Share

Bab 5

Author: Tinta Hitam
last update publish date: 2026-06-29 20:35:26

"Perceraian?" Hans mengulang kata itu, lalu tertawa keras hingga suara tawanya menggema di lorong rumah sakit. "Silvia ... Silvia ... kau benar-benar pandai membuat lelucon."

Tawa itu bukan tawa bahagia. Melainkan tawa yang dipenuhi ejekan dan penghinaan.

Dengan santai, Hans mengambil amplop berisi surat cerai yang baru saja disodorkan Silvia. Ia menatap lembaran itu beberapa detik, kemudian ...

Srrttt...

Tangannya merobek surat tersebut menjadi dua.

Srrtt...

Lalu empat, delapan, enam belas dan akhirnya menjadi berkeping-keping.

Potongan-potongan kertas itu berjatuhan ke lantai seperti harga diri Silvia yang selama ini terus diinjak tanpa belas kasihan.

Hans melemparkannya ke udara dengan senyum angkuh.

"Kau bermimpi kalau mengira aku akan menceraikanmu."

Silvia mematung. Air mata yang belum sempat mengering kembali memenuhi kedua matanya.

Hans melangkah mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

"Dengar baik-baik." Suaranya rendah, tetapi begitu tajam menusuk. "Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu."

Tatapan Silvia dipenuhi kebingungan.

Kenapa?

Kenapa pria yang selama ini memperlakukannya seperti pembantu, yang selalu meninggalkannya bersama bayi mereka, yang terang-terangan bermesraan dengan wanita lain, justru menolak menceraikannya?

"Bukankah ..." suara Silvia bergetar, "Selama ini aku tidak pernah berarti apa pun bagimu?"

Hans menyeringai. "Kau memang bukan wanita yang kucintai."

Kalimat itu menghantam hati Silvia. "Tapi kau milikku."

Deg!

"Aku tidak akan melepaskan apa yang sudah menjadi milikku."

Kalimat itu bukan terdengar seperti ucapan suami kepada istri. Melainkan seperti seorang majikan kepada barang miliknya.

Silvia perlahan menundukkan kepalanya. Air matanya jatuh tanpa mampu ia tahan lagi.

Namun beberapa saat kemudian, Ia mengusap air mata itu dengan kasar menggunakan punggung tangannya.

Saat kembali mengangkat wajah, tatapannya telah berubah. Tak ada lagi kelembutan, yang tersisa hanyalah luka yang mulai berubah menjadi kebencian.

"Apa pun yang terjadi," ucap Silvia perlahan namun penuh penekanan, "Aku tetap akan menceraikanmu."

Hans kembali tertawa. "Kau ini seperti anak kecil."

Dia menggeleng sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.

"Jangan berpura-pura ingin bercerai hanya supaya aku berhenti bertemu Anggi."

Silvia mengepalkan kedua tangannya.

"Aku—"

"CUKUP!"

Bentakan Hans memotong ucapannya.

"Aku tidak punya waktu meladeni sifat kekanak-kanakanmu."

Tanpa menoleh lagi, Hans berjalan meninggalkan kamar rawat, dan pintu ditutup cukup keras.

Brak!

Suasana mendadak sunyi.

Kesunyian itu terasa begitu menyakitkan.

Silvia terduduk lemas. Tangisnya pecah. Dia menangis tanpa suara, membiarkan semua luka yang selama ini dipendam mengalir bersama air mata.

Namun hanya beberapa detik, lalu Silvia mengusap wajahnya dengan kasar.

"Tidak." gumamnya lirih. "Aku tidak boleh menangisi pria sebrengsek dia."

Silvia menarik napas panjang. Dadanya ditegakkan. Tatapannya berubah dingin.

"Hans. Sebelum kau mengetahui siapa aku sebenarnya, silakan tertawa sepuasmu. Karena setelah semuanya terbongkar, akulah yang akan tertawa melihat kehancuranmu."

---

Tok...

Tok...

Pintu kamar perlahan terbuka.

Seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah tampan memasuki ruangan. Wajahnya dipenuhi kecemasan.

Begitu melihat Silvia terbaring di ranjang rumah sakit, pria itu langsung berlari menghampirinya.

"Silvia!"

Dia duduk di samping ranjang, menggenggam kedua tangan adiknya erat-erat.

"Kamu tidak apa-apa, kan? Bagaimana keadaanmu?"

Silvia tersenyum tipis. "Aku tidak apa-apa, Kak."

Pria itu adalah Fatih, Kakak kandung Silvia yang baru saja pulang dari luar negeri.

Silvia mencoba mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana perjalanan Kakak?"

"Alhamdulillah lancar, kok." Fatih mengangguk singkat.

Namun beberapa detik kemudian ia mengernyit. Matanya menangkap bekas air mata yang masih membasahi pipi Silvia.

"Sil ... Kamu habis menangis?"

Pertanyaan sederhana itu justru meruntuhkan seluruh benteng yang berusaha dibangun Silvia.

Bibirnya bergetar, lalu Silvia pun memeluk tubuh Fatih erat dan akhirnya tangisnya pecah juga.

"Kak ..." Isaknya semakin menjadi.

Fatih langsung memeluk adiknya. Ia mengusap kepala Silvia pelan. "Sudah, ceritakan semuanya."

Dengan suara terbata-bata Silvia mulai membuka semua luka yang selama ini ia sembunyikan.

"Hans, Kak. Dia bukan cuma kasar. Dia bahkan tidak pernah memperlakukanku sebagai istrinya. Dia selalu meninggalkanku sendirian di rumah bersama bayi kami. Dia juga lebih memilih bersama Anggi, bahkan ...."

Silvia menggigit bibirnya. "Dengan sengaja dia bermesraan dengan wanita itu di depan mataku."

Urat di pelipis Fatih langsung menonjol.

Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Sorot matanya berubah dingin.

Sebagai seorang kakak...

Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat adik perempuan yang begitu ia sayangi diperlakukan sehina itu.

Dengan suara datar yang justru terdengar jauh lebih menyeramkan, Fatih berkata, "Aku akan membalas semuanya. Aku tidak akan membiarkan Hans terus menyakitimu."

Silvia menunduk, air matanya kembali menetes.

"Kak, maafkan aku. Dulu demi menikahi Hans, aku membantah semua nasihat Kakak."

Fatih tersenyum tipis. Ia mengusap kepala Silvia. "Tidak apa-apa. Setidaknya sekarang kamu sudah sadar. Yang penting kamu harus bangkit."

Fatih menatap adiknya dalam-dalam. "Setelah ini, apa yang akan kamu lakukan?"

Silvia perlahan mengangkat wajah. Senyum tipis terukir di bibirnya. Namun senyum itu begitu dingin. Seketika tatapannya menerawang jauh.

"Aku akan membuat perusahaan Hans bangkrut."

Fatih terdiam.

Silvia melanjutkan, "Dulu saat perusahaannya hampir gulung tikar, akulah investor rahasia yang menyelamatkannya tanpa sepengetahuannya, dan aku akan menarik semuanya dan menghancurkan apa yang selama ini kubangun untuknya."

Fatih tersenyum bangga.

Selama ini Hans mengira Silvia hanyalah perempuan yatim piatu dari keluarga miskin.

Ia hanya tahu Silvia memiliki seorang kakak yang bekerja di luar negeri sebagai pencuci piring.

Padahal, Fatih adalah CEO perusahaan terbesar nomor satu di negeri ini dan Silvia adalah adik kandungnya.

"Ini salahmu sendiri," ujar Fatih sambil menghela napas. "Kamu terlalu menyembunyikan identitasmu."

Silvia menggeleng tegas. "Kalau sejak awal Hans tahu siapa aku, maka aku tidak akan pernah melihat wajah aslinya. Mungkin dia hanya akan memanfaatkanku demi kekuasaan dan uang."

Fatih tidak membantah. Kini ia justru bersyukur Silvia akhirnya mengetahui sifat asli pria itu.

---

Setelah kondisi Silvia membaik, mereka keluar dari rumah sakit.

"Ayo kita jalan-jalan sebentar."

Fatih mengajak Silvia ke sebuah pusat perbelanjaan mewah. "Aku mau membelikanmu pakaian baru."

Sesampainya di sana, Fatih mengeluarkan sebuah black card.

"Gunakan ini."

Silvia langsung menggeleng. "Tidak perlu, Kak."

"Jangan keras kepala."

"Tapi—"

"Mall ini milik Kakak. Kamu bebas membeli apa pun."

Silvia hanya bisa menghela napas pasrah.

Namun baru beberapa langkah memasuki sebuah butik, langkah Silvia mendadak terhenti. Wajahnya langsung membeku.

Di dalam toko itu, Hans sedang tertawa mesra bersama Anggi. Tak hanya mereka. Eko dan Dirga juga berada di sana.

Silvia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Anggi terus bergelayut manja di lengan Hans.

Tak lama kemudian, Anggi mengambil beberapa pakaian.

"Hans, bantu aku memilih di ruang ganti ya," pintanya dengan nada dibuat semanja mungkin.

Hans tersenyum tipis, tau arti dari kode mata Anggi. "Tentu."

Tanpa rasa malu, pria itu ikut masuk ke dalam ruang ganti bersama Anggi.

Rahang Fatih langsung mengeras. Tangannya mengepal. "Aku akan menghajarnya!"

Baru saja ia hendak melangkah, Silvia menahan lengannya.

"Jangan! Belum saatnya."

Fatih menatap adiknya.

Silvia hanya menggeleng pelan. "Dendam paling menyakitkan itu bukan tamparan, tapi kehancuran."

Sekitar dua puluh menit kemudian, Hans dan Anggi akhirnya keluar dari ruang ganti. Hans tampak membenarkan ikat pinggang dan celananya. Sedangkan Anggi tersenyum puas sambil merapikan rambutnya.

Siapa pun yang melihat mereka pasti tahu apa yang baru saja terjadi di dalam.

Eko langsung tertawa terbahak-bahak. "Hans, kenapa tidak sekalian kamu nikahi saja Anggi dan ceraikan istri miskinmu itu?"

Hans hanya menggeleng santai. "Belum. Aku masih butuh Silvia. Dia berguna buat mengurus rumah dan menjaga bayiku."

Tak lama kemudian Anggi kembali bergelayut di lengan Hans.

Dirga ikut menyeringai. "Kelamaan kali Bro. Keburu Silvia makin tempramen sama Anggi."

Hans tertawa kecil. "Sebenarnya aku dan Anggi punya sebuah rahasia."

Anggi mengangguk, lalu melanjutkan, "Rahasia yang sama sekali tidak diketahui Silvia."

Eko dan Dirga saling berpandangan penasaran.

Di balik dinding butik Silvia dan Fatih ikut menahan napas. Tatapan Silvia berubah tajam.

'Rahasia? Rahasia apa yang selama ini mereka sembunyikan?' batinnya dengan perasaan deg-degan.

Eko akhirnya tak mampu menahan rasa penasarannya.

"Rahasia apa?"

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ambil Saja Suamiku    Aah!

    Silvia menggeleng sambil tertawa. “Padahal yang bekerja keras bukan cuma aku.” "Tapi orang yang paling berjasa tetap kamu.” kelakar Leon. Setelah makanan tersaji, suasana berubah jauh lebih santai. Mereka mulai mengenang masa-masa sekolah dahulu. “Ingat waktu kamu pernah dihukum berdiri di depan kelas?” Silvia langsung tertawa. “Jangan diingat-ingat.” “Padahal waktu itu kamu yang paling rajin.” “Aku dihukum gara-gara membela teman.” Leon tertawa lepas. “Dan guru malah mengira kamu yang membuat keributan.” Silvia ikut tertawa hingga matanya sedikit menyipit. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawanya terdengar begitu lepas. Tanpa ia sadari, sejak tadi Leon tidak benar-benar fokus pada makanan. Tatapan pria itu justru terus tertuju kepada Silvia. Tatapan yang begitu dalam penuh kekaguman, Penuh rasa syukur dan menyimpan perasaan yang selama bertahun-tahun ia pendam sendirian. Namun Silvia sama sekali tidak menyadarinya. Ia masih sibuk menceritakan berbagai kenangan m

  • Ambil Saja Suamiku    Lepaskan!

    “Lepaskan!” Suara Silvia terdengar dingin disertai nada tegas. Tubuhnya refleks menegang ketika dua telapak tangan tiba-tiba menutup kedua matanya dari arah belakang. Berkas-berkas kerja sama yang baru saja ia rapikan hampir terjatuh karena rasa terkejut yang begitu mendadak. Ruangan yang sebelumnya dipenuhi kesibukan kini mulai lengang. Para tamu telah pulang, para staf sedang membereskan perlengkapan acara, sementara Silvia masih bertahan menyelesaikan pekerjaannya. Karena itu, sentuhan tiba-tiba itu membuat jantungnya berdetak jauh lebih cepat. Terdengar suara tawa kecil yang begitu akrab. “Hei, galak sekali. Baru juga bercanda.” Orang itu terkekeh pelan sebelum akhirnya melepaskan kedua tangannya dari wajah Silvia. Silvia segera membalikkan tubuhnya dengan wajah waspada. Namun sesaat kemudian ia mengembuskan napas panjang sambil memegang dadanya yang masih berdebar. “Ternyata kamu, Leon.” Ada nada lega yang begitu jelas dalam ucapannya. Dia pikir itu Hans, atau komplotann

  • Ambil Saja Suamiku    Ingin Bertemu

    "Aku---" Belum sempat Anggi menjawab, Mama Novi malah tertawa kecil.Plak.Ia memukul pelan lengan putra sulungnya. "Dasar anak ini. Kamu lupa? Itu Anggi, teman kecil Hans. Dulu kamu juga sering bermain bersama dia. Bahkan kamu yang paling sering melindunginya kalau ada anak-anak nakal mengganggu."Sony memejamkan mata beberapa detik.Ia mencoba mengingat wajah masa kecil yang mulai samar dalam ingatannya.Perlahan bibirnya membentuk senyum kecil. "Oh... Jadi kamu Anggi."Wanita itu tersenyum manis.Sony mengangguk pelan. "Sekarang kamu jauh lebih cantik. Pantas saja hampir tidak mengenalimu."Pujian itu terdengar tulus. Tanpa ada maksud lain. Namun senyum Anggi justru berubah menjadi sedikit berbeda.Ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Seolah ada maksud tersembunyi di balik lengkungan bibirnya."Aduh, Kak Sony terlalu berlebihan." Anggi terkekeh kecil. "Tapi memang sih, sejak dulu banyak pria yang tergila-gila sama aku. Jadi wajar saja kalau Kak Sony juga ikut terpikat."Ruangan mend

  • Ambil Saja Suamiku    Siapa Dia?

    Pintu rumah keluarga Wijaya terbuka perlahan.Suara langkah kaki yang tenang namun tegas menggema memenuhi ruang tamu yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.Sosok pria bertubuh tinggi dengan jas hitam sederhana memasuki ruangan itu. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, sorot matanya dingin namun tajam seolah mampu menembus kebohongan siapa pun yang berdiri di hadapannya.Aura yang dipancarkannya membuat seluruh isi ruangan mendadak membeku.Bahkan Hans yang sejak tadi tampak percaya diri mendadak berdiri dari duduknya.Pria itu menghentikan langkahnya tepat di tengah ruang tamu. Tatapannya berkeliling, mengamati satu per satu wajah yang berada di sana.Lalu dengan suara berat yang berwibawa, ia bertanya, "Siap yang ingin menghancurkan keluarga Wijaya?"Kalimat itu meluncur datar. Namun justru karena diucapkan dengan begitu tenang, setiap orang yang mendengarnya merasakan tekanan luar biasa.Hans menelan ludah. "K-Kak Sony ... kapan pulang?" tanyanya dengan mata membulat penuh kete

  • Ambil Saja Suamiku    Karena Kamu!

    Suasana ruang tamu kembali dipenuhi keheningan yang mencekam. Hanya terdengar suara napas mereka yang sama-sama berat.Beberapa saat kemudian Mama Novi kembali menatap Anggi. "Kalau kerja sama itu batal, bukankah masih bisa dibuat lagi?"Tatapannya penuh harapan. "Paman kamu bekerja di MH Group, kan? Bukankah dia bisa membantu lagi?"Namun harapan itu langsung dihancurkan oleh jawaban Anggi."Tidak mungkin." Suaranya lirih. Tetapi penuh kepahitan."Mungkin saja saat ini Paman sudah dipecat.""Apa?!" Mama Novi spontan mundur satu langkah.Seketika tubuhnya limbung. Wajahnya yang semula dipenuhi amarah kini berubah pucat pasi. Rasanya seluruh tenaga dalam tubuhnya seolah menghilang begitu saja.Bruk...Wanita paruh baya itu terduduk lemas di lantai. Tangannya gemetar menopang tubuhnya sendiri. Tatapannya kosong dan napasnya mulai memburu.Seolah berita yang baru saja didengarnya telah menghancurkan seluruh harapan yang selama ini ia bangun."D-dipecat?" Suara Mama Novi bergetar."Kenapa

  • Ambil Saja Suamiku    Hantaman

    "Brakkk!"Suara pecahan vas bunga menggema begitu keras di seluruh ruang tamu.Pecahan kaca berserakan di lantai marmer, sementara bunga-bunga yang semula tertata rapi kini terlempar ke segala arah."Wuaaa... huaaa..."Tangis bayi yang berada di gendongan Mama Novi langsung pecah. Bayi kecil itu terkejut mendengar suara benturan yang begitu keras hingga tubuh mungilnya bergetar."Astaga, Hans!" seru Mama Novi dengan wajah kaget sambil mengayun pelan tubuh bayi itu. "Kenapa baru pulang malah marah-marah begini? Bukannya kalian seharusnya senang? Bukannya hari ini perusahaan Wijaya berhasil bekerja sama dengan MH Group?"Hans berdiri membelakangi mereka.Kedua tangannya mengepal begitu erat hingga urat-urat di lengannya menonjol. Rahangnya mengeras, sementara napasnya terdengar berat, dipenuhi amarah yang belum juga mereda sejak meninggalkan gedung acara.Dengan suara kecut dan penuh kebencian, ia menjawab,"Kerja sama apa, Ma? Semuanya hancur! Semuanya kacau balau! Tidak ada satu pun y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status