로그인Pagi yang tenang menyelimuti Mansion Vance.Sinar matahari perlahan menyelinap di sela-sela tirai kamar Eira, membangunkannya dari tidur yang panjang. Ia membuka mata dengan perlahan. Entah mengapa, tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan biasanya.Eira menarik napas dalam-dalam. Dada yang hampir setiap pagi terasa sesak kini justru lapang. Jantungnya berdetak stabil tanpa rasa nyeri yang selama ini telah menjadi bagian dari rutinitasnya setiap bangun tidur.Ia terdiam beberapa saat."Aneh..."Namun Eira tidak ingin buru-buru menyimpulkan apa pun. Mungkin saja tubuhnya hanya sedang berada dalam kondisi yang lebih baik.Rambut panjangnya sedikit mengembang akibat semalaman bergesekan dengan bantal. Meski begitu, wajahnya tetap tampak bersih dan cantik, memperlihatkan sisi sederhana seorang perempuan yang baru saja bangun tidur, jauh dari kesan anggun yang selalu melekat padanya di hadapan orang lain.Sementara itu, di ruang makan...Alverine sudah bangun sejak pukul enam pagi.D
Alverine berlari kecil menghampiri mereka sambil mengangkat mahkota bunga yang baru selesai dirangkainya."Papa! Dame! Lihat!"Mahkota kecil dari bunga moryn itu seketika memecah keheningan yang sempat menyelimuti taman.Raven tersenyum hangat. "Cantik sekali."Ia mengambil mahkota itu, lalu menyematkannya perlahan di atas kepala Alverine. "Pas sekali untuk putri kecil kita."Alverine terkikik senang."Alverine." Rhys mengulurkan tangannya. "Ayo, kita pulang."Alverine segera menggenggam tangan ayahnya, meski wajahnya sedikit mengerucut."Cepat sekali kita pulang." Ia mendongak kepada Raven. "Padahal sekarang kita sudah jarang main ke istana. Benar, kan, Dame?"Raven mengangguk kecil. "Benar."Alverine lalu meraih tangan Raven yang lain sehingga ia berjalan di tengah-tengah kedua orang dewasa itu."Di mana Mami Eira dan Tuan Garrick?""Mereka sudah menunggu di mobil," jawab Raven lembut.Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan setapak menuju halaman depan istana.Sepanjang perjalanan,
"Mungkin..."Velian mengembuskan napas panjang. "...memang sudah sebaiknya kita menjalani kehidupan di Morwenia sebagaimana adanya." Tatapannya kosong menembus pantulan cermin. "Semakin lama, aku semakin kehilangan harapan untuk kembali ke duniaku."Eira menggeleng pelan. "Lalu bagaimana dengan nasib kita?" Tatapannya tak beralih dari Velian. "Kedatanganmu ke dunia ini bukan sebuah kebetulan." Napasnya terasa berat. "Aku bisa menerima jika kehadiranmu ternyata tidak mampu mencegah kematianku." Ia berhenti sejenak."Tapi... jangan biarkan aku mati dengan cara yang sama." Suara Eira mulai bergetar. "Kehidupan pertamaku di Morwenia sudah berakhir. Kalau pada akhirnya aku harus mengalami kematian yang sama, untuk apa aku dihidupkan kembali?"Tak ada satu pun jawaban yang mampu ia berikan. Penulis itu benar-benar kehilangan arah atas cerita yang pernah ia ciptakan. Keheningan menggantung cukup lama.Eira akhirnya mengembuskan napas pelan, lalu berbalik meninggalkan kamar kecil. Ia membuka
Putra Mahkota Lucien meminta izin meninggalkan ruang perundingan sejenak melalui pintu samping.Di luar ruangan, seorang pengawal segera memberi hormat."Bawakan beberapa mainan anak-anak... dan es krim rasa stroberi.""Siap, Yang Mulia."Tanpa bertanya lebih jauh, pengawal itu segera berlalu.Tak sampai beberapa menit kemudian, ia kembali bersama sebuah kotak berisi balok susun kayu berukuran kecil dan semangkuk es krim stroberi.Mainan itu diletakkan di atas meja tepat di hadapan Alverine.Mata gadis kecil itu langsung berbinar. "Wah..."Tanpa diminta, Dame Raven membantu membuka kotak mainan, sementara Dylen duduk di sisi satunya, sesekali membantu Alverine menyusun balok-balok kecil menjadi sebuah gedung tinggi sesuai contoh pada buku panduan.Di sela-sela permainan, Raven menyuapkan sesendok es krim stroberi setiap kali Alverine membuka mulut kecilnya sambil tetap asyik bermain.Suasana ruang perundingan yang semula tegang perlahan berubah jauh lebih hangat.Lucien memperhatikan
Jemari Rhys mengetuk pelan permukaan meja kayu. Berulang. Tanpa irama. Sudah beberapa kali ia mencoba menghentikan kebiasaan itu, tetapi pikirannya jauh lebih gaduh daripada yang terlihat di wajahnya. Baru beberapa menit ia meninggalkan Eira berbicara berdua dengan Putra Mahkota Lucien. Namun, kecemasannya tumbuh jauh lebih cepat daripada waktu yang berlalu. Bukan karena ia mencurigai Eira. Dan bukan pula karena ia meragukan Lucien. Yang membuatnya gelisah adalah isi percakapan mereka. Ada terlalu banyak hal yang tidak diketahui Rhys. Garrick, yang berdiri di belakangnya, memperhatikan jemari Duke itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia mengenal kebiasaan Rhys. Semakin cepat ketukan jemarinya, semakin sulit pria itu mengendalikan pikirannya. Tinggal menunggu waktu. Entah Rhys akan memintanya menjemput Eira... atau memilih pergi sendiri. Benar saja. Rhys tiba-tiba berdiri. "Saya permisi." Tanpa menunggu tanggapan siapa pun, ia melangkah ke luar dari ruang perundinga
"Kalau begitu," ujar Raja Aethelred IV sambil bangkit dari singgasananya, "selagi menunggu Alverine tiba, mari kita lanjutkan pembicaraan di ruang perundingan."Tak lama kemudian, Raja, Ratu, dan Putra Mahkota berdiri hampir bersamaan. Para pengawal segera membuka pintu menuju ruang perundingan, sementara para pelayan bersiap mengiringi langkah keluarga kerajaan.Rhys hendak mengikuti mereka. Namun, jemarinya tiba-tiba disentuh pelan.Ia menoleh. Eira menggenggam lengan jasnya dengan lembut. Tatapannya kemudian beralih kepada Raja."Yang Mulia..."Raja menghentikan langkahnya dan menoleh."Sebelum kita menuju ruang perundingan..." Eira menundukkan kepala sejenak sebagai bentuk hormat. "Izinkan saya berbicara sebentar dengan Yang Mulia Putra Mahkota."Rhys menatap Eira dengan heran. Ia tidak menyangka Eira akan meminta hal itu secara langsung. Lucien sendiri tetap tenang, seolah telah menduga permintaan tersebut.Raja Aethelred mengamati wajah Eira beberapa saat sebelum akhirnya mengan
“Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa
Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa
Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny
Pundak Rhys tak setegang biasanya, seolah bersiap mendengar permintaan Eira. “Jika ingin bepergian, bawa saya atau Garrick untuk menemani.” Velian hampir mendengus. Bukankah sama saja? Rhys dan Garrick bagai pinang dibelah dua. “Kalau sendiri, tidak boleh?” tanyanya hati-hati. “Jika kamu ping







