LOGINZivanya menggeser layar ponselnya, mencari nama Kaivan di daftar kontak, lalu menekan tanda panggilan video. Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum panggilan terhubung.Layar ponsel Zivanya seketika menampilkan wajah tampan Kaivan yang latar belakangnya tampak seperti ruang kerja pribadinya. Begitu melihat siapa yang menelepon, senyum hangat langsung terbit di bibir pria itu, membuat gurat lelah di matanya sirna seketika."Halo, Ibu. Halo, Jagoan," sapanya hangat.Mendengar suara ayahnya, Kaisar yang semula bersandar lesu di bahu Zivanya langsung menegakkan tubuhnya. Anak itu merebut ponsel dari tangan Zivanya dengan antusias, memajukan wajahnya ke depan kamera hingga layar ponsel penuh dengan pipi chubby-nya."Ayah!! Kai kangen!" seru Kaisar sambil bergerak-gerak heboh di atas pangkuan Zivanya. Rasa sedih akibat penolakan Ariyan beberapa menit lalu menguap begitu saja.Kaivan tertawa renyah di seberang sana. Kedua matanya menyipit jenaka menatap wajah menggemaskan Kaisar. "Ay
Tiga tahun kemudian…Hujan rintik-rintik yang turun di luar sana mengirim hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Membuat siapa pun lebih memilih berdiam diri di dalam rumah ketimbang berkeliaran di luar.Di atas sofa besar abu-abu, Zivanya duduk tenang dengan sebuah buku di pangkuannya. Namun, pandangannya tidak benar-benar tertuju pada deretan kalimat di sana. Matanya bergerak mengikuti sosok mungil bertubuh sehat dan aktif yang sedang asyik menyusun balok-balok mainan di atas karpet bulu.Kaisar Rajata Arsjad. Bocah laki-laki itu telah tumbuh dengan sangat menggemaskan di usianya yang menginjak tiga tahun. Fase catch up growth pasca kelahiran prematurnya berjalan sempurna berkat perawatan terbaik yang Zivanya berikan. Kaisar tumbuh menjadi anak yang cerdas, dengan sepasang mata bulat yang jernih dan rambut hitam legam yang selalu tertata rapi. Dia adalah segumpal cahaya di tengah hidup Zivanya yang penuh duri.Tak lama kemudian terdengar suara samar mobil yang memasuki halaman
Pertanyaan mamanya membuat Ariyan semakin tegang. Ia benar-benar tidak tahu apa jawabannya. Ariyan tidak pernah mempersiapkan diri untuk ini, karena anak ini seharusnya tidak pernah ada di dalam hidupnya.Menyadari Zelena terus menatapnya, Ariyan berdeham sembari mengatur ekspresinya agar tetap terlihat wajar.“Aku dan Ziva memang sudah sepakat, Ma. Kalau anak laki-laki, Ziva yang kasih nama. Kalau anak perempuan, aku yang kasih nama.”Zelena manggut-manggut mendengar penjelasan putranya. Senyum di wajah wanita itu semakin merekah lebar saat memandangi wajah mungil cucunya.“Bagus kalau begitu, adil. Berarti yang kedua nanti semoga perempuan ya. Biar gantian kamu yang kasih nama. Biar lengkap ada sepasang, abangnya ganteng, adiknya cantik.”Mendengar kata ‘yang kedua’ dan 'anak perempuan', perut Ariyan mendadak mulas. Ia langsung terbayang wajah Aira dan bayi perempuan mereka yang juga baru lahir. Ariyan hanya memberikan nama terbaik untuk anak perempuannya bersama Aira, bukan dari
“Aku mau ketemu anakku dulu. Aku mau lihat dia,” kata Zivanya. Ia ingin memastikannya. “Dia di NICU, Ziva.” “Aku tahu. Tolong antar aku ke sana.” “Kamu aja sendiri. Aku panggil perawat. Minta tolong dia yang antar,” tolak Ariyan keberatan. Memikirkan bayi itu saja sudah membuat dadanya sesak oleh kebencian. Bayi itu bukan anaknya dan sumber petaka baginya. Bayi yang membuatnya kehilangan enam puluh persen saham perusahaannya dalam sekejap, dan bayi yang memaksanya bertekuk lutut di bawah kendali Zivanya. Baginya, anak itu bukan darah daging yang patut dirayakan, melainkan sebuah kutukan berwujud manusia. Zivanya hanya bisa menahan perasaan melihat penolakan yang begitu nyata dari suaminya sendiri. Tepat setelah Ariyan menekan tombol panggilan, seorang perawat masuk. Ia dengan sigap membantu menyiapkan kursi roda untuk Zivanya setelah Ariyan menyampaikan maksudnya. Namun, tepat saat perawat itu mulai mendorong kursi roda Zivanya menuju pintu kamar, daun pintu terbuka dari luar.
Langkah Ariyan seketika terhenti tepat beberapa jengkal di depan pintu. Bahunya menegang kaku, dan senyum tengil yang sejak tadi bertengger di wajahnya kini lenyap tak berbekas. Pria itu berbalik lambat, menatap Zivanya dengan sorot mata yang tak lagi santai. Ada kilat kepanikan yang coba ia sembunyikan rapat-rapat di balik sepasang manik matanya.“Cerai?” Ariyan terkekeh. “Kamu baru bangun dari operasi, Ziva. Otak kamu pasti masih korslet karena efek sisa anestesi. Jangan ngaco.”“Aku nggak pernah sewaras ini seumur hidupku, Ariyan,” balas Zivanya langsung. Suaranya kini terdengar begitu datar dan tenang. Tidak ada lagi emosi meledak-ledak. Zivanya sadar, berteriak hanya akan membuat jahitan perutnya semakin nyeri dan membuat Ariyan merasa menang. “Ceraikan aku. Kamu silakan bersama perempuan sialan itu, dan biarkan aku pergi bersama anakku.”Ariyan melangkah kembali mendekati tempat tidur Zivanya, kali ini dengan rahang yang mengatup rapat. “Aku belum bisa menceraikan kamu. Kamu
Setelah duduk, Ariyan mengambil jemari dingin istrinya untuk kemudian mengunci dalam genggaman. Ia juga mengecupnya berkali-kali dengan gerakan yang tampak emosional."Aku minta maaf. Aku benar-benar ngerasa bersalah,” ucapnya penuh kesedihan.Zivanya hanya mematung, merasakan kulitnya meremang mual karena sentuhan pria itu.Ariyan mengembuskan napas berat. Ia memandang Seruni dan Zelena sekilas dengan gurat penyesalan yang mendalam sebelum kembali menatap Zivanya. "Tapi kamu juga bandel, Sayang. Udah kubilang berkali-kali, nggak usah nekat nyusul aku ke site. Jalur ke sana itu sepi, rawan, apalagi cuaca lagi hujan deras dan kamu lagi hamil tua. Aku ngerti orang hamil tuh suka aneh. Aku paham kamu kangen sama aku. Tapi aku bakal pulang kok. Coba kalau kamu nurut dan nunggu di rumah, kejadiannya nggak akan seperti ini. Andai kamu tahu, aku hampir gila mikirin kamu.”Zivanya menahan diri untuk tidak merotasi bola matanya mendengar untaian kata yang meluncur lancar dari bibir Ariyan.







