เข้าสู่ระบบ“Iyaaa, Sayang. Ini aku baru mau kasih tebakannya,” cengir Teja dengan wajah tanpa dosa."Awas kalau ini tebakan jebakan lagi ya, Ja! Pikir baik-baik pertanyaanmu itu," ujar Bianca mengancam pelan sembari menepuk dada bidang Teja.Teja terkekeh pelan. "Ini tebakan serius, Bi. Coba jawab, apa bedanya soto ayam sama lubangnya cewek cantik?"Bianca terdiam sejenak untuk memikirkan jawabannya. Tak lama kemudian ia membuka mulutnya."Soto ayam itu mienya warna putih, kalau cewek cantik itu mienya hitam alias bulu anunya hitam! Benar kan?!" seru Bianca dengan tatapan mata penuh rasa yakin."Nah, gitu dong! Pinter banget pacarku ini. Jawabannya seratus persen benar!" puji Teja sembari kembali menepuk bokong mulus Bianca dengan gemas."Yeayyy! Akhirnya bener juga! Ayo, janji adalah janji. Lanjut ronde dua sekarang!" sorak Bianca riang. Rasa kesalnya seketika menguap digantikan oleh gairah yang kembali membakar."Siap, Nona cantikku. Kalau gitu, ronde kedua ini aku yang atur gayanya. Kita paka
"New York dong, Sayang. Halah, itu terlalu gampang buat cewek secerdas aku ini. Apa kemampuan tebakanmu cuma segitu doang, Ja?" Bianca tersenyum membanggakan diri.Wanita berambut bob itu menepuk dada bidang Teja dengan rasa percaya diri yang membumbung tinggi. Ia merasa pertanyaan yang dilemparkan Teja terlalu mudah untuk ukuran wanita berpendidikan tinggi sepertinya.Teja langsung terbahak karena perangkapnya dimasuki oleh Bianca. "Kamu itu kalau habis orgasme apa berubah hilang ingatan, Bi?" ledek Teja sembari menepuk bokong kekasih jelitanya dengan gemas.Pukulan pelan itu mendarat di permukaan kulit halus milik Bianca, memicu getaran singkat di bagian belakang tubuhnya."Hilang ingatan gimana? Masa Neu York? Yang bener New York dong, Ja!" sanggah Bianca tidak terima karena disebut hilang ingatan."Salah! Ibu kota Amerika Serikat itu Washington DC, bukan New York… apalagi Neu York, hahaha…" Teja kembali terbahak karena berhasil mengerjai kekasihnya itu.Suara tawa keras Teja meme
"Enak, Bi?" tanya Teja yang melihat rona nikmat di raut wajah cantik wanitanya itu.Teja menatap wajah cantik wanitanya yang sedang memerah. Jemari besarnya mengusap pelan paha mulus Bianca yang menempel ketat di sisi tubuhnya."Enak pakai banget, Sayang. Ohh-hh, badanku kayak rasanya terbelah! Uuuh," jawab Bianca sembari terus menggerakkan pinggulnya.Wanita berambut bob pendek itu terus mengayunkan pinggulnya naik dan turun di atas paha Teja. Jepitan sempit dari selangkangannya terasa sangat memanjakan milik Teja yang terbenam kokoh di dalam sana.Teja pun kemudian mengambil inisiatif untuk membantu memberikan tekanan sambutan dari pinggulnya setiap kali bokong Bianca meluncur turun.Dorongan berlawanan dari bawah yang dilancarkan Teja membuat tancapan miliknya menghantam semakin dalam dan tajam. Gesekan panas di dalam rahim Bianca menjadi berlipat ganda rasanya.Upaya Teja yang bergerak di bawah membuat sang kekasih jelita langsung melolong nyaring. "Arghh-hh, makin penuh, Ja. Men
"Aku mau yang ini, Sayang," jawab Bianca sembari mulai menggenggam batang milik Teja yang menempel di pipinya.Jemari lentiknya mengusap hangat bagian keras yang sudah sangat tegang dan kaku tersebut. Kehangatan dan denyutan urat-urat yang menonjol di permukaan kulitnya terasa begitu memikat, membakar hasrat di dalam dada sang putri pemilik hotel."Tapi ada syaratnya, Bi," kata Teja sembari menahan sejenak laju pergerakan tangan mulus wanitanya.Mendengar itu, Bianca langsung terbelalak. "Ihh, Tejaa! Keburu dingin lagi ini nanti hasratku," protes Bianca tak terima.Hasratnya yang sudah melayang di awang-awang saat pemanasan dengan jari Teja tadi seperti tak rela jika harus kembali tenggelam dan menggantung tak memuaskan.Teja terkekeh melihat rona wajah kekasihnya yang kembali sewot seperti saat ia menghentikan aksi ronjokan tangannya tadi."Mau atau nggak sama sekali?!" Teja berpura-pura membelalakkan matanya memberikan ancaman.Melihat reaksi itu, Bianca cepat-cepat mengangguk meny
Tangan Teja bergerak turun, menjangkau perut ramping Bianca, terus turun… hingga berhenti di serambi rekahan basah milik wanita itu.Jemarinya merayap halus melintasi kulit mulus perut, menyusuri garis lekukan tubuh indah milik sang wanita berambut bob pendek. Begitu ujung jarinya tiba di area penting yang sudah membasah dan melimpah oleh lelehan pelumas alami, Teja menghentikan tangannya sejenak.Ia kemudian menggosokkan jemarinya di sana, membuat Bianca langsung tersentak merasakan sensasi yang menjalari liang sensitifnya."Teja… auh-ah. Hmm-hh…" desah Bianca.Seluruh tubuh molek Bianca bergetar halus di atas sprei. Sentuhan telapak tangan Teja di pusat selangkangannya mengirimkan impuls gairah yang begitu hebat, memicu reaksi spontan dari setiap jaringan saraf sensitifnya. Dua paha mulus Bianca terpisah semakin lebar secara refleks, memberikan akses penuh bagi prianya untuk mengeksplorasi lebih dalam.Gerakan jemari Teja berubah semakin teratur. Ibu jari dan jari telunjuknya meme
Bianca mendongakkan wajahnya sedikit, menatap lurus ke dalam sepasang mata hangat milik Teja. Binar kepasrahan dan rasa cinta yang mendalam terpancar jelas dari raut wajah cantiknya yang merona halus. Tanpa mengulurkan waktu lagi, wanita berambut bob pendek itu merangkul leher tegap Teja dengan kedua tangan lentiknya.Teja menundukkan kepala, menyatukan bibirnya dengan bibir ranum Bianca dalam sebuah ciuman panas yang mendalam.Pagutan bibir mereka berlangsung liar dan sarat akan gairah yang tertahan. Lidah Teja menerobos masuk ke dalam rongga mulut Bianca yang manis, mengaduk dan membelit lidah wanitanya dengan kehangatan yang kian membara. Bianca membalas lumatan itu dengan penuh semangat, mengulum lembut bibir atas Teja sembari melenguh halus di sela-sela ciuman mereka.“Uhhm, Jahh!“Sembari terus mengadu bibir, jemari kekar Teja bergerak lincah merayap ke belakang tubuh Bianca. Ia menurunkan resleting gaun yang membungkus rapi tubuh molek sang wanita. Kain halus berkelas itu
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan







