Share

289. Jarum Racun

Author: Leva Lorich
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-13 20:47:56

"Apa mau kamu, Limey?" tanya Panda tak suka.

Wajah gadis oriental itu merengut tegang saat menatap teman lamanya yang kini berdiri menantang di tengah jalur pendakian.

Limey terbahak. Suara tawa renyahnya bergema di antara kerapatan pepohonan purba Hutan Camar Hitam.

"Yang jelas kami nggak suka ada saingan. Kami pengen jadi yang nomor satu di puncak gunung sana," ujar Limey blak-blakan.

Pria dan wanita di belakangnya ikut memamerkan wajah permusuhan yang begitu jelas.

Saat itu juga Limey meny
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   291. Keselamatan Mental

    "Panda, kamu kenapa?!" tanya Teja kaget mendapati Panda yang berubah sangat agresif. Pria berambut panjang serta berwajah tampan itu menahan kedua bahu Panda yang mendadak menindih tubuhnya dengan begitu erat."Tolong aku, Ja. Aku panas banget ini," pinta Panda. Suaranya terdengar parau dan serak, sementara manik matanya meredup sayu diliputi hawa gairah yang menyelimuti tubuhnya."Tunggu, Nda. Bukankah itu tadi racun pelemah tulang? Bukan racun perangsang, kan? Mana bisa bikin hasratmu jadi naik begini?!" bantah Teja. Teja menggeleng heran menatap perubahan sikap gadis oriental di atasnya yang begitu bernafsu tersebut."Badanku tadi menggigil kena dinginnya racun itu, Ja. Begitu sembuh, ternyata hawa hangat yang mendadak masuk langsung merangsang semua sarafku," Panda menjelaskan apa yang ia rasakan pada tubuhnya. Napas Panda memburu halus, menyapu kulit leher Teja dengan sensasi panas yang membakar saraf kelaki-lakinya."Tapi, gimana kalau Linda atau dua anak buahku tadi balik?"

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   290. Hawa Panas

    Empat orang itu melesat maju secara serempak dari empat arah yang berbeda. Dua pria mengayunkan pedang tipis mengincar leher dan perut Teja, sementara dua wanita melemparkan serbuk racun berwarna ungu ke arah wajah sang ketua.Bagi Teja yang telah berada di ranah bela diri tingkat tinggi tahap puncak, kombinasi serangan tersebut sama sekali tidak memiliki ancaman. Dengan gerakan tubuh yang sangat tenang dan lembut, ia memutar posisinya sepersekian detik sebelum serbuk racun itu sempat menyentuh pakaiannya.Teja mengibaskan lengan bajunya, menciptakan gelombang angin Qi yang kuat untuk membalikkan arah hembusan racun ungu tersebut lurus ke mata kedua wanita pelempar serbuk racun. Keduanya seketika menjerit histeris sembari memegangi wajah mereka yang terasa terbakar.Sebelum dua pria berpedang sempat menyadari apa yang terjadi, Teja sudah berada di antara posisi berdiri mereka. Jemari tangannya meluncur cepat bagaikan kilat, menekan simpul saraf di dada dan rusuk kedua pria tersebu

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   289. Jarum Racun

    "Apa mau kamu, Limey?" tanya Panda tak suka. Wajah gadis oriental itu merengut tegang saat menatap teman lamanya yang kini berdiri menantang di tengah jalur pendakian.Limey terbahak. Suara tawa renyahnya bergema di antara kerapatan pepohonan purba Hutan Camar Hitam."Yang jelas kami nggak suka ada saingan. Kami pengen jadi yang nomor satu di puncak gunung sana," ujar Limey blak-blakan. Pria dan wanita di belakangnya ikut memamerkan wajah permusuhan yang begitu jelas.Saat itu juga Limey menyerang Panda. Gadis ahli racun itu melesat maju dengan kecepatan tinggi, melayangkan dorongan telapak tangan lurus yang mengincar bagian dada Panda.Panda yang sudah sangat bersiap langsung menangkis serangan tersebut dengan gerakan melingkar yang cepat. Keduanya saling bertukar gempuran dalam jarak dekat tanpa ada yang mau mengalah sedikitpun.Mereka bertarung seimbang. Setiap kali Limey mengirimkan pukulan tajam, Panda sanggup menepis dan membalasnya dengan sabetan telapak tangan yang tak kala

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   288. Buru-buru Sekali

    "Terlepas siapa yang udah melakukannya, aku harus cepet ngobatin singa betina ini. Kalau sampai koit, makin runyam nanti. Pak Singa bisa ngamuk!" ucap Teja. Pria berambut panjang itu tetap tenang mengendalikan suasana meski tekanan dari sang singa jantan terasa amat jelas.Teja menatap Panda. Sebagai ahli herbal, Panda tentu akan paham apa yang diminta Teja tanpa perlu banyak penjelasan panjang lebar."Nda, kamu tolong siapkan ramuan herbal buat oles ke luka," ujar Teja sembari menyebutkan beberapa bahan alami penawar racun dan pemulih jaringan kulit yang diperlukan.Panda segera membuka tas perbekalannya dan mulai menumbuk beberapa bahan yang tadi disebutkan Teja. Jemari lentiknya bergerak sangat cepat dan cekatan mengolah dedaunan serta akar herbal dengan alat penumbuk kecil di atas wadah kayu.Sementara itu Teja kembali fokus menatap luka terbuka di perut dan dada singa betina. Manik matanya menyipit tajam, memusatkan dorongan energi murni dari dalam dadanya menuju kedua telapak

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   287. Singa Betina

    Tim Teja melanjutkan perjalanan. Langkah kaki mereka dengan cepat menyusuri vegetasi Hutan Camar Hitam yang kian menanjak dan rapat.Setengah jam kemudian, suasana di sekeliling mereka mendadak berubah hening. Kicauan burung dan derik serangga yang semula memenuhi hutan seketika lenyap tanpa sisa.Teja segera menghentikan langkahnya dan mengangkat tangan kanan. "Berhenti! Ada aura bahaya yang sangat kuat di depan kita," peringatnya tegas.Dari balik semak belukar yang lebat, melangkah keluar seekor singa jantan berukuran raksasa. Bulu surainya berwarna cokelat gelap, sementara tubuhnya dua kali lebih besar dari singa pada umumnya. Matanya memancarkan amarah yang tinggi, menandakan teritorialnya baru saja terganggu.Auman dahsyat menggelegar dari tenggorokannya, menggetarkan pepohonan purba di sekitar mereka. Gelombang tekanan udara dari deru suara itu membuat bulu kuduk anggota tim Teja seketika meremang.Di belakang singa jantan tersebut, nampak seekor singa betina yang terluka pa

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   286. Sinergi Duo

    Pria beralis codet langsung merangsek maju untuk menyambut Linda dengan pukulan lurus yang cukup keras. Angin pukulan berhembus lumayan kencang mengincar bagian wajah sang gadis.Namun, Linda bergerak jauh lebih cepat. Ia merendahkan tubuhnya dengan lincah, membiarkan tinju pria itu melayang tipis di atas kepalanya.Sebelum pria beralis codet sempat menarik lengannya, Linda menyarungkan serangan balasan berupa dorongan dua telapak tangan yang sangat bertenaga. Hantaman itu mendarat telak di bagian ulu hati sang ketua kelompok.BAM!Tubuh besar pria beralis codet langsung terdorong ke belakang dan tersungkur di tanah basah. Ia memegangi dadanya sembari berusaha mengais udara yang mendadak hilang dari paru-parunya.Di sisi lain, pria penuh bekas jahitan dan pria berkepala botak mencoba menyerang Panda secara bersamaan dari dua arah. Pria penuh jahitan melayangkan tendangan melingkar ke arah leher Panda, sedangkan si botak mengincar bagian perut dengan ayunan tangan kekarnya.Panda tida

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status