LOGIN"Terima kasih ya, Ja. Kamu pahlawan aku," bisik Berliana pelan saat keduanya sudah kembali rebah berdampingan di ranjang empuk tersebut.Suara wanita itu terdengar sangat halus dan tenang. Tubuhnya yang biasanya kaku dan penuh kedisiplinan kini bersandar pasrah di samping Teja. Lengan mulusnya melingkar rileks di dada lebar Teja, sementara helaan napas hangatnya berhembus teratur menerpa kulit leher sang pemuda.Teja membalas pelukan itu dengan lembut. Jemari tangannya mengelus pelan bahu Berliana yang masih sedikit basah oleh keringat bekas pertempuran mereka."Kamu sudah jadi wanitaku sekarang, Berli. Kamu harus belajar akrab jika kelak bertemu dengan saudarimu lainnya," kata Teja perlahan, memberikan pengertian tentang lingkaran wanita di kehidupannya.Berliana mendongak sedikit, menatap wajah Teja yang berada tepat di atasnya. Senyum tipis terukir di bibirnya yang ranum. Binar kebahagiaan terpancar jelas dari sepasang matanya yang cantik."Aku akan menyayangi mereka seperti halny
"Berarti aku boleh binal sebinal-binalnya, Ja?" tanya Berliana lirih.Suara wanita yang bekerja di dunia intelijen itu terdengar bergetar lembut. Sepasang matanya meredup, memancarkan aura pasrah dan gairah yang menyatu. Rasa malu yang tadi sempat hinggap kini perlahan menguap, digantikan oleh kepatuhan penuh pada pria yang sedang berada di belakangnya."Justru harus! Kalau cuma setengah-setengah, niatmu perlu dipertanyakan. Toh ini juga buat kenikmatan kamu sendiri," sahut Teja tegas.Teja memegang pinggul padat Berliana dengan kedua tangannya yang kokoh. Sentuhan jemarinya begitu tegas, memberikan rasa aman sekaligus dominasi yang jelas."Pasangan itu nggak boleh egois, Berli. Keegoisan adalah benih kehancuran," imbuh Teja.Tanpa menunggu balasan lagi, Teja kembali menundukkan wajahnya ke selangkangan Berliana. Lidahnya bergerak lincah, menyapu bagian paling sensitif di antara dua paha mulus sang wanita. Setiap gerakan bibir dan lidah Teja mengusap lembut celah yang sudah sangat
Jemari kekar sang master muda merayap naik menelusuri kehangatan kulit kuning langsat yang bersih dan eksotis tersebut. Dua telapak tangan Teja meremas lembut massa daging yang padat, kencang, dan berisi milik sang wanita. Jarinya mengusik puting-puting kaku Berliana. Ujung ibu jari dan telunjuk Teja memilin halus dua puncak kemerahan yang menjulang tegang disengat hawa gairah."Shh, Ja. Geli loh kalau digituin," cicit Berliana dengan suara serak basah yang teramat manja.Tubuh tegapnya bergetar halus di atas pangkuan paha Teja. Rona merah merona membakar seluruh permukaan wajah tegasnya, memperlihatkan betapa peka dan terangsangnya seluruh sistem saraf di dada sang intel wanita tatkala disentuh oleh sang pria."Kalau geli, emang kenapa?" pancing Teja menyunggingkan senyuman miring dan menawannya.Teja terus memainkan jarinya dengan ritme memutar yang terampil, menyalurkan uap hawa murni energi Qi tingkat empat yang kian membakar selangkangan wanitanya."Aku jadi pengen nganu lagi
Pria bertubuh tegap berotot itu menarik perlahan keperkasaan raksasanya dari dalam kehangatan rahim Berliana. Lelehan bening pelumas beraroma lavender berpadu kehangatan murni kewanitaan mengalir halus di atas permukaan kulit paha mulus sang tentara cantik.Teja menggeser tubuh berototnya ke bagian atas peraduan kayu jati berarsitektur semi kuno tersebut. Pria berambut gondrong ala dreadlock itu menyandarkan punggung tegapnya yang kokoh pada sandaran ranjang, membiarkan dada bidangnya yang berotot kencang terhampar bebas di udara kamar yang berselimutkan aroma wangi kayu cendana yang menenangkan.Dengan gerakan yang teramat lembut dan manja, tubuh tegap berkulit kuning langsat milik sang tentara jelita itu beringsut naik. Berliana membaringkan kepala indahnya secara miring tepat di atas pangkuan paha tegap Teja. Pipi mulusnya yang merona merah hangat menempel pasrah, persis di samping batang kejantanan raksasa Teja yang masih berdiri tegang, kaku, tebal, dan membara.Teja menyungg
Teja segera menekan ujung tumpul miliknya ke dalam celah sempit milik Berliana dari posisi belakang itu“Uhh, Ja. Penuhh!“ geram Berliana merasakan sensasi yang lebih padat dalam posisi itu.Berliana semakin menunggingkan bokongnya dengan sempurna di atas ranjang. Dua lutut tegapnya merapat kaku di atas kasur empuk, sementara pinggul kuning langsatnya yang padat dan sekal terangkat tinggi ke udara. Buah dada ranum dan wajah tegas cantiknya direbahkan pasrah di atas bantal, membiarkan lengkungan punggung mulusnya yang membasah oleh peluh dingin membentuk sudut penetrasi yang teramat pas dari arah belakang.Gerakan pinggul Teja semakin leluasa setelah wanita jelita itu menambahkan ketinggian posisinya.Lesakan milik Teja yang terbesar se-Indonesia menumbuk kuat hingga membentur rahim sang dara meski tetap saja hanya setengah panjangnya yang mampu terendam di dalam sana.“Posisi ini… makin berasa kocokanmu, Ja. Uhh-oh… ini… ini nikmat banget. Teruskan, Ja, aku mohon!“ suara desahan Ber
Goncangan pinggul padat milik Berliana berlangsung kian cepat dan berirama di atas peraduan itu. Ketahanan fisik luar biasa yang ditempa dari latihan militer membuat napas dan otot-otot paha tegap sang wanita sanggup menjaga tempo genjotan secara stabil tanpa memperlihatkan tanda-tanda kelelahan.Dua gumpalan dadanya yang padat, mengkal, dan kencang berayun bebas di depan wajah Teja, memamerkan dua puncak kemerahan yang mengeras kaku disengat hawa sejuk malam perkebunan. Kulit kuning langsatnya yang berkilat disapu peluh dingin memancarkan keanggunan tubuh yang teramat eksotis di bawah pencahayaan kamar yang temaram.Teja menikmati ayunan mandiri wanitanya dari posisi terlentang. Dua tangan kekar merengkuh lembut pinggul ramping Berliana, membantu menjaga keseimbangan gerakan sang wanita sembari menyalurkan getaran hawa murni energi Qi tingkat empat yang hangat dari telapak tangannya.Setiap kali pinggul Berliana menghujam deras ke bawah, pangkal pahanya menabrak rapat selangkangan
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih







