LOGINMendekati tengah hari, Teja tiba di kamar hotelnya.Langkah kaki tegap pemuda berambut gondrong itu melintasi koridor karpet tebal tempat ia menginap. Rasa kantuk yang menggantung di pelipis serta keletihan fisik usai memandu operasi penyergapan maraton semalaman membuat tubuhnya merindukan siraman air segar dan pembaringan yang empuk.Ia segera menempel kartu akses dan masuk.Gagang pintu terbuka. Teja mendorong pintu tebal itu hingga terbuka, lalu menutupnya kembali rapat-rapat dari dalam. Bunyi pengunci otomatis terdengar halus, menyisakan keheningan kamar ber-AC yang sejuk dan nyaman.Tanpa membuang waktu, Teja menanggalkan kemeja kasual gelap dan celana panjangnya satu per satu, disusul celana dalamnya pula.Kain-kain itu dibiarkan tergeletak santai di atas sofa ruang tengah. Raga tegap Teja terpampang polos tanpa sehelai benang pun, memamerkan lekuk otot dada serta perut enam perseginya yang keras dan kokoh.Namun, langkah kakinya langsung terhenti saat melihat sesosok yang b
Ketika matahari sudah menanjak tinggi, Teja dan Berliana kembali ke pusat kota.Sinar mentari pagi yang terik menerobos kaca depan kendaraan, membiaskan pendar hangat di dalam mobil. Suasana jalanan protokol ibu kota tampak mulai padat oleh hiruk-pikuk aktivitas masyarakat yang memulai hari. Di dalam mobil yang sejuk, keletihan fisik akibat operasi penyergapan maraton dari tengah malam hingga dini hari tadi terpancar tipis dari raut wajah kedua sejoli tersebut.Meski cukup lelah karena harus begadang demi meringkus Blackviper, Berliana tetap harus berangkat ke markas untuk memberikan laporan.Sebagai perwira intelijen militer yang memegang kendali penuh atas operasi penangkapan gembong internasional tersebut, tugas Berliana belum sepenuhnya usai. Ia harus segera menyusun Laporan Informasi resmi, menyerahkan berkas berita acara pemeriksaan, serta mengoordinasikan penanganan puluhan korban wanita yang telah diselamatkan kepada pihak terkait.Mini Cooper Berliana menurunkan prianya di
Namun, meski terlihat pelan dan lembut, dampak yang terjadi sangat mencengangkan.Hawa murni Qi tingkat tujuh yang disuntikkan Teja ke dalam kerikil kecil itu meledak secara internal begitu menyentuh tubuh musuh. Gesekan energi tersebut melipatgandakan daya hantam hingga beribu-ribu kali lipat.Tubuh tegap sang gembong internasional terlempar kencang ke belakang, melayang melintasi udara malam menembus kegelapan pelabuhan. Mantel cokelatnya robek hancur di bagian dada, sementara seluruh pertahanan hawa murni di dalam tubuhnya jebol total dalam satu tarikan napas.Ia kemudian terhempas berkalang tanah sekitar sepuluh meter di belakang sana.Tubuh Blackviper menabrak tumpukan kayu tua dan lantai semen hingga memercikkan tanah berdebu, lalu berguling beberapa kali sebelum akhirnya terhenti dalam posisi terlentang tak berdaya."Ughh! Ahhh!"Suara erangan samar dan napas terengah-engah yang sangat serak lolos dari tenggorokan Blackviper. Mulutnya memuntahkan lelehan darah segar yang memb
"Bukan! Aku bapakmu!" jawab Teja sinis dengan tatapan mata yang tajam menusuk.Sindirian tajam dan dingin yang meluncur tanpa beban dari mulut pemuda berambut gondrong itu seketika meruntuhkan sisa-sisa harga diri Blackviper. Pria tua yang selama puluhan tahun ditakuti di dunia bawah tanah dan lingkaran kejahatan internasional itu merasa sangat dihina oleh sosok yang ia anggap hanya bocah bau kencur."Bedebah! Kamu cari mati, bocah!" raung Blackviper murka.Wajahnya merah padam, urat-urat di leher dan dahinya menegang menonjol. Tanpa membuang waktu lagi, Blackviper meledakkan energi Qi tingkat empatnya secara maksimal.Gelombang hawa dingin bertekanan tinggi menyembur hebat dari dalam tubuh Blackviper, memancar ke segala arah dan menimbulkan pusaran angin malam yang memutar pasir serta debu di permukaan semen dermaga. Tekanan hawa murni tingkat empat tersebut begitu padat dan tajam, membuat atmosfer di sekeliling pelabuhan tua itu mendadak menjadi teramat berat.Dari balik tumpukan
Benny yang tak mengenal wajah Teja hampir mencabut pistol dari pinggangnya.Sensasi bahaya yang teramat pekat seketika menyengat saraf kewaspadaan Benny. Tangan kanannya bergerak cepat merayap ke balik jasnya, hendak menarik gagang pistol laras pendek yang terselip rapi di sana.Namun pergerakan Teja lebih cepat.Teja tidak memberi celah sedikit pun. Aliran hawa murni Qi tingkat tujuh meledak di paha dan lengannya dalam sepersekian detik. Tubuhnya bergerak secepat angin dan langsung menjatuhkan Benny dalam satu pukulan telak.Pukulan jarak dekat yang dilapisi tenaga dalam murni itu menghantam ulu hati Benny dengan kekuatan luar biasa."Ugh...!"Mata Benny mendelik lebar, seluruh udaranya terperas habis dari paru-parunya. Tubuh kekarnya ambruk melengkung ke atas tanah semen yang dingin. Benny pingsan seketika, kehilangan kesadaran penuh bahkan sebelum tubuh dan tangannya sempat menyentuh gagang senjata miliknya. Teja berdiri tegap di atas Benny yang terkulai, menatap lurus ke arah
Di atas balkon, Teja menyunggingkan senyum tipis penuh cemoohan mendengar protes sang gembong internasional."Master tenang saja. Kalaupun pemuda itu tak datang, setelah urusan jam 2 pagi nanti selesai, kita bisa langsung meluruk kamar hotelnya di pusat kota. Saya sudah punya semua data tentang nomor kamar dan akses aman menuju ke kamar itu," tanggap Joni taktis."Bagus, Joni! Kamu ternyata sudah menyiapkan plan B. Nggak rugi aku menugaskan kamu!" puji Blackviper terbahak puas, menepuk-nepuk bahu Joni di tengah keheningan malam pelabuhan.Teja dan Berliana saling bertukar pandang di bawah temaram lampu balkon. Binar mata keemasan Teja berkilat dingin.Sang 'hantu' pelabuhan sama sekali tidak menyadari bahwa mangsa yang sangat ingin ia habisi saat ini tidak sedang bersembunyi di pusat kota, melainkan sedang mengawasinya dari atas ketinggian, siap menggulung seluruh jaringannya saat kontainer utama merapat nanti.—Kegelapan malam di kawasan pesisir utara Jakarta kian pekat, diiringi h
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri







