Mag-log in"Panda, kamu kenapa?!" tanya Teja kaget mendapati Panda yang berubah sangat agresif. Pria berambut panjang serta berwajah tampan itu menahan kedua bahu Panda yang mendadak menindih tubuhnya dengan begitu erat."Tolong aku, Ja. Aku panas banget ini," pinta Panda. Suaranya terdengar parau dan serak, sementara manik matanya meredup sayu diliputi hawa gairah yang menyelimuti tubuhnya."Tunggu, Nda. Bukankah itu tadi racun pelemah tulang? Bukan racun perangsang, kan? Mana bisa bikin hasratmu jadi naik begini?!" bantah Teja. Teja menggeleng heran menatap perubahan sikap gadis oriental di atasnya yang begitu bernafsu tersebut."Badanku tadi menggigil kena dinginnya racun itu, Ja. Begitu sembuh, ternyata hawa hangat yang mendadak masuk langsung merangsang semua sarafku," Panda menjelaskan apa yang ia rasakan pada tubuhnya. Napas Panda memburu halus, menyapu kulit leher Teja dengan sensasi panas yang membakar saraf kelaki-lakinya."Tapi, gimana kalau Linda atau dua anak buahku tadi balik?"
Empat orang itu melesat maju secara serempak dari empat arah yang berbeda. Dua pria mengayunkan pedang tipis mengincar leher dan perut Teja, sementara dua wanita melemparkan serbuk racun berwarna ungu ke arah wajah sang ketua.Bagi Teja yang telah berada di ranah bela diri tingkat tinggi tahap puncak, kombinasi serangan tersebut sama sekali tidak memiliki ancaman. Dengan gerakan tubuh yang sangat tenang dan lembut, ia memutar posisinya sepersekian detik sebelum serbuk racun itu sempat menyentuh pakaiannya.Teja mengibaskan lengan bajunya, menciptakan gelombang angin Qi yang kuat untuk membalikkan arah hembusan racun ungu tersebut lurus ke mata kedua wanita pelempar serbuk racun. Keduanya seketika menjerit histeris sembari memegangi wajah mereka yang terasa terbakar.Sebelum dua pria berpedang sempat menyadari apa yang terjadi, Teja sudah berada di antara posisi berdiri mereka. Jemari tangannya meluncur cepat bagaikan kilat, menekan simpul saraf di dada dan rusuk kedua pria tersebu
"Apa mau kamu, Limey?" tanya Panda tak suka. Wajah gadis oriental itu merengut tegang saat menatap teman lamanya yang kini berdiri menantang di tengah jalur pendakian.Limey terbahak. Suara tawa renyahnya bergema di antara kerapatan pepohonan purba Hutan Camar Hitam."Yang jelas kami nggak suka ada saingan. Kami pengen jadi yang nomor satu di puncak gunung sana," ujar Limey blak-blakan. Pria dan wanita di belakangnya ikut memamerkan wajah permusuhan yang begitu jelas.Saat itu juga Limey menyerang Panda. Gadis ahli racun itu melesat maju dengan kecepatan tinggi, melayangkan dorongan telapak tangan lurus yang mengincar bagian dada Panda.Panda yang sudah sangat bersiap langsung menangkis serangan tersebut dengan gerakan melingkar yang cepat. Keduanya saling bertukar gempuran dalam jarak dekat tanpa ada yang mau mengalah sedikitpun.Mereka bertarung seimbang. Setiap kali Limey mengirimkan pukulan tajam, Panda sanggup menepis dan membalasnya dengan sabetan telapak tangan yang tak kala
"Terlepas siapa yang udah melakukannya, aku harus cepet ngobatin singa betina ini. Kalau sampai koit, makin runyam nanti. Pak Singa bisa ngamuk!" ucap Teja. Pria berambut panjang itu tetap tenang mengendalikan suasana meski tekanan dari sang singa jantan terasa amat jelas.Teja menatap Panda. Sebagai ahli herbal, Panda tentu akan paham apa yang diminta Teja tanpa perlu banyak penjelasan panjang lebar."Nda, kamu tolong siapkan ramuan herbal buat oles ke luka," ujar Teja sembari menyebutkan beberapa bahan alami penawar racun dan pemulih jaringan kulit yang diperlukan.Panda segera membuka tas perbekalannya dan mulai menumbuk beberapa bahan yang tadi disebutkan Teja. Jemari lentiknya bergerak sangat cepat dan cekatan mengolah dedaunan serta akar herbal dengan alat penumbuk kecil di atas wadah kayu.Sementara itu Teja kembali fokus menatap luka terbuka di perut dan dada singa betina. Manik matanya menyipit tajam, memusatkan dorongan energi murni dari dalam dadanya menuju kedua telapak
Tim Teja melanjutkan perjalanan. Langkah kaki mereka dengan cepat menyusuri vegetasi Hutan Camar Hitam yang kian menanjak dan rapat.Setengah jam kemudian, suasana di sekeliling mereka mendadak berubah hening. Kicauan burung dan derik serangga yang semula memenuhi hutan seketika lenyap tanpa sisa.Teja segera menghentikan langkahnya dan mengangkat tangan kanan. "Berhenti! Ada aura bahaya yang sangat kuat di depan kita," peringatnya tegas.Dari balik semak belukar yang lebat, melangkah keluar seekor singa jantan berukuran raksasa. Bulu surainya berwarna cokelat gelap, sementara tubuhnya dua kali lebih besar dari singa pada umumnya. Matanya memancarkan amarah yang tinggi, menandakan teritorialnya baru saja terganggu.Auman dahsyat menggelegar dari tenggorokannya, menggetarkan pepohonan purba di sekitar mereka. Gelombang tekanan udara dari deru suara itu membuat bulu kuduk anggota tim Teja seketika meremang.Di belakang singa jantan tersebut, nampak seekor singa betina yang terluka pa
Pria beralis codet langsung merangsek maju untuk menyambut Linda dengan pukulan lurus yang cukup keras. Angin pukulan berhembus lumayan kencang mengincar bagian wajah sang gadis.Namun, Linda bergerak jauh lebih cepat. Ia merendahkan tubuhnya dengan lincah, membiarkan tinju pria itu melayang tipis di atas kepalanya.Sebelum pria beralis codet sempat menarik lengannya, Linda menyarungkan serangan balasan berupa dorongan dua telapak tangan yang sangat bertenaga. Hantaman itu mendarat telak di bagian ulu hati sang ketua kelompok.BAM!Tubuh besar pria beralis codet langsung terdorong ke belakang dan tersungkur di tanah basah. Ia memegangi dadanya sembari berusaha mengais udara yang mendadak hilang dari paru-parunya.Di sisi lain, pria penuh bekas jahitan dan pria berkepala botak mencoba menyerang Panda secara bersamaan dari dua arah. Pria penuh jahitan melayangkan tendangan melingkar ke arah leher Panda, sedangkan si botak mengincar bagian perut dengan ayunan tangan kekarnya.Panda tida
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri







