تسجيل الدخولPukul setengah delapan malam Zivanya dan Ariyan sudah berada di restoran yang dipesan Zivanya.Restoran itu terletak di lantai tertinggi sebuah gedung, dengan dinding kaca besar yang menghadap langsung ke gemerlap lampu kota di bawahnya. Zivanya sengaja memesan meja di sudut ruangan, dekat jendela, jauh dari keramaian pengunjung lain agar suasana lebih privat."Tumben banget kamu ngajak dinner dadakan," ujar Ariyan sambil menarik kursi untuk Zivanya, sebelum duduk di seberangnya. "Ada acara apa? Aku lupa tanggal penting ya?"Zivanya tertawa kecil, menggeleng pelan. "Nggak ada acara apa-apa. Aku cuma pengen makan malam di luar berdua sama kamu.”Ariyan tersenyum dan mengambil tangan Zivanya yang berada di atas meja, menggenggamnya lembut. "Kaisar nginap di rumah Mama, kan? Berarti malam ini emang cuma milik kita berdua."Tadi Kaisar memang dijemput oleh omanya."Iya," jawab Zivanya, matanya berbinar menahan rahasia kecil yang sudah ia siapkan sedari tadi.Malam itu berjalan dengan hang
Aroma parfum Ariyan yang soft namun maskulin terhirup oleh penciuman Zivanya. Ia mengerutkan dahi. Masih jam 5 sore, tetapi kenapa sepertinya Ariyan sudah pulang? Bisanya Ariyan tiba di rumah pukul delapan atau sembilan malam.Zivanya menutup tutup pelembab yang ia balurkan ke tubuhnya. Ketika pintu kamar terbuka dan memperlihatkan sosok suaminya, Zivanya menoleh sambil menyunggingkan senyum hangat."Kok udah pulang? Katanya gym sampai jam—"Ucapan Zivanya terputus seketika. Karena Ariyan dengan gerakan cepat langsung menghambur memeluknya."Ari? Kamu ada masalah di gym?" tanya Zivanya bingung.Masih sambil memeluk Zivanya, Ariyan menjawab, “Nggak ada. Aku pulang jam segini karena kangen kamu aja.”“Tumben?”“Aku mau kamu, Ziva. Sekarang." Ariyan merenggangkan pelukan. Ditatapnya Zivanya dengan sorot sendu."Tapi ini masih sore, Ari,” lirih suara Zivanya. Hawa hangat menjalari pipinya melihat cara Ariyan menatapnya. "Kai bisa masuk ke kamar kita.”"Kai lagi main di dermaga sama Bi Ina
Sudah tiga hari ini Zivanya merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, namun ia terus mengabaikannya, menganggapnya sekadar kelelahan biasa akibat kesibukannya di sekolah. Pagi itu, aroma kopi yang biasanya menjadi candu paginya justru membuat perutnya bergejolak tidak nyaman. Zivanya buru-buru meletakkan cangkirnya, menutup hidungnya dengan telapak tangan."Bu Ziva kenapa? Mukanya pucat," tanya Bi Inah, pembantunya yang sedang menyiapkan sarapan Kaisar, memperhatikan raut wajah Zivanya yang terlihat pucat."Nggak apa-apa, Bi. Mungkin cuma masuk angin," jawab Zivanya sambil tersenyum kecil, meski tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang terasa sedikit mual.Ia mencoba melanjutkan aktivitas paginya seperti biasa. Menyiapkan bekal Kaisar dan memastikan Ariyan sarapan sebelum berangkat ke gym miliknya. Rasa pusing ringan terus membayangi sepanjang pagi. Bahkan ketika mengantar Kaisar ke sekolah, Zivanya harus menepikan mobilnya sebentar di pinggir jalan, menahan mual yang tiba-tiba menye
“Papa, kok berhenti? Katanya mau cepat-cepat ke kasir. Katanya Papa kebelet pipis,” protes Kaisar.“Kai ke kasir sama Ibu ya? Papa ada urusan sama Tante Kika.” Ariyan mengeluarkan dompet, memberikan pada Zivanya. Zivanya langsung menolak. Ia ingin mendengarkan langsung pembicaraan Ariyan dan Kika. “Aku juga mau dengar,” ujarnya sambil mendorong lagi dompet berwarna hitam itu pada suaminya.Ariyan sempat ragu. Tetapi ketika sadar bahwa akan lebih baik kalau Zivanya juga mendengarnya langsung dari Kika, ia pun setuju.Ariyan menggeser posisi troli belanjaan ke tepi lorong. “Kai boleh belanja lagi sampai Papa selesai bicara sama Tante Kika.”“Banyak-banyak boleh, Pa?”“Boleh. Sana gih ambil coklatnya.”Kaisar langsung berlari dengan riang.“Gue nggak suka basa-basi, sekarang buruan bilang apa yang mau lo omongin,” kata Ariyan setelah dirinya dan Zivanya berada dalam jarak yang cukup dekat dengan Kika.“Duduk dulu bisa kali ya?”“Gue nggak ada waktu buat duduk-duduk santai. Ngomong sekar
Zivanya dan Ariyan memandangi sosok yang dibawa Kaisar di belakangnya. Sudah sangat lama sekali mereka tidak bertemu dengan perempuan itu. Setelah bangun dari ketermanguan dengan cepat Ariyan menarik tangan Kaisar dan memegangnya erat-erat seolah perempuan itu adalah bahaya besar. “Mau apa lo di sini?” “Papa, Tante itu yang bantu Kai ambil sereal di rak atas. Katanya namanya Tante Kika, saudara Ibu,” tutur Kaisar sambil menengadah menatap sang papa. Ariyan terdiam. “Tante itu nggak bohong, kan, Pa?” ujar Kaisar lagi. “Nggak, Sayang.” Zivanya mewakili suaminya menjawab. “Kak Kika, dari mana tahu Kaisar anakku?” "Gue sering lihat story Syabila sama Kaisar," jawab Kika jujur. Mata Kika sempat melirik sejenak pada Kaisar yang bersembunyi di balik kaki Ariyan sebelum kembali menatap Zivanya. "Syabila sering banget post foto atau upload story yang ada Kaisar di sosmednya. Awalnya gue nggak tahu Kaisar ini siapa. Setelah gue liat-liat ternyata dia mirip banget sama lo.” Kika melirik
“Ibuuu, susu Kai habis ya?” Seruan anaknya membuat Zivanya yang sedang asyik membaca menyingkirkan buku bacaannya. Perempuan berambut sepunggung itu beranjak dari tempat duduknya untuk kemudian melangkah menuju depan kulkas, tempat di mana anak kesayangannya itu berteriak. Zivanya ikut memeriksa kulkas. Ternyata memang betul, susu UHT rasa coklat kesukaan Kaisar sudah habis total. “Oh iya habis. Nanti kita beli ya, Nak.” “Tapi Kai mau minum susu sekarang, Ibu. Kita belinya sekarang ya?” Kaisar merengek-rengek sambil mengguncang-guncang tangan Zivanya. “Duh, Ibu lagi malas keluar nih. Sana gih bangunin Papa.” Kaisar mengangguk antusias. Ia berlari menuju kamar orang tuanya. Di atas ranjang berukuran besar, Ariyan tampak tertidur lelap dengan posisi terlentang. Hari Minggu ini, Ariyan memang sengaja mengosongkan seluruh jadwalnya dari Kaisar Fitness demi menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga kecilnya. "Papa! Papa, bangun!" Kaisar naik ke tepi tempat tidur, lalu m
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda







