Share

Bab 3

Author: Tinta Hitam
last update publish date: 2026-06-29 12:44:29

"Ka ... Kak, halo..."

Suara Silvia terdengar begitu lirih, nyaris tak terdengar karena rasa sakit. Jemarinya gemetar menggenggam ponsel, sementara tubuhnya bersandar lemah di dinding dekat ranjang tempat bayinya sedang tertidur pulas.

Di seberang telepon, suara seorang pria terdengar hangat sekaligus penuh semangat.

"Silvi! Akhirnya kamu angkat juga. Kakak sebentar lagi sampai Jakarta. Paling besok pagi sudah mendarat. Kamu siap-siap, ya."

Silvia mengerutkan kening. "Siap-siap, untuk apa, Kak?"

Pria itu terkekeh kecil. "Akan ada banyak kejutan. Semua sudah kakak siapkan buat kamu. Kali ini kamu nggak boleh nolak bantuan kakak lagi. Hidupmu harus berubah."

Mata Silvia berkaca-kaca. Sudah lama ia tidak mendengar suara yang begitu tulus memedulikannya.

Di saat suaminya semakin menjauh, hanya kakaknya yang masih menganggap dirinya berharga.

Bibir Silvia bergetar. "Kak ...."

"Iya, Sil?"

"Tolong ... cepat datang ...."

Nada suaranya berubah semakin pelan. "Kak, aku ...."

Ucapan itu terputus. Pandangan Silvia mulai berkunang-kunang. Tubuhnya yang sejak pagi belum terisi makanan bergizi, ditambah kelelahan mengurus bayi seorang diri, akhirnya menyerah.

Ponsel yang digenggamnya terlepas.

Brak!

Tubuh Silvia roboh menghantam lantai.

"Silvia?"

Suara panik terdengar dari seberang telepon.

"Silvia! Jawab kakak!"

Tak ada jawaban.

"Silvia!"

Pria itu berdiri dari kursinya dengan wajah pucat.

"Silvia! Jangan bercanda! Silvia!"

Yang terdengar hanyalah suara napas bayi yang samar serta keheningan yang begitu menyesakkan.

"Silvia!!"

Tangannya mulai gemetar. Perasaannya tiba-tiba dipenuhi firasat buruk.

"Ya Tuhan, jangan sampai terjadi apa-apa dengan adikku."

Tanpa berpikir panjang, ia langsung menelpon asistennya yang ada di jakarta untuk mendatangkan ambulan kerumah Silvia.

****************

Sementara itu...

Jauh dari rumah tempat Silvia terbaring tak sadarkan diri...

Di sebuah tempat hiburan malam. Dentingan gelas saling beradu memenuhi ruangan. Musik keras mengalahkan suara tawa para pengunjung.

Hans duduk santai bersama Anggi serta dua sahabat lelakinya, Eko dan Dirga. Di atas meja berserakan botol-botol minuman.

Pipi Hans mulai memerah karena pengaruh alkohol. Ia tertawa lepas, seolah tak memiliki beban sedikit pun.

Anggi duduk sangat dekat di sampingnya.

Sesekali wanita itu menyandarkan kepala di bahu Hans.

Mereka terlihat begitu akrab. Eko mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.

"Hans!"

"Apa?"

"Kamu nggak pengin pulang?" tanyanya dengan nada mengejek.

Dirga ikut tertawa.

"Iya, istrimu pasti lagi nunggu di rumah."

Hans mendengus pelan. Ia meneguk minumannya hingga habis.

"Untuk apa pulang? Dia cuma bisa menyusahkan. Masih untung ku nikahi perempuan yatim piatu itu."

"Tuh, kan." Eko tertawa.

Hans menyandarkan tubuhnya ke kursi. Dengan mata setengah mabuk ia berkata tanpa sedikit pun rasa bersalah.

"Silvia itu udah nggak menarik lagi."

Anggi tersenyum tipis mendengar ucapan itu.

Hans melanjutkan dengan nada meremehkan. "Semenjak melahirkan, dia berubah total. Badannya nggak terurus. Wajahnya kusam. Pakaiannya juga selalu sederhana, bikin aku gak minat saja."

Dia berbicara dengan kesadaran penuh. Walau Hans sedang minum, tapi dia masih sadar apa yang diucapkannya.

"Setiap hari cuma sibuk sama bayi. Nggak pernah lagi dandan. Nggak pernah lagi merawat diri. Jujur aja, lihat dia sekarang bikin aku malas."

Ucapan itu disambut tawa keras Eko, Anggi dan Dirga. Seakan penderitaan Silvia adalah sebuah lelucon.

Hans lalu menoleh ke arah Anggi. Tatapannya berubah lembut. Tangannya perlahan mengusap pipi Anggi dengan penuh perhatian.

"Kalau Anggi beda."

Anggi menatap Hans sambil tersipu malu. " Kamu cantik. Selalu rapi. Pintar merawat diri. Makanya aku betah lihat kamu."

Pipi Anggi memerah. "Ah ... bisa aja, kamu Hans."

Hans tertawa kecil. "Serius."

CUP!

Hans mencium bibir Anggi, membuat wanita itu menahan lehernya dan mereka pun hanyut dalam pangutan yang cukup lama, seolah keduanya saling mencintai.

Eko langsung menimpali. "Ya jelaslah Anggi lebih cantik."

Ia melirik Anggi dari ujung kepala sampai kaki. "Lihat aja penampilannya. Rapi. Wangi. Enak dipandang. Sedangkan Silvia? Hahahaaa ..."

Eko menyeringai sinis. "Maaf ya ... tapi menurutku dia udah nggak menarik sama sekali. Udah miskin. Kakaknya saja di Luar Negeri cuma jadi tukang pencuci piring."

Dirga mengangguk setuju. "Bener. Kalau dipikir-pikir..." Ia menatap Hans lalu bergantian melihat Anggi. "Yang cocok berdiri di samping Hans itu Anggi, bukan Silvia."

Ucapan itu membuat semua orang di meja kembali tertawa. Hans bahkan menganggukkan kepala pelan.

Seolah membenarkan setiap kata yang baru saja keluar dari mulut sahabat-sahabatnya.

Anggi hanya menunduk malu sambil tersenyum puas, lalu dia mulai duduk diatas pangkuan Hans dan mereka kembali memadu kasih di hadapan Dirga dan Eko.

Baginya, semakin Hans membenci Silvia, semakin besar peluang dirinya untuk menggantikan posisi wanita itu.

Tak ada satu pun dari mereka yang sadar. Di saat mereka menikmati malam dengan gelak tawa, minuman, dan pujian yang menusuk hati seorang istri di rumah yang sunyi, Silvia masih tergeletak tak sadarkan diri di atas lantai.

Wajahnya semakin pucat. Napasnya terdengar semakin pelan. Sementara bayi kecilnya mulai terbangun dari tidur. Tangisan mungil itu memenuhi ruangan.

"Uwaaa... uwaaa..."

Bayi itu menangis mencari pelukan ibunya.

Namun wanita yang biasanya selalu sigap menggendongnya kini tak mampu bergerak sedikit pun.

Tangisan itu semakin keras. Menggema di seluruh rumah. Tetapi tidak ada yang datang. Dan tanpa Hans sadari di balik tawa yang memenuhi meja minumnya malam itu, Istrinya sedang berjuang sendirian di ambang bahaya, sementara malaikat kecil mereka menangis tanpa tahu kepada siapa ia harus meminta pertolongan.

"Rasakan kau Silvia," bisik Anggi dalam hatinya dengan puas sambil mencium bibir Hans.

"Itu adalah karma karena kau sudah kurang ajar padaku! Tidak akan ku biarkan Hans kembali padamu."

****************

"Aaaakhhh ..."

Suara itu terdengar samar, seolah ada rasa sakit yang masih tersisa.

Silvia mengerang pelan. Dadanya terasa sesak, seperti dihimpit batu besar. Napasnya berat, sementara seluruh tubuhnya dipenuhi rasa lemas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Perlahan, kedua matanya terbuka.

Langit-langit putih dengan lampu terang menyambut pandangannya. Bau obat-obatan yang khas langsung memenuhi indera penciumannya. Di samping ranjang terdengar bunyi mesin infus yang berdetak pelan.

Silvia mengernyit. "Rumah sakit?"

Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan bingung. "Aku kok bisa ada di sini?"

Tangannya yang tidak dipasang infus bergerak perlahan menyentuh dadanya yang masih terasa nyeri. Kepalanya berdenyut, lalu ingatan demi ingatan mulai kembali seperti kepingan kaca yang tersusun sedikit demi sedikit.

Beberapa jam sebelumnya ia menangis sendirian di rumah.

Tubuhnya menggigil karena kesakitan. Bayinya terus menangis tanpa henti, sementara dirinya sudah hampir kehilangan tenaga.

Dengan tangan gemetar ia menghubungi satu-satunya orang yang seharusnya menjadi tempat bergantung.

Hans.

...

Air mata kembali mengalir di sudut matanya ketika semua kenangan itu kembali memenuhi pikirannya.

"Jadi, Hans benar-benar tidak pulang."

Tiba-tiba...

Ting!

Suara notifikasi ponsel membuat lamunannya buyar. Dengan susah payah ia mengambil ponsel yang berada di atas nakas.

Sebuah pesan masuk.

> Silvia, apa kamu sudah sadar? Gimana keadaan kamu sekarang? Maaf kalau kakak telat menjenguk kamu, karena kakak baru saja mendarat di bandara. Semalam kakak yang menelepon ambulans setelah tetangga menghubungi kakak. Kakak minta mereka segera membawa kamu ke rumah sakit. Bertahan ya. Kakak akan segera ke sana.

Seketika bibir Silvia bergetar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh lagi. Namun kali ini bukan karena kecewa, melainkan karena merasa masih ada seseorang yang benar-benar mengkhawatirkannya.

Dia tersenyum kecil sambil memeluk ponselnya. "Aku kira Hans yang membawaku ke sini, ternyata bukan."

Bahkan dalam keadaan antara hidup dan mati pun, yang datang menyelamatkannya bukan suaminya sendiri.

Melainkan kakaknya yang bahkan sedang berada di luar negeri.

Ironis.

Begitu ironis.

Belum sempat Silvia menghapus air matanya, pintu kamar terbuka.

Ceklek.

BERSAMBUNG......

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ambil Saja Suamiku    Aah!

    Silvia menggeleng sambil tertawa. “Padahal yang bekerja keras bukan cuma aku.” "Tapi orang yang paling berjasa tetap kamu.” kelakar Leon. Setelah makanan tersaji, suasana berubah jauh lebih santai. Mereka mulai mengenang masa-masa sekolah dahulu. “Ingat waktu kamu pernah dihukum berdiri di depan kelas?” Silvia langsung tertawa. “Jangan diingat-ingat.” “Padahal waktu itu kamu yang paling rajin.” “Aku dihukum gara-gara membela teman.” Leon tertawa lepas. “Dan guru malah mengira kamu yang membuat keributan.” Silvia ikut tertawa hingga matanya sedikit menyipit. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawanya terdengar begitu lepas. Tanpa ia sadari, sejak tadi Leon tidak benar-benar fokus pada makanan. Tatapan pria itu justru terus tertuju kepada Silvia. Tatapan yang begitu dalam penuh kekaguman, Penuh rasa syukur dan menyimpan perasaan yang selama bertahun-tahun ia pendam sendirian. Namun Silvia sama sekali tidak menyadarinya. Ia masih sibuk menceritakan berbagai kenangan m

  • Ambil Saja Suamiku    Lepaskan!

    “Lepaskan!” Suara Silvia terdengar dingin disertai nada tegas. Tubuhnya refleks menegang ketika dua telapak tangan tiba-tiba menutup kedua matanya dari arah belakang. Berkas-berkas kerja sama yang baru saja ia rapikan hampir terjatuh karena rasa terkejut yang begitu mendadak. Ruangan yang sebelumnya dipenuhi kesibukan kini mulai lengang. Para tamu telah pulang, para staf sedang membereskan perlengkapan acara, sementara Silvia masih bertahan menyelesaikan pekerjaannya. Karena itu, sentuhan tiba-tiba itu membuat jantungnya berdetak jauh lebih cepat. Terdengar suara tawa kecil yang begitu akrab. “Hei, galak sekali. Baru juga bercanda.” Orang itu terkekeh pelan sebelum akhirnya melepaskan kedua tangannya dari wajah Silvia. Silvia segera membalikkan tubuhnya dengan wajah waspada. Namun sesaat kemudian ia mengembuskan napas panjang sambil memegang dadanya yang masih berdebar. “Ternyata kamu, Leon.” Ada nada lega yang begitu jelas dalam ucapannya. Dia pikir itu Hans, atau komplotann

  • Ambil Saja Suamiku    Ingin Bertemu

    "Aku---" Belum sempat Anggi menjawab, Mama Novi malah tertawa kecil.Plak.Ia memukul pelan lengan putra sulungnya. "Dasar anak ini. Kamu lupa? Itu Anggi, teman kecil Hans. Dulu kamu juga sering bermain bersama dia. Bahkan kamu yang paling sering melindunginya kalau ada anak-anak nakal mengganggu."Sony memejamkan mata beberapa detik.Ia mencoba mengingat wajah masa kecil yang mulai samar dalam ingatannya.Perlahan bibirnya membentuk senyum kecil. "Oh... Jadi kamu Anggi."Wanita itu tersenyum manis.Sony mengangguk pelan. "Sekarang kamu jauh lebih cantik. Pantas saja hampir tidak mengenalimu."Pujian itu terdengar tulus. Tanpa ada maksud lain. Namun senyum Anggi justru berubah menjadi sedikit berbeda.Ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Seolah ada maksud tersembunyi di balik lengkungan bibirnya."Aduh, Kak Sony terlalu berlebihan." Anggi terkekeh kecil. "Tapi memang sih, sejak dulu banyak pria yang tergila-gila sama aku. Jadi wajar saja kalau Kak Sony juga ikut terpikat."Ruangan mend

  • Ambil Saja Suamiku    Siapa Dia?

    Pintu rumah keluarga Wijaya terbuka perlahan.Suara langkah kaki yang tenang namun tegas menggema memenuhi ruang tamu yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.Sosok pria bertubuh tinggi dengan jas hitam sederhana memasuki ruangan itu. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, sorot matanya dingin namun tajam seolah mampu menembus kebohongan siapa pun yang berdiri di hadapannya.Aura yang dipancarkannya membuat seluruh isi ruangan mendadak membeku.Bahkan Hans yang sejak tadi tampak percaya diri mendadak berdiri dari duduknya.Pria itu menghentikan langkahnya tepat di tengah ruang tamu. Tatapannya berkeliling, mengamati satu per satu wajah yang berada di sana.Lalu dengan suara berat yang berwibawa, ia bertanya, "Siap yang ingin menghancurkan keluarga Wijaya?"Kalimat itu meluncur datar. Namun justru karena diucapkan dengan begitu tenang, setiap orang yang mendengarnya merasakan tekanan luar biasa.Hans menelan ludah. "K-Kak Sony ... kapan pulang?" tanyanya dengan mata membulat penuh kete

  • Ambil Saja Suamiku    Karena Kamu!

    Suasana ruang tamu kembali dipenuhi keheningan yang mencekam. Hanya terdengar suara napas mereka yang sama-sama berat.Beberapa saat kemudian Mama Novi kembali menatap Anggi. "Kalau kerja sama itu batal, bukankah masih bisa dibuat lagi?"Tatapannya penuh harapan. "Paman kamu bekerja di MH Group, kan? Bukankah dia bisa membantu lagi?"Namun harapan itu langsung dihancurkan oleh jawaban Anggi."Tidak mungkin." Suaranya lirih. Tetapi penuh kepahitan."Mungkin saja saat ini Paman sudah dipecat.""Apa?!" Mama Novi spontan mundur satu langkah.Seketika tubuhnya limbung. Wajahnya yang semula dipenuhi amarah kini berubah pucat pasi. Rasanya seluruh tenaga dalam tubuhnya seolah menghilang begitu saja.Bruk...Wanita paruh baya itu terduduk lemas di lantai. Tangannya gemetar menopang tubuhnya sendiri. Tatapannya kosong dan napasnya mulai memburu.Seolah berita yang baru saja didengarnya telah menghancurkan seluruh harapan yang selama ini ia bangun."D-dipecat?" Suara Mama Novi bergetar."Kenapa

  • Ambil Saja Suamiku    Hantaman

    "Brakkk!"Suara pecahan vas bunga menggema begitu keras di seluruh ruang tamu.Pecahan kaca berserakan di lantai marmer, sementara bunga-bunga yang semula tertata rapi kini terlempar ke segala arah."Wuaaa... huaaa..."Tangis bayi yang berada di gendongan Mama Novi langsung pecah. Bayi kecil itu terkejut mendengar suara benturan yang begitu keras hingga tubuh mungilnya bergetar."Astaga, Hans!" seru Mama Novi dengan wajah kaget sambil mengayun pelan tubuh bayi itu. "Kenapa baru pulang malah marah-marah begini? Bukannya kalian seharusnya senang? Bukannya hari ini perusahaan Wijaya berhasil bekerja sama dengan MH Group?"Hans berdiri membelakangi mereka.Kedua tangannya mengepal begitu erat hingga urat-urat di lengannya menonjol. Rahangnya mengeras, sementara napasnya terdengar berat, dipenuhi amarah yang belum juga mereda sejak meninggalkan gedung acara.Dengan suara kecut dan penuh kebencian, ia menjawab,"Kerja sama apa, Ma? Semuanya hancur! Semuanya kacau balau! Tidak ada satu pun y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status