/ Romansa / Alur Baru Sang Selir Ketiga / Chapter 108: Di Luar Prediksi

공유

Chapter 108: Di Luar Prediksi

작가: KIKHAN
last update 게시일: 2026-07-29 15:57:05

Putra Mahkota Lucien meminta izin meninggalkan ruang perundingan sejenak melalui pintu samping.

Di luar ruangan, seorang pengawal segera memberi hormat.

"Bawakan beberapa mainan anak-anak... dan es krim rasa stroberi."

"Siap, Yang Mulia."

Tanpa bertanya lebih jauh, pengawal itu segera berlalu.

Tak sampai beberapa menit kemudian, ia kembali bersama sebuah kotak berisi balok susun kayu berukuran kecil dan semangkuk es krim stroberi.

Mainan itu diletakkan di atas meja tepat di hadapan Alverine.

Ma
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 108: Di Luar Prediksi

    Putra Mahkota Lucien meminta izin meninggalkan ruang perundingan sejenak melalui pintu samping.Di luar ruangan, seorang pengawal segera memberi hormat."Bawakan beberapa mainan anak-anak... dan es krim rasa stroberi.""Siap, Yang Mulia."Tanpa bertanya lebih jauh, pengawal itu segera berlalu.Tak sampai beberapa menit kemudian, ia kembali bersama sebuah kotak berisi balok susun kayu berukuran kecil dan semangkuk es krim stroberi.Mainan itu diletakkan di atas meja tepat di hadapan Alverine.Mata gadis kecil itu langsung berbinar. "Wah..."Tanpa diminta, Dame Raven membantu membuka kotak mainan, sementara Dylen duduk di sisi satunya, sesekali membantu Alverine menyusun balok-balok kecil menjadi sebuah gedung tinggi sesuai contoh pada buku panduan.Di sela-sela permainan, Raven menyuapkan sesendok es krim stroberi setiap kali Alverine membuka mulut kecilnya sambil tetap asyik bermain.Suasana ruang perundingan yang semula tegang perlahan berubah jauh lebih hangat.Lucien memperhatikan

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 107: Suara yang Menentukan

    Jemari Rhys mengetuk pelan permukaan meja kayu. Berulang. Tanpa irama. Sudah beberapa kali ia mencoba menghentikan kebiasaan itu, tetapi pikirannya jauh lebih gaduh daripada yang terlihat di wajahnya. Baru beberapa menit ia meninggalkan Eira berbicara berdua dengan Putra Mahkota Lucien. Namun, kecemasannya tumbuh jauh lebih cepat daripada waktu yang berlalu. Bukan karena ia mencurigai Eira. Dan bukan pula karena ia meragukan Lucien. Yang membuatnya gelisah adalah isi percakapan mereka. Ada terlalu banyak hal yang tidak diketahui Rhys. Garrick, yang berdiri di belakangnya, memperhatikan jemari Duke itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia mengenal kebiasaan Rhys. Semakin cepat ketukan jemarinya, semakin sulit pria itu mengendalikan pikirannya. Tinggal menunggu waktu. Entah Rhys akan memintanya menjemput Eira... atau memilih pergi sendiri. Benar saja. Rhys tiba-tiba berdiri. "Saya permisi." Tanpa menunggu tanggapan siapa pun, ia melangkah ke luar dari ruang perundinga

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 106: Penjaga Batas Dua Dunia

    "Kalau begitu," ujar Raja Aethelred IV sambil bangkit dari singgasananya, "selagi menunggu Alverine tiba, mari kita lanjutkan pembicaraan di ruang perundingan."Tak lama kemudian, Raja, Ratu, dan Putra Mahkota berdiri hampir bersamaan. Para pengawal segera membuka pintu menuju ruang perundingan, sementara para pelayan bersiap mengiringi langkah keluarga kerajaan.Rhys hendak mengikuti mereka. Namun, jemarinya tiba-tiba disentuh pelan.Ia menoleh. Eira menggenggam lengan jasnya dengan lembut. Tatapannya kemudian beralih kepada Raja."Yang Mulia..."Raja menghentikan langkahnya dan menoleh."Sebelum kita menuju ruang perundingan..." Eira menundukkan kepala sejenak sebagai bentuk hormat. "Izinkan saya berbicara sebentar dengan Yang Mulia Putra Mahkota."Rhys menatap Eira dengan heran. Ia tidak menyangka Eira akan meminta hal itu secara langsung. Lucien sendiri tetap tenang, seolah telah menduga permintaan tersebut.Raja Aethelred mengamati wajah Eira beberapa saat sebelum akhirnya mengan

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 105: Suara yang Belum Didengar

    Ratu Isolde VI memandang Rhys dengan sorot mata penuh perhatian. "Bagaimana keadaan Alverine sekarang, Rhys?""Syukurlah, kami semua dalam keadaan baik, Yang Mulia. Tidak ada korban maupun luka serius."Ratu mengembuskan napas lega. "Itu kabar yang menenangkan."Raja Aethelred IV menyandarkan punggungnya pada singgasana. "Namun kejadian semalam tetap tidak bisa dianggap sepele." Tatapannya bergantian mengarah kepada Rhys, Eira, lalu Dylen. "Sudah berabad-abad Morwenia tidak menyaksikan kebangkitan inti magis pada usia sedini itu."Ia berhenti sejenak. "Terlebih lagi ... energi yang bangkit adalah energi keemasan."Keheningan memenuhi ruang audiensi. Tak seorang pun menyela.Raja melanjutkan dengan nada yang lebih tenang. "Orang-orang yang berada di ruangan ini bukan orang biasa." Pandangan beliau beralih kepada Rhys dan Garrick. "Kalian berdua adalah pedang Kerajaan Morwenia."Kemudian kepada Dylen. "Sedangkan kau mewakili Akademi Marindor."Terakhir, tatapannya berhenti pada Eira. "D

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 104: Di Hadapan Takhta

    Alverine berdiri di depan cermin kamarnya.Dengan wajah penuh konsentrasi, ia memperagakan kembali setiap gerakan yang pernah diajarkan Serina. Kedua telapak tangannya terangkat perlahan, lalu bergerak mengikuti alur yang masih ia ingat.Tak lama kemudian, cahaya keemasan perlahan muncul dari telapak tangannya.Energi itu mengalir lembut, berputar membentuk pusaran kecil yang memantulkan kilau hangat di permukaan cermin."Alvie?"Suara lembut dari balik pintu membuat Alverine tersentak.Refleks, ia segera menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung. Cahaya keemasan itu pun menghilang seketika.Saat menoleh, ia mendapati Dame Raven tengah berdiri di ambang pintu sambil menatapnya dengan senyum tipis."Ma ... maaf, Dame." Suara Alverine terdengar gugup. "A-aku hanya ... ingin mencoba lagi."Raven menggeleng pelan. "Tidak ada yang perlu kau minta maaf."Ia melangkah menghampiri Alverine, lalu menggenggam lembut tangan mungil gadis itu dan mengajaknya duduk di tepi kasur. Tatapannya

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 103: Serahkan Padaku

    Rapat berakhir tanpa keputusan mengenai masa depan Alverine.Namun satu hal telah dipastikan.Rhys mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Besok pagi saya akan pergi ke istana."Tak seorang pun terkejut mendengarnya.Mereka tahu, cepat atau lambat, pertemuan itu memang harus terjadi.Eira mengangkat wajah, menatap Rhys dengan tenang. "Jika berkenan ... aku ingin ikut bersamamu."Rhys belum sempat menjawab. Dame Raven menyela lebih dulu, "Bawa Eira bersamamu, Rhys."Semua mata beralih kepadanya.Raven melipat kedua tangannya di atas pangkuan. "Lebih baik Eira hadir langsung daripada istana hanya mendengar cerita dari laporan orang lain."Leona mengangguk pelan. Ia memahami maksud Raven tanpa perlu dijelaskan lebih jauh.Jika Rhys datang seorang diri, bukan hanya laporan yang akan dibawa ke hadapan Raja Aethelred.Dengan wataknya yang keras dan selalu melindungi keluarga, sangat mungkin pertemuan itu berubah menjadi adu pendapat apabila keputusan istana bertentangan dengan

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 6: Rhys Menghunuskan Pedang

    “Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 5: Velian Mengubah Cerita

    Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 2: Masuk ke Tubuh Selir Ketiga

    “Nona Eira.” Mata masih terpejam, Velian merasa seperti ada yang memanggil. “Nona Eira.” Suara itu terdengar lagi. Velian sudah terbiasa mimpi tokoh-tokoh dari novelnya. Biasanya pertanda sudah siang, seakan-akan mereka membangunkannya. Dengan malas, ia membuka mata. Seketika terkejut, buru

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 1: Kerajaan Morwenia

    Sebuah negeri di ujung peta dunia berdiri dengan megah: Morwenia. Rakyatnya hidup tenteram di bawah naungan istana, tunduk sepenuhnya pada aturan kerajaan. Negeri itu dipimpin oleh Raja Aethelred IV dan Ratu Isolde VI, pasangan penguasa yang dikenal bijaksana sekaligus berwibawa. Di tangan mereka,

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status