Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 117. Pengantar Makanan

Share

117. Pengantar Makanan

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-07-05 12:38:41

"Menurut kabar terpercaya dari informan rahasia kami, Denny emang berencana buat segera kembali ke Indonesia dalam waktu dekat ini, Ketua," ucap Marlan membuka kembali jalannya diskusi setelah suasana ruangan kembali tenang.

"Dia sengaja mau balik buat nyerang dan ngehancurin semua perguruan di Indonesia lagi?" tanya Teja sambil menatap serius ke arah para tetua perguruan.

"Sampai sekarang belum diketahui dengan pasti apa motif utama di balik kepulangannya. Informasi yang kami terima hanya meng
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   613. Butuh Pendapat

    Pajero Sport putih milik Teja terparkir sempurna di pelataran asri rumah klinik. Hari sudah beranjak sore, membiaskan warna jingga temaram di langit Surabaya. Desan dengan penuh semangat membantu membawa beberapa kantong plastik berisi camilan dan buah-buahan segar masuk ke dalam rumah, sebelum akhirnya bocah itu berbaring santai di sofa ruang tengah sembari menikmati jajanan barunya.Teja dan Desy melangkah masuk membawa sisa kantong belanjaan yang dipenuhi bahan makanan mentah serta tumpukan pakaian baru. Saat Teja meletakkan kantong-kantong itu di atas meja dapur, Desy mendekatinya, melingkarkan kedua lengan halusnya di pinggang tegap Teja dari belakang."Mas, aku mau melayani Mas lebih privasi, tapi kalau ada Desan begini ya mana bisa?" ucap Desy lirih.Paras ayunya disandarkan di punggung tegap Teja. Ada nada kepasrahan bercampur kecemasan halus dalam bisikannya, khawatir keberadaan sang adik akan membatasi keleluasaannya untuk memberikan pengabdian utuh kepada pria terkasihny

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   612. Berbelanja Kebutuhan

    "Ke kampus sebentar. Cuma satu mata kuliah dua SKS kok. Habis itu langsung ke sini lagi buat ngajak kamu dan Desan beli baju yang aku janjikan semalam," jawab Teja lembut seraya mengusap pelan helai rambut panjang Desy yang masih harum shampo.Mata Desy seketika berbinar terang. Senyuman manis merekah di paras tirusnya yang seputih kapas. "Iya, Mas... Aku sama Desan tunggu di rumah klinik ya. Hati-hati di jalan."Teja melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kucuran air segar menyiram tubuh tegap berototnya, menyegarkan kembali sirkulasi hawa Murni Qi tingkat tujuh di dalam pembuluh darahnya. Usai mengeringkan raga dan mengenakan pakaian kasual yang rapi, Teja berpamitan singkat pada Desy dan Desan.Sedan Maserati Quattroporte GTS V8 hitam milik Teja menyala halus, membelah jalanan kota Surabaya menuju universitasnya. Perkuliahan dua SKS pagi itu berjalan singkat. Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang cerdas, Teja menyerap materi perkuliahan dengan amat cepat tanpa kendala s

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   611. Makan Besar

    "Iya… iya. Mbak masak nasi nih!" sahut Desy cepat dengan wajah yang masih memerah padam.Gadis berparas ayu itu buru-buru mengambil beras dari dalam wadah penyimpanan, membilasnya hingga bersih di bawah kucuran air kran yang jernih, lalu memasukkannya ke dalam wadah penanak nasi otomatis. Jemari lentiknya yang lincah menekan tombol memasak pada alat penanak nasi tersebut dengan gerakan terburu-buru, mencoba mengalihkan perhatian dari candaan vulgar Teja yang hampir saja tertangkap oleh sang adik.Teja hanya terkekeh renyah melihat tingkah panik kekasih barunya tersebut. Pemuda berambut gondrong itu dengan santai memindahkan koloke ayam yang renyah dan fuyunghay beraroma asam manis ke atas piring porselen besar, lalu menyajikannya di tengah meja makan bersih yang tertata rapi.Tak butuh waktu lama, uap harum dari nasi putih yang baru matang merebak memenuhi udara, berpadu sempurna dengan aroma masakan Teja di meja. Desy dengan sigap menyendokkan nasi hangat yang berasap tipis ke dal

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   610. Masak Nasi

    Sinar matahari pagi yang hangat menerobos tipis melalui celah tirai jendela kamar tidur, membiaskan pendar keemasan di atas kasur empuk. Desy masih terlelap amat nyenyak dalam balutan kemeja putih kebesaran Teja, napasnya teratur dengan raut wajah ayu yang begitu damai usai melewati malam panjang yang penuh kehangatan. Di ruang tengah, Desan pun tampak tertidur pulas di atas ranjang pasien yang sejuk, terbebas sepenuhnya dari cengkeraman demam tinggi.Teja melangkah pelan tanpa menimbulkan suara, melepaskan cengkeraman halus jemari Desy di pinggangnya agar tidak mengganggu tidur nyenyak sang gadis.Ia sejenak mencuci wajah di kamar mandi, kemudian keluar kamar menuju dapur.Segarnya usapan air dingin menyapu paras tampannya, membangkitkan kebugaran alami dari sirkulasi hawa Murni Qi tingkat tujuh yang mengalir stabil di dalam tubuhnya. Dengan langkah tegap berbalut pakaian kasual santai, pemuda berambut gondrong itu melangkah melintasi koridor klinik, menuju ke area dapur bersih ya

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   609. Tetap Konsisten

    "Mas, aku masukin ya?" pinta Desy lirih sembari mulai membuka kancing kemeja kebesarannya.Jemari lentiknya yang bergetar halus merayap turun melintasi barisan kancing kemeja putih milik Teja yang melekat di tubuh mulusnya. Satu per satu kancing itu terlepas dari lubangnya, membiarkan kain putih tipis tersebut terkuak perlahan ke arah sisi samping tubuhnya.Kancing-kancing itu sudah terbuka sebagian, menampilkan keindahan belahan dada sang gadis yang curam dan putih.Aroma harum sabun mandi yang berpadu dengan kehangatan alami tubuh Desy seketika menyeruak semakin pekat. Kulit seputih salju di area dadanya tampak memikat, memancarkan kilau halus yang belum pernah tersentuh oleh polusi kehidupan malam. Seiring dengan jemarinya yang terus melepaskan ikatan kancing ke bawah, lekukan indah raga sang dara kian terpampang nyata.Tak lama kemudian bentuk bulatan buah dada berikut puting merah mudanya yang kaku juga mulai terlihat.Gumpalan kenyal yang mengkal dan ranum itu membusung anggu

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   608. Jalur Membara

    "Aku pegang ya, Mas," bisik Desy dengan nada suara bergetar dan napas yang tertahan, matanya terpaku tanpa berkedip pada keperkasaan Teja yang mengacung gagah di udara terbuka.Tanpa menunggu persetujuan Teja, Desy menggenggamnya.Kedua telapak tangan halus Desy merapat, melingkari batang besar yang terasa begitu hangat dan keras sekeras beron bertulang. Ibu jari dan jemari lentiknya nyaris tidak saling bertemu saat menggenggam lingkar luar keperkasaan Teja. Hawa murni Qi tingkat tujuh yang bersirkulasi di tubuh Teja memancar langsung ke telapak tangan Desy, mengalirkan sensasi hangat yang mendinginkan rasa canggung sang gadis dan menyulut naluri purbanya yang teramat dalam."Ya ampun... bener-bener padat banget, Mas... nggak muat kalau cuma pakai satu tangan," cicit Desy lirih, memandangi helaian urat menegang yang menghiasi batang super jumbo tersebut dari pangkal hingga ke puncaknya.Desy mulai menggerakkan kedua tangannya, memberikan pijatan perlahan di sepanjang batang kejantan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status