitu bangun tidur. Ariyan ikut menyusul dengan sedikit khawatir."Kamu kenapa?" Ariyan berdiri di ambang pintu kamar mandi, mendapati Zivanya berjongkok di depan wastafel, wajahnya pucat sambil sesekali terbatuk kecil."Nggak apa-apa," jawab Zivanya lemah, mengusap sudut bibirnya dengan tisu. "Cuma mual biasa."Ariyan segera berjongkok di samping istrinya, mengusap punggungnya lembut, menyisihkan helai rambut yang menutupi wajah Zivanya. "Biasa gimana? Kamu udah tiga hari ini kayak gini terus. Aku telepon dokter ya?""Nggak usah, Ari. Ini normal kok buat ibu hamil di trimester kedua. Cuma morning sickness yang aga
Matahari pagi menyusup halus melalui celah tirai kamar, membiaskan cahaya keemasan yang hangat. Zivanya mengerjap pelan, menyesuaikan penglihatannya yang masih remang. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah udara dingin dari pendingin ruangan, melainkan usapan lembut di atas perutnya."Morning, ibunya Kai," bisik sebuah suara berat dan hangat di samping telinganya. Pasca protes Seruni kala itu, Ariyan belum juga menemukan panggilan yang tepat untuk sang istri.Zivanya menoleh pelan, mendapati Ariyan bertumpu di sampingnya. Tanpa menunggu Zivanya membalas, Ariyan melabuhkan kecupan lembut secara beruntun di dahi, kedua pipi, hidung alis, hingga bibir Zivanya. Hingga membuatnya tertawa geli.“Kok masih di rumah?” protes Zivanya.“Jadi maunya kamu aku ada di mana?”“Di gym. Kehamilan aku bukan halangan buat kamu beraktivitas kayak biasa.”Setelah Zivanya hamil, keluarga menyambut dengan gembira. Ariyan juga lebih sering berada di rumah dan melarang Zivanya ke sekolah musiknya.“Gym bisa na
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat







