ログインTeja merengkuh lembut pinggang ramping Bianca, membalikkan tubuh wanita berambut bob itu secara perlahan di atas peraduan. Usai memberikan jeda sejenak untuk menata napas Bianca yang masih memburu usai orgasme pertamanya, Teja membimbing wanitanya untuk berganti ke posisi paling favorit bagi dirinya."Ubah posisi ya, Bi. Nungging," bisik Teja rendah di samping telinga mulus wanitanya.Bianca mengangguk pasrah. Binar kepatuhan terpancar jelas dari sepasang matanya yang meredup manja. Tanpa ragu, wanita berpenampilan berkelas itu berputar lincah di atas sprei. Dua lutut mulusnya menopang kokoh di atas tempat tidur, sementara bagian belakang tubuhnya yang padat dan berisi terangkat tinggi ke udara. Punggung mulusnya melengkung indah, merebahkan dada mengkal dan wajah ayunya di atas tumpukan bantal empuk.Pemandangan dari arah belakang itu terlihat sangat memikat. Lengkungan pinggul dan gumpalan kenyal bokong milik Bianca terhampar polos tanpa sehelai benang pun, memancarkan daya pik
Bianca memilih kamar di lantai tiga dengan alasan ia takut kalau di lantai dua sendirian.Wanita berambut bob pendek yang anggun itu tersenyum manis sembari melirik ke arah Teja saat Toni menunjukkan kamar tamu. Alasan yang dibuatnya begitu halus dan masuk akal, membuat Toni mengangguk paham dan langsung menyetujui pilihan tempat istirahatnya. Kamar yang dipilih Bianca terletak tepat bersebelahan dengan kamar utama Teja di lantai tiga rumah megah tersebut.Setelah Toni masuk kamar di lantai 1 untuk beristirahat, keheningan malam mulai menyelimuti seluruh sudut rumah.Suasana lantai tiga terasa begitu tenang. Pintu kamar utama Teja terdorong pelan tanpa menimbulkan suara. Bianca melangkah masuk dengan senyuman lembut yang penuh gairah. Ia telah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur tipis berbahan sutra yang membungkus elok bentuk tubuhnya yang padat dan kencang.Teja yang baru saja selesai merapikan beberapa barang untuk keberangkatan ke Jakarta besok pagi berbalik badan. Pemuda
Hari berjalan cepat. Tak terasa penghujung akhir kuliah siang usai.Sinar matahari sore mulai meredup di balik gedung-gedung tinggi perkotaan tatkala bel jam kuliah terakhir berbunyi. Teja merapikan tasnya dengan gerakan tenang. Di sepanjang lorong kampus, beberapa mahasiswa dan mahasiswi sempat menyapa pemuda bertubuh tegap berotot itu dengan penuh rasa hormat. Penampilannya yang tegap menawan serta kepemimpinannya di asosiasi bela diri membuat namanya disegani di lingkungan akademis tersebut.Sedan Maserati Quattroporte warna hitam milik Teja meluncur mulus membelah jalanan kota. Di samping kursi kemudi, Nana duduk rileks sembari menyandarkan kepalanya di bahu lebar Teja. Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, kendaraan mewah itu berhenti tepat di depan rumah kediaman Nana. Usai memberikan pelukan hangat dan ciuman singkat di pipi sang gadis oriental, Teja memacu kembali mobilnya menuju pusat kota.Teja menghentikan mobilnya di pelataran parkir sebuah hotel berb
"Linda yang memberitahuku, Sayang," ucap Sari Okta sembari melangkah masuk ke dalam kamar berukuran luas di lantai tiga tersebut.Janda dua puluh tahun berparas jelita itu tampil sangat memikat dengan balutan busana santai yang memamerkan lekuk dadanya yang mengkal dan padat. Senyum manis mekar di bibir tipisnya saat matanya menatap Teja yang masih bertelanjang dada di atas tempat tidur. Sari melangkah mendekat tanpa segan, mengabaikan fakta bahwa di dalam ruangan itu sudah ada tiga wanita cantik lainnya serta sang ayah pemilik rumah."Aku langsung membatalkan semua acara senamku pagi ini begitu Linda ngasih tahu kalau hari ini hari ulang tahunmu," lanjut Sari Okta lembut. Ia membungkuk perlahan, membiarkan rambut panjangnya terurai menyapu bahu Teja, lalu mendaratkan ciuman mesra di pipi pemuda tersebut.Teja menggeleng-gelengkan kepalanya penuh rasa takjub. Pemuda berumur dua puluh tahun itu merangkul pinggang mulus Sari Okta, meresapi aroma wangi parfum mewah yang membalur raga
Pintu kamar yang sedikit terbuka didorong pelan dari luar. Sosok gadis cantik dengan wajah manis melangkah masuk membawa senyuman paling ceria. Nana mengenakan gaun santai rumahan berwarna lembut yang mencetak molek lekuk tubuhnya yang sangat menawan. Matanya berbinar bahagia saat pandangannya bertautan dengan Teja yang masih duduk tertegun di tepi ranjang."Selamat ulang tahun ya, Jo!" seru Nana penuh kehangatan.Pemuda berambut dreadlock itu menggelengkan kepalanya tidak percaya, menatap bergantian antara ayahnya dan gadis yang baru saja masuk tersebut."Nana? Kamu kok bisa ada di sini pagi-pagi begini?" tanya Teja terheran-heran.Nana tertawa renyah, melangkah mendekati meja nakas lalu menunjuk nasi tumpeng mini yang masih hangat. Rasa bangga terpancar jelas dari raut wajah cantiknya yang merona halus."Aku sengaja bangun subuh buat menyiapkan nasi tumpeng ini dari rumah, Jo! Jadi aku minta izin sama ibu buat masak tumpeng khusus lengkap sama ayam bumbu dan perkedel buat kamu,"
"Terima kasih ya, Ja. Kamu pahlawan aku," bisik Berliana pelan saat keduanya sudah kembali rebah berdampingan di ranjang empuk tersebut.Suara wanita itu terdengar sangat halus dan tenang. Tubuhnya yang biasanya kaku dan penuh kedisiplinan kini bersandar pasrah di samping Teja. Lengan mulusnya melingkar rileks di dada lebar Teja, sementara helaan napas hangatnya berhembus teratur menerpa kulit leher sang pemuda.Teja membalas pelukan itu dengan lembut. Jemari tangannya mengelus pelan bahu Berliana yang masih sedikit basah oleh keringat bekas pertempuran mereka."Kamu sudah jadi wanitaku sekarang, Berli. Kamu harus belajar akrab jika kelak bertemu dengan saudarimu lainnya," kata Teja perlahan, memberikan pengertian tentang lingkaran wanita di kehidupannya.Berliana mendongak sedikit, menatap wajah Teja yang berada tepat di atasnya. Senyum tipis terukir di bibirnya yang ranum. Binar kebahagiaan terpancar jelas dari sepasang matanya yang cantik."Aku akan menyayangi mereka seperti halny
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri







