ログイン"Perceraian?" Hans mengulang kata itu, lalu tertawa keras hingga suara tawanya menggema di lorong rumah sakit. "Silvia ... Silvia ... kau benar-benar pandai membuat lelucon."
Tawa itu bukan tawa bahagia. Melainkan tawa yang dipenuhi ejekan dan penghinaan. Dengan santai, Hans mengambil amplop berisi surat cerai yang baru saja disodorkan Silvia. Ia menatap lembaran itu beberapa detik, kemudian ... Srrttt... Tangannya merobek surat tersebut menjadi dua. Srrtt... Lalu empat, delapan, enam belas dan akhirnya menjadi berkeping-keping. Potongan-potongan kertas itu berjatuhan ke lantai seperti harga diri Silvia yang selama ini terus diinjak tanpa belas kasihan. Hans melemparkannya ke udara dengan senyum angkuh. "Kau bermimpi kalau mengira aku akan menceraikanmu." Silvia mematung. Air mata yang belum sempat mengering kembali memenuhi kedua matanya. Hans melangkah mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Dengar baik-baik." Suaranya rendah, tetapi begitu tajam menusuk. "Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu." Tatapan Silvia dipenuhi kebingungan. Kenapa? Kenapa pria yang selama ini memperlakukannya seperti pembantu, yang selalu meninggalkannya bersama bayi mereka, yang terang-terangan bermesraan dengan wanita lain, justru menolak menceraikannya? "Bukankah ..." suara Silvia bergetar, "Selama ini aku tidak pernah berarti apa pun bagimu?" Hans menyeringai. "Kau memang bukan wanita yang kucintai." Kalimat itu menghantam hati Silvia. "Tapi kau milikku." Deg! "Aku tidak akan melepaskan apa yang sudah menjadi milikku." Kalimat itu bukan terdengar seperti ucapan suami kepada istri. Melainkan seperti seorang majikan kepada barang miliknya. Silvia perlahan menundukkan kepalanya. Air matanya jatuh tanpa mampu ia tahan lagi. Namun beberapa saat kemudian, Ia mengusap air mata itu dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Saat kembali mengangkat wajah, tatapannya telah berubah. Tak ada lagi kelembutan, yang tersisa hanyalah luka yang mulai berubah menjadi kebencian. "Apa pun yang terjadi," ucap Silvia perlahan namun penuh penekanan, "Aku tetap akan menceraikanmu." Hans kembali tertawa. "Kau ini seperti anak kecil." Dia menggeleng sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. "Jangan berpura-pura ingin bercerai hanya supaya aku berhenti bertemu Anggi." Silvia mengepalkan kedua tangannya. "Aku—" "CUKUP!" Bentakan Hans memotong ucapannya. "Aku tidak punya waktu meladeni sifat kekanak-kanakanmu." Tanpa menoleh lagi, Hans berjalan meninggalkan kamar rawat, dan pintu ditutup cukup keras. Brak! Suasana mendadak sunyi. Kesunyian itu terasa begitu menyakitkan. Silvia terduduk lemas. Tangisnya pecah. Dia menangis tanpa suara, membiarkan semua luka yang selama ini dipendam mengalir bersama air mata. Namun hanya beberapa detik, lalu Silvia mengusap wajahnya dengan kasar. "Tidak." gumamnya lirih. "Aku tidak boleh menangisi pria sebrengsek dia." Silvia menarik napas panjang. Dadanya ditegakkan. Tatapannya berubah dingin. "Hans. Sebelum kau mengetahui siapa aku sebenarnya, silakan tertawa sepuasmu. Karena setelah semuanya terbongkar, akulah yang akan tertawa melihat kehancuranmu." --- Tok... Tok... Pintu kamar perlahan terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah tampan memasuki ruangan. Wajahnya dipenuhi kecemasan. Begitu melihat Silvia terbaring di ranjang rumah sakit, pria itu langsung berlari menghampirinya. "Silvia!" Dia duduk di samping ranjang, menggenggam kedua tangan adiknya erat-erat. "Kamu tidak apa-apa, kan? Bagaimana keadaanmu?" Silvia tersenyum tipis. "Aku tidak apa-apa, Kak." Pria itu adalah Fatih, Kakak kandung Silvia yang baru saja pulang dari luar negeri. Silvia mencoba mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana perjalanan Kakak?" "Alhamdulillah lancar, kok." Fatih mengangguk singkat. Namun beberapa detik kemudian ia mengernyit. Matanya menangkap bekas air mata yang masih membasahi pipi Silvia. "Sil ... Kamu habis menangis?" Pertanyaan sederhana itu justru meruntuhkan seluruh benteng yang berusaha dibangun Silvia. Bibirnya bergetar, lalu Silvia pun memeluk tubuh Fatih erat dan akhirnya tangisnya pecah juga. "Kak ..." Isaknya semakin menjadi. Fatih langsung memeluk adiknya. Ia mengusap kepala Silvia pelan. "Sudah, ceritakan semuanya." Dengan suara terbata-bata Silvia mulai membuka semua luka yang selama ini ia sembunyikan. "Hans, Kak. Dia bukan cuma kasar. Dia bahkan tidak pernah memperlakukanku sebagai istrinya. Dia selalu meninggalkanku sendirian di rumah bersama bayi kami. Dia juga lebih memilih bersama Anggi, bahkan ...." Silvia menggigit bibirnya. "Dengan sengaja dia bermesraan dengan wanita itu di depan mataku." Urat di pelipis Fatih langsung menonjol. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Sorot matanya berubah dingin. Sebagai seorang kakak... Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat adik perempuan yang begitu ia sayangi diperlakukan sehina itu. Dengan suara datar yang justru terdengar jauh lebih menyeramkan, Fatih berkata, "Aku akan membalas semuanya. Aku tidak akan membiarkan Hans terus menyakitimu." Silvia menunduk, air matanya kembali menetes. "Kak, maafkan aku. Dulu demi menikahi Hans, aku membantah semua nasihat Kakak." Fatih tersenyum tipis. Ia mengusap kepala Silvia. "Tidak apa-apa. Setidaknya sekarang kamu sudah sadar. Yang penting kamu harus bangkit." Fatih menatap adiknya dalam-dalam. "Setelah ini, apa yang akan kamu lakukan?" Silvia perlahan mengangkat wajah. Senyum tipis terukir di bibirnya. Namun senyum itu begitu dingin. Seketika tatapannya menerawang jauh. "Aku akan membuat perusahaan Hans bangkrut." Fatih terdiam. Silvia melanjutkan, "Dulu saat perusahaannya hampir gulung tikar, akulah investor rahasia yang menyelamatkannya tanpa sepengetahuannya, dan aku akan menarik semuanya dan menghancurkan apa yang selama ini kubangun untuknya." Fatih tersenyum bangga. Selama ini Hans mengira Silvia hanyalah perempuan yatim piatu dari keluarga miskin. Ia hanya tahu Silvia memiliki seorang kakak yang bekerja di luar negeri sebagai pencuci piring. Padahal, Fatih adalah CEO perusahaan terbesar nomor satu di negeri ini dan Silvia adalah adik kandungnya. "Ini salahmu sendiri," ujar Fatih sambil menghela napas. "Kamu terlalu menyembunyikan identitasmu." Silvia menggeleng tegas. "Kalau sejak awal Hans tahu siapa aku, maka aku tidak akan pernah melihat wajah aslinya. Mungkin dia hanya akan memanfaatkanku demi kekuasaan dan uang." Fatih tidak membantah. Kini ia justru bersyukur Silvia akhirnya mengetahui sifat asli pria itu. --- Setelah kondisi Silvia membaik, mereka keluar dari rumah sakit. "Ayo kita jalan-jalan sebentar." Fatih mengajak Silvia ke sebuah pusat perbelanjaan mewah. "Aku mau membelikanmu pakaian baru." Sesampainya di sana, Fatih mengeluarkan sebuah black card. "Gunakan ini." Silvia langsung menggeleng. "Tidak perlu, Kak." "Jangan keras kepala." "Tapi—" "Mall ini milik Kakak. Kamu bebas membeli apa pun." Silvia hanya bisa menghela napas pasrah. Namun baru beberapa langkah memasuki sebuah butik, langkah Silvia mendadak terhenti. Wajahnya langsung membeku. Di dalam toko itu, Hans sedang tertawa mesra bersama Anggi. Tak hanya mereka. Eko dan Dirga juga berada di sana. Silvia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Anggi terus bergelayut manja di lengan Hans. Tak lama kemudian, Anggi mengambil beberapa pakaian. "Hans, bantu aku memilih di ruang ganti ya," pintanya dengan nada dibuat semanja mungkin. Hans tersenyum tipis, tau arti dari kode mata Anggi. "Tentu." Tanpa rasa malu, pria itu ikut masuk ke dalam ruang ganti bersama Anggi. Rahang Fatih langsung mengeras. Tangannya mengepal. "Aku akan menghajarnya!" Baru saja ia hendak melangkah, Silvia menahan lengannya. "Jangan! Belum saatnya." Fatih menatap adiknya. Silvia hanya menggeleng pelan. "Dendam paling menyakitkan itu bukan tamparan, tapi kehancuran." Sekitar dua puluh menit kemudian, Hans dan Anggi akhirnya keluar dari ruang ganti. Hans tampak membenarkan ikat pinggang dan celananya. Sedangkan Anggi tersenyum puas sambil merapikan rambutnya. Siapa pun yang melihat mereka pasti tahu apa yang baru saja terjadi di dalam. Eko langsung tertawa terbahak-bahak. "Hans, kenapa tidak sekalian kamu nikahi saja Anggi dan ceraikan istri miskinmu itu?" Hans hanya menggeleng santai. "Belum. Aku masih butuh Silvia. Dia berguna buat mengurus rumah dan menjaga bayiku." Tak lama kemudian Anggi kembali bergelayut di lengan Hans. Dirga ikut menyeringai. "Kelamaan kali Bro. Keburu Silvia makin tempramen sama Anggi." Hans tertawa kecil. "Sebenarnya aku dan Anggi punya sebuah rahasia." Anggi mengangguk, lalu melanjutkan, "Rahasia yang sama sekali tidak diketahui Silvia." Eko dan Dirga saling berpandangan penasaran. Di balik dinding butik Silvia dan Fatih ikut menahan napas. Tatapan Silvia berubah tajam. 'Rahasia? Rahasia apa yang selama ini mereka sembunyikan?' batinnya dengan perasaan deg-degan. Eko akhirnya tak mampu menahan rasa penasarannya. "Rahasia apa?" Bersambung..."Kalau aku jadi kalian, aku pasti bakal syok dengar rahasia ini," bisik Anggi sambil melirik ke arah pintu, memastikan tak ada orang lain yang mendengar. Eko mengernyitkan dahi. "Rahasia apa?" Dirga ikut mendekat. "Jangan bikin penasaran deh." Senyum tipis terukir di bibir Anggi. Ia mencondongkan tubuhnya, lalu berkata dengan suara yang nyaris seperti embusan angin, namun jelas menggema di ruangan itu. "Bayi yang selama ini dirawat Silvia... sebenarnya anakku dan Hans." "Apa?!" seru Eko spontan. Dirga bahkan sampai berdiri dari kursinya. "Anggi, lo bercanda, kan?" ujarnya dengan wajah serius. Lebih serius dari dosen yang sedang mengajar. Bukannya menjawab dengan serius, Anggi justru memegangi perutnya sambil tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... kalian lucu sekali!" Air matanya sampai keluar karena terlalu keras tertawa. "Aku nggak bercanda. Itu memang anakku dan Hans." Eko masih menggeleng tak percaya. "Nggak mungkin... selama ini semua orang mengira itu anak Silvia. Dan ba
"Perceraian?" Hans mengulang kata itu, lalu tertawa keras hingga suara tawanya menggema di lorong rumah sakit. "Silvia ... Silvia ... kau benar-benar pandai membuat lelucon."Tawa itu bukan tawa bahagia. Melainkan tawa yang dipenuhi ejekan dan penghinaan.Dengan santai, Hans mengambil amplop berisi surat cerai yang baru saja disodorkan Silvia. Ia menatap lembaran itu beberapa detik, kemudian ...Srrttt...Tangannya merobek surat tersebut menjadi dua.Srrtt...Lalu empat, delapan, enam belas dan akhirnya menjadi berkeping-keping.Potongan-potongan kertas itu berjatuhan ke lantai seperti harga diri Silvia yang selama ini terus diinjak tanpa belas kasihan.Hans melemparkannya ke udara dengan senyum angkuh."Kau bermimpi kalau mengira aku akan menceraikanmu."Silvia mematung. Air mata yang belum sempat mengering kembali memenuhi kedua matanya.Hans melangkah mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti."Dengar baik-baik." Suaranya rendah, tetapi begitu tajam menusuk. "Sampa
Hans masuk dengan wajah datar. Di tangannya ada sebuah rantang berisi bubur. Tanpa sedikit pun rasa bersalah, ia meletakkan rantang itu di meja."Oo ... ternyata kamu sudah sadar." Nada suaranya begitu dingin. "Nih. Makan buburnya."Silvia memandang laki-laki itu cukup lama.Tatapan yang dulu penuh cinta kini berubah menjadi tatapan asing.Tatapan seseorang yang sudah terlalu sering disakiti. Ia tersenyum tipis. Namun senyum itu penuh kepahitan."Gimana aku mau makan?" Silvia mengangkat tangan kirinya yang masih dipasang infus. "Aku masih lemah."Hans malah terkekeh. "Halah, cuma tangan yang diinfus doang, kan? Kan masih ada tangan satunya, bisa dong pakai yang itu." Silvia terperangah mendengarnya. Dulu Hans sangat romantis waktu masih pacaran, bahkan tak biarkan Silvia terluka. Tetapi, kenapa setelah menikah dan punya anak, berubah 180 derajat."Emangnya seluruh badanmu lumpuh? Kayak anak kecil saja." Ia menyilangkan tangan di dada. "Atau ... jangan-jangan kamu mau disuapin?"Nada
"Ka ... Kak, halo..."Suara Silvia terdengar begitu lirih, nyaris tak terdengar karena rasa sakit. Jemarinya gemetar menggenggam ponsel, sementara tubuhnya bersandar lemah di dinding dekat ranjang tempat bayinya sedang tertidur pulas.Di seberang telepon, suara seorang pria terdengar hangat sekaligus penuh semangat."Silvi! Akhirnya kamu angkat juga. Kakak sebentar lagi sampai Jakarta. Paling besok pagi sudah mendarat. Kamu siap-siap, ya."Silvia mengerutkan kening. "Siap-siap, untuk apa, Kak?"Pria itu terkekeh kecil. "Akan ada banyak kejutan. Semua sudah kakak siapkan buat kamu. Kali ini kamu nggak boleh nolak bantuan kakak lagi. Hidupmu harus berubah."Mata Silvia berkaca-kaca. Sudah lama ia tidak mendengar suara yang begitu tulus memedulikannya.Di saat suaminya semakin menjauh, hanya kakaknya yang masih menganggap dirinya berharga.Bibir Silvia bergetar. "Kak ....""Iya, Sil?""Tolong ... cepat datang ...."Nada suaranya berubah semakin pelan. "Kak, aku ...."Ucapan itu terputus.
"Kenapa ... kenapa kamu tega melakukan ini padaku, Hans?" bisik Silvia lirih di tengah sunyi malam.Suara tangis bayinya yang pelan memenuhi kamar sederhana itu. Dengan gerakan lemah, Silvia menggendong putri kecilnya, lalu mengayunkan tubuh mungil itu perlahan hingga kembali terlelap.Setelah memastikan selimutnya menutupi tubuh sang bayi, Silvia mengecup keningnya dengan penuh kasih."Mama akan selalu ada buat kamu, walaupun Mama harus menahan semua sakit ini sendirian."Dia baru saja selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah menjuntai dibawah bahu. Wajahnya tampak segar karena siraman air hangat, tetapi sorot matanya begitu sembab.Gaun rumahan yang dikenakannya sangat sederhana, bahkan sudah mulai kusam karena terlalu sering dicuci. Tak ada lagi perempuan yang dulu gemar berdandan. Sejak melahirkan, seluruh hidup Silvia hanya berputar pada bayinya.Namun, di dalam benaknya pemandangan sore tadi terus berulang tanpa henti.Hans keluar dari rumah sambil merangkul pundak Anggi den
“Sayang, tolong ganti popok anak kita!” teriak Silvia dari dapur.Suara tangisan bayi yang nyaring memenuhi rumah mewah itu. Tangisan yang seharusnya menjadi panggilan bagi seorang ayah untuk bergerak, tetapi beberapa menit berlalu tanpa ada respons.Silvia yang sedang mengaduk sayur di atas kompor menoleh ke arah kamar kecil tempat putrinya terbaring. Hatinya mulai gelisah.“Hans! Tolong ganti popok Dinda dulu!” teriaknya sekali lagi.“Ya, bentar!” sahut Hans dari ruang tamu.Namun tangisan Dinda justru semakin keras.Silvia menggigit bibir bawahnya. Tangan yang masih memegang sendok kayu mulai bergetar karena kesal. Ia mematikan api kompor lalu berjalan cepat menuju ruang tamu.Langkahnya terhenti. Dadanya seketika terasa sesak.Di depan matanya, Hans sedang duduk sangat dekat dengan seorang wanita muda bernama Anggi. Keduanya tertawa riang seolah dunia hanya milik mereka berdua.Yang membuat hati Silvia semakin remuk adalah ketika melihat Hans menggigit separuh cokelat yang dipegan







