로그인Hans masuk dengan wajah datar. Di tangannya ada sebuah rantang berisi bubur. Tanpa sedikit pun rasa bersalah, ia meletakkan rantang itu di meja.
"Oo ... ternyata kamu sudah sadar." Nada suaranya begitu dingin. "Nih. Makan buburnya." Silvia memandang laki-laki itu cukup lama. Tatapan yang dulu penuh cinta kini berubah menjadi tatapan asing. Tatapan seseorang yang sudah terlalu sering disakiti. Ia tersenyum tipis. Namun senyum itu penuh kepahitan. "Gimana aku mau makan?" Silvia mengangkat tangan kirinya yang masih dipasang infus. "Aku masih lemah." Hans malah terkekeh. "Halah, cuma tangan yang diinfus doang, kan? Kan masih ada tangan satunya, bisa dong pakai yang itu." Silvia terperangah mendengarnya. Dulu Hans sangat romantis waktu masih pacaran, bahkan tak biarkan Silvia terluka. Tetapi, kenapa setelah menikah dan punya anak, berubah 180 derajat. "Emangnya seluruh badanmu lumpuh? Kayak anak kecil saja." Ia menyilangkan tangan di dada. "Atau ... jangan-jangan kamu mau disuapin?" Nada mengejek itu menusuk tepat ke hati Silvia. Selama ini Ia selalu diam. Selalu mengalah. Selalu memaklumi. Namun hari itu, kesabarannya telah mencapai batas terakhir. Silvia mengangkat wajahnya. Matanya memerah, suaranya bergetar menahan tangis. "Gunanya kamu jadi suami apa, Hans?" kata Silvia dengan nada menyindir. Hans mengernyit. "Apa?" "Selama ini!" Suara Silvia mulai meninggi. "Gunanya kamu sebagai suami itu apa? Kamu bahkan tidak mau mengganti popok anakmu sendiri! Mana pernah kamu begadang menjaganya? Mana pernah kamu memandikannya? Mana pernah kamu membantu mengurus rumah?" Setiap kalimat yang keluar seperti luapan luka yang selama ini dipendam bertahun-tahun. "Kamu cuma tahu bekerja, lalu malamnya bersenang-senang sama teman-temanmu. Kamu pergi kapan pun kamu mau. Kamu tidur nyenyak setiap malam, sementara aku ...." Air matanya kembali mengalir. "Bahkan makan pun sering terlambat karena harus mengurus bayi kita. Jangankan dandan, untuk sekedar perawatan saja aku tidak bisa." Tangis Silvia kembali pecah. Dadanya naik turun menahan amarah. Bohong jika saat ini seluruh tubuhnya tidak lemas karena emosi, bahkan tangannya saja sampai gemetar. Hans mulai memasang wajah tidak suka. Namun Silvia tidak berhenti. "Kamu selalu membandingkanku dengan Anggi. Katamu Anggi cantik, modis, selalu tampil menarik." Silvia menunjuk dirinya sendiri. "Aku juga bisa seperti itu, Hans! Aku juga dulu wanita yang selalu merawat diri. Aku juga dulu bekerja dan juga punya karier. Tapi sekarang aku punya bayi. Bayi kita! Apa pernah kamu memberiku waktu merawat diri kesalon? Tidak!" Sejenak Silvia terdiam mengatur nafasnya yang mulai memburu, lalu ia kembali melanjutkan amarahnya. "Sebagai ayah, kamu juga punya tanggung jawab! Bukannya setiap malam malah keluyuran bersama teman-temanmu!" Hans mengepalkan tangan. Wajahnya merah padam. "Cukup Silvia!" Brak! Hans membanting rantang bubur ke atas meja hingga isinya tumpah berserakan, membuat Silvia sedikit terkejut. Suasana kamar langsung hening. Hans menatap Silvia dengan penuh amarah. Sorot matanya bagaikan harimau yang siap memangsa, seolah Silvia adalah musuhnya. "Karena itu bayimu!" Bentaknya keras. "Tugasku mencari uang! Kau itu cuma istri! Tugas istri ya mengurus rumah! Mengurus anak, masak, nyuci, beres-beres!" "Sekarang kau sudah berani membantah suami?" Hans melangkah mendekat. Tangannya bahkan sempat terangkat. Silvia memejamkan mata. Ia benar-benar mengira tamparan itu akan mendarat di pipinya. Namun Hans mengurungkan niatnya. Sebaliknya, ia menatap Silvia penuh kebencian. "Kamu itu istri paling tidak tahu diri! Sudah kubiayai, masih banyak menuntut! Kamu cuma jadi beban! Anak yatim-piatu saja belagu. Gak usah banyak ngatur, karena disini aku yang membiayai hidupmu, paham!" Kalimat itu menghantam hati Silvia lebih keras daripada tamparan. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak terisak. Bukankah seorang suami seharusnya menjadi tempat pulang? Menjadi bahu ketika istrinya lelah? Menjadi pelindung ketika dunia terasa begitu berat? Namun Hans justru menjadi orang yang paling sering melukai hatinya. Silvia menangis. "Kalau aku beban, aku rela meninggalkan pekerjaanku dulu. Aku bahkan hampir naik jabatan. Aku tinggalkan semua itu demi menikah denganmu! Demi keluarga ini!" Hans justru tertawa sinis. "Hahaha ..." Ia mendekat hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. "Silvia ... Kamu memang beban dalam hidupku. Harusnya kamu bersyukur bisa menikah denganku. Kalau bukan karena aku, kamu masih capek kerja setiap hari. Sekarang kamu tinggal di rumah, hidup enak." lanjutnya lagi. Kalimat itu membuat Silvia ikut tertawa. Namun tawanya begitu pilu. Tawa yang bercampur isak tangis. "Kau bilang hidupku enak? Enak dari mana, Hans? Aku bangun paling pagi. Aku tidur paling malam, bahkan sering tidak tidur demi anak kita." Dia mengusap air matanya, "Kamu enak bisa tidur nyenyak. Kamu bebas pergi ke mana saja, bebas tertawa, bebas menikmati hidupmu." Silvia menunjuk wajahnya sendiri. "Sementara aku ..." "Lihat aku! Mataku cekung. Badanku kurus. Rambutku berantakan. Semua karena aku mengurus anak kita sendirian." Hans mendengus kasar. "Itu memang tugasmu. Aku menikahimu supaya kamu mengurus rumah. Harusnya kamu bersyukur, dasar perempuan tidak tahu diri." Silvia menatap Hans lama sekali. Tatapan itu tidak lagi dipenuhi harapan. Tidak lagi dipenuhi cinta. Yang tersisa hanyalah kelelahan dan rasa benci. Ia sadar. Percuma berbicara kepada seseorang yang merasa dirinya selalu benar. Percuma menjelaskan kepada orang yang tidak pernah mau mendengar. Dengan tangan yang gemetar, Silvia merogoh tas kecil di samping ranjang. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah kusut karena terlalu lama disimpan. Hans mengernyit. "Itu apa?" Silvia mengangkat amplop itu. Tangannya bergetar. Air matanya kembali jatuh. Namun kali ini sorot matanya sangat tegas. "Selama berbulan-bulan aku membawa surat ini ke mana-mana. Aku selalu berharap tidak akan pernah menggunakannya, tapi hari ini ..." Silvia meletakkan amplop itu di tangan Hans. Suaranya lirih, namun terdengar begitu mantap. "Aku sudah lelah, Hans. Sangat lelah." Ia menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke mata laki-laki yang dulu begitu ia cintai. "Aku ingin bercerai." Kalimat itu meluncur pelan. Namun gaungnya terasa memenuhi seluruh ruangan. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Silvia memilih menyelamatkan dirinya sendiri, meski hatinya harus hancur berkeping-keping. BERSAMBUNG......"Kalau aku jadi kalian, aku pasti bakal syok dengar rahasia ini," bisik Anggi sambil melirik ke arah pintu, memastikan tak ada orang lain yang mendengar. Eko mengernyitkan dahi. "Rahasia apa?" Dirga ikut mendekat. "Jangan bikin penasaran deh." Senyum tipis terukir di bibir Anggi. Ia mencondongkan tubuhnya, lalu berkata dengan suara yang nyaris seperti embusan angin, namun jelas menggema di ruangan itu. "Bayi yang selama ini dirawat Silvia... sebenarnya anakku dan Hans." "Apa?!" seru Eko spontan. Dirga bahkan sampai berdiri dari kursinya. "Anggi, lo bercanda, kan?" ujarnya dengan wajah serius. Lebih serius dari dosen yang sedang mengajar. Bukannya menjawab dengan serius, Anggi justru memegangi perutnya sambil tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... kalian lucu sekali!" Air matanya sampai keluar karena terlalu keras tertawa. "Aku nggak bercanda. Itu memang anakku dan Hans." Eko masih menggeleng tak percaya. "Nggak mungkin... selama ini semua orang mengira itu anak Silvia. Dan ba
"Perceraian?" Hans mengulang kata itu, lalu tertawa keras hingga suara tawanya menggema di lorong rumah sakit. "Silvia ... Silvia ... kau benar-benar pandai membuat lelucon."Tawa itu bukan tawa bahagia. Melainkan tawa yang dipenuhi ejekan dan penghinaan.Dengan santai, Hans mengambil amplop berisi surat cerai yang baru saja disodorkan Silvia. Ia menatap lembaran itu beberapa detik, kemudian ...Srrttt...Tangannya merobek surat tersebut menjadi dua.Srrtt...Lalu empat, delapan, enam belas dan akhirnya menjadi berkeping-keping.Potongan-potongan kertas itu berjatuhan ke lantai seperti harga diri Silvia yang selama ini terus diinjak tanpa belas kasihan.Hans melemparkannya ke udara dengan senyum angkuh."Kau bermimpi kalau mengira aku akan menceraikanmu."Silvia mematung. Air mata yang belum sempat mengering kembali memenuhi kedua matanya.Hans melangkah mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti."Dengar baik-baik." Suaranya rendah, tetapi begitu tajam menusuk. "Sampa
Hans masuk dengan wajah datar. Di tangannya ada sebuah rantang berisi bubur. Tanpa sedikit pun rasa bersalah, ia meletakkan rantang itu di meja."Oo ... ternyata kamu sudah sadar." Nada suaranya begitu dingin. "Nih. Makan buburnya."Silvia memandang laki-laki itu cukup lama.Tatapan yang dulu penuh cinta kini berubah menjadi tatapan asing.Tatapan seseorang yang sudah terlalu sering disakiti. Ia tersenyum tipis. Namun senyum itu penuh kepahitan."Gimana aku mau makan?" Silvia mengangkat tangan kirinya yang masih dipasang infus. "Aku masih lemah."Hans malah terkekeh. "Halah, cuma tangan yang diinfus doang, kan? Kan masih ada tangan satunya, bisa dong pakai yang itu." Silvia terperangah mendengarnya. Dulu Hans sangat romantis waktu masih pacaran, bahkan tak biarkan Silvia terluka. Tetapi, kenapa setelah menikah dan punya anak, berubah 180 derajat."Emangnya seluruh badanmu lumpuh? Kayak anak kecil saja." Ia menyilangkan tangan di dada. "Atau ... jangan-jangan kamu mau disuapin?"Nada
"Ka ... Kak, halo..."Suara Silvia terdengar begitu lirih, nyaris tak terdengar karena rasa sakit. Jemarinya gemetar menggenggam ponsel, sementara tubuhnya bersandar lemah di dinding dekat ranjang tempat bayinya sedang tertidur pulas.Di seberang telepon, suara seorang pria terdengar hangat sekaligus penuh semangat."Silvi! Akhirnya kamu angkat juga. Kakak sebentar lagi sampai Jakarta. Paling besok pagi sudah mendarat. Kamu siap-siap, ya."Silvia mengerutkan kening. "Siap-siap, untuk apa, Kak?"Pria itu terkekeh kecil. "Akan ada banyak kejutan. Semua sudah kakak siapkan buat kamu. Kali ini kamu nggak boleh nolak bantuan kakak lagi. Hidupmu harus berubah."Mata Silvia berkaca-kaca. Sudah lama ia tidak mendengar suara yang begitu tulus memedulikannya.Di saat suaminya semakin menjauh, hanya kakaknya yang masih menganggap dirinya berharga.Bibir Silvia bergetar. "Kak ....""Iya, Sil?""Tolong ... cepat datang ...."Nada suaranya berubah semakin pelan. "Kak, aku ...."Ucapan itu terputus.
"Kenapa ... kenapa kamu tega melakukan ini padaku, Hans?" bisik Silvia lirih di tengah sunyi malam.Suara tangis bayinya yang pelan memenuhi kamar sederhana itu. Dengan gerakan lemah, Silvia menggendong putri kecilnya, lalu mengayunkan tubuh mungil itu perlahan hingga kembali terlelap.Setelah memastikan selimutnya menutupi tubuh sang bayi, Silvia mengecup keningnya dengan penuh kasih."Mama akan selalu ada buat kamu, walaupun Mama harus menahan semua sakit ini sendirian."Dia baru saja selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah menjuntai dibawah bahu. Wajahnya tampak segar karena siraman air hangat, tetapi sorot matanya begitu sembab.Gaun rumahan yang dikenakannya sangat sederhana, bahkan sudah mulai kusam karena terlalu sering dicuci. Tak ada lagi perempuan yang dulu gemar berdandan. Sejak melahirkan, seluruh hidup Silvia hanya berputar pada bayinya.Namun, di dalam benaknya pemandangan sore tadi terus berulang tanpa henti.Hans keluar dari rumah sambil merangkul pundak Anggi den
“Sayang, tolong ganti popok anak kita!” teriak Silvia dari dapur.Suara tangisan bayi yang nyaring memenuhi rumah mewah itu. Tangisan yang seharusnya menjadi panggilan bagi seorang ayah untuk bergerak, tetapi beberapa menit berlalu tanpa ada respons.Silvia yang sedang mengaduk sayur di atas kompor menoleh ke arah kamar kecil tempat putrinya terbaring. Hatinya mulai gelisah.“Hans! Tolong ganti popok Dinda dulu!” teriaknya sekali lagi.“Ya, bentar!” sahut Hans dari ruang tamu.Namun tangisan Dinda justru semakin keras.Silvia menggigit bibir bawahnya. Tangan yang masih memegang sendok kayu mulai bergetar karena kesal. Ia mematikan api kompor lalu berjalan cepat menuju ruang tamu.Langkahnya terhenti. Dadanya seketika terasa sesak.Di depan matanya, Hans sedang duduk sangat dekat dengan seorang wanita muda bernama Anggi. Keduanya tertawa riang seolah dunia hanya milik mereka berdua.Yang membuat hati Silvia semakin remuk adalah ketika melihat Hans menggigit separuh cokelat yang dipegan







