Share

Bab 6

Author: Tinta Hitam
last update publish date: 2026-07-23 21:40:28

"Kalau aku jadi kalian, aku pasti bakal syok dengar rahasia ini," bisik Anggi sambil melirik ke arah pintu, memastikan tak ada orang lain yang mendengar.

Eko mengernyitkan dahi. "Rahasia apa?"

Dirga ikut mendekat. "Jangan bikin penasaran deh."

Senyum tipis terukir di bibir Anggi. Ia mencondongkan tubuhnya, lalu berkata dengan suara yang nyaris seperti embusan angin, namun jelas menggema di ruangan itu.

"Bayi yang selama ini dirawat Silvia... sebenarnya anakku dan Hans."

"Apa?!" seru Eko spontan.

Dirga bahkan sampai berdiri dari kursinya.

"Anggi, lo bercanda, kan?" ujarnya dengan wajah serius. Lebih serius dari dosen yang sedang mengajar.

Bukannya menjawab dengan serius, Anggi justru memegangi perutnya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha... kalian lucu sekali!"

Air matanya sampai keluar karena terlalu keras tertawa.

"Aku nggak bercanda. Itu memang anakku dan Hans."

Eko masih menggeleng tak percaya.

"Nggak mungkin... selama ini semua orang mengira itu anak Silvia. Dan bagaimana bisa."

"Itulah lucunya." Anggi menyeringai sinis. "Silvia benar-benar perempuan paling bodoh yang pernah aku kenal."

Tatapannya dipenuhi ejekan. "Dia merawat anakku dengan penuh kasih sayang. Menimang, menyusui, begadang setiap malam, mencurahkan seluruh cintanya... padahal yang dia peluk setiap hari adalah anakku."

Tawa kecil kembali lolos dari bibirnya. "Dia bahkan bangga menyebut dirinya seorang ibu."

Anggi menggeleng pelan sambil terkekeh.

"Padahal dia cuma pengasuh yang nggak dibayar." Ucapan itu disambut tawa kecil oleh Hans.

Eko yang sejak tadi masih kebingungan akhirnya bertanya,

"Tapi... gimana bisa? Bukannya Silvia memang melahirkan waktu itu?"

Semua mata beralih kepada Hans. Pria itu tampak santai. Tak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya.

"Aku cuma memenuhi keinginan Anggi."

"Maksudnya?"

Hans menarik napas pendek sebelum menjawab datar. "Anggi sangat ingin punya anak."

Tatapannya kemudian beralih kepada Anggi yang tersenyum puas. "Dan aku hanya mengabulkan permintaannya. Tapi Anggi tidak mau begadang, dan dia ingin tubuhnya tetap ideal karena tak mau menyusui, jadi yasudah biarkan Silvia yang rawat."

Dirga mengerutkan dahi. "Jadi... kalian memang sudah merencanakan semuanya?"

Hans mengangkat bahu. "Bisa dibilang begitu."

Ruangan kembali hening beberapa saat.

Hingga akhirnya Dirga mengajukan pertanyaan yang membuat suasana terasa sedikit berbeda.

"Kalau begitu... anak Silvia ke mana?"

Tatapan Hans berubah datar.

Dirga kembali bertanya dengan ragu. "Apa... kalian menukar bayinya?"

Sesaat ruangan dipenuhi keheningan. Lalu...

"Hahaha...!"

Hans justru tertawa renyah. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menggeleng pelan. "Nggak."

Eko dan Dirga saling berpandangan.

Hans melanjutkan dengan nada angkuh, seolah sedang menceritakan sesuatu yang biasa saja.

"Karena anak Silvia sebenarnya sudah meninggal sesaat setelah dilahirkan."

Kalimat itu meluncur tanpa beban. Tanpa rasa bersalah dan tanpa sedikit pun penyesalan.

"Aku hanya menukar bayi yang sudah meninggal itu dengan bayi Anggi. Anak kami."

Sudut bibirnya terangkat. "Jadi Silvia tetap percaya kalau dia berhasil melahirkan anak yang sehat." Hans merangkul pinggang ramping Anggi dan mengecup bibirnya sekilas tanpa rasa malu.

Anggi kembali tertawa. "Dan sampai hari ini dia nggak tahu apa-apa. Apa dong kalo bukan wanita bodoh? Hahaha ... Tapi aku terimakasih sih sama dia, sebab aku tidak harus merusak tubuhku mengurus anak itu."

"Benar-benar kasihan," gumam Eko.

Namun nada suaranya sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan. Sebaliknya, Ia ikut tertawa, dan Dirga pun demikian.

"Hahaha... ternyata selama ini dia membesarkan anak kalian." sahut Dirga. "Kalau suatu hari nanti dia tahu kenyataannya, pasti dunianya langsung hancur."

Ucapan itu justru membuat keempat orang di ruangan tersebut tertawa semakin keras.

Tak seorang pun menunjukkan rasa iba pada penderitaan Silvia. Tak ada penyesalan. Tak ada empati.

Bagi mereka, penderitaan Silvia hanyalah bahan candaan yang begitu menghibur. Mereka berempat memang seperti ba-bi, tidak punya rasa kemanusiaan. Sementara hewan saja punya, namun Hans malah tega menukar bayinya sendiri.

Sementara itu. Di balik dinding ruangan, Silvia berdiri membatu. Wajahnya perlahan memucat.

Tangannya gemetar hebat hingga tanpa sadar meremas dada kirinya.

Sakit. Sangat sakit. Seolah ada palu raksasa yang menghantam jantungnya berkali-kali tanpa ampun.

Air mata mulai mengalir. Mula-mula hanya setetes, lalu berubah menjadi deras, membasahi kedua pipinya.

Seluruh tubuhnya bergetar. Napasnya terasa sesak. Kakinya mendadak kehilangan tenaga.

"Ya Allah ternyata ..." Suara lirih itu keluar bersama isak yang tertahan.

Selama ini ... Selama bertahun-tahun Ia mengira sedang membesarkan darah dagingnya sendiri.

Dia rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan mimpinya demi seorang anak yang begitu dicintainya.

Setiap malam ia terbangun saat bayi itu menangis. Setiap kali anak itu sakit, ia menangis lebih keras daripada siapa pun. Dia memeluknya dengan kasih sayang seorang ibu.

Namun ternyata, smuanya hanyalah kebohongan.

"Anakku..." Suara Silvia bergetar hebat. "Jadi... anakku sudah..." Kalimat itu tercekat di tenggorokannya.

Air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan. Dadanya semakin sesak. Pandangannya mulai kabur. Tubuhnya limbung hingga akhirnya ia terjatuh.

Beruntung Fatih dengan sigap menangkap tubuhnya sebelum jatuh membentur lantai.

"Silvia!" Fatih memegangi kedua bahunya dengan panik. "Silvia, kamu dengar Kakak?"

Silvia mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, dipenuhi kehancuran yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Dengan bibir bergetar ia berbisik, "Kak ... Selama ini aku dibohongi."

Fatih menggenggam tangannya erat. "Silvia kakak dengar ...."

"Ternyata bayi itu..." Silvia berusaha melanjutkan ucapannya. "Ternyata bayi itu..." Air matanya semakin deras. "Bukan..."

Belum sempat kalimat itu selesai, matanya mendadak terpejam. Tubuhnya lunglai tak berdaya.

"Silvia!" Fatih panik. Ia menepuk pelan pipi wanita itu. "Silvia! Bangun!"

Tak ada jawaban. Napas Silvia terdengar lemah.

Tanpa berpikir panjang, Fatih segera menggendong tubuh Silvia dengan kedua lengannya.

"Kakak akan membawamu ke rumah sakit."

Ia berlari menyusuri mall itu dengan napas memburu. Wajahnya dipenuhi kepanikan.

Sesampainya di parkiran, Fatih membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa lalu membaringkan Silvia di kursi belakang sepelan mungkin.

"Tolong bertahan..." Suara Fatih bergetar. "Jangan tinggalkan Kakak seperti ini."

"Cepat kerumah sakit!" titahnya pada sang sopir.

Mobil melaju kencang membelah jalan, sementara Fatih terus menoleh ke arah Silvia yang masih tak sadarkan diri.

---

Di dalam ruangan...

Tawa Hans perlahan terhenti. Entah mengapa, di sela riuhnya suara mereka, telinganya menangkap suara samar dari luar.

"Silvia ...."

Nama itu terdengar lirih. Namun cukup membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Hans mengernyit. "Aku seperti mendengar nama Silvia?"

Anggi menatapnya heran. "Ada apa, Hans?"

Hans tidak menjawab. Perasaan gelisah tiba-tiba menyelimuti dadanya. Jangan-jangan Silvia mendengar semua pembicaraan mereka?

Tanpa berpikir panjang, ia berdiri lalu berjalan cepat menuju balik dinding tempat suara itu berasal.

Jantungnya berdetak semakin keras setiap langkah yang diambilnya.

Sesampainya di sana lorong itu sunyi. Tak ada siapa pun. Hanya angin dari pendingin ruangan yang berembus pelan.

Hans memandang ke kanan lalu ke kiri. Kosong. Ia menelan ludah. Dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar, ia bergumam,

"Apa tadi aku cuma salah dengar ya?"

BERSAMBUNG.....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ambil Saja Suamiku    Aah!

    Silvia menggeleng sambil tertawa. “Padahal yang bekerja keras bukan cuma aku.” "Tapi orang yang paling berjasa tetap kamu.” kelakar Leon. Setelah makanan tersaji, suasana berubah jauh lebih santai. Mereka mulai mengenang masa-masa sekolah dahulu. “Ingat waktu kamu pernah dihukum berdiri di depan kelas?” Silvia langsung tertawa. “Jangan diingat-ingat.” “Padahal waktu itu kamu yang paling rajin.” “Aku dihukum gara-gara membela teman.” Leon tertawa lepas. “Dan guru malah mengira kamu yang membuat keributan.” Silvia ikut tertawa hingga matanya sedikit menyipit. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawanya terdengar begitu lepas. Tanpa ia sadari, sejak tadi Leon tidak benar-benar fokus pada makanan. Tatapan pria itu justru terus tertuju kepada Silvia. Tatapan yang begitu dalam penuh kekaguman, Penuh rasa syukur dan menyimpan perasaan yang selama bertahun-tahun ia pendam sendirian. Namun Silvia sama sekali tidak menyadarinya. Ia masih sibuk menceritakan berbagai kenangan m

  • Ambil Saja Suamiku    Lepaskan!

    “Lepaskan!” Suara Silvia terdengar dingin disertai nada tegas. Tubuhnya refleks menegang ketika dua telapak tangan tiba-tiba menutup kedua matanya dari arah belakang. Berkas-berkas kerja sama yang baru saja ia rapikan hampir terjatuh karena rasa terkejut yang begitu mendadak. Ruangan yang sebelumnya dipenuhi kesibukan kini mulai lengang. Para tamu telah pulang, para staf sedang membereskan perlengkapan acara, sementara Silvia masih bertahan menyelesaikan pekerjaannya. Karena itu, sentuhan tiba-tiba itu membuat jantungnya berdetak jauh lebih cepat. Terdengar suara tawa kecil yang begitu akrab. “Hei, galak sekali. Baru juga bercanda.” Orang itu terkekeh pelan sebelum akhirnya melepaskan kedua tangannya dari wajah Silvia. Silvia segera membalikkan tubuhnya dengan wajah waspada. Namun sesaat kemudian ia mengembuskan napas panjang sambil memegang dadanya yang masih berdebar. “Ternyata kamu, Leon.” Ada nada lega yang begitu jelas dalam ucapannya. Dia pikir itu Hans, atau komplotann

  • Ambil Saja Suamiku    Ingin Bertemu

    "Aku---" Belum sempat Anggi menjawab, Mama Novi malah tertawa kecil.Plak.Ia memukul pelan lengan putra sulungnya. "Dasar anak ini. Kamu lupa? Itu Anggi, teman kecil Hans. Dulu kamu juga sering bermain bersama dia. Bahkan kamu yang paling sering melindunginya kalau ada anak-anak nakal mengganggu."Sony memejamkan mata beberapa detik.Ia mencoba mengingat wajah masa kecil yang mulai samar dalam ingatannya.Perlahan bibirnya membentuk senyum kecil. "Oh... Jadi kamu Anggi."Wanita itu tersenyum manis.Sony mengangguk pelan. "Sekarang kamu jauh lebih cantik. Pantas saja hampir tidak mengenalimu."Pujian itu terdengar tulus. Tanpa ada maksud lain. Namun senyum Anggi justru berubah menjadi sedikit berbeda.Ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Seolah ada maksud tersembunyi di balik lengkungan bibirnya."Aduh, Kak Sony terlalu berlebihan." Anggi terkekeh kecil. "Tapi memang sih, sejak dulu banyak pria yang tergila-gila sama aku. Jadi wajar saja kalau Kak Sony juga ikut terpikat."Ruangan mend

  • Ambil Saja Suamiku    Siapa Dia?

    Pintu rumah keluarga Wijaya terbuka perlahan.Suara langkah kaki yang tenang namun tegas menggema memenuhi ruang tamu yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.Sosok pria bertubuh tinggi dengan jas hitam sederhana memasuki ruangan itu. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, sorot matanya dingin namun tajam seolah mampu menembus kebohongan siapa pun yang berdiri di hadapannya.Aura yang dipancarkannya membuat seluruh isi ruangan mendadak membeku.Bahkan Hans yang sejak tadi tampak percaya diri mendadak berdiri dari duduknya.Pria itu menghentikan langkahnya tepat di tengah ruang tamu. Tatapannya berkeliling, mengamati satu per satu wajah yang berada di sana.Lalu dengan suara berat yang berwibawa, ia bertanya, "Siap yang ingin menghancurkan keluarga Wijaya?"Kalimat itu meluncur datar. Namun justru karena diucapkan dengan begitu tenang, setiap orang yang mendengarnya merasakan tekanan luar biasa.Hans menelan ludah. "K-Kak Sony ... kapan pulang?" tanyanya dengan mata membulat penuh kete

  • Ambil Saja Suamiku    Karena Kamu!

    Suasana ruang tamu kembali dipenuhi keheningan yang mencekam. Hanya terdengar suara napas mereka yang sama-sama berat.Beberapa saat kemudian Mama Novi kembali menatap Anggi. "Kalau kerja sama itu batal, bukankah masih bisa dibuat lagi?"Tatapannya penuh harapan. "Paman kamu bekerja di MH Group, kan? Bukankah dia bisa membantu lagi?"Namun harapan itu langsung dihancurkan oleh jawaban Anggi."Tidak mungkin." Suaranya lirih. Tetapi penuh kepahitan."Mungkin saja saat ini Paman sudah dipecat.""Apa?!" Mama Novi spontan mundur satu langkah.Seketika tubuhnya limbung. Wajahnya yang semula dipenuhi amarah kini berubah pucat pasi. Rasanya seluruh tenaga dalam tubuhnya seolah menghilang begitu saja.Bruk...Wanita paruh baya itu terduduk lemas di lantai. Tangannya gemetar menopang tubuhnya sendiri. Tatapannya kosong dan napasnya mulai memburu.Seolah berita yang baru saja didengarnya telah menghancurkan seluruh harapan yang selama ini ia bangun."D-dipecat?" Suara Mama Novi bergetar."Kenapa

  • Ambil Saja Suamiku    Hantaman

    "Brakkk!"Suara pecahan vas bunga menggema begitu keras di seluruh ruang tamu.Pecahan kaca berserakan di lantai marmer, sementara bunga-bunga yang semula tertata rapi kini terlempar ke segala arah."Wuaaa... huaaa..."Tangis bayi yang berada di gendongan Mama Novi langsung pecah. Bayi kecil itu terkejut mendengar suara benturan yang begitu keras hingga tubuh mungilnya bergetar."Astaga, Hans!" seru Mama Novi dengan wajah kaget sambil mengayun pelan tubuh bayi itu. "Kenapa baru pulang malah marah-marah begini? Bukannya kalian seharusnya senang? Bukannya hari ini perusahaan Wijaya berhasil bekerja sama dengan MH Group?"Hans berdiri membelakangi mereka.Kedua tangannya mengepal begitu erat hingga urat-urat di lengannya menonjol. Rahangnya mengeras, sementara napasnya terdengar berat, dipenuhi amarah yang belum juga mereda sejak meninggalkan gedung acara.Dengan suara kecut dan penuh kebencian, ia menjawab,"Kerja sama apa, Ma? Semuanya hancur! Semuanya kacau balau! Tidak ada satu pun y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status