Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 103. Wajah Cemberut

Share

103. Wajah Cemberut

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-07-03 18:18:51

Teja buru-buru menggelengkan kepalanya demi meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.

"Jangan salah sangka, Bu. Memang udah biasa kayak gini punyaku, soalnya tanpa disuruh pun dia emang suka berdiri sendiri," jelas Teja dengan jujur.

"Apa kamu udah ngerasa enakan, Ja? Udah kuat belum sekarang?" pancing Septa sambil mengerlingkan matanya dengan tatapan menggoda.

"Kuat apa maksudnya, Bu?" tanya Teja seperti orang linglung karena kondisi fisik dan pikirannya yang masih belum pulih s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   200. Terbayar Tuntas

    Teja sudah membayangkan bahwa miliknya akan segera dimanjakan oleh bibir imut dan lidah basah Panda. Bayangan akan kehangatan dan kelembutan mulut gadis keturunan itu sudah tercetak di benaknya, memancing gejolak gairah yang kian sukar untuk dibendung.Namun perkiraannya itu ternyata sangat-sangat meleset jauh! Panda tidak membungkukkan badannya ke bawah untuk melakukan hal tersebut sesuai dengan dugaan Teja.Panda justru bangkit dan bergerak menduduki tubuh Teja lagi. Gerakannya yang tangkas dan cekatan membuat Teja harus kembali menahan napasnya di atas kasur empuk tempatnya berbaring.Yang berbeda, ia tak lagi duduk di perut, melainkan tepat di atas milik Teja yang menjulang. Beban tubuh Panda bergeser lebih rendah, langsung mengincar posisi paling privat dari tubuh pemuda di bawahnya."Ukh, ati-ati, Nda! Sakit kalau diduduki gitu!" keluh Teja refleks menahan bahu Panda. Wajahnya meringis menahan rasa nyeri di bagian miliknya yang tertekuk dan tertindih paksa oleh bobot tubuh

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   199. Ukuran Kamuflase

    Panda merubah posisinya. Gerakannya begitu tenang namun terlihat sudah sangat terbiasa.Ia bergeser secara perlahan tanpa memutuskan kontak mata dengan pria yang berada di bawah kungkungannya.Ia kini menduduki perut Teja dan menegakkan punggungnya. Posturnya yang tegak membuat bentuk lekuk fisiknya terekspos secara maksimal.Sensasi hangat kulit Panda menjalar cepat ke perut Teja. Sentuhan langsung dari permukaan kulit seputih susu itu terasa begitu hangat, mengalirkan hawa panas yang membakar fokus dan pertahanan diri Teja secara bertahap.Helaian tali G-string juga membuat nuansa sensasi yang menggoda dan unik. Gesekan kain minim yang membingkai pinggul mulus gadis Tionghoa itu menempel tepat di atas permukaan kaos Teja, memberikan efek gelitik yang kian memancing gejolak gairahnya.Ketika Teja masih sibuk menikmati himpitan paha dan bokong sekal Panda di perutnya, tangan Panda bergerak. Jemari lentiknya meluncur turun tanpa ragu, menyasar pergelangan tangan tegap milik Teja ya

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   198. Apakah Sudah Pas?

    Teja berniat mendorong bahu Panda agar mundur, namun gerakan tangannya langsung ditangkis dengan begitu lincah dan bertenaga. Pergelangan tangan Teja ditepis cepat ke samping, mematahkan usaha pemuda itu untuk menciptakan jarak aman di antara mereka berdua.Detik berikutnya, Panda mengirimkan sebuah pukulan terampil tepat ke arah wajah Teja. Kepalan tangan mulusnya melayang lurus dengan kekuatan dan kecepatan yang mengagumkan.WUTT!Teja refleks mundur. Kepala Teja tertarik ke belakang beberapa sentimeter, berhasil menghindari hantaman telak ke area hidungnya berkat insting bertarungnya yang tinggi.Namun Panda tidak membiarkan pertahanan lawannya kembali rapat. Begitu pukulan pertamanya meleset, Panda segera merunduk dan melakukan hentakan halus ke perut Teja. Telapak tangannya mendorong dengan pukulan lembut namun kuat yang terpusat di titik tengah tubuh.PUKK!Teja yang tak siap menerima serangan langsung terdorong mundur hingga terhempas ke atas ranjang. Tubuhnya mendarat te

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   197. Tanggung Jawab!

    "Weh, ngapain solo karir?!" tampik Panda dengan nada suara yang meninggi, langsung menolak saran asal yang melintas di benak Teja tersebut."Ya daripada ditahan-tahan," jawab Teja santai sembari mengangkat kedua bahunya, memberikan tanggapan realistis atas kondisi darurat yang dihadapi oleh gadis di depannya itu."Nggak lega!" lanjut Panda penuh penekanan.Panda memang awalnya cukup tertutup dalam hal aktivitas pribadinya. Sebagai seorang wanita muda etnis Tionghoa yang menjaga norma kesopanan dan citra anggun di depan umum, membicarakan hal-hal semacam ini kepada pria yang baru dikenal tentu bukanlah tabiat kebiasaannya.Namun, karena sisi hyper-nya terus saja terpancing dari tadi, ia pun menyerah juga. Gejolak hasrat terpendam yang sudah lama tidak mendapatkan penyaluran, ditambah dengan rangsangan dari pijatan hangat energi Qi milik Teja beberapa saat lalu, dan juga arah pembicaraan yang digagas Teja sejak tadi, membuatnya tak bisa lagi bertahan."Aku sih udah sering kayak gitu!"

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   196. Solo Karir

    "Oke, aku udah dapet jawabannya!" seru Teja dengan wajah yang seketika berubah cerah, seolah baru saja menemukan kepingan teka-teki rumit yang tadi menghilang.Panda membelalakkan matanya, menatap Teja dengan raut heran bercampur tidak percaya. "Udah dapet? Cuma pakai wawancara nggak jelas barusan?" tanya Panda bernada menyindir, meragukan analisis yang hanya bersumber dari pertanyaan-pertanyaan sensitif soal kehidupan pribadinya tadi.Teja mengangguk cepat tanpa ragu sedikitpun. "Iya, udah dapet," jawabnya singkat.Panda membetulkan lilitan selimut di dadanya. Ia semakin diliputi rasa penasaran yang tak berujung."Katakan, Ja," desaknya, menuntut penjelasan langsung tanpa ada lagi basa-basi.Teja menarik napas panjang, menatap lurus ke sepasang mata Panda untuk menyampaikan kesimpulannya secara serius. "Karena hasratmu tinggi, maka sentuhan pria sudah menjadi ketergantungan buat kamu," buka Teja memulai pemaparannya.Panda terdiam, mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   195. Puasa Setahun

    "Kamu umur berapa, Nda?" tanya Teja tiba-tiba. Pertanyaan itu terlontar begitu saja, mengabaikan kepanikan yang sedang melanda raut wajah Panda.Panda mengerutkan keningnya, merasa heran dengan arah pembicaraan yang mendadak melenceng jauh dari masalah penyakitnya. Namun, melihat sorot mata Teja yang sangat serius, dia akhirnya menjawab juga. "Dua puluh dua tahun," jawab Panda pendek."Udah punya pacar belum?" tanggap Teja cepat tanpa memberikan jeda.Panda melotot kaget, refleks membetulkan lilitan selimut di dadanya yang sedikit melorot. "Eh kok malah nanyanya kesana sih, Ja?" protes Panda, merasa tidak nyaman dengan pertanyaan pribadi yang terlontar di dalam kamar mewah milik Teja tersebut."Udahh! Jawab aja, Nda!" sentak Teja dengan intonasi yang tegas, menekankan bahwa dirinya tidak sedang bermain-main atau mencoba menggoda.Panda mendengus pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lantai keramik. "Sekarang sih nggak punya pacar," aku Panda dengan nada suara yang memelan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status