Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 343. Anak Konglomerat Angkuh

Share

343. Anak Konglomerat Angkuh

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-08-24 10:17:11

Bianca menyunggingkan senyum tipis, menopang dagunya dengan sebelah tangan sembari menatap Teja tanpa berkedip.

Cahaya lampu kafe yang temaram memantul lembut di manik matanya, memancarkan pesona anggun yang memikat.

"Tahu nggak, Ja? Dari sekian banyak cowok yang pernah ajak aku jalan, cuma kamu yang bisa bikin aku ngerasa bener-bener nyaman tanpa perlu jaga gengsi," tutur Bianca dengan nada suara yang makin lembut.

Tangannya bergerak pelan di atas meja, memberanikan diri menyentuh punggung t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   512. Ayah Sudah Di Sini

    Pagi mendekati subuh, Toni tiba di bandara. Langkah kaki pria paruh baya itu terlihat tergesa-gesa tatkala keluar dari pintu kedatangan bandara. Raut wajahnya dipenuhi rasa cemas, membayangkan kondisi putra semata wayangnya yang kini tengah terbaring lemah. Buan dan Budi yang sudah menanti di pelataran penjemputan segera melangkah sigap menyambut kedatangan rombongan tersebut.Tak hanya sendiri, Toni ditemani oleh kekasih pertama dan kedua Teja yakni Nana dan Linda. Selain itu, Bintang dan Pedro yang merupakan tangan kanan Teja di kota asal juga ikut mengawal Toni.Nana dan Linda berjalan persis di samping Toni dengan wajah yang tak kalah cemas. Dua gadis cantik dari kampung halaman Teja itu tak mampu menyembunyikan kebingungan dan rasa takut kehilangan yang membakar dada mereka sejak menerima kabar buruk dari Jakarta. Sementara itu, Bintang dan Pedro berjalan tegap mengapit di belakang, menjaga keselamatan Toni serta para wanita dengan kewaspadaan penuh."Selamat datang di Jakart

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   511. Bawa Pulang Saja

    "Kamu kekasihnya Teja juga?" Bianca membeo.Suara putri pengusaha perhotelan itu terdengar sedikit bergetar, menahan gejolak rasa tak percaya sekaligus cemburu yang mendadak menjejali rongga dadanya. Matanya bergantian menatap tubuh Teja yang terbaring lemas dan sosok Berliana yang berdiri begitu tegap dan anggun di samping ranjang."Sebaiknya hal itu kita bahas nanti saja. Yang paling penting sekarang kita harus kompak buat kesembuhan Teja dulu," ucap Berliana bijak.Usianya yang berada lima tahun di atas Teja dan Bianca membuatnya jauh lebih mampu berpikir tenang dan dewasa dalam mengendalikan situasi. Berliana memegang pundak Bianca pelan, menyalurkan ketenangan agar emosi di antara mereka tak memecah fokus utama malam itu.Bianca terpaksa mengangguk dan menyimpan kegundahan hatinya untuk sementara waktu.Wanita berambut bob pendek itu menghembuskan napas berat, menyingkirkan sejenak ego asmaranya demi keselamatan pria yang sangat dicintainya. Ia menggeser posisinya mendekati ra

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   510. Ranjang Rumah Sakit

    Teja tergolek tak sadarkan diri di atas sebuah ranjang rumah sakit.Ruangan perawatan kelas VIP di Rumah Sakit Militer Jakarta itu terasa begitu hening dan dingin. Di sekelilingnya ada Buan, Budi, dan Berliana yang menatapnya dengan frustrasi. Bau obat-obatan dan antiseptik memenuhi ruangan, berpadu dengan ketegangan dari ketiga orang tersebut.Pemuda bertubuh tegap itu terbaring kaku dengan selang infus dan alat pemantau detak jantung yang terpasang di tubuhnya.Pakaian hitam yang dikenakannya saat pertarungan telah diganti dengan pakaian pasien berwarna putih bersih. Namun, di balik bagian dada kemeja pasien yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit, nampak luka memar menghitam. Pukulan dari dua telapak tangan Joharsyah tidak hanya menghancurkan pintu jati kediaman itu, tetapi juga mengacaukan kembali susunan aliran tenaga dalam serta merusak jaringan otot di dada Teja sangat parah."Untung saja tadi Komandan Berliana dan pasukannya datang tepat waktu dan menghentikan kebuasan Joha

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   509. Sentuhan Santai

    Teja dan dua tangan kanannya menghentikan langkah. Seorang pria tua berambut dan berjenggot serba putih muncul dari bagian dalam rumah. Diperkirakan usianya sudah di atas delapan puluh tahun.Pria tua itu mengenakan beskap dan blangkon tradisional berdesain batik gelap. Meskipun usianya sudah sangat senja, postur tubuhnya masih tampak kokoh dan gesit.Setiap langkah kakinya di atas lantai keramik seolah menyebarkan tekanan udara yang berat di sekeliling ruangan perjamuan."Siapa kamu?" tanya Teja. Pemuda bertubuh tegap itu menatap pada sosok sesepuh yang baru muncul tersebut. Buan dan Budi di sampingnya seketika memperketat kewaspadaan, merasakan adanya bahaya baru yang jauh lebih besar dari keberadaan Johar sebelumnya."Aku Joharsyah, kakek sekaligus yang paling senior di keluarga ini," jawab pria tua itu dengan tekanan suara yang dalam dan berat.Joharsyah menghentikan langkahnya tepat di samping tubuh Johar yang masih terbaring lemah. Pandangan matanya menyapu kondisi cucunya ya

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   508. Teriakan Keras

    Teja maju memburu lagi. Langkah kaki pemuda bertubuh tegap itu membelah lantai keramik dengan kecepatan yang sukar dipercaya. Hawa murni berwarna biru keemasan membungkus rapat seluruh raga tegapnya, memancarkan tekanan atmosfer yang begitu berat hingga membuat puluhan tamu undangan tertahan napasnya."Kali ini balasan buat serangan yang tadi bikin dua tanganku lemas!" seru Teja tegas.Teja melakukan pukulan melingkar mengincar dua tangan Johar.KRAK!Dua pukulan beruntun yang dialiri tumpuan hawa murni tingkat lima lebih sepertiga itu mendarat telak di persendian siku dan lengan Johar. Benturan dahsyat tersebut menghancurkan tulang dan jaringan otot sang pimpinan keluarga dalam sekejap mata.Tak hanya lemas, dua tangan Johar langsung patah saat itu juga.Kedua lengan milik Johar kini terkulai ke bawah dalam sudut yang tak wajar. Tulang-tulang di lengannya patah, tak sanggup lagi menahan gempuran tenaga dalam Teja yang begitu kuat."Arghh!" Johar meraung kesakitan dengan pikiran ma

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   507. Balasan Pertama

    "Waktu habis, Anak Muda. Sudah waktunya kau bertemu ajalmu," ucap Johar sembari melompat, mengarahkan tinju bersalut aura merah energi Qi-nya ke arah tempurung kepala Teja. Gerakannya menunjukkan keyakinan diri tinggi.Pria paruh baya itu meluncur dari udara dengan wajah yang dipenuhi senyum kemenangan. Hantaman hawa murni berwarna merah pekat membungkus rapat kepalan tangan kanannya, memicu tekanan udara yang cukup berat dan mematikan, mengincar kepala pemuda yang terbaring lunglai di atas lantai tersebut.DUAR!Tinju Johar membentur, namun bukan pada kepala Teja, melainkan pada lantai keramik yang langsung rusak porak-poranda terkena pukulan itu. Tubuh Teja sudah menghilang dari sana!Pecahan keramik dan debu tebal tercipta seketika di titik benturan. Johar merasakan tinjunya hanya menghantam udara kosong."Ke-kemana dia?!" pekik Johar kaget setengah mati.Mata pria paruh baya itu membelalak lebar. Rasa percaya diri yang tinggi seketika sirna digantikan oleh kepanikan yang luar bia

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status