Accueil / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 123. Kapasitas Terbatas

Partager

123. Kapasitas Terbatas

Auteur: Leva Lorich
last update Date de publication: 2026-07-07 23:18:52

Teja meletakkan piring kosongnya di atas meja kamar kemudian langsung bangkit berdiri dengan sigap karena sudah merasa tenaganya pulih kembali.

"Di mana mereka semua sekarang dirawat, Pak Leo?" tanya Teja yang sudah tidak sabar ingin melihat kondisi anak buahnya.

"Silakan ikut aku, Master, letak ruang perawatannya ada di gedung sebelah," ajak Leo sembari melangkah terlebih dahulu untuk memandu jalan.

Teja dan Toni berjalan beriringan mengikuti langkah kaki Leo yang bergerak menyusuri koridor pe
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   618. Saling Menatap

    Desy mendongakkan wajah jelitanya yang putih mulus. Seberkas pendar kebahagiaan menyeruak jernih di dalam sepasang mata bulatnya. Dengan jemari lentik yang masih menempel di dada berotot Teja, gadis belia itu memberanikan diri bertanya dengan suara parau dan lembut."Mas... Mas Teja sudah mau sekarang?" bisiknya dengan nada suara yang teramat halus dan manja, bibir mungilnya yang basah sedikit terbuka menggoda.Teja mengangguk pelan. Binar mata keemasannya memancar penuh kehangatan, menatap dalam ke balik manik mata bening sang dara yang berada di dekapannya."Aku sudah mulai menemukan kedekatan batin denganmu, Des," tutur Teja tulus.Pengabdian yang ditunjukkan Desy sejak fajar menyingsing, kepatuhan alaminya, serta kebahagiaan haru saat melihat adiknya sekolah telah mengunci keyakinan Teja. Ikatan batin yang ia persyaratkan kini telah terjalin sempurna.Mendengar pengakuan jujur dari pria yang dipujanya, rona merah merona merekah indah di sepanjang pipi tirus hingga ke ceruk leher

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   617. Mengalun Merdu

    Petugas pendaftaran, seorang pria paruh baya berkacamata tebal, mengamati berkas dan mewawancarai Desan dengan lembut. Setelah berdiskusi mengenai riwayat pendidikan dan perkembangan fisik sang bocah, panitia memutuskan bahwa Desan harus mengikuti kelas penyetaraan awal dari tingkatan terdasar agar fondasi belajarnya kokoh dan terstruktur."Tidak apa-apa ya, Desan? Yang penting kamu bisa belajar lagi, punya teman-teman baru, dan meraih cita-citamu," tutur Teja menenangkan, mengusap pelan kepala bocah itu.Desan mengangguk dengan binar mata bulat yang memancarkan semangat membara. "Nggak apa-apa, Mas Teja! Aku mau belajar yang rajin biar pinter kayak Mas Teja!"Karena proses administrasi yang dibantu penuh oleh pengaruh dan jaminan Teja berjalan amat cepat, pihak sekolah langsung mengizinkan Desan bergabung di kelasnya hari itu juga. Seorang guru wanita yang ramah menuntun Desan menuju ruang kelas seraya membawakannya seragam baru dan perlengkapan tulis yang sudah disiapkan sekolah.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   616. Sesuai Janji

    Masih sangat pagi saat Teja mendengar suara kesibukan di rumah klinik itu.Alunan gesekan gagang pel pada lantai keramik dan benturan halus peralatan rumah tangga membelah keheningan fajar yang masih diselimuti udara dingin. Teja membuka mata sedikit dan mendapati Desy yang sedang mengepel lantai.Wanita muda itu sudah mengganti pakaian dengan daster berbahan kaos yang pendek agar leluasa bergerak.Daster rumahan berpotongan sederhana berwarna merah muda itu membungkus tubuh molek Desy dengan amat pas. Batas bawah daster yang berada di atas lutut memperlihatkan sepasang paha mulusnya yang seputih porselen, mengayun anggun seiring dengan gerakan tangan halusnya yang cekatan mendorong tongkat pel ke kanan dan ke kiri. Kaos tipis daster itu memunculkan lekuk punggung ramping dan ketegasan gumpalan dadanya dari samping."Jam berapa ini, Des? Kamu ngapain?" gumam Teja serak.Desy menghentikan gerakan tangannya sejenak. Ia menyapukan helai rambut panjangnya yang dikuncir kuda ke belakang

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   615. Mimpi Yang Damai

    Pemuda berambut gondrong itu membuang napas panjang, menuruti kemauan sang gadis dengan senyuman tipis. Tubuh tegap berotot milik Teja rebah perlahan di atas kasur empuk, menjejaki sisi ranjang yang masih lowong di sebelah sang dara jelita.Sekuat tenaga ia mempertahankan diri agar tidak menjamah wanita muda di sampingnya itu.Bagi seorang pria perkasa yang memiliki tingkat ketahanan fisik melampaui manusia biasa, menahan gelombang gairah di depan sesosok dara belia yang hanya terbalut lingerie hitam transparan adalah ujian batin yang tidak main-main. Teja mengatupkan bibirnya rapat-rapat, memusatkan konsentrasi pikiran pada sirkulasi tenaga dalam di dalam tubuhnya agar hawa murni di pembuluh darahnya tidak meledak tak terkendali.Jemari kekar Teja menyambar pinggiran kain selimut tebal bernuansa krem tersebut, mengibaskannya ke atas hingga menutup rapat batas leher mereka berdua. Teja berharap kegelapan di balik kain selimut dapat memblokir pemandangan keindahan tubuh seputih pors

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   614. Memakai Selimut

    "Desy? Kamu kok pakai itu?" tanya Teja dengan suara seraknya yang agak tertahan, matanya nanar memandangi keindahan tubuh di hadapannya."Iya, Mas. Biar Mas bisa menilai bagus dan cocok nggaknya," jawab Desy polos dan manja.Gadis berusia dua puluh tahun itu berdiri pasrah di bawah temaram lampu dinding kamar. Senyuman tipis dan merona nampak merekah di paras cantiknya, sementara sepasang mata bulat beningnya memancarkan cahaya dahaga yang masih tertahan.Mata Teja nanar menatap buah dada dan puting Desy yang terlihat samar menggoda dibalik kain lingerie terawang itu.Bahan sutra hitam yang teramat tipis dan transparan itu menempel sempurna pada kulit seputih porselen milik sang dara. Belahan dadanya yang curam terpampang begitu indah, memamerkan gumpalan dada mengkal yang membusung anggun seiring hembusan napasnya yang agak cepat. Puncak merah mudanya yang mengeras kaku membayang begitu jelas di balik lapisan kain menerawang, memicu desir kehangatan halus pada sirkulasi Murni Qi t

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   613. Butuh Pendapat

    Pajero Sport putih milik Teja terparkir sempurna di pelataran asri rumah klinik. Hari sudah beranjak sore, membiaskan warna jingga temaram di langit Surabaya. Desan dengan penuh semangat membantu membawa beberapa kantong plastik berisi camilan dan buah-buahan segar masuk ke dalam rumah, sebelum akhirnya bocah itu berbaring santai di sofa ruang tengah sembari menikmati jajanan barunya.Teja dan Desy melangkah masuk membawa sisa kantong belanjaan yang dipenuhi bahan makanan mentah serta tumpukan pakaian baru. Saat Teja meletakkan kantong-kantong itu di atas meja dapur, Desy mendekatinya, melingkarkan kedua lengan halusnya di pinggang tegap Teja dari belakang."Mas, aku mau melayani Mas lebih privasi, tapi kalau ada Desan begini ya mana bisa?" ucap Desy lirih.Paras ayunya disandarkan di punggung tegap Teja. Ada nada kepasrahan bercampur kecemasan halus dalam bisikannya, khawatir keberadaan sang adik akan membatasi keleluasaannya untuk memberikan pengabdian utuh kepada pria terkasihny

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status