Share

Petaka Daging Rusa

Author: Ida Ann
last update publish date: 2026-08-10 23:36:41

Hari berganti, Arga Adiwangsa sangat menikmati keberadaannya di Kedaton Amartapura. Sang kakak pun menepati janjinya untuk berburu bersama di hutan belakang kompleks kedaton Amartapura. Mereka berangkat di pagi buta, dan kembali setelah menjelang sore.

Arga Adiwangsa tersenyum sumringah saat keluar dari hutan itu dengan membawa seekor rusa dewasa dan beberapa ekor kelinci. Bahkan dua diantaranya masih hidup. Sultan Panji yang mengikutinya dari belakang menatap jengah. Pasalnya, ia sudah sering
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Amartapura : Cinta di balik Dinding Keputren   Senandung Malam di Bilik Sedayu

    Malam itu, awan di atas kompleks Astana Keputren Amartapura menggantung rendah, menciptakan siluet kabut tipis di permukaan tanah. Di dalam peraduannya, Mayang Guritno berdiri di depan cermin besar, mematut bayangannya sendiri dengan senyuman mengembang di sudut bibirnya.Ia mengenakan kebaya panjang merah marun. Bibirnya dipoles gincu dengan warna senada, mencorong tajam di bawah pendar lampu minyak. Sentuhan terakhir yang ia bubuhkan adalah minyak wangi yang dirancang khusus untuk memikat indra dan membakar hasrat pria mana pun yang menghirupnya.Dengan langkah anggun, Mayang berjalan membelah koridor sunyi menuju Bangsal Prabayasa. Setibanya di sana, pintu utama telah terbuka menyambutnya. Di ruang tamu, Sultan Panji Adiwangsa duduk tegak mengenakan jubah santai, di hadapannya tersaji secangkir teh herbal hangat dan hidangan makan malam sederhana. Melihat kehadiran Mayang, Sultan Panji bangkit berdiri, menyunggingkan senyuman ramah yang tampak begitu hangat."Kau datang tepat waktu

  • Amartapura : Cinta di balik Dinding Keputren   Undangan di Balik Bayangan

    Pagi yang cerah mengantarkan perjalanan Mayang Guritno ke kompleks Astana Keputren Kesultanan Amartapura dari kadipaten Jayasentani. Ia membawa sebuah misi penting dari sang ayah untuk menjadi mata dan telinga dalam kedaton Amartapura. Dengan penuh tekad, ia yakin akan bisa menjalankan misi itu dengan baik.Langkah kakinya yang anggun menimbulkan suara ketukan pelan di atas ubin batu, diiringi oleh Ratih yang membawa beberapa barang pribadi junjungannya itu. Mereka melangkah bersama menuju kompleks astana keputren tanpa pengawalan seperti biasanya.Demi menjaga keamanan putrinya dan mengaburkan jejak kecurigaan Sultan Panji atas keterlibatan Kadipaten Jayasentani dalam kerusuhan di perbatasan, Adipati Jayasentani memang sengaja memerintahkan Mayang untuk segera pulang begitu sisa laskar bayaran ditarik mundur ke wilayah barat. Kepulangan itu bukan sekadar pelarian, melainkan siasat senyap: menaruh mata dan telinga langsung di jantung kekuasaan musuh.Namun, yang tidak diketahui oleh M

  • Amartapura : Cinta di balik Dinding Keputren   Adu Siasat Adu Strategi

    Malam itu, di bawah pendar bulan sabit yang tertutup awan kelam, barisan pasukan telik sandi Kesultanan Amartapura telah berkumpul di pelataran belakang Bangsal Kencono. Di hadapan mereka, Senopati Cakra Wisesa berdiri tegak mengenakan pakaian sederhana berwarna gelap, memegang hulu keris pusaka di pinggangnya. “Malam ini juga kita berangkat dalam senyap. Kita akan melalui jalur rahasia di malam hari, dan menyamar sebagai rombongan pedagang di siang hari. Dengan begitu, para mata-mata yang mungkin mengawasi pergerakan dari Kedaton Kabutgiri akan terkecoh. Apa perlengkapan yang tadi kusebutkan sudah siap?” Ucap Senopati Cakra Wisesa pelan namun sarat dengan ketegasan.“Semua perbekalan dan perlengkapan penyamaran telah siap, Gusti Senopati.” Jawab salah satu prajurit yang berada paling depan.“Hm … bagus. Jika begitu, ayo, semuanya segera berangkat!” Titah Cakra Wisesa penuh semangat."Sendika, Senopati!" jawab barisan pasukan elit itu serempak.Pagi buta menjelang fajar menyingsing,

  • Amartapura : Cinta di balik Dinding Keputren   Siasat di Balik Dua Dinding Istana

    Pendar lampu minyak di ruang kerja pribadi Bangsal Kencana memancarkan bayangan-bayangan besar yang menari di dinding kayu jati. Kursi-kursi yang mengelilingi meja peta telah terisi penuh oleh para perwira tinggi dan pemangku kebijakan militer Kesultanan Amartapura.Beberapa saat sebelum pintu ditutup rapat, Raras Anjani telah bangkit dari duduknya. Sebagai seorang Permaisuri Agung, ia tahu persis batasan tatanan kedaton; tidaklah elok bagi seorang ratu berlama-lama duduk di tengah ruangan sempit yang dipenuhi oleh para petinggi pria, terlebih di saat genting yang menuntut strategi militer yang keras. Ide dan gagasan cemerlangnya mengenai pemutusan jalur logistik dan pendekatan rakyat telah diserahkan sepenuhnya kepada Tumenggung Catur Wikrama, yang mencatatnya rapi di atas lembaran kertas yang sedianya memang digunakan untuk mencatat jalannya rapat nanti.Kini, di dalam ruang tertutup itu, Sultan Panji Adiwangsa duduk tegak di kursinya, ditemani oleh Catur Wikrama yang berdiri di sam

  • Amartapura : Cinta di balik Dinding Keputren   Strategi Pertahanan

    Pendar temaram lampu minyak menyinari ruang kerja pribadi Sultan Panji di dalam Bangsal Kencono. Sultan Panji Adiwangsa duduk tegap di balik meja jati, wajahnya tampak muram di bawah sorot lampu yang menari-nari. Di hadapannya, Tumenggung Catur Wikrama duduk mematung dengan punggung sedikit membungkuk, menatap sang junjungan dengan raut wajah yang tak kalah suram.Beberapa langkah dari mereka, Raras Anjani berdiri terpaku di dekat jendela besar yang terbuka. Wanita itu membiarkan angin malam menerpa selendang hijau zamrud yang menutupi sebagian rambutnya, sementara matanya menatap kosong hamparan bintang-bintang yang bertabur di langit Amartapura.“Telik sandi kita melaporkan bahwa pergerakan laskar bayaran di wilayah selatan dikoordinasikan langsung oleh orang kepercayaan Adipati Jayasentani, Gusti,” tutur Catur Wikrama memecah keheningan, jemarinya mengetuk pelan gulungan peta di atas meja. “Jika kita langsung mengerahkan pasukan besar-besaran ke sana, fraksi barat akan memanfaatkan

  • Amartapura : Cinta di balik Dinding Keputren   Bayang-Bayang Pemberontakan

    Kebersamaan di meja makan pribadi Gusti Ayu Retno Halimah pagi itu menutup kunjungan mereka di Keraton Plered dengan keadaan yang jauh lebih tenang dari perkiraan. Menjelang siang, selepas salat Duhur, Sultan Panji Adiwangsa dan Raras Anjani menghadap sekali lagi ke Bangsal Manguntur Tangkil untuk pamit. Sultan Agung Mangkunegara tidak menjatuhkan hukuman apa pun; teguran lisan yang tegas dari sang Sultan Agung telah usai, disusul dengan petuah-petuah bijak dari Gusti Kanjeng Ratu Sekarsari agar pasangan muda itu memimpin Amartapura dengan kepala dingin dan kebijaksanaan penuh.Perjalanan pulang menembus jalur utara menuju Amartapura berlangsung mulus tanpa hambatan berarti. Setelah beberapa hari perjalanan yang stabil, roda kereta kencana berukir emas itu akhirnya memasuki gerbang Prajanala.Raras langsung kembali ke kompleks astana keputren dan memasuki bilik Sedayu. Mbok Lasmi yang sore itu tengah menata kain-kain di sudut ruangan segera datang menyambut. Tak lupa untuk meminta Sar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status