LOGINCheryl juga memeluk kakiku dan berkata sambil menangis, "Mama, jangan pergi. Mama, jangan pergi." Untuk sesaat, aku tidak tahu harus berbuat apa dan hanya bisa menghela napas. Tiba-tiba, Adhikara melangkah maju."Berhubung dia nggak menyukai kalian, kenapa kalian masih bersikeras mengusiknya? Lagian, dia sudah punya pacar baru. Nggak ada gunanya kalian lanjut mengganggunya." Mendengar ini, Jason dan Cheryl menatap Adhikara. Mata mereka dipenuhi permusuhan.Adhikara awalnya terkejut, lalu menelan ludah dan menegakkan tubuh sambil bertanya, "Apa yang kalian lihat? Pacarnya aku. Apa itu salah?"Jason menatap Adhikara dan tertawa. Matanya dipenuhi ejekan. "Kamu tahu dia itu siapa? Dia istriku ...." Sebelum Jason selesai bicara, suara jernih Adhikara menggema di seluruh kelas."Dia Aurelia. Ejaannya A-u-r-e-l-i-a." Melihat ketegangan dan kekeraskepalaan di mata Adhikara, aku tak kuasa menahan tawa.Ekspresi Jason pun berubah. Seolah hendak mendapatkan konfirmasi dariku, dia memaksakan s
"Tempat di mana kamu berselingkuh di kamar samping? Rumah itu bukan milikku! Kamu nggak berhenti bilang kamu mencintaiku. Tapi waktu selingkuh, apa kamu pernah memikirkanku atau janji kita?" ucapku pada Jason."Kamu juga. Waktu kamu bantu papamu berselingkuh, apa kamu pernah mikir aku ini mamamu?" tanyaku pada Cheryl.Di bawah tatapan tajamku, Jason dan Cheryl tidak bisa berkata-kata. Jason terus menggeleng dengan mata berkaca-kaca, sedangkan Cheryl sudah menangis.Namun, aku sama sekali tidak merasa kasihan pada mereka. Sebaliknya, aku merasa makin ironis.Mereka melakukan semua hal yang tidak seharusnya mereka lakukan. Sekarang, mereka malah berpura-pura kasihan dan memintaku memaafkan mereka? Apa aku juga boleh berkhianat secara terang-terangan, lalu hanya dengan sepatah kata maaf, aku menganggap semuanya tidak pernah terjadi?"Bukan, bukan begitu. Mama, Papa benar-benar mencintaimu. Aku juga mencintaimu. Tolong maafkan Papa sekali ini, ya?" Aku menepis tangan putriku dan menjawab
Namun, sebelum aku sempat berpikir terlalu jauh, suara Adhikara kembali terdengar di samping telingaku."Jangan khawatir, Bu Guru. Nggak peduli masalah apa yang kamu hadapi, aku akan melindungimu." Melihatku menatapnya, tatapan Adhikara menjadi makin tegas. Aku hanya bisa tersenyum dan mengelus kepalanya. Mungkin, tinggal di sini adalah keputusan yang baik. Setidaknya, orang-orang di sini tulus. Mereka tidak akan berbohong padaku.Namun, suatu hari ketika aku sedang mengajar, dua sosok tak terduga muncul di hadapan kami."Mama!""Aurel, ternyata kamu memang ada di sini."Aku sudah lama tidak melihat Jason dan Cheryl. Aku juga tidak pernah melihat penampilan mereka yang begitu berantakan.Dulu, Jason terlihat sangat berkelas, bak seorang pangeran. Dia selalu tenang dalam menghadapi segala hal. Sekarang, rambutnya terurai dengan asal di bahunya, sedangkan matanya juga terlihat merah. Lingkaran hitam di sekitar matanya juga terlihat cukup jelas.Sementara itu, putriku yang selalu terliha
Seiring dengan matahari terbit dan terbenam, kami menjelajahi setiap sudut tempat ini.Sesekali, aku menerima surat dari teman-teman lama. Menurut mereka, sejak aku pergi, Jason dan Cheryl bertingkah seperti orang gila. Setiap hari, mereka akan mencari tahu di mana aku berada. Mereka bahkan beberapa kali melapor ke pihak berwenang, tetapi semua usaha mereka sia-sia.Jason bahkan mencampakkan Davina dan anak dalam kandungan Davina juga digugurkan. Dia juga meminta maaf kepadaku secara terbuka. Dia mengatakan bahwa dia tidak seharusnya berselingkuh, juga memanfaatkan cintaku untuk berbuat semena-mena.Cheryl menangis setiap hari. Dia mengatakan dia tidak akan pernah makan permen lagi, juga seharusnya tidak membantah nasihatku.Hampir dalam seketika, kesan semua orang di kota terhadap mereka pun berubah. Jason berubah dari seorang presdir dingin menjadi pria bajingan dan tidak tahu malu, sedangkan Cheryl dianggap sebagai anak durhaka yang tidak tahu berterima kasih.Bahkan perusahaan Jaso
Seiring waktu, tempat ini telah menjadi seperti penjara. Menurut kepala sekolah, aku adalah satu-satunya orang dalam tujuh tahun terakhir yang berinisiatif untuk memilih datang ke tempat ini.Mendengar ini, aku tiba-tiba merasa bersalah. Sebab, aku datang ke tempat ini bukan murni untuk mengajar. Aku hanya ingin mencari tempat yang cukup jauh dari Jason dan putriku.Aku mengikuti kepala sekolah ke sekolah. Tak disangka, situasi di sini jauh lebih sulit daripada yang aku bayangkan. Papan tulisnya berupa batu besar yang dipasang dengan tiang kayu. Di sampingnya terdapat beberapa arang yang digunakan untuk menulis di atas batu tersebut.Ruang kelasnya lebih sederhana lagi, hanya berupa gubuk kayu kecil yang dapat ditembus angin. Beberapa anak berpakaian lusuh duduk di lantai. Di meja guru, seorang lelaki tua bergerak terhuyung-huyung. Meskipun sudah berusaha sebaik mungkin, dia hanya mampu meninggalkan beberapa tulisan samar di papan tulis."Orang tua anak-anak sibuk setiap hari. Mereka
Seusai berbicara, Davina berjinjit dan mencium Jason. Jason mencoba mendorongnya menjauh. Namun, setelah meronta sesaat, dia akhirnya menyerah.Melihat gerakan mereka, Cheryl segera masuk ke rumah. Melihat Cheryl hendak masuk, aku berhenti menonton performa mereka. Aku memotong sepotong kue, lalu duduk di ruang tamu, seolah-olah tidak ada yang terjadi.Cheryl dengan santainya membuka bungkus sebutir permen dan hendak memasukkannya ke mulut. Namun, dia seperti teringat sesuatu dan berbisik padaku, "Mama, aku boleh makan sebutir?" Putriku suka makan permen, tetapi rentan punya masalah gigi. Makan terlalu banyak permen akan membuatnya sakit gigi. Jadi, aku sering mengawasinya. Mungkin ini salah satu alasan dia tidak menyukaiku.Aku mengangguk. "Jangan khawatir, nggak akan ada yang melarangmu makan permen lagi kelak." Cheryl menatapku dengan terkejut. Namun, tanpa banyak berpikir, dia mulai makan dengan gembira. Beberapa saat kemudian, Jason masuk. Dia menatap putrinya yang sedang makan







