Se connecterRombongan Teja melangkah santai mengikuti ritme gerakan tiga hewan pendukung mereka. Suasana malam Hutan Camar Hitam yang semula begitu mencekam kini berubah menjadi sangat bersahabat di sepanjang tepi aliran air telaga.Jalur yang mereka lalui merupakan cerukan celah alami yang tersembunyi rapat di balik kerimbunan semak belukar dan lebatnya pohon-pohon purba. Jika bukan karena bimbingan Buaya Putih serta sepasang singa keemasan itu, tidak akan ada satu pun kelompok asosiasi lain yang mampu menemukan celah tersembunyi itu."Enak banget ya jalan di sini, nggak ada tanjakan terjal kayak di jalur pendakian utama tadi," celetuk Bintang sembari bersiul pelan. Pria bertato itu menikmati hembusan angin malam yang menyapu hawa hangat di sepanjang badan jalan."Iya, lagian nggak ada hewan buas atau gangguan tim lain. Sepi banget serasa jalur VIP," timpal Pedro terkekeh puas. Tangkai kapak besar yang semula ia genggam erat kini hanya disandarkan santai di bahu tegapnya.Teja berjalan paling
Teja melesat maju bagaikan kilat di udara. Pendar energi Qi kebiruan di sekujur tubuhnya memancar semakin terang, membungkus telapak tangan tangannya dengan daya hancur yang sangat dahsyat.Melihat pertahanan sang gorila raksasa terkunci semua oleh jepitan Buaya Putih dan sepasang singa, Teja mengarahkan seluruh tumpuan energinya pada satu titik puncak. Pria berambut panjang itu melayang tepat di hadapan wajah sang gorila setinggi sepuluh meter tersebut."Hancur kamu!" teriak Teja dengan suara menggelegar memecah keheningan malam.BAM!Serangan hebat Teja mendarat telak di tengah kening sang gorila raksasa. Hantaman energi murni bertingkat tinggi itu seketika meremukkan tulang tengkorak sang gorila hingga menimbulkan suara retakan keras yang sangat mengerikan.Dampak pukulan dahsyat tersebut menciptakan gelombang kejutan yang memukul mundur kepala monster berbulu hitam itu ke belakang. Matanya mendadak membelalak penuh kekosongan sebelum akhirnya seluruh kesadarannya padam seketika.
Teja diam dan berpikir keras. Ia menatap lekat pergerakan monster raksasa setinggi sepuluh meter yang masih berdiri tegak penuh kemurkaan di tepi telaga.'Aku kalah, Buaya Putih kalah, duo singa juga kalah. Aduh gimana ini ya?!' batinnya penuh ketegangan. Pikirannya berputar cepat memetakan setiap kemungkinan untuk keluar dari situasi hidup dan mati tersebut.Ia sejenak menatap Buaya Putih yang masih tergolek lemah tak jauh darinya. Reptil albino sepanjang tiga meter itu tampak menahan sakit dengan napas yang memburu kencang di atas tanah basah.Teja kemudian menatap dua singa yang masih berusaha bangkit. Pasangan raja hutan itu terus memaksakan tumpuan kaki mereka meski tubuh keemasan mereka sudah dipenuhi memar bekas dilempar paksa oleh gorila tadi.'Eh, tunggu dulu!' tiba-tiba Teja menemukan satu petunjuk. Kilatan ide mendadak melintas di dalam pikirannya saat memperhatikan porsi kekalahan dan dampak serangan ketiga binatang pendukungnya.'Kalau Buaya Putih setara sama sepertiga k
Teja dan Buaya Putih tetap berusaha menangkis dan melakukan serangan balik pada gorila tersebut. Pria berusia sembilan belas tahun tersebut menghimpun sisa kekuatan energi Qi miliknya, sementara sang buaya albino terus mengibaskan ekornya untuk membendung gempuran.Namun, pada akhirnya mereka hanya bisa menelan pil pahit karena kesenjangan kemampuan mereka dibandingkan gorila itu. Raksasa berbulu setinggi sepuluh meter itu memiliki kekuatan fisik dan pertahanan yang terlampau tangguh untuk ditembus menggunakan kemampuan yang mereka miliki saat ini.Tak butuh waktu lama bagi sang gorila setinggi sepuluh meter itu untuk bisa membuat Teja dan Buaya Putih terpojok. Serangan bertubi-tubi dari monster purba itu semakin mengikis habis pertahanan keduanya.Ia melesakkan pukulan ganda dua arah sekaligus hingga membuat Teja dan Buaya Putih terlempar jauh dan membentur pepohonan besar. Hantaman ganda tinju raksasa itu menggelegar dahsyat, hingga merobohkan dua batang pohon tua di tepi telaga.
Namun, sebelum dua tangan gorila besar itu jatuh menimpa Teja dan timnya, dari dalam telaga melompat seekor hewan lain dan langsung menggigit salah satu kaki gorila dengan begitu kuat. Cipratan air telaga membumbung tinggi mengiringi kemunculan mendadak pemangsa melata tersebut."Buaya Putih?!" pekik mereka serempak kaget sekaligus gembira. Mata mereka terbelalak tak percaya menyaksikan kedatangan penyelamat yang sangat tak terduga di detik-detik kritis tersebut.“Dia mau nolongin kita, Ja. Ini luar biasa! Usahamu buat menundukkan dia tadi siang ternyata membawa manfaat besar malam ini,” ujar Linda yang merasa sangat beruntung.“Baru kali ini aku lihat gimana kamu tadi dengan secepat itu menundukkannya dan bahkan membuatnya datang membantu kita!“ sambut panda tak kalah senang.Hewan sepanjang tiga meter yang sudah dijinakkan Teja sebelumnya itu memang datang untuk menyelamatkan majikan barunya. Reptil albino itu menyusuri aliran sungai hingga sampai di kawasan telaga luas tersebut.
Baru melangkah beberapa meter, tiba-tiba dari atas atap gua yang mereka lalui tadi terlihat sesuatu yang bergerak melompat ke arah mereka. Bayangan hitam raksasa memotong pendar cahaya bulan di langit malam dengan kecepatan yang sangat mengerikan."Berpencar!" teriak Teja. Teja secepat mungkin mendorong tubuh Linda dan Panda secara bersamaan ke arah kanan.Semua ikut bergerak cepat. Bintang dan Pedro melompat sigap ke arah kiri, sementara Teja berguling di atas tanah basah untuk menghindari dampak benturan maut tersebut.Sesuatu yang besar tadi tiba di tanah dengan begitu keras hingga menimbulkan suara berdebam dan memicu ledakan debu serta pasir ke segala arah.Hantaman bobot luar biasa itu menciptakan getaran hebat yang menggoncang permukaan tanah di sekitar telaga seperti gempa lokal.Saat debu mulai menghilang, semua ternganga. Sulur sinar rembulan yang menerobos di antara sela-sela ranting pohon purba memperlihatkan siluet hewan berbulu tebal yang berdiri tegap di hadapan mere
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T







