ログイン"Kalau aku jadi kalian, aku pasti bakal syok dengar rahasia ini," bisik Anggi sambil melirik ke arah pintu, memastikan tak ada orang lain yang mendengar.
Eko mengernyitkan dahi. "Rahasia apa?" Dirga ikut mendekat. "Jangan bikin penasaran deh." Senyum tipis terukir di bibir Anggi. Ia mencondongkan tubuhnya, lalu berkata dengan suara yang nyaris seperti embusan angin, namun jelas menggema di ruangan itu. "Bayi yang selama ini dirawat Silvia... sebenarnya anakku dan Hans." "Apa?!" seru Eko spontan. Dirga bahkan sampai berdiri dari kursinya. "Anggi, lo bercanda, kan?" ujarnya dengan wajah serius. Lebih serius dari dosen yang sedang mengajar. Bukannya menjawab dengan serius, Anggi justru memegangi perutnya sambil tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... kalian lucu sekali!" Air matanya sampai keluar karena terlalu keras tertawa. "Aku nggak bercanda. Itu memang anakku dan Hans." Eko masih menggeleng tak percaya. "Nggak mungkin... selama ini semua orang mengira itu anak Silvia. Dan bagaimana bisa." "Itulah lucunya." Anggi menyeringai sinis. "Silvia benar-benar perempuan paling bodoh yang pernah aku kenal." Tatapannya dipenuhi ejekan. "Dia merawat anakku dengan penuh kasih sayang. Menimang, menyusui, begadang setiap malam, mencurahkan seluruh cintanya... padahal yang dia peluk setiap hari adalah anakku." Tawa kecil kembali lolos dari bibirnya. "Dia bahkan bangga menyebut dirinya seorang ibu." Anggi menggeleng pelan sambil terkekeh. "Padahal dia cuma pengasuh yang nggak dibayar." Ucapan itu disambut tawa kecil oleh Hans. Eko yang sejak tadi masih kebingungan akhirnya bertanya, "Tapi... gimana bisa? Bukannya Silvia memang melahirkan waktu itu?" Semua mata beralih kepada Hans. Pria itu tampak santai. Tak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya. "Aku cuma memenuhi keinginan Anggi." "Maksudnya?" Hans menarik napas pendek sebelum menjawab datar. "Anggi sangat ingin punya anak." Tatapannya kemudian beralih kepada Anggi yang tersenyum puas. "Dan aku hanya mengabulkan permintaannya. Tapi Anggi tidak mau begadang, dan dia ingin tubuhnya tetap ideal karena tak mau menyusui, jadi yasudah biarkan Silvia yang rawat." Dirga mengerutkan dahi. "Jadi... kalian memang sudah merencanakan semuanya?" Hans mengangkat bahu. "Bisa dibilang begitu." Ruangan kembali hening beberapa saat. Hingga akhirnya Dirga mengajukan pertanyaan yang membuat suasana terasa sedikit berbeda. "Kalau begitu... anak Silvia ke mana?" Tatapan Hans berubah datar. Dirga kembali bertanya dengan ragu. "Apa... kalian menukar bayinya?" Sesaat ruangan dipenuhi keheningan. Lalu... "Hahaha...!" Hans justru tertawa renyah. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menggeleng pelan. "Nggak." Eko dan Dirga saling berpandangan. Hans melanjutkan dengan nada angkuh, seolah sedang menceritakan sesuatu yang biasa saja. "Karena anak Silvia sebenarnya sudah meninggal sesaat setelah dilahirkan." Kalimat itu meluncur tanpa beban. Tanpa rasa bersalah dan tanpa sedikit pun penyesalan. "Aku hanya menukar bayi yang sudah meninggal itu dengan bayi Anggi. Anak kami." Sudut bibirnya terangkat. "Jadi Silvia tetap percaya kalau dia berhasil melahirkan anak yang sehat." Hans merangkul pinggang ramping Anggi dan mengecup bibirnya sekilas tanpa rasa malu. Anggi kembali tertawa. "Dan sampai hari ini dia nggak tahu apa-apa. Apa dong kalo bukan wanita bodoh? Hahaha ... Tapi aku terimakasih sih sama dia, sebab aku tidak harus merusak tubuhku mengurus anak itu." "Benar-benar kasihan," gumam Eko. Namun nada suaranya sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan. Sebaliknya, Ia ikut tertawa, dan Dirga pun demikian. "Hahaha... ternyata selama ini dia membesarkan anak kalian." sahut Dirga. "Kalau suatu hari nanti dia tahu kenyataannya, pasti dunianya langsung hancur." Ucapan itu justru membuat keempat orang di ruangan tersebut tertawa semakin keras. Tak seorang pun menunjukkan rasa iba pada penderitaan Silvia. Tak ada penyesalan. Tak ada empati. Bagi mereka, penderitaan Silvia hanyalah bahan candaan yang begitu menghibur. Mereka berempat memang seperti ba-bi, tidak punya rasa kemanusiaan. Sementara hewan saja punya, namun Hans malah tega menukar bayinya sendiri. Sementara itu. Di balik dinding ruangan, Silvia berdiri membatu. Wajahnya perlahan memucat. Tangannya gemetar hebat hingga tanpa sadar meremas dada kirinya. Sakit. Sangat sakit. Seolah ada palu raksasa yang menghantam jantungnya berkali-kali tanpa ampun. Air mata mulai mengalir. Mula-mula hanya setetes, lalu berubah menjadi deras, membasahi kedua pipinya. Seluruh tubuhnya bergetar. Napasnya terasa sesak. Kakinya mendadak kehilangan tenaga. "Ya Allah ternyata ..." Suara lirih itu keluar bersama isak yang tertahan. Selama ini ... Selama bertahun-tahun Ia mengira sedang membesarkan darah dagingnya sendiri. Dia rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan mimpinya demi seorang anak yang begitu dicintainya. Setiap malam ia terbangun saat bayi itu menangis. Setiap kali anak itu sakit, ia menangis lebih keras daripada siapa pun. Dia memeluknya dengan kasih sayang seorang ibu. Namun ternyata, smuanya hanyalah kebohongan. "Anakku..." Suara Silvia bergetar hebat. "Jadi... anakku sudah..." Kalimat itu tercekat di tenggorokannya. Air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan. Dadanya semakin sesak. Pandangannya mulai kabur. Tubuhnya limbung hingga akhirnya ia terjatuh. Beruntung Fatih dengan sigap menangkap tubuhnya sebelum jatuh membentur lantai. "Silvia!" Fatih memegangi kedua bahunya dengan panik. "Silvia, kamu dengar Kakak?" Silvia mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, dipenuhi kehancuran yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dengan bibir bergetar ia berbisik, "Kak ... Selama ini aku dibohongi." Fatih menggenggam tangannya erat. "Silvia kakak dengar ...." "Ternyata bayi itu..." Silvia berusaha melanjutkan ucapannya. "Ternyata bayi itu..." Air matanya semakin deras. "Bukan..." Belum sempat kalimat itu selesai, matanya mendadak terpejam. Tubuhnya lunglai tak berdaya. "Silvia!" Fatih panik. Ia menepuk pelan pipi wanita itu. "Silvia! Bangun!" Tak ada jawaban. Napas Silvia terdengar lemah. Tanpa berpikir panjang, Fatih segera menggendong tubuh Silvia dengan kedua lengannya. "Kakak akan membawamu ke rumah sakit." Ia berlari menyusuri mall itu dengan napas memburu. Wajahnya dipenuhi kepanikan. Sesampainya di parkiran, Fatih membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa lalu membaringkan Silvia di kursi belakang sepelan mungkin. "Tolong bertahan..." Suara Fatih bergetar. "Jangan tinggalkan Kakak seperti ini." "Cepat kerumah sakit!" titahnya pada sang sopir. Mobil melaju kencang membelah jalan, sementara Fatih terus menoleh ke arah Silvia yang masih tak sadarkan diri. --- Di dalam ruangan... Tawa Hans perlahan terhenti. Entah mengapa, di sela riuhnya suara mereka, telinganya menangkap suara samar dari luar. "Silvia ...." Nama itu terdengar lirih. Namun cukup membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Hans mengernyit. "Aku seperti mendengar nama Silvia?" Anggi menatapnya heran. "Ada apa, Hans?" Hans tidak menjawab. Perasaan gelisah tiba-tiba menyelimuti dadanya. Jangan-jangan Silvia mendengar semua pembicaraan mereka? Tanpa berpikir panjang, ia berdiri lalu berjalan cepat menuju balik dinding tempat suara itu berasal. Jantungnya berdetak semakin keras setiap langkah yang diambilnya. Sesampainya di sana lorong itu sunyi. Tak ada siapa pun. Hanya angin dari pendingin ruangan yang berembus pelan. Hans memandang ke kanan lalu ke kiri. Kosong. Ia menelan ludah. Dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar, ia bergumam, "Apa tadi aku cuma salah dengar ya?" BERSAMBUNG....."Kalau aku jadi kalian, aku pasti bakal syok dengar rahasia ini," bisik Anggi sambil melirik ke arah pintu, memastikan tak ada orang lain yang mendengar. Eko mengernyitkan dahi. "Rahasia apa?" Dirga ikut mendekat. "Jangan bikin penasaran deh." Senyum tipis terukir di bibir Anggi. Ia mencondongkan tubuhnya, lalu berkata dengan suara yang nyaris seperti embusan angin, namun jelas menggema di ruangan itu. "Bayi yang selama ini dirawat Silvia... sebenarnya anakku dan Hans." "Apa?!" seru Eko spontan. Dirga bahkan sampai berdiri dari kursinya. "Anggi, lo bercanda, kan?" ujarnya dengan wajah serius. Lebih serius dari dosen yang sedang mengajar. Bukannya menjawab dengan serius, Anggi justru memegangi perutnya sambil tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... kalian lucu sekali!" Air matanya sampai keluar karena terlalu keras tertawa. "Aku nggak bercanda. Itu memang anakku dan Hans." Eko masih menggeleng tak percaya. "Nggak mungkin... selama ini semua orang mengira itu anak Silvia. Dan ba
"Perceraian?" Hans mengulang kata itu, lalu tertawa keras hingga suara tawanya menggema di lorong rumah sakit. "Silvia ... Silvia ... kau benar-benar pandai membuat lelucon."Tawa itu bukan tawa bahagia. Melainkan tawa yang dipenuhi ejekan dan penghinaan.Dengan santai, Hans mengambil amplop berisi surat cerai yang baru saja disodorkan Silvia. Ia menatap lembaran itu beberapa detik, kemudian ...Srrttt...Tangannya merobek surat tersebut menjadi dua.Srrtt...Lalu empat, delapan, enam belas dan akhirnya menjadi berkeping-keping.Potongan-potongan kertas itu berjatuhan ke lantai seperti harga diri Silvia yang selama ini terus diinjak tanpa belas kasihan.Hans melemparkannya ke udara dengan senyum angkuh."Kau bermimpi kalau mengira aku akan menceraikanmu."Silvia mematung. Air mata yang belum sempat mengering kembali memenuhi kedua matanya.Hans melangkah mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti."Dengar baik-baik." Suaranya rendah, tetapi begitu tajam menusuk. "Sampa
Hans masuk dengan wajah datar. Di tangannya ada sebuah rantang berisi bubur. Tanpa sedikit pun rasa bersalah, ia meletakkan rantang itu di meja."Oo ... ternyata kamu sudah sadar." Nada suaranya begitu dingin. "Nih. Makan buburnya."Silvia memandang laki-laki itu cukup lama.Tatapan yang dulu penuh cinta kini berubah menjadi tatapan asing.Tatapan seseorang yang sudah terlalu sering disakiti. Ia tersenyum tipis. Namun senyum itu penuh kepahitan."Gimana aku mau makan?" Silvia mengangkat tangan kirinya yang masih dipasang infus. "Aku masih lemah."Hans malah terkekeh. "Halah, cuma tangan yang diinfus doang, kan? Kan masih ada tangan satunya, bisa dong pakai yang itu." Silvia terperangah mendengarnya. Dulu Hans sangat romantis waktu masih pacaran, bahkan tak biarkan Silvia terluka. Tetapi, kenapa setelah menikah dan punya anak, berubah 180 derajat."Emangnya seluruh badanmu lumpuh? Kayak anak kecil saja." Ia menyilangkan tangan di dada. "Atau ... jangan-jangan kamu mau disuapin?"Nada
"Ka ... Kak, halo..."Suara Silvia terdengar begitu lirih, nyaris tak terdengar karena rasa sakit. Jemarinya gemetar menggenggam ponsel, sementara tubuhnya bersandar lemah di dinding dekat ranjang tempat bayinya sedang tertidur pulas.Di seberang telepon, suara seorang pria terdengar hangat sekaligus penuh semangat."Silvi! Akhirnya kamu angkat juga. Kakak sebentar lagi sampai Jakarta. Paling besok pagi sudah mendarat. Kamu siap-siap, ya."Silvia mengerutkan kening. "Siap-siap, untuk apa, Kak?"Pria itu terkekeh kecil. "Akan ada banyak kejutan. Semua sudah kakak siapkan buat kamu. Kali ini kamu nggak boleh nolak bantuan kakak lagi. Hidupmu harus berubah."Mata Silvia berkaca-kaca. Sudah lama ia tidak mendengar suara yang begitu tulus memedulikannya.Di saat suaminya semakin menjauh, hanya kakaknya yang masih menganggap dirinya berharga.Bibir Silvia bergetar. "Kak ....""Iya, Sil?""Tolong ... cepat datang ...."Nada suaranya berubah semakin pelan. "Kak, aku ...."Ucapan itu terputus.
"Kenapa ... kenapa kamu tega melakukan ini padaku, Hans?" bisik Silvia lirih di tengah sunyi malam.Suara tangis bayinya yang pelan memenuhi kamar sederhana itu. Dengan gerakan lemah, Silvia menggendong putri kecilnya, lalu mengayunkan tubuh mungil itu perlahan hingga kembali terlelap.Setelah memastikan selimutnya menutupi tubuh sang bayi, Silvia mengecup keningnya dengan penuh kasih."Mama akan selalu ada buat kamu, walaupun Mama harus menahan semua sakit ini sendirian."Dia baru saja selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah menjuntai dibawah bahu. Wajahnya tampak segar karena siraman air hangat, tetapi sorot matanya begitu sembab.Gaun rumahan yang dikenakannya sangat sederhana, bahkan sudah mulai kusam karena terlalu sering dicuci. Tak ada lagi perempuan yang dulu gemar berdandan. Sejak melahirkan, seluruh hidup Silvia hanya berputar pada bayinya.Namun, di dalam benaknya pemandangan sore tadi terus berulang tanpa henti.Hans keluar dari rumah sambil merangkul pundak Anggi den
“Sayang, tolong ganti popok anak kita!” teriak Silvia dari dapur.Suara tangisan bayi yang nyaring memenuhi rumah mewah itu. Tangisan yang seharusnya menjadi panggilan bagi seorang ayah untuk bergerak, tetapi beberapa menit berlalu tanpa ada respons.Silvia yang sedang mengaduk sayur di atas kompor menoleh ke arah kamar kecil tempat putrinya terbaring. Hatinya mulai gelisah.“Hans! Tolong ganti popok Dinda dulu!” teriaknya sekali lagi.“Ya, bentar!” sahut Hans dari ruang tamu.Namun tangisan Dinda justru semakin keras.Silvia menggigit bibir bawahnya. Tangan yang masih memegang sendok kayu mulai bergetar karena kesal. Ia mematikan api kompor lalu berjalan cepat menuju ruang tamu.Langkahnya terhenti. Dadanya seketika terasa sesak.Di depan matanya, Hans sedang duduk sangat dekat dengan seorang wanita muda bernama Anggi. Keduanya tertawa riang seolah dunia hanya milik mereka berdua.Yang membuat hati Silvia semakin remuk adalah ketika melihat Hans menggigit separuh cokelat yang dipegan







