로그인"Ka ... Kak, halo..."
Suara Silvia terdengar begitu lirih, nyaris tak terdengar karena rasa sakit. Jemarinya gemetar menggenggam ponsel, sementara tubuhnya bersandar lemah di dinding dekat ranjang tempat bayinya sedang tertidur pulas. Di seberang telepon, suara seorang pria terdengar hangat sekaligus penuh semangat. "Silvi! Akhirnya kamu angkat juga. Kakak sebentar lagi sampai Jakarta. Paling besok pagi sudah mendarat. Kamu siap-siap, ya." Silvia mengerutkan kening. "Siap-siap, untuk apa, Kak?" Pria itu terkekeh kecil. "Akan ada banyak kejutan. Semua sudah kakak siapkan buat kamu. Kali ini kamu nggak boleh nolak bantuan kakak lagi. Hidupmu harus berubah." Mata Silvia berkaca-kaca. Sudah lama ia tidak mendengar suara yang begitu tulus memedulikannya. Di saat suaminya semakin menjauh, hanya kakaknya yang masih menganggap dirinya berharga. Bibir Silvia bergetar. "Kak ...." "Iya, Sil?" "Tolong ... cepat datang ...." Nada suaranya berubah semakin pelan. "Kak, aku ...." Ucapan itu terputus. Pandangan Silvia mulai berkunang-kunang. Tubuhnya yang sejak pagi belum terisi makanan bergizi, ditambah kelelahan mengurus bayi seorang diri, akhirnya menyerah. Ponsel yang digenggamnya terlepas. Brak! Tubuh Silvia roboh menghantam lantai. "Silvia?" Suara panik terdengar dari seberang telepon. "Silvia! Jawab kakak!" Tak ada jawaban. "Silvia!" Pria itu berdiri dari kursinya dengan wajah pucat. "Silvia! Jangan bercanda! Silvia!" Yang terdengar hanyalah suara napas bayi yang samar serta keheningan yang begitu menyesakkan. "Silvia!!" Tangannya mulai gemetar. Perasaannya tiba-tiba dipenuhi firasat buruk. "Ya Tuhan, jangan sampai terjadi apa-apa dengan adikku." Tanpa berpikir panjang, ia langsung menelpon asistennya yang ada di jakarta untuk mendatangkan ambulan kerumah Silvia. **************** Sementara itu... Jauh dari rumah tempat Silvia terbaring tak sadarkan diri... Di sebuah tempat hiburan malam. Dentingan gelas saling beradu memenuhi ruangan. Musik keras mengalahkan suara tawa para pengunjung. Hans duduk santai bersama Anggi serta dua sahabat lelakinya, Eko dan Dirga. Di atas meja berserakan botol-botol minuman. Pipi Hans mulai memerah karena pengaruh alkohol. Ia tertawa lepas, seolah tak memiliki beban sedikit pun. Anggi duduk sangat dekat di sampingnya. Sesekali wanita itu menyandarkan kepala di bahu Hans. Mereka terlihat begitu akrab. Eko mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. "Hans!" "Apa?" "Kamu nggak pengin pulang?" tanyanya dengan nada mengejek. Dirga ikut tertawa. "Iya, istrimu pasti lagi nunggu di rumah." Hans mendengus pelan. Ia meneguk minumannya hingga habis. "Untuk apa pulang? Dia cuma bisa menyusahkan. Masih untung ku nikahi perempuan yatim piatu itu." "Tuh, kan." Eko tertawa. Hans menyandarkan tubuhnya ke kursi. Dengan mata setengah mabuk ia berkata tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Silvia itu udah nggak menarik lagi." Anggi tersenyum tipis mendengar ucapan itu. Hans melanjutkan dengan nada meremehkan. "Semenjak melahirkan, dia berubah total. Badannya nggak terurus. Wajahnya kusam. Pakaiannya juga selalu sederhana, bikin aku gak minat saja." Dia berbicara dengan kesadaran penuh. Walau Hans sedang minum, tapi dia masih sadar apa yang diucapkannya. "Setiap hari cuma sibuk sama bayi. Nggak pernah lagi dandan. Nggak pernah lagi merawat diri. Jujur aja, lihat dia sekarang bikin aku malas." Ucapan itu disambut tawa keras Eko, Anggi dan Dirga. Seakan penderitaan Silvia adalah sebuah lelucon. Hans lalu menoleh ke arah Anggi. Tatapannya berubah lembut. Tangannya perlahan mengusap pipi Anggi dengan penuh perhatian. "Kalau Anggi beda." Anggi menatap Hans sambil tersipu malu. " Kamu cantik. Selalu rapi. Pintar merawat diri. Makanya aku betah lihat kamu." Pipi Anggi memerah. "Ah ... bisa aja, kamu Hans." Hans tertawa kecil. "Serius." CUP! Hans mencium bibir Anggi, membuat wanita itu menahan lehernya dan mereka pun hanyut dalam pangutan yang cukup lama, seolah keduanya saling mencintai. Eko langsung menimpali. "Ya jelaslah Anggi lebih cantik." Ia melirik Anggi dari ujung kepala sampai kaki. "Lihat aja penampilannya. Rapi. Wangi. Enak dipandang. Sedangkan Silvia? Hahahaaa ..." Eko menyeringai sinis. "Maaf ya ... tapi menurutku dia udah nggak menarik sama sekali. Udah miskin. Kakaknya saja di Luar Negeri cuma jadi tukang pencuci piring." Dirga mengangguk setuju. "Bener. Kalau dipikir-pikir..." Ia menatap Hans lalu bergantian melihat Anggi. "Yang cocok berdiri di samping Hans itu Anggi, bukan Silvia." Ucapan itu membuat semua orang di meja kembali tertawa. Hans bahkan menganggukkan kepala pelan. Seolah membenarkan setiap kata yang baru saja keluar dari mulut sahabat-sahabatnya. Anggi hanya menunduk malu sambil tersenyum puas, lalu dia mulai duduk diatas pangkuan Hans dan mereka kembali memadu kasih di hadapan Dirga dan Eko. Baginya, semakin Hans membenci Silvia, semakin besar peluang dirinya untuk menggantikan posisi wanita itu. Tak ada satu pun dari mereka yang sadar. Di saat mereka menikmati malam dengan gelak tawa, minuman, dan pujian yang menusuk hati seorang istri di rumah yang sunyi, Silvia masih tergeletak tak sadarkan diri di atas lantai. Wajahnya semakin pucat. Napasnya terdengar semakin pelan. Sementara bayi kecilnya mulai terbangun dari tidur. Tangisan mungil itu memenuhi ruangan. "Uwaaa... uwaaa..." Bayi itu menangis mencari pelukan ibunya. Namun wanita yang biasanya selalu sigap menggendongnya kini tak mampu bergerak sedikit pun. Tangisan itu semakin keras. Menggema di seluruh rumah. Tetapi tidak ada yang datang. Dan tanpa Hans sadari di balik tawa yang memenuhi meja minumnya malam itu, Istrinya sedang berjuang sendirian di ambang bahaya, sementara malaikat kecil mereka menangis tanpa tahu kepada siapa ia harus meminta pertolongan. "Rasakan kau Silvia," bisik Anggi dalam hatinya dengan puas sambil mencium bibir Hans. "Itu adalah karma karena kau sudah kurang ajar padaku! Tidak akan ku biarkan Hans kembali padamu." **************** "Aaaakhhh ..." Suara itu terdengar samar, seolah ada rasa sakit yang masih tersisa. Silvia mengerang pelan. Dadanya terasa sesak, seperti dihimpit batu besar. Napasnya berat, sementara seluruh tubuhnya dipenuhi rasa lemas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perlahan, kedua matanya terbuka. Langit-langit putih dengan lampu terang menyambut pandangannya. Bau obat-obatan yang khas langsung memenuhi indera penciumannya. Di samping ranjang terdengar bunyi mesin infus yang berdetak pelan. Silvia mengernyit. "Rumah sakit?" Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan bingung. "Aku kok bisa ada di sini?" Tangannya yang tidak dipasang infus bergerak perlahan menyentuh dadanya yang masih terasa nyeri. Kepalanya berdenyut, lalu ingatan demi ingatan mulai kembali seperti kepingan kaca yang tersusun sedikit demi sedikit. Beberapa jam sebelumnya ia menangis sendirian di rumah. Tubuhnya menggigil karena kesakitan. Bayinya terus menangis tanpa henti, sementara dirinya sudah hampir kehilangan tenaga. Dengan tangan gemetar ia menghubungi satu-satunya orang yang seharusnya menjadi tempat bergantung. Hans. ... Air mata kembali mengalir di sudut matanya ketika semua kenangan itu kembali memenuhi pikirannya. "Jadi, Hans benar-benar tidak pulang." Tiba-tiba... Ting! Suara notifikasi ponsel membuat lamunannya buyar. Dengan susah payah ia mengambil ponsel yang berada di atas nakas. Sebuah pesan masuk. > Silvia, apa kamu sudah sadar? Gimana keadaan kamu sekarang? Maaf kalau kakak telat menjenguk kamu, karena kakak baru saja mendarat di bandara. Semalam kakak yang menelepon ambulans setelah tetangga menghubungi kakak. Kakak minta mereka segera membawa kamu ke rumah sakit. Bertahan ya. Kakak akan segera ke sana. Seketika bibir Silvia bergetar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh lagi. Namun kali ini bukan karena kecewa, melainkan karena merasa masih ada seseorang yang benar-benar mengkhawatirkannya. Dia tersenyum kecil sambil memeluk ponselnya. "Aku kira Hans yang membawaku ke sini, ternyata bukan." Bahkan dalam keadaan antara hidup dan mati pun, yang datang menyelamatkannya bukan suaminya sendiri. Melainkan kakaknya yang bahkan sedang berada di luar negeri. Ironis. Begitu ironis. Belum sempat Silvia menghapus air matanya, pintu kamar terbuka. Ceklek. BERSAMBUNG......"Kalau aku jadi kalian, aku pasti bakal syok dengar rahasia ini," bisik Anggi sambil melirik ke arah pintu, memastikan tak ada orang lain yang mendengar. Eko mengernyitkan dahi. "Rahasia apa?" Dirga ikut mendekat. "Jangan bikin penasaran deh." Senyum tipis terukir di bibir Anggi. Ia mencondongkan tubuhnya, lalu berkata dengan suara yang nyaris seperti embusan angin, namun jelas menggema di ruangan itu. "Bayi yang selama ini dirawat Silvia... sebenarnya anakku dan Hans." "Apa?!" seru Eko spontan. Dirga bahkan sampai berdiri dari kursinya. "Anggi, lo bercanda, kan?" ujarnya dengan wajah serius. Lebih serius dari dosen yang sedang mengajar. Bukannya menjawab dengan serius, Anggi justru memegangi perutnya sambil tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... kalian lucu sekali!" Air matanya sampai keluar karena terlalu keras tertawa. "Aku nggak bercanda. Itu memang anakku dan Hans." Eko masih menggeleng tak percaya. "Nggak mungkin... selama ini semua orang mengira itu anak Silvia. Dan ba
"Perceraian?" Hans mengulang kata itu, lalu tertawa keras hingga suara tawanya menggema di lorong rumah sakit. "Silvia ... Silvia ... kau benar-benar pandai membuat lelucon."Tawa itu bukan tawa bahagia. Melainkan tawa yang dipenuhi ejekan dan penghinaan.Dengan santai, Hans mengambil amplop berisi surat cerai yang baru saja disodorkan Silvia. Ia menatap lembaran itu beberapa detik, kemudian ...Srrttt...Tangannya merobek surat tersebut menjadi dua.Srrtt...Lalu empat, delapan, enam belas dan akhirnya menjadi berkeping-keping.Potongan-potongan kertas itu berjatuhan ke lantai seperti harga diri Silvia yang selama ini terus diinjak tanpa belas kasihan.Hans melemparkannya ke udara dengan senyum angkuh."Kau bermimpi kalau mengira aku akan menceraikanmu."Silvia mematung. Air mata yang belum sempat mengering kembali memenuhi kedua matanya.Hans melangkah mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti."Dengar baik-baik." Suaranya rendah, tetapi begitu tajam menusuk. "Sampa
Hans masuk dengan wajah datar. Di tangannya ada sebuah rantang berisi bubur. Tanpa sedikit pun rasa bersalah, ia meletakkan rantang itu di meja."Oo ... ternyata kamu sudah sadar." Nada suaranya begitu dingin. "Nih. Makan buburnya."Silvia memandang laki-laki itu cukup lama.Tatapan yang dulu penuh cinta kini berubah menjadi tatapan asing.Tatapan seseorang yang sudah terlalu sering disakiti. Ia tersenyum tipis. Namun senyum itu penuh kepahitan."Gimana aku mau makan?" Silvia mengangkat tangan kirinya yang masih dipasang infus. "Aku masih lemah."Hans malah terkekeh. "Halah, cuma tangan yang diinfus doang, kan? Kan masih ada tangan satunya, bisa dong pakai yang itu." Silvia terperangah mendengarnya. Dulu Hans sangat romantis waktu masih pacaran, bahkan tak biarkan Silvia terluka. Tetapi, kenapa setelah menikah dan punya anak, berubah 180 derajat."Emangnya seluruh badanmu lumpuh? Kayak anak kecil saja." Ia menyilangkan tangan di dada. "Atau ... jangan-jangan kamu mau disuapin?"Nada
"Ka ... Kak, halo..."Suara Silvia terdengar begitu lirih, nyaris tak terdengar karena rasa sakit. Jemarinya gemetar menggenggam ponsel, sementara tubuhnya bersandar lemah di dinding dekat ranjang tempat bayinya sedang tertidur pulas.Di seberang telepon, suara seorang pria terdengar hangat sekaligus penuh semangat."Silvi! Akhirnya kamu angkat juga. Kakak sebentar lagi sampai Jakarta. Paling besok pagi sudah mendarat. Kamu siap-siap, ya."Silvia mengerutkan kening. "Siap-siap, untuk apa, Kak?"Pria itu terkekeh kecil. "Akan ada banyak kejutan. Semua sudah kakak siapkan buat kamu. Kali ini kamu nggak boleh nolak bantuan kakak lagi. Hidupmu harus berubah."Mata Silvia berkaca-kaca. Sudah lama ia tidak mendengar suara yang begitu tulus memedulikannya.Di saat suaminya semakin menjauh, hanya kakaknya yang masih menganggap dirinya berharga.Bibir Silvia bergetar. "Kak ....""Iya, Sil?""Tolong ... cepat datang ...."Nada suaranya berubah semakin pelan. "Kak, aku ...."Ucapan itu terputus.
"Kenapa ... kenapa kamu tega melakukan ini padaku, Hans?" bisik Silvia lirih di tengah sunyi malam.Suara tangis bayinya yang pelan memenuhi kamar sederhana itu. Dengan gerakan lemah, Silvia menggendong putri kecilnya, lalu mengayunkan tubuh mungil itu perlahan hingga kembali terlelap.Setelah memastikan selimutnya menutupi tubuh sang bayi, Silvia mengecup keningnya dengan penuh kasih."Mama akan selalu ada buat kamu, walaupun Mama harus menahan semua sakit ini sendirian."Dia baru saja selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah menjuntai dibawah bahu. Wajahnya tampak segar karena siraman air hangat, tetapi sorot matanya begitu sembab.Gaun rumahan yang dikenakannya sangat sederhana, bahkan sudah mulai kusam karena terlalu sering dicuci. Tak ada lagi perempuan yang dulu gemar berdandan. Sejak melahirkan, seluruh hidup Silvia hanya berputar pada bayinya.Namun, di dalam benaknya pemandangan sore tadi terus berulang tanpa henti.Hans keluar dari rumah sambil merangkul pundak Anggi den
“Sayang, tolong ganti popok anak kita!” teriak Silvia dari dapur.Suara tangisan bayi yang nyaring memenuhi rumah mewah itu. Tangisan yang seharusnya menjadi panggilan bagi seorang ayah untuk bergerak, tetapi beberapa menit berlalu tanpa ada respons.Silvia yang sedang mengaduk sayur di atas kompor menoleh ke arah kamar kecil tempat putrinya terbaring. Hatinya mulai gelisah.“Hans! Tolong ganti popok Dinda dulu!” teriaknya sekali lagi.“Ya, bentar!” sahut Hans dari ruang tamu.Namun tangisan Dinda justru semakin keras.Silvia menggigit bibir bawahnya. Tangan yang masih memegang sendok kayu mulai bergetar karena kesal. Ia mematikan api kompor lalu berjalan cepat menuju ruang tamu.Langkahnya terhenti. Dadanya seketika terasa sesak.Di depan matanya, Hans sedang duduk sangat dekat dengan seorang wanita muda bernama Anggi. Keduanya tertawa riang seolah dunia hanya milik mereka berdua.Yang membuat hati Silvia semakin remuk adalah ketika melihat Hans menggigit separuh cokelat yang dipegan







