ANMELDEN"Aku kan udah bilang tadi, Jo. Ayahku itu manajer distribusi. Hal kayak gitu mah gampang buat beliau," balas Maya dengan nada pongah sembari membusungkan dada."Jo, saranku, nggak usah ngajak Maya adu argumentasi deh. Kamu itu siapa? Ayahnya Maya punya jabatan lho di sana, Jo!" Lia ikut angkat bicara, menatap Teja dengan pandangan meremehkan.Nana yang mendengar itu akhirnya ikut menengahi. Gadis cantik itu mengusap pelan lengan Teja sembari berbisik halus. "Jo, serahin aja sama Maya. Ayahnya punya kuasa di sana."Teja tersenyum pelan. Pria berambut panjang itu menggelengkan kepala perlahan, menyikapi ketidaktahuan orang-orang di sekitarnya."Justru itu yang aku pertanyakan. Kuasa apa yang bisa bikin manajer distribusi saja bisa ngatur calon karyawan yang masuk?!" bantah Teja dengan nada bicara yang tenang namun menohok."Manajer distribusi saja katamu?! Itu jabatan tinggi di sana!" Wajah Maya semakin merah padam, merasa harga diri keluarganya baru saja diinjak-injak oleh seorang maha
"Kamu kenal sama karyawan di sana, Jo? Atau gimana?" tanya Jesen penuh rasa antusias. Matanya berbinar menatap Teja, menantikan jawaban dari sahabatnya itu."Kenal orang dalam di perusahaan segede itu tentu berguna banget lho, Jo. Lulusan kampus sini aja pada susah tuh wawancara mau masuk ke sana. Mereka ketat dan selektif banget," timpal Endro sembari meletakkan sendoknya kembali ke atas meja.Tanpa mereka berempat sadari, tepat di sebelah meja mereka ada dua mahasiswi yang menyimak pembicaraan tersebut. Kedua gadis itu duduk menikmati minuman dingin mereka sembari melirik tipis ke arah meja Teja."Nggak usah mimpi deh kalau masuk ke sana tanpa bantuan orang dalem!" potong Maya sinis. Gadis berambut sebahu itu melipat kedua tangannya di dada sembari menyunggingkan senyum meremehkan.Mereka langsung menoleh ke arah suara itu berasal. Suasana hangat di pojok kantin kampus tersebut seketika terusik oleh interupsi yang tiba-tiba dari Maya."Kamu tahu Grup Yulio, May?" tanya Jesen penas
Pagi yang cerah, Teja sedang berjalan santai menuju kursi taman usai mengikuti mata perkuliahan. Hawa sejuk mengiringi langkah kakinya yang tenang menyusuri halaman tengah ampus yang ramai oleh lalu lalang para mahasiswa."Tejo!" terdengar suara seorang wanita memanggilnya.Teja menoleh dan mendapati Nana berlari kecil ke arahnya. Pria berambut gondrong itu menghentikan jalannya sembari menyunggingkan senyum tipis menyambut kedatangan gadis tersebut.Gadis itu masih seperti biasanya, selalu cantik, energik, dan penuh aura positif. Bedanya, penampilan Nana kini jauh lebih anggun dan feminin sejak dekat dengan Teja, tidak seperti dulu yang terkesan tomboy dengan pakaian kasual longgar yang selalu melekat di tubuhnya.Teja menatap penyanyi terkenal itu lembut. Masih lekat dalam ingatannya di mana Nana-lah wanita pertama yang menjadi peluruh keperjakaannya sekaligus pengisi kuota perdana dalam pencapaian target peningkatan energi Qi-nya.Momen intim di masa lalu itu menjadi titik balik
"Jangan kayak gitu, Pak Brewok. Aku ini cuma orang luar yang nggak punya hubungan darah apa pun sama Pak Brewok. Mana pantas aku jadi pewaris?" tolak Teja.Pria berambut panjang itu menggeleng pelan dengan raut wajah sungkan. Ia sama sekali tidak pernah mengharapkan imbalan materi berupa harta berlimpah atas pertolongan tulus yang dilakukannya.Yulio tersenyum getir. Pria berjambang lebat itu mengusap dadanya yang masih terasa sedikit hangat oleh pendar energi penyembuh dari Teja."Buat apa punya pewaris yang punya hubungan darah tapi rakus, serakah, dan bahkan mau melenyapkan nyawaku demi menguasainya?! Kamu jauh lebih layak, Teja!" tegas Yulio dengan intonasi suara penuh keyakinan."Tetap saja aku ini orang luar, Pak," gigih Teja mencoba menawar kembali keputusan ekstrem tersebut.Yulio sejenak menatap Bob dan Reza, lalu kembali menatap wajah pria berambut gondrong itu. Melihat keteguhan hati Teja yang tidak gila harta, senyuman Yulio justru terkembang semakin lebar."Kalau begitu
"Karena aku nggak mau hidup miskin di kemudian hari, Mas!" jerit Sonya meluapkan kepanikan dan ego kepicikannya.Yulio menggeleng frustrasi sembari menatap anak dan istrinya tersebut. Sorot matanya memancarkan kehancuran batin yang amat dalam, tak menyangka orang-orang terdekat yang ia cintai ternyata tega merancang kematiannya secara perlahan demi tumpukan harta.Teja yang tak tega melihat beban mental yang begitu besar dari Yulio segera maju. Pria berambut panjang itu melangkah tegas, memotong pusaran drama keluarga yang kian tidak menentu tersebut dengan wibawanya."Kita selesaikan dulu janji kita tadi," ucapnya pelan namun sangat terdengar menusuk gendang telinga hingga menembus ke jantung.Nakula, Sonya, dan Bagas menatap cepat ke arah Teja. Ketiganya seketika memucat kaku saat menyadari bahwa taruhan yang mereka sepakati sebelumnya kini berbalik menjadi belati tajam yang menancap di leher masing-masing."Bagas janji menyembahku, Bu Sonya janji bakal pergi membawa Bagas keluar
"Teja, terima kasih banyak. Aku hampir mati di tangan mereka!" Yulio beralih menatap Teja. Pria berjambang lebat itu mengusap dadanya yang kini terasa begitu lapang dan lega tanpa ada lagi himpitan rasa sakit."Sama-sama, Pak Brewok. Sudah jadi kewajibanku buat membantu sesama manusia," balas Teja tenang. Pria berambut panjang itu tersenyum tipis, menyapa sahabat ayah angkatnya itu dengan panggilan akrabnya yang sebelumnya.Teja mengalihkan tatapannya pada Sonya dan Bagas.Tatapan itu bukan sekadar tatapan menagih janji. Di sana ada tatapan membunuh yang pernah Teja lakukan saat berhadapan dengan Denny dan Suko. Hawa dingin yang mengancam seketika membumbung dari tubuh Teja, menekan suasana kamar tamu itu.Sonya dan Bagas yang menangkap kilatan mematikan dari manik mata Teja seketika menyusut kaku. Pria muda dan ibunya itu melangkah mundur setengah langkah dengan raut wajah memucat pasi akibat tekanan hawa membunuh dari Teja."Siapa yang masukin lipan itu ke tubuh Pak Yulio?" tany
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih







