Mag-log inTeja sejenak mengabaikan perasaan anehnya itu dan kembali menatap sang dara cantik. Ia mengalihkan pikirannya untuk berfokus pada situasi yang sedang mereka hadapi. Pria berambut panjang itu menatap lekat paras ayu Susan yang masih tampak belum padam hasratnya."Kamu masih mau lanjut atau udah capek?" tanyanya memastikan stamina gadis di depannya.Susan membuka jari telunjuknya menghadap langit-langit ruangan tengah itu. Ia menunjukkan isyarat satu angka dengan ekspresi wajah yang amat memohon."Satu kali lagi boleh, Dad? Seumur-umur baru hari ini aku tahu rasanya orgasme," ucap Susan yang semakin terbiasa berbicara vulgar bersama Teja."Selusin lagi juga boleh, asalkan kamu kuat aja," seloroh Teja sembari menjulurkan lidahnya jahil."Maunya sih gitu, Dad. Tapi sekarang waktunya terbatas, nanti ayah malah curiga kalau kita kelamaan pergi," sahut Susan menyampaikan kekhawatirannya."Lain kali aku bakal memohon ke Daddy buat dikasarin sampai ampun-ampun, sampai beronde-ronde. Dua hari
Teja mendorong kuat pinggulnya, membuat miliknya yang raksasa itu menerobos kasar rongga basah milik Susan. Hantaman kuat itu seketika membelah jalur kewanitaan Susan hingga menancap sangat dalam. Benturan kasar di bagian dalam menghadirkan guncangan gairah yang begitu dahsyat."Ohh, yess!" pekik Susan jauh lebih bergairah dibanding saat bermain dalam posisi misionaris di awal tadi.Teja beberapa kali memberikan tamparan lagi pada bokong sekal Susan sembari langsung menggenjot milik Susan dalam RPM tinggi. Bunyi lecutan tangan dan gesekan kulit pribadi beradu nyaring memenuhi seluruh sudut ruangan. Pria berambut gondrong itu memompa tanpa ampun dengan stamina yang terus meningkat.Lesakan benda super jumbo dan kasar itu meledakkan gairah Susan menjadi semakin liar dan binal. Seluruh sarafnya seolah tersengat arus listrik bertegangan tinggi. Keringat yang membasahi tubuhnya semakin menyebarkan nuansa sensual yang kuat."Yess, Dad! Kasarin... kasarin hambamu ini. Oh-oh," jerit Susa
"Jangan panggil aku 'tuan'," tolak Teja."Kedengarannya aneh banget soalnya," imbuhnya menegaskan alasannya."Kalau gitu aku panggil daddy aja, ya?!" pinta Susan manja dengan mata berkabut penuh harap.Teja mengusap wajahnya kasar. "Oke, oke... panggil aja gitu, tapi kalau pas berdua. Jangan manggil gitu kalau ada ayah atau kakakmu!" ancam Teja memberi syarat tegas.Wajah Susan langsung terlihat senang. "Siap, Daddy-ku sayang," sahutnya girang."Tapi kalau mendadak gini aku nggak punya alat masokis kayak cambuk itu, San," ujar Teja terus terang."Pakai aja apa yang ada, Dad. Yang penting aku butuh kasarnya, diperbudaknya. Tolong aku, Dad," pinta Susan memohon dan memelas.Tanpa banyak kata lagi, Teja segera menarik tubuh Susan dan menelungkupkannya dalam pangkuan. Ia mengatur posisi tubuh gadis itu agar menempel dengan erat di atas pahanya.Posisi itu membuat bokong montok Susan semakin bulat dan menyembul tinggi di depan perut Teja. Kulit mulus tubuh bagian belakang gadis itu terpa
Gerakan Teja terus berlangsung tanpa kenal lelah. Pria berambut panjang itu terus melancarkan tumbukan demi tumbukan dengan stabilitas tenaga yang sangat luar biasa. Ritme genjotannya tidak berkurang sedikit pun dari awal hingga saat ini.Pinggulnya terus menekan dan menarik seperti mesin otomatis yang sudah diprogram. Pergerakan yang konstan dan kuat itu secara konsisten menghantam titik-titik sensitif di dalam rahim Susan. Suara benturan halus bercampur cairan pelumas menggema semakin nyaring."Ouh, Ja. Ufhh. Rasanya makin nikmat. Oh-oh, aku enggak kuat, Sayang!" jerit Susan kepayahan menahan gelombang nikmat yang merayapi seluruh tubuhnya. Matanya terpejam rapat dengan tangan yang makin erat meremas lengan Teja.Mendengar itu, Teja menambah kecepatan dan kedalaman tusukannya.Ia memompa liang kewanitaan Susan dengan dorongan-dorongan yang jauh lebih cepat dan menghantam maksimal. Pengaturan tenaganya dikerahkan sepenuhnya untuk membawa sang gadis menuju puncak."Ooh, Ja. Mentok
Sambil tetap memilin puncak puting Susan, Teja mendorong pinggulnya perlahan. Gerakan tubuhnya ia lakukan dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan rasa sakit yang mendera. Ia menjaga ritme dorongan tetap stabil dan terkontrol.Ujung tumpul miliknya langsung menyumpal ketat di gerbang milik Susan. Tekanan benda super jumbo itu seketika merenggangkan area sensitif sang gadis secara maksimal. Kehangatan dinding dalam Susan langsung menyambut kehadiran objek asing yang berukuran amat besar tersebut."Jaa!" pekik Susan dengan mata terbuka lebar merasakan sensasi penuh luar biasa di ujung serambi luar miliknya. Pekikan kagetnya memenuhi ruangan klinik pijat yang sunyi. Kedua tangannya mencengkram erat lengan kekar Teja yang berada di samping kanan dan kiri tubuhnya.Meski sangat susah masuk, kepala milik Teja sudah sebagian besar melesak ke dalam sana. Himpitan ketat di liang Susan memberikan jepitan yang begitu pekat dan hangat. Jalur sempit itu perlahan menyesuaikan diri denga
"Karena ini kali pertama buatmu setelah beberapa tahun lalu dinodai penjahat itu, sebaiknya kita mulai pakai gaya konvensional aja," usul Teja memberikan saran yang aman bagi kondisi Susan.Wajah tegang Susan menjadi sedikit reda mendengarnya. Tawa kecilnya hadir mengurangi rasa gugup yang sempat menyergap hati serta pikirannya. "Ayolah, Ja. Mau gaya umum maupun nggak umum, punyamu tetep aja kegedean!" celetuk Susan menggelengkan kepala jenaka.Teja tak menjawab dan mulai merangkak di antara tubuh Susan. Pria berambut panjang dreadlock itu menempatkan posisinya persis berada di atas tubuh polos sang gadis bertubuh sintal itu.Mata Teja bisa melihat wajah cantik Susan di bawah tubuhnya yang berhias rambut keriting spiral dan bibir yang agak bengkak karena sedari tadi ia sedot tanpa ampun. Tatapan matanya yang tajam menatap lekat paras ayu Susan dari jarak yang sangat dekat.Tawa renyah Susan yang baru saja terdengar seketika surut kering saat wajah tegangnya menyiratkan ketakutan ata
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih







