Share

Bab 7

Author: Tinta Hitam
last update publish date: 2026-07-24 09:11:01

"Bagaimana keadaanmu, Silvia?" suara Fatih bergetar. Kedua tangannya menggenggam erat jemari adiknya yang terasa dingin. Tatapannya dipenuhi kecemasan, seolah takut kehilangan satu-satunya adik yang begitu ia sayangi.

Kelopak mata Silvia bergerak perlahan. Napasnya masih tersengal, wajahnya pucat, sementara bekas air mata masih membasahi kedua pipinya. Saat pandangannya bertemu dengan Fatih, bibirnya bergetar hebat.

"Ka... Kak Fatih ...."

Hanya itu yang mampu ia ucapkan sebelum tangisnya kembali pecah. Isakannya begitu pilu hingga tubuhnya bergetar hebat. Semua luka yang selama ini ia tahan seolah tumpah dalam sekali waktu.

Fatih memejamkan mata. Dadanya terasa sesak melihat adiknya menangis seperti anak kecil yang kehilangan tempat berlindung. Perlahan ia mengusap punggung Silvia, membiarkannya meluapkan semua rasa sakit yang selama ini dipendam sendirian.

"Menangislah... Kakak di sini."

Silvia justru menangis semakin keras. "Aku capek, Kak... Aku benar-benar capek. Mereka sangat jahat, bahkan melebihi jin iprit."

Kalimat sederhana itu menghancurkan hati Fatih berkeping-keping.

Selama ini ia mengira Silvia baik-baik saja. Ia percaya ketika adiknya selalu berkata bahwa rumah tangganya masih bisa dipertahankan. Namun kini, melihat sendiri kondisi Silvia yang begitu rapuh, ia sadar bahwa semua senyum itu hanyalah topeng.

Fatih menggenggam kedua tangan Silvia semakin erat. "Maafkan Kakak. Kakak terlambat menyadari semua penderitaanmu."

Silvia hanya menggeleng di sela tangisnya. "Bukan salah Kakak."

"Tidak." Fatih mengusap air mata adiknya. "Sebagai kakak, seharusnya aku melindungimu. Tapi aku malah membiarkanmu menghadapi semua ini sendirian."

Sorot mata Fatih yang semula dipenuhi kesedihan perlahan berubah menjadi dingin. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya mengepal kuat hingga urat-uratnya tampak jelas.

"Silvia..." Wanita itu mengangkat wajahnya perlahan.

"Aku bersumpah..."Suara Fatih begitu lirih, tetapi penuh tekanan. "Aku akan membalas semua rasa sakit yang sudah mereka berikan kepadamu."

Tatapan Silvia melebar. "Kak ...."

"Tidak ada seorang pun yang berhak menghancurkan hidup adikku seperti ini." Suara Fatih semakin berat. "Hans... Anggi... dan siapa pun yang ikut mempermainkanmu... mereka akan menerima balasannya."

Silvia kembali menangis. Kali ini bukan hanya karena luka, melainkan karena akhirnya ada seseorang yang berdiri di sisinya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak sendirian.

---

Di tempat yang jauh berbeda...

Dentuman musik mengguncang ruangan VVIP sebuah klub malam. Lampu-lampu berwarna merah, ungu, dan biru berputar tanpa henti, sementara aroma alkohol memenuhi udara.

Di atas meja kaca tersusun botol-botol minuman mahal yang hampir kosong.

Tawa keras bersahutan.

Hans duduk dengan wajah memerah karena mabuk. Di atas pangkuannya, Anggi bersandar manja sambil melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu. Senyum kemenangan tak pernah lepas dari bibirnya.

Ia sama sekali tidak peduli bahwa di hadapan mereka masih ada Dirga dan Eko.

Sesekali Anggi menyandarkan kepalanya di dada Hans, menikmati perhatian yang selama ini begitu ia dambakan.

Dengan suara sedikit cadel karena pengaruh alkohol, Anggi terkekeh.

"Hans, kenapa sih belum pulang? Apa nggak kasihan sama istrimu?"

Kalimat itu terdengar seperti pertanyaan, tetapi nada bicaranya jelas penuh ejekan.

Hans tertawa pendek. "Istri?" Ia mendengus sinis.

"Melihat Silvia di rumah saja sudah bikin aku muak."

Dirga dan Eko ikut tertawa mendengar ucapan itu.

Hans lalu mengangkat dagu Anggi perlahan. Tatapannya sayu akibat alkohol. "Ngomong-ngomong...." Ia menatap wajah Anggi cukup lama. "Kenapa kamu mau mengandung anakku?"

Anggi tersenyum tipis. "Tentu saja karena aku ingin menikah denganmu."

Hans mengernyit. "Menikah?"

"Iya."

"Kalau begitu..." Hans mengusap pelan pipi Anggi. "Kenapa nggak dari dulu kamu bilang kalau suka sama aku?"

Anggi mengembuskan napas panjang sebelum tertawa kecil. "Aku mana tahu kalau kamu bakal menikah sama Silvia."

Ia menggeleng pelan. "Kalau saja aku tahu sejak awal, mungkin aku sudah menyatakan perasaanku jauh sebelum kamu mengenalnya."

Tatapan Anggi berubah penuh kemenangan.

"Mana mungkin aku membiarkan perempuan miskin seperti Silvia mendapatkan laki-laki yang aku inginkan."

Hans hanya tersenyum tipis. Entah karena mabuk atau karena benar-benar menikmati ucapan itu.

Eko menepuk meja keras-keras. "Hahaha ... demi apa, kisah kalian bertiga ini benar-benar kayak sinetron."

Dirga ikut mengangguk sambil terkekeh. "Iya! Ada istri sah, ada sahabat, ada anak rahasia ... lengkap banget!"

Semua orang di ruangan itu tertawa. Tak seorang pun merasa bersalah. Bagi mereka, penderitaan Silvia hanyalah bahan lelucon.

Dirga kemudian menunjuk Hans.

"Eh, Hans."

"Hm?"

"Kenapa dari tadi malah ngobrol terus? Hibur dong Anggi."

Hans menoleh pada wanita di pangkuannya.

"Kamu maunya dihibur seperti apa?"

Anggi hanya menggigit bibirnya pelan sambil tersenyum manis, sengaja membiarkan Hans semakin penasaran.

Melihat tingkah keduanya, Eko kembali mengangkat gelasnya.

"Eh... aku jadi ingat sesuatu."

Semua mata tertuju padanya. "Bukannya sebentar lagi ulang tahun anakmu?"

Hans mengangguk pelan. "Iya, memang kenapa?"

Senyum licik perlahan terukir di wajah Eko. "Aku punya ide."

Dirga langsung mendekat dengan antusias. "Ide apa?"

Eko menyesap sedikit minumannya sebelum berkata pelan namun penuh kelicikan.

"Bagaimana kalau di hari ulang tahun anakmu nanti..." Ia menghentikan kalimatnya sesaat, menikmati rasa penasaran teman-temannya.

"Kamu menyewa sebuah kamar hotel mewah untuk merayakannya bersama Anggi."

Hans memiringkan kepala. "Lalu?"

Eko menyeringai tipis. " Biarkan saja Silvia sendirian di pesta. Dia pasti akan menjadi bahan tertawaan semua orang."

Ruangan kembali dipenuhi tawa. Bagi mereka, itu terdengar seperti sebuah lelucon yang menghibur.

"Kau benar. Aku akhir-akhir ini terlalu baik padanya, sampai dia ngelunjak dan minta cerai. Dia pikir mudah bagiku melepaskan babu, ckckck."

Tanpa mereka sadari, semua ucapan dan perbuatan diruangan itu di lihat dan di dengar oleh Silvia dan Fatih.

BERSAMBUNG.....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ambil Saja Suamiku    Aah!

    Silvia menggeleng sambil tertawa. “Padahal yang bekerja keras bukan cuma aku.” "Tapi orang yang paling berjasa tetap kamu.” kelakar Leon. Setelah makanan tersaji, suasana berubah jauh lebih santai. Mereka mulai mengenang masa-masa sekolah dahulu. “Ingat waktu kamu pernah dihukum berdiri di depan kelas?” Silvia langsung tertawa. “Jangan diingat-ingat.” “Padahal waktu itu kamu yang paling rajin.” “Aku dihukum gara-gara membela teman.” Leon tertawa lepas. “Dan guru malah mengira kamu yang membuat keributan.” Silvia ikut tertawa hingga matanya sedikit menyipit. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawanya terdengar begitu lepas. Tanpa ia sadari, sejak tadi Leon tidak benar-benar fokus pada makanan. Tatapan pria itu justru terus tertuju kepada Silvia. Tatapan yang begitu dalam penuh kekaguman, Penuh rasa syukur dan menyimpan perasaan yang selama bertahun-tahun ia pendam sendirian. Namun Silvia sama sekali tidak menyadarinya. Ia masih sibuk menceritakan berbagai kenangan m

  • Ambil Saja Suamiku    Lepaskan!

    “Lepaskan!” Suara Silvia terdengar dingin disertai nada tegas. Tubuhnya refleks menegang ketika dua telapak tangan tiba-tiba menutup kedua matanya dari arah belakang. Berkas-berkas kerja sama yang baru saja ia rapikan hampir terjatuh karena rasa terkejut yang begitu mendadak. Ruangan yang sebelumnya dipenuhi kesibukan kini mulai lengang. Para tamu telah pulang, para staf sedang membereskan perlengkapan acara, sementara Silvia masih bertahan menyelesaikan pekerjaannya. Karena itu, sentuhan tiba-tiba itu membuat jantungnya berdetak jauh lebih cepat. Terdengar suara tawa kecil yang begitu akrab. “Hei, galak sekali. Baru juga bercanda.” Orang itu terkekeh pelan sebelum akhirnya melepaskan kedua tangannya dari wajah Silvia. Silvia segera membalikkan tubuhnya dengan wajah waspada. Namun sesaat kemudian ia mengembuskan napas panjang sambil memegang dadanya yang masih berdebar. “Ternyata kamu, Leon.” Ada nada lega yang begitu jelas dalam ucapannya. Dia pikir itu Hans, atau komplotann

  • Ambil Saja Suamiku    Ingin Bertemu

    "Aku---" Belum sempat Anggi menjawab, Mama Novi malah tertawa kecil.Plak.Ia memukul pelan lengan putra sulungnya. "Dasar anak ini. Kamu lupa? Itu Anggi, teman kecil Hans. Dulu kamu juga sering bermain bersama dia. Bahkan kamu yang paling sering melindunginya kalau ada anak-anak nakal mengganggu."Sony memejamkan mata beberapa detik.Ia mencoba mengingat wajah masa kecil yang mulai samar dalam ingatannya.Perlahan bibirnya membentuk senyum kecil. "Oh... Jadi kamu Anggi."Wanita itu tersenyum manis.Sony mengangguk pelan. "Sekarang kamu jauh lebih cantik. Pantas saja hampir tidak mengenalimu."Pujian itu terdengar tulus. Tanpa ada maksud lain. Namun senyum Anggi justru berubah menjadi sedikit berbeda.Ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Seolah ada maksud tersembunyi di balik lengkungan bibirnya."Aduh, Kak Sony terlalu berlebihan." Anggi terkekeh kecil. "Tapi memang sih, sejak dulu banyak pria yang tergila-gila sama aku. Jadi wajar saja kalau Kak Sony juga ikut terpikat."Ruangan mend

  • Ambil Saja Suamiku    Siapa Dia?

    Pintu rumah keluarga Wijaya terbuka perlahan.Suara langkah kaki yang tenang namun tegas menggema memenuhi ruang tamu yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.Sosok pria bertubuh tinggi dengan jas hitam sederhana memasuki ruangan itu. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, sorot matanya dingin namun tajam seolah mampu menembus kebohongan siapa pun yang berdiri di hadapannya.Aura yang dipancarkannya membuat seluruh isi ruangan mendadak membeku.Bahkan Hans yang sejak tadi tampak percaya diri mendadak berdiri dari duduknya.Pria itu menghentikan langkahnya tepat di tengah ruang tamu. Tatapannya berkeliling, mengamati satu per satu wajah yang berada di sana.Lalu dengan suara berat yang berwibawa, ia bertanya, "Siap yang ingin menghancurkan keluarga Wijaya?"Kalimat itu meluncur datar. Namun justru karena diucapkan dengan begitu tenang, setiap orang yang mendengarnya merasakan tekanan luar biasa.Hans menelan ludah. "K-Kak Sony ... kapan pulang?" tanyanya dengan mata membulat penuh kete

  • Ambil Saja Suamiku    Karena Kamu!

    Suasana ruang tamu kembali dipenuhi keheningan yang mencekam. Hanya terdengar suara napas mereka yang sama-sama berat.Beberapa saat kemudian Mama Novi kembali menatap Anggi. "Kalau kerja sama itu batal, bukankah masih bisa dibuat lagi?"Tatapannya penuh harapan. "Paman kamu bekerja di MH Group, kan? Bukankah dia bisa membantu lagi?"Namun harapan itu langsung dihancurkan oleh jawaban Anggi."Tidak mungkin." Suaranya lirih. Tetapi penuh kepahitan."Mungkin saja saat ini Paman sudah dipecat.""Apa?!" Mama Novi spontan mundur satu langkah.Seketika tubuhnya limbung. Wajahnya yang semula dipenuhi amarah kini berubah pucat pasi. Rasanya seluruh tenaga dalam tubuhnya seolah menghilang begitu saja.Bruk...Wanita paruh baya itu terduduk lemas di lantai. Tangannya gemetar menopang tubuhnya sendiri. Tatapannya kosong dan napasnya mulai memburu.Seolah berita yang baru saja didengarnya telah menghancurkan seluruh harapan yang selama ini ia bangun."D-dipecat?" Suara Mama Novi bergetar."Kenapa

  • Ambil Saja Suamiku    Hantaman

    "Brakkk!"Suara pecahan vas bunga menggema begitu keras di seluruh ruang tamu.Pecahan kaca berserakan di lantai marmer, sementara bunga-bunga yang semula tertata rapi kini terlempar ke segala arah."Wuaaa... huaaa..."Tangis bayi yang berada di gendongan Mama Novi langsung pecah. Bayi kecil itu terkejut mendengar suara benturan yang begitu keras hingga tubuh mungilnya bergetar."Astaga, Hans!" seru Mama Novi dengan wajah kaget sambil mengayun pelan tubuh bayi itu. "Kenapa baru pulang malah marah-marah begini? Bukannya kalian seharusnya senang? Bukannya hari ini perusahaan Wijaya berhasil bekerja sama dengan MH Group?"Hans berdiri membelakangi mereka.Kedua tangannya mengepal begitu erat hingga urat-urat di lengannya menonjol. Rahangnya mengeras, sementara napasnya terdengar berat, dipenuhi amarah yang belum juga mereda sejak meninggalkan gedung acara.Dengan suara kecut dan penuh kebencian, ia menjawab,"Kerja sama apa, Ma? Semuanya hancur! Semuanya kacau balau! Tidak ada satu pun y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status