LOGINMy fated Alpha wanted to indulge his mistress Vivian as Luna for a while. So he pretended he'd lost our connection and wouldn't even admit I was his Luna. Walking past the study, I heard Vivian's sickly sweet voice: "Darling, if I'm acting Luna, can you mark me every night too? But... won't Sophia get suspicious? I mean, you two have been mates for five years." "What's she going to do? She can't leave the pack, and she definitely can't leave me," Ethan scoffed. "Sophia? That idiot. I told her I lost the connection, and she actually believed we didn't have a bond anymore. Even if she found out the truth, she'd just quietly hand over the Luna title and go back to being a healer. The only Luna in my heart is you, sweetheart." I stopped in my tracks. I didn't call him out. A sharp pain shot through me as our mate bond weakened. I turned and left. Let them think their little plan was perfect. They'd find out soon enough what a big surprise this "idiot" had in store for them.
View MoreKiara Giovanna, seorang gadis cantik berusia 23 tahun yang terpaksa menikah dengan Edwin Anderson. 26 tahun. Sosok pria yang sudah menyebabkan Daddy-nya meninggal dunía karena kecelakaan, kecelakaan yang bermula dari kelalaian Edwin sendiri. Kiara pun sudah menolak pernikahan ini, namun karena paksaan Edwin, dan permintaan Daddy-nya sebelum meninggal. Kiara akhirnya menerima pernikahaan ini.
Pernikahan yang membuat Kiara merasa kecewa, dan sia-sia. Bagaimana tidak kecewa, dan sia-sia. Jika selama pernikahannya dengan Edwin-Kiara tidak pernah di anggap, Kiara merasa di campakkan, dan Kiara merasa percuma selama dua bulan ini menjalani pernikahan. Sebab Edwin sendiri masih menjalin hubungan dengan kekasihnya, dan hanya dia yang mengetahui hal ini. Karena Edwin tidak berani mengatakan yang sesungguhnya kepada Victor. Victor Anderson, sosok pria gagah, dan tampan yang kini berusia 37 tahun. Seorang duda dan pengusaha nomor satu di New York, wajahnya yang tampan dengan rambut hitam legam yang selalu rapi, mata coklat yang tajam, dan hidung mancung membuat banyak wanita terpikat padanya. Pria itu ialah, Ayah dari Edwin Anderson. Meskipun Victor bukan Ayah biologis Edwin, tapi Victor benar-benar menganggap Edwin sebagai putra kandungnya sendiri. Sebab, Victor mengasuh Edwin semenjak mantan istrinya membawa Edwin ke mansion Anderson. Victor memiliki pembawaan yang terkesan dingin dan misterius, di balik penampilannya yang sempurna. Victor adalah seorang pria yang sulit didekati, setiap langkahnya terukur, dan wajahnya jarang menunjukkan ekspresi yang berlebihan. Kiara sendiri selalu takut jika berhadapan dengan Victor. Mansion Anderson, New York. "Kak Edwin," panggil Kiara saat melihat Edwin yang baru saja masuk ke dalam kamarnya, selama dua bulan menikah dengan Edwin. Kiara tidak pernah tidur bersama suaminya itu. "Aku akan pergi selama dua hari bersama Cecil, aku harap kau bisa bekerja sama ketika Daddy menanyakanku," ucapnya dengan suara dinginnya. Kiara menghela nafasnya perlahan, wanita itu menatap Edwin dengan sendu. "Sampai kapan kita akan seperti ini, Kak? Tidak adakah harapan untuk kita memperbaiki hubungan ini selayaknya suami-istri?" tanya Kiara dengan berani, Edwin menatapnya tajam. Dalam sekali gerakan Edwin mencengkram dagu Kiara. "Kau tidak lupa statusmu bukan? Kau hanya istri di atas kertas, Kiara. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai istriku, karena kau tidak pantas! Hanya Cecilia yang pantas di sebut sebagai istriku, dan aku ingatkan kembali kepadamu ... pernikahan ini hanya akan bertahan selama satu tahun! Jadi jangan mengharapkan lebih dalam hubungan ini." Edwin menyentakkan dagu Kiara, membuat wajah gadis itu tertoleh ke kanan dengan kasar. "Lagi pula siapa yang mau denganmu? Aku menikahimu hanya karena merasa bersalah dengan Daddymu, jika saja Daddymu tidak meminta hal konyol seperti ini-aku sudah menikah dengan Cecilia saat ini sialan! Seharusnya kau bersyukur ketika aku berbaik hati memungutmu selama satu tahun, kau bisa menikmati hidup kaya sebelum aku buang," hina Edwin, Kiara yang mendengar sontak merasakan sakit hati. Dadanya terasa begitu sesak. "Jangan pernah mengatakan hal itu lagi, menjijikkan!" sentak Edwin, sebelum akhirnya pria itu melangkah keluar dari kamar Kiara. Meninggalkan Kiara yang meluruhkan tubuhnya ke lantai, gadis itu menangis. Setelahnya, Kiara langsung menuju kamar mandi. Ketika berada di kamar mandi, Kiara menghidupkan shower dan meluruhkan tubuhnya di lantai kembali. Kiara menangis histeris, menekan dadanya yang teramat sesak. Kiara memukul dadanya, menghilangkan rasa sesak yang terus bergelung di benaknya. "Apakah aku serendah itu, Dad? Kenapa dia menghinaku seperti itu? Aku bahkan sejak awal sudah menolak pernikahan ini, tapi kenapa dia yang mengatakan jika aku menjijikkan? Kenapa dia mengatakan jika aku menghancurkan hubungan mereka? Kenapa, Dad?" teriak Kiara, gadis itu meraung. Memukuli dadanya yang sangat sesak. "Apakah semua orang kaya seperti itu? Kenapa kau tidak mengajakku kesana, Dad? Aku ingin ikut bersamamu! Untuk apa aku hidup jika aku hanya sendiri di sini?" jerit Kiara. Gadis itu benar-benar terlihat memilukan, ia menggosok tubuhnya dengan kasar. Mencakarnya, dan melukainya. Sembari air matanya yang terus mengalir. "Jijik, kau menjijikkan Kiara. Kau menjijikkan, tidak akan ada yang sudi bersamamu. Tidak adal jerit Kiara dengan ribuan rasa sakit, dan sesak yang menghantam dadanya. Ada satu jam lamanya Kiara menghabiskan waktu di kamar mandi, ia menyiksa dirinya sendiri. Meluapkan amarahnya, dan melampiaskan kesedihannya. Kiara benar-benar terlihat rapuh. Kini Kiara sudah berada di atas ranjang, meringkuk dengan tubuh menggigil. Air matanya sejak tadi terus mengalir, seakan-akan tidak ingin berhenti meratapi nasibnya. Sedangkan di lantai satu, Victor duduk di meja makan dengan tatapan yang memindai sekitar. Pria itu cukup heran dengan kondisi malam ini, sebab menantu dan putranya tidak ada. Victor mendongak, menatap kepala maid di depannya. "Kemana Edwin, dan Kiara. Paula?" tanya Victor kepada kepala maid. "Tuan Edwin sudah keluar, Tuan. Kalau Nona Kiara sedang sakit, tadi saya sempat ke kamarnya berniat memanggil makan malam," jelas Paula. "Kiara sakit?" beo Victor, Paula mengangguk. "Iya, Tuan. Nona Kiara sakit, sepertinya demam," jawabnya, Victor terdiam sejenak. "Kalau begitu buatkan dia sup, dan antarkan obat untuknya. Jika masih sakit, antarkan dia ke dokter, titah Victor. "Baik, Tuan. Tadi saya sudah meminta Martina mengantarkan sup dan obat," "Baguslah," sahut Victor, pria itu mulai menyantap hidangan makan malamnya. Ada perasaam gelisah yang tiba-tiba menyerang benaknya. "Bukankah dia tadi baik-baik saja? Apakah dia dan Edwin sedang bertengkar? batin Victor. Satu minggu kemudian, Semenjak kejadian satu minggu lalu, Kiara lebih banyak diam. Gadis itu tidak terlalu berinteraksi dengan Edwin kembali seperti sebelumnya. Jika sebelumnya Kiara berusaha selayaknya seorang istri. Saat ini Kiara berusaha selayaknya orang asing. Meskipun begitu, Kiara tetap melayani Edwin di depan Victor. Berusaha terlihat baik- baik saja di depan mertuanya. "Dad," panggil Edwin, Victor menoleh. Pria itu menatap Edwin yang membawa koper. "Kau mau kemana, Edwin?" tanya Victor. "Aku mau ke Italia selama dua minggu, Dad," Victor tersenyum, "kau mau honeymoon bersama Kiara? Apakah kau membutuhkan villa pribadi Daddy?" tanya Victor, Edwin menggeleng. "Kenapa?" tanya Victor dengan heran, ia mengernyitkan dahinya. Edwin mendesah pelan, pria itu menatap Victor dengan serius. "Aku tidak honeymoon bersama Kiara, Dad. Aku ke Italia pergi sendiri bersama sekertarisku Amanda, karena ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan di sana," ujar Edwin. "Daddy kira kau akan honeymoon, tapi jika kau ingin sekalian ingin honeymoon tidak apa-apa," goda Victor, Edwin mendengkus. Malam harinya, "Tidak, Dad. Sudahlah, Edwin berangkat sekarang." Edwin segera pergi setelah berpamitan kepada Victor. Victor menggelengkan kepalanya melihat putranya Edwin. Kiara sedang sibuk membuat kue, tadi siang ia sudah meminta izin Victor untuk membuat kekacauan sebentar pada dapur, dan beruntung Victor mengizinkannya. Serta membebaskannya. Menjadikan Kiara senang, la bisa mengisi kekosongannya. Berkreasi dengan kesukaannya. "Paula, cobalah kue ini. Apakah rasanya sudah pas?" Kiara memberikan kue di tangannya kepada Paula. Wanita paruh baya itu mengambilnya, dan mencicipinya. "Wah, rasanya sangat enak. Nona, kau benar- benar pintar memasak," puji Paula, Kiara terkekeh. "Jangan memujiku terlalu berlebihan seperti itu, nanti kepalaku jadi sangat besar, canda Kiara, Paula tertawa di buatnya. "Apakah sudah selesai semuanya, Nona? Lalu untuk apa kue sebanyak ini nantinya? Apakah Nona akan menjualnya?" tanya Paula, Kiara menggeleng. "Tidak, aku ingin membaginya ke panti asuhan yang biasanya aku datangi. Aku sudah berjanji kepada adik-adik di sana untuk membuatkan kue- kue ini," ucapnya dengan senyum mengembang di bibirnya. Paula turut tersenyum, la merasa terharu dengan pribadi Kiara. "Anda sangat baik, Nona," puji Paula kembali. Setelahnya, Paula dan Kiara menata kue-kue tersebut ke dalam wadah dan memasukkannya ke dalam paper bag. Kemudian, Paula pergi ke pavilliun para maid, sementara Kiara masih meneguk air dingin. Tak lama kemudian, Kiara melangkah keluar dari dapur. Gadis itu mengeratkan tali pada jubah tidurnya, ia melangkah menuju kamarnya. Ketika tiba di depan lift, Kiara melihat sosok Victor. "Dad ... hhmmpptthhh," Kiara tidak dapat melanjutkan ucapannya, ia juga melotot saat Victor dengan tidak sopannya mencium bibirnya. Kiara memberontak, namun Victor semakin menahan tubuhnya. Bahkan kini pria itu menggendong Kiara seperti karung beras. Membawanya pergi ntah kemana. "Daddy! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" Kiara memukul punggung Victor, gadis itu merasa ketakutan dengan Victor yang seperti ini. "Daddy, turunkan Kiara. Kiara mohon," pinta Kiara, gadis itu sudah menangis. Rasa khawatir menyeruak ke dalam benaknya saat Victor membawanya ke dalam kamar pribadi pria itu, Victor menguncinya. Kemudian membawa Kiara ke ranjang, ia menghempaskan Kiara di atas ranjang. Tidak sakit, tapi cukup membuat Kiara meringis. "Dad, apa yang kau lakukan? Sadarlah aku istri Edwin! Kau sedang mabuk!" pekik Kiara, bau alkohol tercium menyengat di hidungnya. Kiara terus meraung, namun Victor seakan-akan menulikan telinganya. Pria itu melumat bibir Kiara, mengunci tubuh berontak Kiara. "Kau sangat cantik, Kia. Rasanya aku tidak tahan sekali, oh fuck!" Victor menggeram, pria yang tengah mabuk itu mulaii melewati batasannya, ia menyentuh Kiara dan membuat Kiara terus menangis memberontak. "Dad, sadarlah. Aku istri putramu," ucapnya dengan suara bergetar, ia menggigit bibir bawahnya saat Victor memainkan miliknya. Kiara terus berusaha melepaskan diri dari kungkungan Victor, namun percuma. Apa yang tidak seharusnya terjadi—pada akhirnya terjadi. Victor merenggut kesuciannya, kesucian yang selama ini ia jaga. Pria itu dengan tidak berdosanya menggeram, dan mengerang dalam setiap hujaman, serta hentakkan yang ia lakukan. Kiara sendiri terus meneteskan air matanya, ia merasakan jijik dan hina. Bagaimana bisa Victor menodainya. Malam ini, adalah malam kelam yang membuat Kiara merasakan kehancuran. "Oh shit! Kau membuatku gila, Kia." Victor menghentakkan miliknya, ia menyemburkan cairan cintanya untuk kesekian kalinya di dalam rahim Kiara. ***"No."My answer was simple and firm.Vivian stared. "What?""I don't love him anymore," I said calmly, looking at her. "Not at all."The room was dead silent.Vivian suddenly broke down, tears streaming."You don't understand! It's not just about the Alpha position!" she cried. "The Elder Council said if the pack is destroyed, Ethan will be permanently banished! He'll lose all territory, become a rogue wolf!"Ethan’s face grew even paler."And..." Vivian sobbed, "I spent most of the pack treasury...""What?" Elder Grace shot up, horrified."All those jewels, those trips, those luxury items..." Vivian cried harder. "I thought being Luna would cover those expenses, but now...""How much did you spend?" Ethan’s voice trembled."Eight hundred thousand dollars," Vivian whispered.A wave of angry shouts erupted in the room."Eight hundred thousand?" Marcus roared. "That was our emergency fund for three years!""I'll pay it back!" Vivian shrieked. "Once things settle down, I'll pay it back!"
"Sophia, I know you're still angry, but..." Ethan started."Angry?" I scoffed. "Ethan, you think what I'm feeling right now is anger?"He looked taken aback. "Then what is it?""Indifference," I said calmly. "I'm completely indifferent to your pack.""That's impossible!" Ethan said, agitated. "This is your home, we're your family!""Family?" I scanned the room. "When I needed support, where was this family?"Everyone looked down."Sophia, we admit we were wrong," Elder Grace said. "But now isn't the time to settle personal grudges. The whole pack is facing extinction!""Personal grudges?" I walked towards her. "Elder Grace, you think betrayal and deception are just 'personal grudges'?""I didn't mean it like that...""You run this pack into the ground, and then you expect me to save it." I cut her off. "Do you think I'm obligated to do that?""What good does it do you if the pack falls apart?" Ethan asked angrily. "These people are innocent!"I looked at him and couldn't help but laugh
After Sarah's wedding, it was ten PM by the time I got back to my apartment.Eighteen missed calls on my phone, all from Ethan.And a string of texts:"Sophia, we need to talk.""The pack's situation is getting worse.""Blood Moon pack sent an ultimatum this afternoon. We have 48 hours to hand over the territory.""Silver Fang pack sent people too. They're demanding immediate surrender.""Sophia, I know you're still mad, but this isn't the time to be stubborn.""Answer me! That's an order!"That last message really set me off.An order?I blocked his number straight away.The next morning, I was drinking coffee when the doorbell rang.I looked through the peephole. Marcus and Elder Grace were outside.I opened the door. "What can I do for you?""Sophia, we need to talk," Elder Grace said, looking exhausted. "About the pack's future.""I've already said, pack business has nothing to do with me.""But things are really serious now," Marcus said urgently. "It's not just Blood Moon and Sil
Ethan's voice, laced with Alpha command, boomed behind me.I stopped and slowly turned around."You think your Alpha command still works on me?" I sneered. "We broke the mate bond, remember?"Ethan's face changed, and he reined in his aura. "That's not what I meant...""Then what did you mean?" I looked him straight in the eye. "Using your Alpha power to force your ex-mate to obey?""I just want you to think about the pack!" Ethan's voice rose. "You can't be this selfish! So many lives are on the line, and you only care about some human's wedding?""Selfish?" His words ticked me off. "Ethan, who are you to call me selfish?"Vivian walked over then, looking smug. "That's right. As the former Luna, you have to help the pack through this crisis. It's your duty!""Duty?" I looked at Vivian. "Excuse me, current Luna, that's your duty, not mine.""But I don't know how..." Vivian said, as if it were obvious."That's your problem," I cut her off. "If you don't know how, then learn. If you're n


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore