INICIAR SESIÓN"Bagaimana keadaanmu, Silvia?" suara Fatih bergetar. Kedua tangannya menggenggam erat jemari adiknya yang terasa dingin. Tatapannya dipenuhi kecemasan, seolah takut kehilangan satu-satunya adik yang begitu ia sayangi.
Kelopak mata Silvia bergerak perlahan. Napasnya masih tersengal, wajahnya pucat, sementara bekas air mata masih membasahi kedua pipinya. Saat pandangannya bertemu dengan Fatih, bibirnya bergetar hebat. "Ka... Kak Fatih ...." Hanya itu yang mampu ia ucapkan sebelum tangisnya kembali pecah. Isakannya begitu pilu hingga tubuhnya bergetar hebat. Semua luka yang selama ini ia tahan seolah tumpah dalam sekali waktu. Fatih memejamkan mata. Dadanya terasa sesak melihat adiknya menangis seperti anak kecil yang kehilangan tempat berlindung. Perlahan ia mengusap punggung Silvia, membiarkannya meluapkan semua rasa sakit yang selama ini dipendam sendirian. "Menangislah... Kakak di sini." Silvia justru menangis semakin keras. "Aku capek, Kak... Aku benar-benar capek. Mereka sangat jahat, bahkan melebihi jin iprit." Kalimat sederhana itu menghancurkan hati Fatih berkeping-keping. Selama ini ia mengira Silvia baik-baik saja. Ia percaya ketika adiknya selalu berkata bahwa rumah tangganya masih bisa dipertahankan. Namun kini, melihat sendiri kondisi Silvia yang begitu rapuh, ia sadar bahwa semua senyum itu hanyalah topeng. Fatih menggenggam kedua tangan Silvia semakin erat. "Maafkan Kakak. Kakak terlambat menyadari semua penderitaanmu." Silvia hanya menggeleng di sela tangisnya. "Bukan salah Kakak." "Tidak." Fatih mengusap air mata adiknya. "Sebagai kakak, seharusnya aku melindungimu. Tapi aku malah membiarkanmu menghadapi semua ini sendirian." Sorot mata Fatih yang semula dipenuhi kesedihan perlahan berubah menjadi dingin. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya mengepal kuat hingga urat-uratnya tampak jelas. "Silvia..." Wanita itu mengangkat wajahnya perlahan. "Aku bersumpah..."Suara Fatih begitu lirih, tetapi penuh tekanan. "Aku akan membalas semua rasa sakit yang sudah mereka berikan kepadamu." Tatapan Silvia melebar. "Kak ...." "Tidak ada seorang pun yang berhak menghancurkan hidup adikku seperti ini." Suara Fatih semakin berat. "Hans... Anggi... dan siapa pun yang ikut mempermainkanmu... mereka akan menerima balasannya." Silvia kembali menangis. Kali ini bukan hanya karena luka, melainkan karena akhirnya ada seseorang yang berdiri di sisinya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak sendirian. --- Di tempat yang jauh berbeda... Dentuman musik mengguncang ruangan VVIP sebuah klub malam. Lampu-lampu berwarna merah, ungu, dan biru berputar tanpa henti, sementara aroma alkohol memenuhi udara. Di atas meja kaca tersusun botol-botol minuman mahal yang hampir kosong. Tawa keras bersahutan. Hans duduk dengan wajah memerah karena mabuk. Di atas pangkuannya, Anggi bersandar manja sambil melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu. Senyum kemenangan tak pernah lepas dari bibirnya. Ia sama sekali tidak peduli bahwa di hadapan mereka masih ada Dirga dan Eko. Sesekali Anggi menyandarkan kepalanya di dada Hans, menikmati perhatian yang selama ini begitu ia dambakan. Dengan suara sedikit cadel karena pengaruh alkohol, Anggi terkekeh. "Hans, kenapa sih belum pulang? Apa nggak kasihan sama istrimu?" Kalimat itu terdengar seperti pertanyaan, tetapi nada bicaranya jelas penuh ejekan. Hans tertawa pendek. "Istri?" Ia mendengus sinis. "Melihat Silvia di rumah saja sudah bikin aku muak." Dirga dan Eko ikut tertawa mendengar ucapan itu. Hans lalu mengangkat dagu Anggi perlahan. Tatapannya sayu akibat alkohol. "Ngomong-ngomong...." Ia menatap wajah Anggi cukup lama. "Kenapa kamu mau mengandung anakku?" Anggi tersenyum tipis. "Tentu saja karena aku ingin menikah denganmu." Hans mengernyit. "Menikah?" "Iya." "Kalau begitu..." Hans mengusap pelan pipi Anggi. "Kenapa nggak dari dulu kamu bilang kalau suka sama aku?" Anggi mengembuskan napas panjang sebelum tertawa kecil. "Aku mana tahu kalau kamu bakal menikah sama Silvia." Ia menggeleng pelan. "Kalau saja aku tahu sejak awal, mungkin aku sudah menyatakan perasaanku jauh sebelum kamu mengenalnya." Tatapan Anggi berubah penuh kemenangan. "Mana mungkin aku membiarkan perempuan miskin seperti Silvia mendapatkan laki-laki yang aku inginkan." Hans hanya tersenyum tipis. Entah karena mabuk atau karena benar-benar menikmati ucapan itu. Eko menepuk meja keras-keras. "Hahaha ... demi apa, kisah kalian bertiga ini benar-benar kayak sinetron." Dirga ikut mengangguk sambil terkekeh. "Iya! Ada istri sah, ada sahabat, ada anak rahasia ... lengkap banget!" Semua orang di ruangan itu tertawa. Tak seorang pun merasa bersalah. Bagi mereka, penderitaan Silvia hanyalah bahan lelucon. Dirga kemudian menunjuk Hans. "Eh, Hans." "Hm?" "Kenapa dari tadi malah ngobrol terus? Hibur dong Anggi." Hans menoleh pada wanita di pangkuannya. "Kamu maunya dihibur seperti apa?" Anggi hanya menggigit bibirnya pelan sambil tersenyum manis, sengaja membiarkan Hans semakin penasaran. Melihat tingkah keduanya, Eko kembali mengangkat gelasnya. "Eh... aku jadi ingat sesuatu." Semua mata tertuju padanya. "Bukannya sebentar lagi ulang tahun anakmu?" Hans mengangguk pelan. "Iya, memang kenapa?" Senyum licik perlahan terukir di wajah Eko. "Aku punya ide." Dirga langsung mendekat dengan antusias. "Ide apa?" Eko menyesap sedikit minumannya sebelum berkata pelan namun penuh kelicikan. "Bagaimana kalau di hari ulang tahun anakmu nanti..." Ia menghentikan kalimatnya sesaat, menikmati rasa penasaran teman-temannya. "Kamu menyewa sebuah kamar hotel mewah untuk merayakannya bersama Anggi." Hans memiringkan kepala. "Lalu?" Eko menyeringai tipis. " Biarkan saja Silvia sendirian di pesta. Dia pasti akan menjadi bahan tertawaan semua orang." Ruangan kembali dipenuhi tawa. Bagi mereka, itu terdengar seperti sebuah lelucon yang menghibur. "Kau benar. Aku akhir-akhir ini terlalu baik padanya, sampai dia ngelunjak dan minta cerai. Dia pikir mudah bagiku melepaskan babu, ckckck." Tanpa mereka sadari, semua ucapan dan perbuatan diruangan itu di lihat dan di dengar oleh Silvia dan Fatih. BERSAMBUNG.....“Silvia, kamu keterlaluan!” teriak seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun dengan suara melengking yang menggema di seluruh aula. Wanita itu berjalan cepat dengan langkah penuh keangkuhan. Tatapannya tajam, dipenuhi kebencian yang seolah telah dipupuk selama bertahun-tahun. Di pelukannya tergendong seorang bayi mungil yang masih tertidur lelap, sama sekali tidak mengerti bahwa dirinya sedang menjadi pusat sebuah pertunjukan yang penuh kepalsuan. “Berani-beraninya kamu menitipkan bayi ini di rumahku! Kamu ibu macam apa?” bentaknya lagi tanpa sedikit pun menahan emosi. Semua kepala langsung menoleh ke arah sumber keributan. Kilatan lampu kamera dari para wartawan memenuhi ruangan. Para tamu undangan saling berbisik penasaran, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Di hadapan amarah yang membuncah itu, Silvia hanya berdiri dengan tenang. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Bibirnya hanya menyunggingkan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Tatapannya begit
"Cukup! Aku sudah tidak bisa diam lagi!"Brak!Suara benturan keras menggema di seluruh ruangan rumah sakit ketika kepalan tangan Fatih menghantam meja kecil di samping ranjang. Gelas berisi air bergetar hingga tumpah, sementara vas bunga bergoyang nyaris terjatuh.Rahang Fatih mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol, sementara sorot matanya dipenuhi bara kemarahan. Wajahnya begitu menyeramkan, laksana seekor singa yang siap menerkam siapa saja yang berani menyakiti keluarganya.Dadanya naik turun menahan amarah yang sejak tadi berusaha ia pendam."Anggi dan Hans benar-benar sudah kelewatan!" geramnya dengan suara bergetar. "Mereka menghancurkan hidupmu, mempermainkan perasaanmu, lalu masih bisa tertawa seolah tidak terjadi apa-apa!"Fatih berdiri dari kursinya hingga kursi itu bergeser ke belakang."Aku akan menemui mereka sekarang juga!" bentaknya. "Aku akan melabrak dua pengkhianat itu! Kalau perlu, aku buat mereka merasakan sedikit saja rasa sakit yang selama ini kamu tanggung!"
"Bagaimana keadaanmu, Silvia?" suara Fatih bergetar. Kedua tangannya menggenggam erat jemari adiknya yang terasa dingin. Tatapannya dipenuhi kecemasan, seolah takut kehilangan satu-satunya adik yang begitu ia sayangi. Kelopak mata Silvia bergerak perlahan. Napasnya masih tersengal, wajahnya pucat, sementara bekas air mata masih membasahi kedua pipinya. Saat pandangannya bertemu dengan Fatih, bibirnya bergetar hebat. "Ka... Kak Fatih ...." Hanya itu yang mampu ia ucapkan sebelum tangisnya kembali pecah. Isakannya begitu pilu hingga tubuhnya bergetar hebat. Semua luka yang selama ini ia tahan seolah tumpah dalam sekali waktu. Fatih memejamkan mata. Dadanya terasa sesak melihat adiknya menangis seperti anak kecil yang kehilangan tempat berlindung. Perlahan ia mengusap punggung Silvia, membiarkannya meluapkan semua rasa sakit yang selama ini dipendam sendirian. "Menangislah... Kakak di sini." Silvia justru menangis semakin keras. "Aku capek, Kak... Aku benar-benar capek. Mereka sang
"Kalau aku jadi kalian, aku pasti bakal syok dengar rahasia ini," bisik Anggi sambil melirik ke arah pintu, memastikan tak ada orang lain yang mendengar. Eko mengernyitkan dahi. "Rahasia apa?" Dirga ikut mendekat. "Jangan bikin penasaran deh." Senyum tipis terukir di bibir Anggi. Ia mencondongkan tubuhnya, lalu berkata dengan suara yang nyaris seperti embusan angin, namun jelas menggema di ruangan itu. "Bayi yang selama ini dirawat Silvia... sebenarnya anakku dan Hans." "Apa?!" seru Eko spontan. Dirga bahkan sampai berdiri dari kursinya. "Anggi, lo bercanda, kan?" ujarnya dengan wajah serius. Lebih serius dari dosen yang sedang mengajar. Bukannya menjawab dengan serius, Anggi justru memegangi perutnya sambil tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... kalian lucu sekali!" Air matanya sampai keluar karena terlalu keras tertawa. "Aku nggak bercanda. Itu memang anakku dan Hans." Eko masih menggeleng tak percaya. "Nggak mungkin... selama ini semua orang mengira itu anak Silvia. Dan ba
"Perceraian?" Hans mengulang kata itu, lalu tertawa keras hingga suara tawanya menggema di lorong rumah sakit. "Silvia ... Silvia ... kau benar-benar pandai membuat lelucon."Tawa itu bukan tawa bahagia. Melainkan tawa yang dipenuhi ejekan dan penghinaan.Dengan santai, Hans mengambil amplop berisi surat cerai yang baru saja disodorkan Silvia. Ia menatap lembaran itu beberapa detik, kemudian ...Srrttt...Tangannya merobek surat tersebut menjadi dua.Srrtt...Lalu empat, delapan, enam belas dan akhirnya menjadi berkeping-keping.Potongan-potongan kertas itu berjatuhan ke lantai seperti harga diri Silvia yang selama ini terus diinjak tanpa belas kasihan.Hans melemparkannya ke udara dengan senyum angkuh."Kau bermimpi kalau mengira aku akan menceraikanmu."Silvia mematung. Air mata yang belum sempat mengering kembali memenuhi kedua matanya.Hans melangkah mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti."Dengar baik-baik." Suaranya rendah, tetapi begitu tajam menusuk. "Sampa
Hans masuk dengan wajah datar. Di tangannya ada sebuah rantang berisi bubur. Tanpa sedikit pun rasa bersalah, ia meletakkan rantang itu di meja."Oo ... ternyata kamu sudah sadar." Nada suaranya begitu dingin. "Nih. Makan buburnya."Silvia memandang laki-laki itu cukup lama.Tatapan yang dulu penuh cinta kini berubah menjadi tatapan asing.Tatapan seseorang yang sudah terlalu sering disakiti. Ia tersenyum tipis. Namun senyum itu penuh kepahitan."Gimana aku mau makan?" Silvia mengangkat tangan kirinya yang masih dipasang infus. "Aku masih lemah."Hans malah terkekeh. "Halah, cuma tangan yang diinfus doang, kan? Kan masih ada tangan satunya, bisa dong pakai yang itu." Silvia terperangah mendengarnya. Dulu Hans sangat romantis waktu masih pacaran, bahkan tak biarkan Silvia terluka. Tetapi, kenapa setelah menikah dan punya anak, berubah 180 derajat."Emangnya seluruh badanmu lumpuh? Kayak anak kecil saja." Ia menyilangkan tangan di dada. "Atau ... jangan-jangan kamu mau disuapin?"Nada







