Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 111. Bayaran Kedua

Share

111. Bayaran Kedua

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-07-04 11:53:06

"Sekarang bayaran yang kedua, Ja," ucap Sari dengan nada suara lebih rendah dan misterius.

"Hahh?! Masih ada lagi? Memangnya mau dikasih apa lagi, Sar?" mata Teja membulat lebar menatap janda muda di pangkuannya itu.

"Lah, kan aku tadi emang udah bilang kalau mau bayar dobel buat kamu malam ini!" sahut Sari santai.

"Uang lima puluh juta yang tadi itu udah kebanyakan banget, Sar! Jadi nggak usah ditambah-tambahin lagi, aku beneran nggak enak," tolak Teja mencoba bersikap tahu diri.

"Santai aja,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   186. Tetap Butuh Peningkatan

    "Kurang satu tahap akhir, Nak," jawab Toni dengan nada suara yang tenang. Ia menatap anaknya, memberikan jeda agar Teja bisa mengondisikan kembali fokus batinnya yang sempat mengendur setelah melakukan pembersihan massal.Teja yang tadinya mengira tugasnya telah selesai kini kembali membenahi posisi duduknya. Ia menatap sang ayah dengan sisa-sisa rasa penasarannya. "Apa itu, Yah?" tanya Teja, siap menerima instruksi penutup malam itu.Toni menunjuk ke arah langit-langit ruang tamu lalu menggerakkan jarinya membentuk sebuah lingkaran besar di udara. "Seperti saat kamu membuat perisai dari serangan makhluk kertas tadi, buatlah perisai energi yang menyelubungi rumah ini," perintah Toni, memberikan arahan mengenai aplikasi teknik pertahanan dalam skala yang jauh lebih luas.Mendengar analogi yang digunakan oleh ayahnya, ingatan Teja langsung melayang pada benteng transparan yang berhasil mementahkan kilatan cahaya ungu di atas plafon lantai dua tadi. "Ohh, semacam segel begitu, Yah?"

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   185. Hampir Sempurna

    Dua makhluk di dapur segera bergerak ke ruang makan saat mendengar langkah keras makhluk besar yang menuju teras. Dentuman langkah kaki genderuwo yang bertubuh raksasa itu bergetar hebat di dimensi astral, memicu kepanikan bagi mereka. Pria buruk rupa dan pria transparan tersebut tampak berdiri berdampingan di dekat meja makan, memperlihatkan raut wajah yang diliputi kecemasan.Teja tidak membuang waktu dan langsung memaku pandangannya pada kedua makhluk tersebut. Aura energinya yang telah meningkat setelah serangkaian pembersihan tadi kini memancar kuat, menekan seluruh ruangan makan menjadi terasa begitu sempit bagi makhluk halus di depannya. "Bagaimana sama kalian? Mau membangkang?!" tanya Teja menatap dengan mata batin pada pria buruk rupa dan pria transparan. Pertanyaan itu dilontarkan dengan nada yang sangat dingin, seolah bersiap untuk memicu api spiritual atau cengkeraman energ Qi jika mendengar jawaban yang salah."Aku menyerahkan hidupku buat kamu," ucap pria buruk rupa

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   184. Janji Kesetiaan

    "Aku sudah kasih kamu pilihan dan kesempatan tadi," ucap Teja sembari tersenyum sinis di dalam ruang batinnya. Ia sama sekali tidak terintimidasi oleh klaim usia tiga ratus tahun yang dibanggakan oleh makhluk tersebut. Baginya, keangkuhan di dalam wilayah kekuasaannya adalah sebuah pelanggaran yang tidak bisa ditoleransi lagi.Merasa dilecehkan oleh sikap tenang pemuda di hadapannya, makhluk tipis itu mendadak mengamuk. Seluruh permukaannya yang menyerupai lembaran kertas bergetar hebat, mengumpulkan energi negatif yang tersimpan di dalam kegelapan atap. Tiba-tiba makhluk kertas berukuran besar itu mengirimkan kilatan cahaya menyerang batin Teja. Cahaya berwarna keunguan itu melesat sangat cepat, membelah keheningan dimensi astral dengan daya hancur yang cukup tinggi.Teja terkejut merasakan gelombang hawa membunuh yang mendadak mendekat ke arah kesadarannya. Ia belum pernah menerima penyerangan semacam itu sebelumnya. Sejauh ini ia hanya berhadapan dengan makhluk yang pasif at

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   183. Sesuai Intuisi

    Toni yang menyadari perubahan ekspresi anaknya tidak menunjukkan kepanikan sedikitpun. Ia justru memanfaatkan momen ini untuk menguji kemandirian Teja dalam mengambil tindakan di saat kritis. "Lakukan sesuai intuisimu!" lanjut Toni memerintahkan, memberikan kebebasan penuh bagi Teja untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan caranya sendiri.Mendapat lampu hijau dari ayahnya, Teja langsung memproyeksikan kesadarannya kembali ke area belakang rumah. Batin Teja masuk ke area kolam renang, memanifestasikan kehadirannya di tengah-tengah perselisihan antara dua makhluk astral tersebut. Di sana, ia melihat sesosok harimau betina bermata merah sedang menggeram rendah, bersiap untuk menerkam wanita bergaun merah yang tampak terdesak di tepi kolam.Melihat situasi yang makin kritis, Teja langsung menggunakan otoritas kebatinannya untuk mengintervensi. "Tunggu! Apa yang mau kamu lakukan harimau betina?!" tegur Teja dengan nada suara batin yang menggelegar di dimensi tersebut, tepat saat m

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   182. Sudah Melakukan Sendiri

    "Ternyata kamu sudah melakukannya sendiri, Nak!" Tiba-tiba Toni muncul membuka pintu kamar Teja. Langkah kakinya yang tegas langsung membawa tubuh paruh baya itu masuk ke dalam ruangan yang baru saja dibersihkan oleh Teja dari makhluk halus.Teja yang masih berdiri di tengah ruangan langsung menoleh dengan mata terbelalak. Ia merasa tertangkap basah karena telah mendahului jadwal yang seharusnya baru dimulai tengah malam nanti. "Ayah tahu?" tanya Teja dengan nada suara yang sedikit terbata, mencoba menyembunyikan keterkejutannya.Toni tersenyum tipis, memperlihatkan gurat wajah yang penuh dengan pengalaman. "Tentu saja, Ja. Ayah memang sudah mewariskan kekuatan padamu, tapi apa kamu lupa satu hal yang ayah jelasin dulu? Sebagian energi masih tersimpan permanen di tubuh ayah sebagai pemandumu!" sahut Toni, mengingatkan anaknya tentang ikatan energi yang masih terhubung kuat di antara mereka berdua. Penjelasan itu seketika membuat Teja sadar bahwa setiap pergerakan energi Qi yang i

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   181. Tersenyum Jumawa

    Teja tersenyum sinis, merasa tertantang oleh pembangkangan makhluk astral tersebut. 'Oh, nggak mau nih?! Oke. Satu kali lagi aku perintahkan. Pergi dari sini atau aku yang lempar kamu dari sini ke tengah laut?!' ancam Teja, memberikan ultimatum terakhir dengan volume suara yang makin berat dan penuh penekanan.Mendengar ketegasan Teja yang begitu percaya diri dan merasakan tekanan energi Qi yang mendadak membesar di sekeliling ruangan, wajah pucat itu sedikit kaget. Ia tidak menyangka bahwa manusia muda di depannya memiliki nyali dan simpanan kekuatan sebesar itu.Namun, sebelum ia menjawab lagi untuk membela diri atau membalas ancaman tersebut, Teja sudah menggerakkan energi Qi-nya membentuk sebuah tangan besar yang mencengkeram tubuh wanita itu dan membuangnya ke tengah laut menggunakan kehendak batinnya. Proses itu terjadi sangat cepat!Teja hanya perlu membayangkan tangan raksasa tak kasat mata menjerat tubuh sang kuntilanak, lalu melemparkannya sejauh mungkin menembus dinding

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status