Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 155. Buah Kebajikan

Share

155. Buah Kebajikan

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-07-14 11:57:45

Mobil Leo melaju membelah jalanan kota yang cukup lengang pagi itu.

Di belakangnya, beberapa mobil lain beriringan mengikuti dengan teratur.

Salah satu di antaranya adalah sebuah Pajero Sport putih yang tampak gagah dan mewah.

Mobil itu adalah milik Teja, sebuah pemberian dari Sanjaya beberapa waktu yang lalu sebagai bentuk rasa terima kasih karena pemuda itu telah menyembuhkan penyakit dalamnya.

Teja mengemudikan mobil tersebut dengan tenang, sementara ayahnya, Toni Surya, duduk di kursi pe
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   628. Persiapan Skripsi

    “Siang, Na," balas Teja hangat. Jemari kekarnya mengusap pelan puncak kepala Nana, memberikan gestur perhatian sederhana yang seketika membuat senyuman manis Nana kian mengembang anggun.Jesen yang berdiri di sebelah Endro langsung menyenggol lengan sahabatnya itu seraya terkekeh pelan."Waduh, waduh... Yang ketua asosiasi bela diri sekaligus pemegang saham Grup Yulio baru nyampe nih! Aura Bos Besar memang beda ya, Ndro!" goda Jesen seraya menepuk bahu tegap Teja."Iya nih, Jo. Udah kayak adegan film aja pas kamu turun dari Pajero tadi," timpal Endro tertawa terkekeh. "Gimana kabarmu, Jo? Urusan kemarin lancar kan?"Teja tersenyum tipis, menyambut tinju santai dari kedua sahabatnya. "Lancar, Bro. Semua udah terkendali dengan baik. Kalian sendiri gimana? Ada kendala?""Aman, Jo! Yang penting sekarang kita langsung masuk kelas aja yuk, dosennya udah mau jalan ke kelas nih," ajak Jesen seraya melirik jam di pergelangan tangannya.Mereka berempat kemudian melangkah bersama menyusuri kori

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   627. Tiga Sosok

    Teja melepaskan pagutan bibirnya secara perlahan, menatap paras ayu Desy yang masih merona merah dengan lelehan kebahagiaan di sudut matanya. Jemari kekar Teja mengusap lembut helai rambut panjang Desy yang terurai di atas bantal."Des, kamu bisa naik sepeda motor nggak?" tanya Teja tenang.Desy mengangguk cepat. Sepasang mata bulat beningnya berbinar jernih menatap wajah tegas sang pemuda."Bisa kok, Mas. Dulu pas masih kerja serabutan dan bantu-bantu di lingkungan lama, aku sering pinjem motor orang-orang buat belanja ke pasar atau anter barang," jawab Desy jujur dengan nada suara yang teramat halus.Teja mengangguk-angguk paham. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya tatkala mendengar kesiapan wanitanya tersebut."Bagus kalau gitu. Di gudang belakang ada motor matikku yang lama. Kondisinya masih bagus dan terawat, kuncinya ada di gantungan dekat pintu dapur," tutur Teja memberikan petunjuk. "Nanti siang kamu pakai motor itu aja buat jemput Desan pulang sekolah. Nggak usah jalan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   626. Terima Kasih Banyak

    Teja melanjutkan penjelasannya mengenai deretan wanita yang telah menjadi bagian dari hidupnya."Yang keempat namanya Panda. Dia keturunan Tionghoa dan mengelola toko herbal," tutur Teja seraya membelai helai rambut Desy yang terurai santai di atas bantal.Desy terkekeh pelan, menyunggingkan senyuman manja di atas dada tegap sang pemuda. "Wow, ada yang produk impor juga hihi. Lanjut, Mas.""Kelima ada Sari Okta, dia…""Aku kenal! Sari Okta yang selebgram itu kan? Selain Mbak Nana, aku juga ngefans banget sama Mbak Sari! Dia instruktur senam, badannya bagus buanget," potong Desy antusias.Sebagai seorang dara muda, Desy sangat mengenali nama selebgram papan atas tersebut yang sering muncul di berbagai media sosial dengan bentuk tubuh atletis dan paras menawan. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa sosok bertubuh indah itu juga merupakan salah satu pendamping pria yang kini berada di pelukannya.Teja tersenyum tipis melihat reaksi polos nan jujur dari wanita barunya itu. Ia kemudian me

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   625. Masih Muda

    Teja menggeleng pelan dan kembali membelai pipi mulus Desy yang masih merona hangat di atas dadanya."Itu bukan wilayahmu," ucap Teja dengan nada bariton rendah yang tenang namun menyiratkan ketegasan yang nyata dan jelas.Desy mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata keemasan sang pemuda. Tatapan itu terasa begitu hangat, namun sekaligus memancarkan batas-batas sekat yang tak bisa diintervensi."Yang perlu kamu tanamkan dan biasakan di sini, urusan dengan para wanitaku adalah hak prerogatifku. Kamu cukup fokus ke hubungan antara kita berdua saja, di luar itu… itu bukan urusanmu!" tegas Teja lagi.Kata-kata itu diucapkan tanpa nada marah, melainkan sebagai bentuk garis panduan yang jelas agar keteraturan di antara para pendampingnya tetap terjaga tanpa ada gesekan atau dominasi yang tumpang tindih.Desy mengangguk patuh, merasa tersadar akan batas posisinya. Ia merapatkan tubuh seputih porselennya ke samping Teja, menundukkan kepala dengan raut penyesalan yang halus."Maaf, Mas

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   624. Kuota Keempat

    Teja tersenyum. Sejenak ia melepaskan terlebih dahulu tautan tubuh mereka sebelum menjawab pertanyaan dari sang kekasih baru nomor sembilan tersebut. Batang keperkasaannya yang masih menyisakan sensasi kehangatan ditarik perlahan keluar dari lorong intim Desy, meninggalkan jejak cairan basah yang melimpah di antara dua insan itu.Gadis belia itu bangkit perlahan, meraih kotak tisu yang berada di atas meja kecil di samping ranjang. Jemari lentiknya dengan sangat lembut mengusap dan mengeringkan seluruh permukaan kejantanan Teja hingga benar-benar bersih dan kering. Tak ada raut canggung atau jijik di wajah cantiknya, hanya ada pengabdian murni yang tulus dari seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh hidupnya.Dengan sisa-sisa tisu bersih di tangannya, Desy mengusap perlahan lipatan selangkangannya sendiri. Lelehan kehangatan dari Teja yang meluap membasahi paha mulusnya dibersihkan hingga tak menyisakan noda, menjaga agar area sensitifnya tetap nyaman dan higienis usai pergumul

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   623. Telah Resmi

    Mendengar perintah Teja, Desy mengangguk pelan dengan raut wajah yang merona merah. Meski seluruh persendian tubuhnya masih terasa lemas usai diterjang klimaks dua kali berturut-turut, rasa bakti dan dorongan untuk memuaskan sang pria memberinya tenaga baru.Desy bangkit perlahan dengan posisi merangkak. Tubuh seputih kapas milik gadis itu bergerak melangkahi kedua paha tegap Teja. Ia menggeser posisinya hingga duduk berhadapan di atas pangkuan Teja, menyejajarkan selangkangannya tepat di atas batang keperkasaan Teja yang masih berdiri tegap menjulang."Pelan-pelan ya, Des,bkasihan kalau kamu nanti kesakitan," ucap Teja seraya memegang kedua pinggul ramping Desy untuk membantu menjaga keseimbangan.Desy memegang bahu berotot Teja yang tertutup terpaan helai rambut dreadlock panjang milik sang pemuda. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Desy mengarahkan ujung kejantanan Teja ke muara kewanitaannya yang sudah teramat basah. Secara bertahap, Desy menurunkan pinggulnya, membiarka

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status