Compartilhar

253. Air Es

Autor: Leva Lorich
last update Data de publicação: 2026-08-03 20:57:58

Mobil memasuki halaman rindang dari rumah lama Teja yang sudah dialih fungsikan sebagai klinik pijat setelah ia dan ayahnya pindah ke rumah baru.

Pepohonan besar di sekitar pekarangan membuat suasana di area tersebut terasa begitu sejuk dan teduh.

Teja segera menghentikan laju kendaraannya tepat di depan pintu masuk bangunan tua itu.

Meski kecil dan sederhana, rumah itu tampak bersih dan rapi.

Halaman depannya terawat dengan baik tanpa ada sampah yang berserakan.

Tempat tersebut selalu dibe
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   628. Persiapan Skripsi

    “Siang, Na," balas Teja hangat. Jemari kekarnya mengusap pelan puncak kepala Nana, memberikan gestur perhatian sederhana yang seketika membuat senyuman manis Nana kian mengembang anggun.Jesen yang berdiri di sebelah Endro langsung menyenggol lengan sahabatnya itu seraya terkekeh pelan."Waduh, waduh... Yang ketua asosiasi bela diri sekaligus pemegang saham Grup Yulio baru nyampe nih! Aura Bos Besar memang beda ya, Ndro!" goda Jesen seraya menepuk bahu tegap Teja."Iya nih, Jo. Udah kayak adegan film aja pas kamu turun dari Pajero tadi," timpal Endro tertawa terkekeh. "Gimana kabarmu, Jo? Urusan kemarin lancar kan?"Teja tersenyum tipis, menyambut tinju santai dari kedua sahabatnya. "Lancar, Bro. Semua udah terkendali dengan baik. Kalian sendiri gimana? Ada kendala?""Aman, Jo! Yang penting sekarang kita langsung masuk kelas aja yuk, dosennya udah mau jalan ke kelas nih," ajak Jesen seraya melirik jam di pergelangan tangannya.Mereka berempat kemudian melangkah bersama menyusuri kori

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   627. Tiga Sosok

    Teja melepaskan pagutan bibirnya secara perlahan, menatap paras ayu Desy yang masih merona merah dengan lelehan kebahagiaan di sudut matanya. Jemari kekar Teja mengusap lembut helai rambut panjang Desy yang terurai di atas bantal."Des, kamu bisa naik sepeda motor nggak?" tanya Teja tenang.Desy mengangguk cepat. Sepasang mata bulat beningnya berbinar jernih menatap wajah tegas sang pemuda."Bisa kok, Mas. Dulu pas masih kerja serabutan dan bantu-bantu di lingkungan lama, aku sering pinjem motor orang-orang buat belanja ke pasar atau anter barang," jawab Desy jujur dengan nada suara yang teramat halus.Teja mengangguk-angguk paham. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya tatkala mendengar kesiapan wanitanya tersebut."Bagus kalau gitu. Di gudang belakang ada motor matikku yang lama. Kondisinya masih bagus dan terawat, kuncinya ada di gantungan dekat pintu dapur," tutur Teja memberikan petunjuk. "Nanti siang kamu pakai motor itu aja buat jemput Desan pulang sekolah. Nggak usah jalan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   626. Terima Kasih Banyak

    Teja melanjutkan penjelasannya mengenai deretan wanita yang telah menjadi bagian dari hidupnya."Yang keempat namanya Panda. Dia keturunan Tionghoa dan mengelola toko herbal," tutur Teja seraya membelai helai rambut Desy yang terurai santai di atas bantal.Desy terkekeh pelan, menyunggingkan senyuman manja di atas dada tegap sang pemuda. "Wow, ada yang produk impor juga hihi. Lanjut, Mas.""Kelima ada Sari Okta, dia…""Aku kenal! Sari Okta yang selebgram itu kan? Selain Mbak Nana, aku juga ngefans banget sama Mbak Sari! Dia instruktur senam, badannya bagus buanget," potong Desy antusias.Sebagai seorang dara muda, Desy sangat mengenali nama selebgram papan atas tersebut yang sering muncul di berbagai media sosial dengan bentuk tubuh atletis dan paras menawan. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa sosok bertubuh indah itu juga merupakan salah satu pendamping pria yang kini berada di pelukannya.Teja tersenyum tipis melihat reaksi polos nan jujur dari wanita barunya itu. Ia kemudian me

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   625. Masih Muda

    Teja menggeleng pelan dan kembali membelai pipi mulus Desy yang masih merona hangat di atas dadanya."Itu bukan wilayahmu," ucap Teja dengan nada bariton rendah yang tenang namun menyiratkan ketegasan yang nyata dan jelas.Desy mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata keemasan sang pemuda. Tatapan itu terasa begitu hangat, namun sekaligus memancarkan batas-batas sekat yang tak bisa diintervensi."Yang perlu kamu tanamkan dan biasakan di sini, urusan dengan para wanitaku adalah hak prerogatifku. Kamu cukup fokus ke hubungan antara kita berdua saja, di luar itu… itu bukan urusanmu!" tegas Teja lagi.Kata-kata itu diucapkan tanpa nada marah, melainkan sebagai bentuk garis panduan yang jelas agar keteraturan di antara para pendampingnya tetap terjaga tanpa ada gesekan atau dominasi yang tumpang tindih.Desy mengangguk patuh, merasa tersadar akan batas posisinya. Ia merapatkan tubuh seputih porselennya ke samping Teja, menundukkan kepala dengan raut penyesalan yang halus."Maaf, Mas

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   624. Kuota Keempat

    Teja tersenyum. Sejenak ia melepaskan terlebih dahulu tautan tubuh mereka sebelum menjawab pertanyaan dari sang kekasih baru nomor sembilan tersebut. Batang keperkasaannya yang masih menyisakan sensasi kehangatan ditarik perlahan keluar dari lorong intim Desy, meninggalkan jejak cairan basah yang melimpah di antara dua insan itu.Gadis belia itu bangkit perlahan, meraih kotak tisu yang berada di atas meja kecil di samping ranjang. Jemari lentiknya dengan sangat lembut mengusap dan mengeringkan seluruh permukaan kejantanan Teja hingga benar-benar bersih dan kering. Tak ada raut canggung atau jijik di wajah cantiknya, hanya ada pengabdian murni yang tulus dari seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh hidupnya.Dengan sisa-sisa tisu bersih di tangannya, Desy mengusap perlahan lipatan selangkangannya sendiri. Lelehan kehangatan dari Teja yang meluap membasahi paha mulusnya dibersihkan hingga tak menyisakan noda, menjaga agar area sensitifnya tetap nyaman dan higienis usai pergumul

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   623. Telah Resmi

    Mendengar perintah Teja, Desy mengangguk pelan dengan raut wajah yang merona merah. Meski seluruh persendian tubuhnya masih terasa lemas usai diterjang klimaks dua kali berturut-turut, rasa bakti dan dorongan untuk memuaskan sang pria memberinya tenaga baru.Desy bangkit perlahan dengan posisi merangkak. Tubuh seputih kapas milik gadis itu bergerak melangkahi kedua paha tegap Teja. Ia menggeser posisinya hingga duduk berhadapan di atas pangkuan Teja, menyejajarkan selangkangannya tepat di atas batang keperkasaan Teja yang masih berdiri tegap menjulang."Pelan-pelan ya, Des,bkasihan kalau kamu nanti kesakitan," ucap Teja seraya memegang kedua pinggul ramping Desy untuk membantu menjaga keseimbangan.Desy memegang bahu berotot Teja yang tertutup terpaan helai rambut dreadlock panjang milik sang pemuda. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Desy mengarahkan ujung kejantanan Teja ke muara kewanitaannya yang sudah teramat basah. Secara bertahap, Desy menurunkan pinggulnya, membiarka

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status