مشاركة

627. Tiga Sosok

مؤلف: Leva Lorich
last update تاريخ النشر: 2026-10-22 10:02:35

Teja melepaskan pagutan bibirnya secara perlahan, menatap paras ayu Desy yang masih merona merah dengan lelehan kebahagiaan di sudut matanya.

Jemari kekar Teja mengusap lembut helai rambut panjang Desy yang terurai di atas bantal.

"Des, kamu bisa naik sepeda motor nggak?" tanya Teja tenang.

Desy mengangguk cepat. Sepasang mata bulat beningnya berbinar jernih menatap wajah tegas sang pemuda.

"Bisa kok, Mas. Dulu pas masih kerja serabutan dan bantu-bantu di lingkungan lama, aku sering pinjem mot
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   628. Persiapan Skripsi

    “Siang, Na," balas Teja hangat. Jemari kekarnya mengusap pelan puncak kepala Nana, memberikan gestur perhatian sederhana yang seketika membuat senyuman manis Nana kian mengembang anggun.Jesen yang berdiri di sebelah Endro langsung menyenggol lengan sahabatnya itu seraya terkekeh pelan."Waduh, waduh... Yang ketua asosiasi bela diri sekaligus pemegang saham Grup Yulio baru nyampe nih! Aura Bos Besar memang beda ya, Ndro!" goda Jesen seraya menepuk bahu tegap Teja."Iya nih, Jo. Udah kayak adegan film aja pas kamu turun dari Pajero tadi," timpal Endro tertawa terkekeh. "Gimana kabarmu, Jo? Urusan kemarin lancar kan?"Teja tersenyum tipis, menyambut tinju santai dari kedua sahabatnya. "Lancar, Bro. Semua udah terkendali dengan baik. Kalian sendiri gimana? Ada kendala?""Aman, Jo! Yang penting sekarang kita langsung masuk kelas aja yuk, dosennya udah mau jalan ke kelas nih," ajak Jesen seraya melirik jam di pergelangan tangannya.Mereka berempat kemudian melangkah bersama menyusuri kori

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   627. Tiga Sosok

    Teja melepaskan pagutan bibirnya secara perlahan, menatap paras ayu Desy yang masih merona merah dengan lelehan kebahagiaan di sudut matanya. Jemari kekar Teja mengusap lembut helai rambut panjang Desy yang terurai di atas bantal."Des, kamu bisa naik sepeda motor nggak?" tanya Teja tenang.Desy mengangguk cepat. Sepasang mata bulat beningnya berbinar jernih menatap wajah tegas sang pemuda."Bisa kok, Mas. Dulu pas masih kerja serabutan dan bantu-bantu di lingkungan lama, aku sering pinjem motor orang-orang buat belanja ke pasar atau anter barang," jawab Desy jujur dengan nada suara yang teramat halus.Teja mengangguk-angguk paham. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya tatkala mendengar kesiapan wanitanya tersebut."Bagus kalau gitu. Di gudang belakang ada motor matikku yang lama. Kondisinya masih bagus dan terawat, kuncinya ada di gantungan dekat pintu dapur," tutur Teja memberikan petunjuk. "Nanti siang kamu pakai motor itu aja buat jemput Desan pulang sekolah. Nggak usah jalan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   626. Terima Kasih Banyak

    Teja melanjutkan penjelasannya mengenai deretan wanita yang telah menjadi bagian dari hidupnya."Yang keempat namanya Panda. Dia keturunan Tionghoa dan mengelola toko herbal," tutur Teja seraya membelai helai rambut Desy yang terurai santai di atas bantal.Desy terkekeh pelan, menyunggingkan senyuman manja di atas dada tegap sang pemuda. "Wow, ada yang produk impor juga hihi. Lanjut, Mas.""Kelima ada Sari Okta, dia…""Aku kenal! Sari Okta yang selebgram itu kan? Selain Mbak Nana, aku juga ngefans banget sama Mbak Sari! Dia instruktur senam, badannya bagus buanget," potong Desy antusias.Sebagai seorang dara muda, Desy sangat mengenali nama selebgram papan atas tersebut yang sering muncul di berbagai media sosial dengan bentuk tubuh atletis dan paras menawan. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa sosok bertubuh indah itu juga merupakan salah satu pendamping pria yang kini berada di pelukannya.Teja tersenyum tipis melihat reaksi polos nan jujur dari wanita barunya itu. Ia kemudian me

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   625. Masih Muda

    Teja menggeleng pelan dan kembali membelai pipi mulus Desy yang masih merona hangat di atas dadanya."Itu bukan wilayahmu," ucap Teja dengan nada bariton rendah yang tenang namun menyiratkan ketegasan yang nyata dan jelas.Desy mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata keemasan sang pemuda. Tatapan itu terasa begitu hangat, namun sekaligus memancarkan batas-batas sekat yang tak bisa diintervensi."Yang perlu kamu tanamkan dan biasakan di sini, urusan dengan para wanitaku adalah hak prerogatifku. Kamu cukup fokus ke hubungan antara kita berdua saja, di luar itu… itu bukan urusanmu!" tegas Teja lagi.Kata-kata itu diucapkan tanpa nada marah, melainkan sebagai bentuk garis panduan yang jelas agar keteraturan di antara para pendampingnya tetap terjaga tanpa ada gesekan atau dominasi yang tumpang tindih.Desy mengangguk patuh, merasa tersadar akan batas posisinya. Ia merapatkan tubuh seputih porselennya ke samping Teja, menundukkan kepala dengan raut penyesalan yang halus."Maaf, Mas

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   624. Kuota Keempat

    Teja tersenyum. Sejenak ia melepaskan terlebih dahulu tautan tubuh mereka sebelum menjawab pertanyaan dari sang kekasih baru nomor sembilan tersebut. Batang keperkasaannya yang masih menyisakan sensasi kehangatan ditarik perlahan keluar dari lorong intim Desy, meninggalkan jejak cairan basah yang melimpah di antara dua insan itu.Gadis belia itu bangkit perlahan, meraih kotak tisu yang berada di atas meja kecil di samping ranjang. Jemari lentiknya dengan sangat lembut mengusap dan mengeringkan seluruh permukaan kejantanan Teja hingga benar-benar bersih dan kering. Tak ada raut canggung atau jijik di wajah cantiknya, hanya ada pengabdian murni yang tulus dari seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh hidupnya.Dengan sisa-sisa tisu bersih di tangannya, Desy mengusap perlahan lipatan selangkangannya sendiri. Lelehan kehangatan dari Teja yang meluap membasahi paha mulusnya dibersihkan hingga tak menyisakan noda, menjaga agar area sensitifnya tetap nyaman dan higienis usai pergumul

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   623. Telah Resmi

    Mendengar perintah Teja, Desy mengangguk pelan dengan raut wajah yang merona merah. Meski seluruh persendian tubuhnya masih terasa lemas usai diterjang klimaks dua kali berturut-turut, rasa bakti dan dorongan untuk memuaskan sang pria memberinya tenaga baru.Desy bangkit perlahan dengan posisi merangkak. Tubuh seputih kapas milik gadis itu bergerak melangkahi kedua paha tegap Teja. Ia menggeser posisinya hingga duduk berhadapan di atas pangkuan Teja, menyejajarkan selangkangannya tepat di atas batang keperkasaan Teja yang masih berdiri tegap menjulang."Pelan-pelan ya, Des,bkasihan kalau kamu nanti kesakitan," ucap Teja seraya memegang kedua pinggul ramping Desy untuk membantu menjaga keseimbangan.Desy memegang bahu berotot Teja yang tertutup terpaan helai rambut dreadlock panjang milik sang pemuda. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Desy mengarahkan ujung kejantanan Teja ke muara kewanitaannya yang sudah teramat basah. Secara bertahap, Desy menurunkan pinggulnya, membiarka

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status